Soraya membuka mata nya saat dia mulai mendengar nyanyian nyanyian dengan bahasa asing di sekitar nya, namun saat dia sudah membuka matanya itu dia dapat merasa kan sebuah kain yang terikat untuk menutup mata nya.
“Halo? Om Geri?” panggil Soraya.
Ia membuka kain tersebut saat ini dia mendapati diri nya sedang berbaring di sebuah tempat tidur berukuran besar di dalam sebuah ruangan dengan suasana yang bernuansa putih, baik dinding maupun setiap interior yang mendekorasi kamar ini, semua nya berwarna serba putih.
Spontan Soraya yang saat ini sedang memakai gaun merah terlihat begitu kontras di dalam ruangan tersebut. Samar samar ia mendengar orang lain sedang berbicara di balik pintu kamar tempat dia berbaring.
“Siapa perempuan itu? Kenapa tuan muda malah memilih nya menjadi calon tuan putrinya? Bukan nya tuan muda sudah mempunyai istri?” ucap seorang perempuan di luar sana.
“Ya aku juga bingung kenapa tuan muda malah memilih perempuan seperti itu? Padahal istri nya jauh lebih cantik dari pada anak kecil itu,”
“Apa karena dia masih muda?”
“Masa iya? Aku tau tuan muda orang yang kasar tapi tidak mungkin juga kejahatan merangkap jadi p*****l juga,”
“p*****l apa? kau kira perempuan itu anak anak apa?”
Apa aku uang mereka maksud dari tadi ?
Soraya melirik ke kiri tempat tidur nya, disana ada tas milik nya yang terletak di atas sebuah kabinet berwarna putih, tangan nya perlahan mengambil tas tersebut, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluar kan suara agar tidak ketahuan dengan orang orang yang ada di luar kamar nya.
Entah kenapa Soraya merasa ada yang tidak beres dari tempat ini, hati nya terus saja merasa gelisah dan khawatir sesuatu yang tidak dia harap kan akan terjadi sebentar lagi pada diri nya.
Setelah mendapat kan tas nya Soraya langsung mengambil ponsel milik nya lalu mengembali kan tas tersebut ke tempat semula. Tangan nya dengan cepat menghidup kan ponsel tersebut lalu melihat banyak sekali notifikasi dari Ucok.
Ucok
Online
Keluar dari tempat itu sekarang
P
P
P
P
P
Soraya!
Kenapa telepon mu mati?
Hei
Angkat telepon ku
Kau kenapa?
Woi
Balas
Soraya tempat itu tidak aman.
Keluar sekarang
Soraya
Online
Apasih bacot!
Ucok
Online
Kok gak kau balas chat ku
dari tadi?
Soraya
Online
Aku tidur tadi.
Ucok
Online
Kok bisa kau tidur?
Soraya
Online
Kecapekan mungkin, kenapa?
Ucok
Online
Bapak ada kasih kau minuman?
Soraya
Online
Ada.
Sudah cukup bagi Ucok untuk menyimpul kan apa yang akan terjadi pada Soraya di hari ini, Geri pasti akan melakukan hal yang buruk kepada sahabat nya itu.
Setelah melihat lokasi di sekitar nya sudah cukup aman, Ucok pun memberani kan diri untuk menyusup masuk ke dalam sebuah gedung yang cukup besar di tengah hutan ini. Kalau tidak salah lokasi tempat ini memang tidak jauh dari rumah Kirana, teman Raja yang meninggal misterius beberapa waktu yang lalu.
Saat seorang pria dengan jubah serba merah berjalan melewati nya, dengan cepat Ucok langsung menarik tubuh pria tersebut dan mencekik leher nya hingga pingsan.
Tangan nya dengan cepat melepaskan jubah yang tengah di pakai oleh pria tersebut lalu memakai nya untuk menyamar kan diri agar tidak ketahuan dengan siapa pun anggota yang ada di dalam sekte ini.
“Dimana kau Ray,” gumam Ucok sambil melihat kesana kemari.
Mata nya terpaku saat melihat sebuah ruangan yang di jaga oleh dua orang perempuan dengan jubah merah yang sama dengan nya, ke dua perempuan itu tampak sedang menjaga sesuatu yang penting di dalam ruangan tersebut. Entah kenapa Ucok yakin kalau Soraya memang ada di dalam ruangan tersebut.
Baru saja ia ingin mendatangi kedua perempuan itu, langkah nya langsung terhenti saat dia melihat Geri tampak menghampiri ke dua perempuan itu dan mengatakan sesuatu, samar samar Ucok mendengar Geri sedang menanya kan kondisi Soraya kepada ke dua perempuan itu, dengan kompak mereka menjawab kondisi Soraya saat ini sedang baik baik saja, tapi mereka tidak tau apa kah Soraya sudah sadar atau belum karena sedari tadi yang mereka laku kan hanya lah membicara kan pernikahan yang tidak seimbang antara seorang pangeran yang sangat mereka hormati dengan seorang perempuan yang mereka sendiri tidak tau siapa.
“Acara pernikahan akan segera berlangsung, tolong siap kan mempelai ke altar,” ujar Geri yang spontan membuat Ucok benar benar murka.
Kedua perempuan itu mengangguk dan menuruti perintah Geri seraya lelaki itu pergi meninggal kan mereka.
“Aku tidak mau di nikah kan!” jerit Soraya saat dua perempuan itu masuk ke dalam kamar tempat nya ber istirahat.
Dengan cepat Ucok berlari memasuki ruangan tersebut untuk menyelamat kan Soraya, Ucok tidak tau apa kah ini memang satu satu nya cara agar tubuh Soraya bisa terlepas dari hantu gila itu, tapi menikahi perempuan se muda Soraya dengan laki laki seperti Geri tidak masuk ke akal sehat Ucok, di tambah lagi perempuan itu adalah sahabat nya sendiri.
Ia tidak mungkin membiar kan ayah nya sendiri merusak Soraya. Bahkan jika harus mati karena melawan semua orang di dalam gedung ini, Ucok sama sekali tidak takut.
“UCOK!!” jerit Soraya yang sudah berada di dalam genggaman dua perempuan di samping kiri dan kanan nya.
“b******n!” geram Ucok seraya memukul kedua perempuan itu tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Setelah berhasil menjatuh kan ke dua perempuan itu, dengan cepat Ucok meraih tangan Soraya dan menarik nya keluar dari ruangan tersebut.
“Kita pergi dari sini!” ucap Ucok sambil berlari membawa Soraya pergi.
“Pengawal!!” terdengar sahutan salah satu perempuan yang tadi di pukul oleh Ucok, lantas langkah kaki mereka pun bergerak semakin cepat.
Bagaimana pun cara nya, ucok harus bisa membawa Soraya pergi dari tempat laknat ini.
"Cok, aku takut," ucap Soraya saat melihat seseorang mulai berlari mengejar mereka berdua.
"Gak usah takut, ada aku," ujar Ucok dengan tangan yang tetap menggenggam erat tangan Soraya.
Memang hanya Ucok lah yang mampu menjaga nya seperti ini. dan hanya Ucok lah yang selalu berhasil membuat Soraya tenang walaupun se takut apa pun Soraya saat itu.
Bagi Soraya, Ucok adalah orang yang bisa di bilang lebih dari seorang sahabat atau pun saudara. bagi nya Ucok adalah malaikat pelindung yang Tuhan kirim kan untuk menjaga nya mengganti kan sang ayah