DUA PULUH EMPAT

1098 Kata
            “Kenapa kamu kembali datang kesini?” ujar seorang pria dengan setelan hitam dan sebatang rokok di tangan nya.             Putih duduk di atas sofa ruang tamu yang di hiasi banyak sekali barang barang antik seperti pajangan kepala hewan buruan, pedang, lukisan, kris dan patung patung yang mengiasi rumah ini.             Sejak dari awal dia menginjak kan kaki nya di rumah ini Putih dapat merasakan sesuatu yang sangat besar dan menyeram kan memperhati kan diri nya dari sudut ruangan.             Lelaki yang di depan nya itu adalah ayah nya sendiri, nama nya adalah Abdi, ketua yayasan dari sekolah tempat Saleh bekerja dan seorang dengan kemampuan sakti akibat mengabdi kepada setan.             Abdi adalah Raja dari sebuah sekte yang di kenal dengan sebutan The Lux. Tidak ada seorang pun yang berani menganggu Abdi jika tau identitas asli nya, namun Abdi bukan lah orang yang gila akan kehormatan, ia lebih senang jika ia memiliki banyak teman dan harta. Ia tidak perlu kekuasaan, hanya dengan menjadi ketua yayasan saja sudah cukup bagi nya.             Tapi bukan berarti Abdi adalah orang yang baik, bahkan menurut Putih, ayah nya ini adalah orang yang paling buruk di dunia. Selain diri nya adalah seorang pembunuh, Putih juga tau kalau Abdi adalah seorang p*******a, dan dia adalah hasil dari salah satu dosa nya itu.             “Melihat mu membuat ku kembali mengingat ibu mu,”             “Putih datang ke sini untuk berbicara dengan Ayah,”             “Apa yang kau ingin kan? Uang? Bukan nya suami suci mu itu adalah orang kaya?”             “Putih tidak ingin membawa bawa Saleh dalam pembicaraan kita,”             “Kenapa?”             “Putih tidak ingin ayah mengusik keluarga Putih lagi, biar kan kami hidup dengan tenang ayah,”             “Tenang? Kamu saja sudah memanggil Kajiman kembali ke dalam hidup mu,”             “Itu semua karena Roni, Putih tidak mau Roni mati, Kajiman adalah satu satu nya harapan Putih agar Roni dapat hidup kembali,”             “Sebagai ganti nya, Putih harus memberikan seorang perempuan perawan yang baik baik kepada Kajiman,”             “Jadi kau datang ke ayah karena ingin ayah mencari kan tumbal untuk Kajiman?” tanya Abdi. Putih pun mengangguk kan kepala nya.             “Putih tau perbuatan ini salah, tapi Putih tidak mau kehilangan Roni ayah,”             “Sudah lah Putih, biar kan Roni pergi,”             “TIDAK MAU!!” Putih berteriak penuh emosi, ia sudah sejauh ini sampai harus kembali ke rumah terkutuk yang sebelum nya sudah tidak ingin lagi ia pijak. Semua ini demi anak nya, dan Abdi dengan begitu santai nya mengata kan kalau Putih harus mengikhlas kan nyawa Roni untuk pergi dari dunia ini.             “Biar bagaimana pun Roni itu cucu ayah juga,”             “Kalau pun Roni harus hidup lagi di dunia ini, dia tidak akan sama seperti dulu Putih,”             “Putih tidak peduli! Mau dia berubah atau pun lupa ingatan, Putih akan tetap melaku kan apapun untuk mengembali kan Roni ke hidup Putih,”             “Kau sangat mirip dengan ku, aku dulu juga pernah seperti diri mu saat kehilagan putra kesayangan ku satu satu nya. Aku berusaha sebisa ku untuk mengidup kan nya kembali, namun liat sekarang, apakah dia masih ada disini? Tidak, dia sudah mati bahkan belum genap setahun dari saat ia kembali ke dunia ini,”             “Putih tidak peduli ayah,” ujar Putih sambil menetes kan air mata nya. Ia benar benar merasa frustasi. Ia tidak ingin kehilangan putra semata wayang milik nya. Putih juga tidak tau apa yang harus di kata kan Putih pada Saleh kalau ia tidak berhasil menyelamat kan Roni.             “Ibu,” ujar Rena yang ikut masuk ke dalam rumah itu untuk mencari ibu nya. Sebelum nya Putih sudah menyuruh Rena untuk tetap diam di dalam mobil sampai Putih selesai berbicara dengan Abdi. Namun rasa bosan membuat Rena keluar dari mobil dan menyusul ibu nya masuk ke dalam rumah mewah bagai kan istana tersebut.             “Adek ngapain kesini?!” sahut Putih terkejut saat melihat anak nya masuk ke dalam rumah.             “Jadi ini cucu ku?” tanya Abdi pada Putih sambil menatap ke arah Rena, anak kecil itu terlihat sama persis seperti foto Putih sewaktu diri nya kecil, selama ini Abdi selalu penasaran dengan rupa Putih sewaktu kecil selain dari foto, baru lah sekarang dia bisa menatap mata bulat yang begitu menggemas kan itu secara langsung.             “Jangan mendekati nya,” ujar Putih menghenti kan langkah Abdi yang hendak menggendong putri kecil nya tersebut.             “Kenapa? Dia kan cucu ku,” ujar Abdi.             “Putih tidak mau tangan kotor mu itu menyentuh anak Putih,”             “Bukan nya diri mu sama seperti ku Putih? Apa kau masih ingat alasan mu datang ke mari?” tanya Abdi.             Putih terdiam seketika, memang benar, alasan nya datang ke Abdi adalah untuk meminta tumbal buat Kajiman agar nyawa Roni dapat di selamat kan. Tapi bukan berarti Putih tega melaku kan hal itu sendirian, ia butuh Abdi yang memang tidak memiliki rasa empati untuk memberi kan apa yang dia butuh kan.             “Bagaimana jika begini saja? Kau biar kan Rena tinggal disini sebentar, dan aku sendiri yang akan menjamin Roni akan kembali pada mu,”             “Jadi maksud mu aku harus menukar kan anak perempuan ku demi anak laki laki ku? jangan harap hal itu akan terjadi Ayah,”             “Aku tidak akan menyakiti nya Putih! Dia cucu ku, apa selama kau disini aku pernah menyakiti mu?”             “Tapi kau menyakiti ibu ku,”             “Kau masih menganggap diri mu adalah sebuah kesalahan?”             “Ya! Aku memang sebuah kesalahan yang seharus nya tidak ada di dunia ini,”             “Ibu,” lirih Rena ketakutan, baru kali ini Rena melihat ibu nya berbicara se keras ini.             Selama ini Rena mengenal Putih sebagai pribadi yang lembut, dan siapa lelaki tua di depan nya ini? Kenapa ibu nya terlihat sangat membenci dia? Dan tempat apa yang sedang di datangi Rena saat ini, dekorasi di rumah ini sangat menyeram kan dan berbau aneh.             “Kalau kau setuju dengan permintaan ku, aku akan membantu mu, kalau tidak, ya kau bisa kehilangan anak laki laki mu itu, aku tidak peduli dengan nya,”             Putih menghembus kan nafas nya kasar, ia tidak ingin Abdi melaku kan apa pun pada Rena, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Roni.             “Baik lah, Rena akan tinggal disini selama tiga hari, kalau lewat dari situ Roni masih belum baik baik saja, Putih akan mengambil Rena kembali dan Ayah tidak akan bisa bertemu dengan Rena sampai kapan pun juga,”             “Ya aku tau aku memang seorang b******n, tapi aku tidak akan pernah melanggar janji ku, pergi lah, aku akan memberikan Kajiman seorang tumbal malam ini,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN