“Papa?” tanya Ucok tidak percaya.
Dia memang tau selama ini ayah nya itu tidak terlalu menaati perintah agama yang mereka anut, namun ia tidak pernah menyangka kalau ternyata Geri menganut aliran sesat.
Selama ini Geri terkenal sebagai pribadi yang baik dan tidak pernah sekalipun bertindak kasar pada anak-anaknya, di mata orang orang yang mengenali mereka pun Geri terkenal sebagai orang yang pintar, baik dan kerap membantu saudara saudara atau pun teman temannya yang sedang berkesusahan. Tidak jarang Geri muncul di layar televisi setelah memenangkan kasus rumit yang kerap menekan orang yang berada di kasta terbawah.
Bagaimana manusia berjiwa malaikat seperti Geri jadi salah satu pengikut sekte sesat.
“Jadi papa sama mama gak mau bantuin Raja kemarin karena takut sekte papa ketahuan?”
“Mama takut image papa jadi buruk ya di hadapan client client papa?” tanya Raja bertubi tubi.
“Bukan gitu Raja,”
“Mama sama papa sudah tau bagaimana mengerikannya orang orang yang ada di dalam sekte itu. Semuanya mempunyai kekuasaan yang besar dan juga tidak ada satu orang pun yang pernah berhasil mengalah kan mereka,”
“Kamu liat saja, apa sampai sekarang ada polisi yang mengabari tentang perkembangan kasus Kirana?” tanya Elisa.
Raja terdiam, tak tau harus menjawab apa. Ibunya benar, bahkan sampai sekarang pun pihak kepolisian tidak ada yang mengabari Raja soal Kirana, seolah kasus itu telah di selesaikan hanya dengan menyebarkan selebaran orang hilang.
Entah kenapa kasus tersebut berubah menjadi kasus orang hilang, padahal pihak kepolisian pun datang saat Kirana masih tergeletak tak bernyawa di lantai rumahnya.
“Aku tidak peduli ma, aku ingin kematian Kirana tidak di manipulasi seperti ini,”
“Aku ingin Kirana pergi dengan tenang,” ujar Raja dengan tegas.
Elisa menghela nafasnya, bagi perempuan itu, anaknya masih terlalu kecil untuk mengerti semua yang ia katakan barusan.
“Mama gak bisa menjelaskannya lebih panjang lagi, takutnya kalau papamu dengar dia akan marah,”
“Intinya, kematian Kirana tidak bisa lagi kita campuri mau sekuat apapun usaha kita,” ujar Elisa.
Raja menundukkan kepalanya, lelaki itu tak kuasa lagi menahan kesedihan dan amarah yang selama ini dipendamnya. Tangisnya tumpah saat itu juga, Soraya dengan lembut mengusap usap punggung lelaki yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
“Ikhlasin ya Jak, mereka semua yang terlibat dalam kasus ini pasti akan mendapatkan pelajaran dari yang di atas,”
Raja menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi menuju kamarnya, ia tidak suka siapapun melihatnya saat dia sedang seperti ini.
Elisa menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan kasar. Sejujurnya ia sangat ingin membantu putranya itu, namun ia sendiri pun sadar lawannya kali ini bukanlah orang sembarangan. Spontan rasa bersalah menyelimuti hatinya, Elisa merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia tidak mampu membahagiakan anaknya seandainya Kirana tidak mati di tangan The Lux sampai mati pun Elisa akan menguak kasus pembunuhan ini.
“Kalian jurit malam dimana?” tanya Elisa berusaha mengalihkan pikirannya.
“Bukan urusan mama,” ujar Ucok ketus.
“Kenapa begitu?”
“Kenapa mama ingin tau? Bukannya mama tidak peduli dengan kami?”
“Astaga Hans, mama tidak penah sekalipun tidak peduli dengan kalian. Mama sudah menjelaskannya tadi kan?”
“Kenapa mama mau sama papa yang menganut aliran seperti itu?”
“Mama tau papamu menganut aliran sesat ini setelah mama menikah dengannya. Bahkan setelah abangmu lahir. Mama tidak mungkin meninggalkan papamu begitu saja,”
“Sudah lah ma, aku sedang tidak ingin berbicara dengan mama untuk saat ini,”
Tubuh Ucok membatu seketika saat melihat Geri sudah berdiri di depan pintu kamar nya menatap ke arah Soraya dengan tatapan dingin.
Tanpa Ucok sadari Soraya juga sedang menatap ke arah Geri dengan tatapan begitu menyeramkan.
“Jadi sekarang kau yang menjabat sebagai pangeran cahaya huh?” ucap Soraya dengan suara yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana bisa kau masuk ke perempuan ini,” tanya Geri dengan suara begitu dingin, Ucok menatap ke arah Soraya yang terlihat seperti sangat membenci Geri. Ia tidak tau apa yang terjadi, Soraya tidak pernah bertingkah seperti ini, dia selalu menghormati Geri dan Geri juga begitu menyayangi Soraya seperti anak perempuannya sendiri.
Ucok bertanya tanya dalam hati, kenapa saat ini mereka malah terlihat seperti musuh bebuyutan.
“Keluar dari tubuhnya, makhluk seperti dirimu tidak pantas masuk ke dalam rumah ku” perintah Geri dengan suara yang sangat tegas.
“Aku tidak akan meninggalkan tubuh ini sampai aku berhasil membalaskan kematian anakku!” jerit Soraya sambil tersenyum lebar.
“Aku bisa saja menghancurkan mu dengan mudah Annelise, pergi dari tubuhnya sekarang!”
“Hahaha, kau harus membunuh anak ini dulu baru bisa mengeluarkan ku Geri,” ujar Soraya lalu hilang kesadaran.
“Ray,” panggil Ucok sambil menepuk nepuk Soraya.
“Darimana kalian!” bentak Geri begitu marah pada Ucok.
Seumur hidup Ucok tinggal di rumah ini, baru sekarang Geri terlihat semarah ini, matanya menatap tajam ke arah Ucok seolah anak nya itu sudah melakukan kesalahan yang tidak bisa di tolerir lagi.
“Ka-Kami da-dari,” ujar Ucok gugup, perasaan takut menjalar di tubuhnya, jujur saja orang yang paling Ucok takuti di dunia ini adalah Geri, ayahnya sendiri.
“Jawab!”
“Kami jurit malam tadi pak,”
“Dimana?”
“Cemara asri,” jawab Ucok pasrah.
“Astaga! Kenapa kau bodoh kali Hans! Udah bapak bilang gak usah jurit jurit malam lagi!”
“Sekarang kau malah jurit malam di gedung hangus itu!”
“Darimana bapak tau itu gedung hangus,”
Geri mengusap usap kepalanya dengan kasar, kalau sudah begini nyawa Soraya hanya ada di tangan Annelise, sekarang apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan nyawa anak perempuan itu?
Kalau di biarkan begitu saja, Annelise akan semakin menguasai kesadaran Soraya dan kembali hidup dalam wujud sahabat anaknya itu, dan jiwa Soraya akan mati dengan sendirinya.
Geri tidak mau membawa Soraya ke dalam lingakaran setan yang telah membuat hidup nya menderita. Namun kalau sudah seperti ini, satu satunya cara agar jiwa Soraya bisa tetap hidup di dunia ini tanpa campur tangan dari Annelise adalah dengan menjadikan anak itu sebagai putri cahaya, alias istri dari Geri di dalam The Lux.
“Besok Soraya akan ikut bapak, kau, Raja dan mama tinggal di rumah dan jangan kemana mana,”
“Mau ngapain?” tanya Ucok penasaran, ia tidak mau memberikan Soraya pada siapapun dengan sembarangan, meskipun orang tersebut adalah ayahnya.
“Ngobatin Soraya, dia di ikuti penghuni gedung itu, kalau di biarkan jiwanya akan mati perlahan lahan,”
“Oh,”
“Ya sudah, kembali ke kamarmu, Soraya akan bapak biarkan tidur di kamar bang Togar,”
“Oke,” balas Ucok pasrah. Semoga ayahnya itu bisa menyembuhkan Soraya dan membuat perempuan itu kembali seperti sedia kala.
“Elisa, maafkan aku,”
“Kenapa?”
“Aku harus menikahi Soraya demi kebaikannya,”
Elisa hanya terdiam menahan rasa sakit akibat dari ujaran suaminya barusan.
Mau tidak mau Elisa pun mengangguk menyetujui perkataan Geri. Setidaknya ia melakukan itu demi kebaikan dan keselamatan Soraya.