Bab 21

1565 Kata

Maura meremas perutnya yang mulai terasa melilit. Bunyi keroncongan nyaring itu adalah protes dari tubuhnya yang ia paksa bekerja tanpa asupan sejak fajar, demi menyusun kembali puing-puing analisa data yang sebenarnya ia tahu masih penuh lubang. "Sssh..." Ia merintih, mencoba menekan rasa perih yang menjalar ke ulu hati. Setiap kali ia melirik jam digital di ponselnya, napasnya semakin pendek. Menit demi menit berlalu seperti hitungan mundur menuju hukuman mati. Bayangan wajah dingin Samudra terus menghantui, menagih janji kesempurnaan yang tak mampu ia penuhi hari ini. "Ra ... gimana? Udah beres semuanya?" Sisilia muncul, menarik kursi dan duduk dengan raut wajah yang tak kalah cemas. Maura hanya bisa memberikan senyum pucat, jenis senyum yang biasa diberikan seseorang saat mereka ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN