Bab 18

1317 Kata
Mata Maura melotot hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan tubuhnya membeku seketika. Dunianya seolah berhenti berputar saat melihat layar laptopnya—harta paling berharganya—mulai berkedip-kedip liar. Garis-garis statis warna-warni muncul sesaat, sebelum akhirnya... pet! Layar itu menghitam total. "Ra! Laptop kamu!" Sisilia panik luar biasa. Maura tersadar dari syoknya. Dengan tangan gemetar, ia menyambar tisu dari tasnya dan berusaha mengelap permukaan laptop. Ia bahkan melepas jaketnya untuk menyerap sisa cairan yang merendam mesin itu. Ia menekan tombol power berkali-kali dengan ibu jari yang gemetar. Berharap ada mukjizat, berharap logo perusahaan laptop itu muncul. Namun, mesin itu tetap mati. Dingin. Dan diam. Sekeliling mereka mendadak sunyi. Para mahasiswa yang tadinya menonton keributan kini menahan napas, menyadari bahwa sebuah bencana nyata baru saja terjadi. Sepasang kekasih yang tadi bertengkar pun terdiam, menatap tumpahan kopi itu dengan wajah pucat. "Ra, gimana? Bisa nyala?" suara Sisilia sudah hampir menangis karena ngeri. Maura merasa seluruh persendiannya lemas. Skripsinya, data penelitiannya, satu-satunya harapannya untuk lulus tepat waktu... semuanya ada di dalam sana. Dan mesin itu kini mati di tangan dua orang asing yang sedang bertengkar konyol. Geri, si cowok, melangkah mendekat dengan ragu. "S-sorry... Gue nggak sengaja." Kalimat itu bagaikan pemantik di atas genangan bensin. Sisilia berbalik dengan kecepatan kilat, matanya melotot tajam, memancarkan amarah yang murni. "Apa lo bilang?! Sorry?!" bentak Sisilia, suaranya meninggi dua oktaf hingga menggema di seluruh sudut taman. Maura masih terdiam, ia hanya menatap laptopnya yang basah dengan tatapan kosong yang menghancurkan hati. "Laptop temen gue mati total karena keributan sampah kalian, dan lo cuma bilang sorry?!" Sisilia mendekat, menunjuk wajah Geri dengan jarinya yang gemetar karena emosi. "Gue... gue beneran enggak sengaja, Kak," Geri mencoba membela diri, wajahnya menunjukkan ketakutan. "Ck, kita kan emang enggak sengaja. Lagi sial aja dia duduk di sini," timpal si cewek yang berdiri di samping kekasihnya, mencoba bersikap defensif. Sisilia semakin meradang. Napasnya memburu. "Apa lo bilang?! Sial?! Dengan lo berdua ribut kayak orang kesurupan di tempat umum, terus kopi lo tumpah di atas laptop temen gue yang lagi ngerjain revisi krusial, lo bilang itu cuma ketidaksengajaan?! Ganti rugi sekarang atau gue bawa kalian ke dekanat!" Maura tidak memiliki energi untuk bisa menggebu-gebu meluapkan emosinya seperti Sisilia. Dia hanya diam, menahan tangisannya yang siap meledak. Lucu sekali. Kali ini bahkan dia tidak memikirkan mengenai bagaimana laptopnya berakhir menjadi benda yang kehilangan nilainya. Gery semakin merasa tidak enak hati, “gue … gue ganti rugi. Tapi … berapa?” Keheningan Maura terasa jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah Sisilia. Gadis itu hanya mematung, menatap nanar tetesan kopi yang merembes masuk ke dalam celah motherboard laptopnya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti detak lonceng kematian bagi ribuan baris data skripsi yang ia susun dengan darah dan air mata. Sisilia menoleh pada sahabatnya yang mendadak bisu itu. "Maura, sebutin harganya. Berapa?" Maura tetap diam. Kemarahannya sudah melampaui batas kata-kata. Ia ingin berteriak, namun tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Ia bukan tipe orang yang bisa melabrak dengan bar-bar seperti Sisilia, tapi bukan berarti hatinya tidak hancur berkeping-keping. "Ya lo lihat sendiri dong mereknya apa! Lo cari di internet harganya berapa sekarang!" bentak Sisilia pada Geri, tangannya menunjuk laptop yang sudah mati total itu. Namun, pacar Geri mendadak menengahi dengan nada bicara yang mulai menyulut api. "Loh? Terus kalian mau minta ganti rugi unit baru, gitu? Jangan mau, Sayang. Kamu rugi bandar nanti," bisiknya pada Geri, namun cukup keras untuk didengar semua orang. Sisilia melotot hingga matanya nyaris keluar. Ia menuding wajah cewek itu dengan telunjuk yang bergetar karena kejengkelan yang murni. "Lo bilang rugi? Rugiii?! Di saat temen gue lagi mempertaruhkan nyawanya buat ngerjain skripsi dan semua datanya ada di sana, lo masih mikirin rugi buat cowok lo?!" Sisilia menghardik tanpa ampun, langkahnya maju satu tindak hingga cewek itu mundur. "Heh, cewek stres! Lo pikir dengan cowok lo ganti laptop baru, data skripsi temen gue bisa langsung simsalabim balik lagi?! Otak lo di mana?!" Bukannya ciut, cewek itu justru membalas dengan tatapan meremehkan. Ia melipat tangan di d**a, memandang Maura dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Loh, ya jelas itu menguntungkan buat kalian lah. Kalian minta ganti unit baru, sementara tuh laptop aja kelihatan udah buluk gitu. Engselnya aja hampir lepas, bodinya lecet-lecet. Kalian sengaja ya mau scam cowok gue biar dapet barang baru?" Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat sisa-sisa kesabaran Maura. Laptop itu memang buluk, engselnya memang bermasalah karena sudah bertahun-tahun ia gunakan untuk bekerja paruh waktu demi biaya sekolah Raka. Tapi bagi Maura, benda itu adalah alat tempurnya, satu-satunya jalannya menuju kelulusan. Maura masih terdiam, namun jemarinya mengepal kuat hingga kukunya memutih. Di kepalanya, bayangan Samudra muncul—bayangan sang dosen yang akan menatapnya dengan pandangan dingin dan berkata, "Aku tidak butuh alasan, Maura. Serahkan revisimu atau kau keluar dari firma ini." Penghinaan cewek itu bahwa Maura sedang mencoba melakukan penipuan terasa lebih menyakitkan daripada tumpahan kopi itu sendiri. Di tengah keributan itu, Maura merasa harga dirinya sedang diinjak-injak tepat di depan matanya sendiri. Di tengah kemarahan Sisilia, Maura perlahan mengangkat kepalanya. Ia tidak menangis, tapi tatapan matanya begitu gelap hingga membuat pasangan itu mundur selangkah. Maura teringat kalau file cadangannya belum ia unggah ke cloud, dan besok pagi adalah batas waktu yang diberikan Samudra. Jika laptop ini tidak menyala malam ini, ia tidak tahu hukuman apa lagi yang akan diberikan 'Dosen Psikopat Berwajah Malaikat' itu padanya. "Lo… lo bisa pakai laptop gue dulu buat sementara." Geri, yang akhirnya sadar akan skala kerusakan yang ia perbuat, menyodorkan MacBook peraknya dengan tangan gemetar. Rasa bersalah terpancar jelas di wajahnya, kontras dengan kekasihnya yang masih tampak berapi-api. Sisilia bergerak secepat kilat untuk menyambar benda itu, namun Widi—pacar Geri—segera menahan lengan Geri dengan sentakan kasar. "Nggak usah, Ger! Tugas-tugas kamu gimana nanti kalau laptopnya dibawa mereka?!" "Wid, tugas aku bisa menyusul! Ini satu-satunya cara aku bertanggung jawab!" bentak Geri, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kekasihnya. Sisilia tidak memberikan ruang untuk negosiasi lagi. Dengan gerakan kasar, ia merebut laptop itu dari tangan Geri. "Laptop lo gue sita. Ini jaminan sampai lo ganti unit baru yang setimpal buat Maura," desis Sisilia dengan tatapan sinis yang sanggup menguliti keberanian siapa pun di depannya. Widi semakin meradang, suaranya melengking membelah keheningan taman. "Geri! Data tugas kelompok aku juga ada di sana! Kamu jangan bodoh dong, masa dikasih gitu aja ke orang asing!" "Kamu bisa diam enggak, Wid?! Ini semua gara-gara kamu yang narik tangan aku sampai kopinya tumpah! Kamu pikir kenapa aku harus kasih laptop ini, hah?! Pakai otak kamu!" Geri membalas dengan kemarahan yang sudah di puncak kepala. "Kok sekarang kamu nyalahin aku?! Kamu yang enggak mau dengerin penjelasan aku tadi!" Sisilia hanya bisa ternganga melihat sepasang kekasih itu kembali terjerumus dalam lingkaran setan pertengkaran mereka. Ia mendengus jijik. "Ck, kalau mau lanjut ribut silakan di pinggir jalan sana. Ra, ayo pergi. Tempat ini makin bau sampah." Sisilia merangkul bahu Maura, menyeret sahabatnya menjauh dari drama picisan itu. Maura sendiri hanya melangkah seperti zombi. Lidahnya kelu. Pikirannya sudah terbang jauh melampaui taman ini, menuju ruangan gelap di apartemen Samudra. Di dalam kepalanya hanya ada satu bayangan. Wajah dingin Samudra yang menatapnya penuh penghinaan jika ia gagal menyerahkan revisi tepat waktu. "Ra… tenang ya. Dia pasti ganti kok. Seenggaknya sekarang kamu punya alat buat kerja," Sisilia berusaha menghibur, suaranya melunak saat menyadari betapa pucatnya wajah Maura. Maura hanya mengangguk gamang. "Iya, Sil. Makasih." "Eh Ra, maaf banget… aku ada kelas lima menit lagi dan dosennya killer." Sisilia menyerahkan laptop sitaan milik Geri ke pelukan Maura. "Nih, kamu bawa dulu. Kamu pakai buat pindahin data atau kerjain ulang yang kamu ingat. Aku duluan ya, Ra!" Maura berdiri mematung di koridor kampus yang ramai. Laptop asing itu terasa berat di pelukannya, namun beban di dadanya jauh lebih menyesakkan. Ia sama sekali tidak merasa terhibur. Baginya, laptop baru atau pinjaman tidak bisa mengembalikan ribuan baris analisis yang baru saja hilang tertelan kopi. Ia harus memulai dari nol, dan Samudra Reynand Hadiningrat bukanlah pria yang mengenal kata 'ampun'.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN