Layar gawai di hadapan Maura masih menampilkan binar digital yang kejam. Barisan aksara yang menyusun tajuk berita pertunangan itu seolah menjelma menjadi paku-paku tak kasat mata, menembus retinanya dan menancap telak di dinding kepala. Di sampingnya, Sisilia masih sibuk menelusuri kolom komentar, mengabaikan fakta bahwa lembar catatan Maura kini dikotori oleh garis tinta hitam panjang yang lahir dari keterkejutan syaraf tangannya. “Hihi, enggak kebayang, deh, bagaimana nasib anak-anak angkatan bawah yang sampai jadiin Pak Samudra sebagai crush abadi mereka. Padahal dia itu dosen yang killer-nya minta ampun, ya? Apa enggak langsung patah hati berjamaah mereka hari ini?” Celoteh Sisilia kian bersemangat, jemarinya bergerak lincah melakukan gerakan menyapu layar. Maura menarik napas, perl

