DUA PULUH

1112 Kata
            Sudah dua minggu lewat sejak Ucok berhasil membawa Soraya pergi dari gedung terkutuk itu, sudah dua minggu juga Ucok memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan tinggal mengontrak di rumah kontrakan tempat Soraya tinggal bersama dengan ibu nya.             Soraya menatap ke luar jendela yang menampil kan kilatan petir dan derai air hujan yang menghiasi malam kelam nya. Saat ini ibu nya sedang tidak berada di rumah. Perempuan itu sudah pergi sedari pagi untuk menghadiri pesta pernikahan keponakan nya di kampung.             Entah apa yang harus dia lakukan, sejak hari itu Ucok berlaku sedikit berbeda dari biasa nya. Lelaki itu terkesan lebih dingin kepada Soraya, bahkan untuk menjelas kan apa yang terjadi saja ia tidak mau.             Soraya menutup mata nya sebentar lalu menatap gelang kain pemberian Ucok yang sempat ia hilang kan kemarin di gedung hangus tempat mereka melaku kan jurit malam. Awalnya Soraya masih tidak mempertanya kan kenapa Ucok tidak mengizin kan Soraya untuk membuka gelang itu, tapi makin lama Soraya makin penasaran apa maksud sebenar nya dari permintaan Ucok itu.             Di tambah lagi pada saat itu Ucok terlihat benar benar serius saat menyuruh Soraya untuk tidak melepas kan atau kehilangan gelang itu lagi, sebenar nya apa yang akan terjadi jika gelang itu lepas?             Tiba tiba tubuh Soraya tersentak saat suara petir begitu kuat di iringi kilat seolah ingin menyambar diri nya yang sedang duduk di sofa ruang tamu milik nya. Soraya memutus kan untuk menutup gorden jendela nya lalu masuk ke dalam kamar. Perempuan itu menduduk kan diri nya di depan meja rias lalu menatap wajah nya lekat lekat di dalam cermin. Sebenarnya aku ini sakit apa? Tanya nya dalam hati, Ucok selalu mengata kan kalau dia sedang sakit, tapi dia sendiri malah tidak merasakan sakit apa pun, Soraya tidak pernah merasa lemas atau pun demam, malah ia merasa dirinya sudah sangat sehat sejak pulang dari bukit tempat Geri membawa nya untuk berobat. Lagi lagi Soraya melihat gelang itu, tangan kiri nya mulai membuka gelang itu perlahan, entah kenapa ia merasa ragu saat membuka gelang tersebut, sekilas bayangan Ucok yang melarang nya untuk membuka gelang itu kembali melintas di ingatan nya. “Aku buka gak ya?” gumam Soraya. Perempuan itu mengangguk kan kepala nya perlahan lalu mulai membuka ikatan ikatan yang ada di gelang usang itu. Saat ia hendak membuka ikatan terakhir, tiba tiba saja ada orang yang mengetuk pintu rumah nya. Soraya pun segera bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan keluar dari kamar menuju pintu depan, disana berdiri seorang perempuan yang tidak di kenali oleh Soraya sama sekali. “Selamat malam nak Soraya,” ujar nya terdengar lembut sambil tersenyum manis. “Malam bu, ibu siapa ya?” tanya Soraya sopan. “Saya Putih, istri dari mang Saleh,” “Ah iya bu,” “Boleh saya masuk?” tanya Putih. Baru saja Soraya ingin mengangguk kan kepala nya, tapi dia baru ingat dengan nasihat ibu nya yang menyuruh Soraya untuk tidak membiar kan siapa pun masuk ke dalam rumah kalau ia sedang tidak ada bersama dengan nya di rumah. “Maaf bu, saat ini saya tidak bisa membiarkan ibu masuk. Mungkin ibu bisa datang besok atau di lain waktu,” Putih melihat ke arah pergelangan tangan Soraya lalu tersenyum tipis, ternyata gelang milik suaminya yang selama ini ia cari cari ada di tangan perempuan ini, wajar saja Saleh memberi kan gelang tersebut kepada Soraya, ternyata anak perempuan di depan nya ini benar-benar istimewa, anak se istimewa ini tidak pantas untuk hanya di jadi kan sebagai tumbal pesugihan yang di lakukan Putih. Putih dapat langsung mengetahui kalau Soraya dapat menjadi wadah bagi roh lain untuk dapat kembali hidup di dunia ini. Kajiman akan sangat senang kalau ia membawa Soraya pada nya, satu hal yang ia harus lakukan sebelum membawa Putih pada Kajiman adalah mengusir roh perempuan yang menempel di dalam tubuh Soraya saat ini. “Atau ibu bisa bertemu saya di sekolah saja besok,” “Oh begitu ya? Baik lah besok saya akan menemui kamu di sekolah ya,” “Baik bu,” “Kalau begitu saya pamit dulu ya nak,” ujar Putih lalu pergi meninggal kan Soraya sendirian di rumah. Soraya mengangguk lalu menutup pintu saat Putih sudah masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan rumah nya. Sekilas putih melihat sesosok lelaki yang duduk di kursi belakang mobil itu, tapi seperti nya dia hanya ber halusinasi. Tak kama setelah Putih pergi meninggalkan Soraya se seorang kembali mengetuk pintu rumah nya, Soraya melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjuk kan pukul sepuluh malam. Siapa lagi yang mau datang jam segini? “Ray, ini aku Ucok,” ujar Ucok yang berada di depan rumah. Sontak Soraya langsung melangkah kan kaki nya kembali menuju ruang tamu, tanpa sadar ikatan terakhir di gelang Soraya tiba tiba terlepas sendiri dan membuat gelang itu pun terjatuh. Soraya membuka pintu rumah nya dan menatap Ucok beridiri disana. “Tumben jam segini datang nya Cok?” “Ibu mana?” tanya Ucok mengabai kan pertanyaan Soraya. “Ibu pergi kondangan, kamu ngapain di sini? Apa gak di cari mama mu nanti?” tanya Soraya. Lagi lagi Ucok mengabai kan pertanyaan sahabat nya itu, mata nya langsung ter fokus pada pergelangan tangan Soraya, betapa emosi nya Ucok saat menyadari gelang pemberian Saleh sudah terlepas lagi dari tangan Soraya. “Tutup mata mu, jangan di buka sampai aku kembali,” ujar Ucok yang langsung melangkah kan kaki nya masuk ke dalam rumah untuk mencari dimana gelang jimat itu berada. Mata nya mencari kesana kemari, tanpa ia sadari Soraya sudah berdiri di belakang nya dengan senyuman sangat lebar dan mata yang seolah ingin keluar dari tengkorak nya. Ucok menghela nafas nya lega saat dia berhasil menemu kan gelang itu. Tubuh nya terbalik lalu mendapati Soraya yang sedang menatap dirinya begitu tajam sambil tersenyum. “Raya?” panggil Ucok. Tidak ada jawaban dari sahabat nya itu. “Ray, jawab aku,” ujar Ucok lagi namun Soraya masih juga tidak merespon. “Annelise?” tanya Ucok pelan. Senyuman di bibir Soraya semakin melebar, lalu perlahan mengangguk kan kepala nya. “Ternyata kau langsung mengenali ku ya,” ujar Annelise. “Sudah ku bilang jangan usik dia lagi,” “Tapi kau belum berhasil melakukan apa yang aku ingin kan,”             “Aku masih mempersiap kan diri ku,”             “Kalau kau tidak bisa melakukan nya, aku bisa melakukan itu sendiri,”             “Tidak, aku tidak mau kau melaku kan hal biadab itu dengan mengguna kan tubuh Soraya,”             “Sampai kapan?”             “Tunggu sebentar lagi, aku pasti akan melakukan nya,”             “Aku beri kan kau waktu tiga hari lagi untuk membunuh ke dua orang tua mu kalau kau tidak bisa, aku akan melakukan nya sendiri,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN