Putih keluar dari kamar nya sambil membawa sebuah buku yang tadi pagi di pinjam Putih di sebuah perpustakaan tua tempat Putih biasa menghabiskan waktunya untuk menyendiri.
Matanya menatap ke arah judul dari buku tersebut ‘The Lux’. Buku yang awal nya ia kira adalah buku tentang pencahayaan ternyata adalah buku karangan dari sebuah sekte yang dulu pernah menguasai kota nya.
Banyak sekali sejarah sejarah yang tertulis di dalam buku ini. Ternyata tidak sedikit pejabat pejabat tinggi yang terkenal menjadi salah satu elite di dalam organisasi bernama The Lux itu.
“Apa karena ini mereka jadi seberkuasa itu ya?”
“Gimana ya caranya biar bisa masuk organisasi ini?” gumam Putih dalam hati.
Seandaikan dia berhasil masuk ke dalam organisasi ini, jangankan Jasmine, semua orang yang sudah membully nya dari dulu hingga sekarang pasti mampu ia perbudak.
“Kamu baca apa nak?” tanya Amira melihat putri bungsunya yang sedang asik membaca.
Belum sempat Putih menjawab, Jasmine sudah menerobos masuk ke dalam rumah dengan tatapan sangat tajam ke arah ibu nya dan adik nya itu.
“Sudah pulang nak?” tanya Amira lembut namun Jasmine tetap saja diam membisu.
“Gimana tadi kegiata ekstrakulikuler nya ?” tanya Amira lagi, sedari tadi dia memang sudah menunggu anak sulung nya itu untuk pulang ke rumah dan menceritakan seluruh kegiatan yang telah dia lalui selama di sekolah.
“Apa benar Putih itu anak ibu?” tanya Jasmine tiba tiba.
“Apa maksud mu Jasmine? Tentu saja Putih itu anak ibu,”
“Kenapa sih kak! Kakak selalu saja menyudut kan Putih? Putih ini adik kakak! Bukan orang asing atau bahkan musuh kakak!” sahut Putih terengah engah. Dia sudah benar benar muak dengan perlakuan Jasmine kepada diri nya selama ini.
“Asal kakak tau Putih itu ca—“
“Cuih!!”
Tubuh putih membatu saat Jasmine tiba tiba menyemburkan ludah pada diri nya. Baru kali ini Jasmine berani berlaku se kasar ini pada adik nya itu meskipun Amira berada di dekatnya.
“Jasmine!” sahut Amira memarahi tingkah anak kesayangan nya yang sudah sangat keterlaluan.
“Kenapa bu?!” jerit Jasmine tak kalah menyeramkan.
Semua rumor yang masuk ke telinga nya hari ini benar benar membuat Jasmine sangat membenci Putih. Kenyataan yang selama ini di sembunyikan Amira pun akhirnya terkuak, pantas saja sifat kedua saudara itu berbanding terbalik, ternyata selama ini yang di kira Jasmine adalah adik kandungnya, adalah hasil kejadian yang sempat membuat Amira depresi selama dua bulan lamanya.
“Kenapa ibu masih mau merawat anak perempuan ini? Bukan nya dia adalah alasan kenapa ibu jadi sangat menderita dulu?”
“Kenapa ibu malah mau membesarkan anak dari seorang b******n yanng menghancurkan hidup ibu?”
“Da-dari mana kamu—“ ucap Amira gugup. Ia kira kasus p*********n yang terjadi lima belas tahun yang lalu itu sudah terkubur dalam dalam, namun ternyata masih ada orang orang iseng yang menyebarkan isu tersebut ke orang lain, bahkan anak nya sendiri.
“Kenapa bu!” sahut Jasmine frustasi.
Ia sama sekali tidak marah pada ibunya, Jasmine benar benar sangat mencintai Amira, alasan diri nya bisa jadi se murka ini karena kehadiran Putih ternyata berasal dari kisah kelam yang di alami oleh Amira.
“Anak haram seperti nya tidak pantas tinggal bersama kita bu!”
“Ap—apa maksud kakak? Putih tidak mengerti,”
“Tidak apa apa nak, kamu masuk ke kamar, biar ibu yang berbicara dengan kakakmu,”
“Tidak perlu! Dari pada lo masuk ke kamar bagusan lo pergi aja dari rumah ini!”
“Putih gak mau,” cicit Putih dengan suara yang sangat pelan, tubuh nya bergetar ketakutan, ia benar benar takut pada Jasmine.
Selama mereka hidup bersama Jasmine tidak pernak sekalipun merasa ragu jika ingin memberikan Putih ‘pelajaran’, bahkan perempuan itu akan melakukan nya dengan senang hati jika hal tersebut membuat dirinya menderita.
“Pergi!” sahut Jasmine sekuat tenaga sambil menyeret Putih keluar dari rumah.
Tangan Jasmine dengan kasar mendorong Putih hingga terjatuh di teras, perempuan itu menangis tersedu sedu, ia tidak ingin pergi dari rumah ini, dia masih ingin tinggal disini. Bersama dengan ibu dan kakak nya yang sangat membenci diri nya.
Putih tidak memiliki tempat tinggal lain selain di rumah ini, kalau dia pergi dari sini dia harus tidur dimana? Bagaimana dengan makanan sehari hari nya nanti. Apa dia harus berhenti sekolah karena hal ini? Putih tidak mau hanya meraih pendidikan tertinggi di sekolah dasar.
Putih memiliki cita cita dan impian yang besar, ia tidak mau diri nya makin di anggap sebagai sampah karena SMP saja tidak tamat.
“Ibu Putih tidak mau pergi!” sahut Putih sekuat tenaga, ia jujur tidak mau pergi dari rumah, ia masih mau tinggal bersama ibu nya, meskipun kehadiran nya di rumah ini seolah tidak di inginkan, setidak nya diri nya terawat dengan baik jika tinggal disini.
“Ayo kita pergi,” ucap Amira akhirnya bersuara.
“Ibu mau kemana?” tanya Jasmine tidak terima.
“Ibu akan pergi dengan Putih sebentar, kamu tunggu disini, setelah ibu pulang kita harus berbicara,” ujar Amira dengan tatapan tajam ke arah Jasmine, baru kali ini Jasmine melihat ibu nya bertindak semenyeramkan itu pada diri nya.
Amira menarik tangan Putih perlahan lalu membawa putri nya itu masuk ke dalam mobil. Putih hanya bisa pasrah dan mengikuti Amira masuk ke dalam mobil sambil senggukan menahan tangisnya.
“Ibu, kita mau kemana?” tanya Putih.
Amira masih diam, tidak tau mau manjawab apa, diri nya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa anak nya sudah saling mengetahui rahasia yang selama ini berusaha Amira tutupi sebaik mungkin.
Perempuan itu menarik nafas nya dalam dalam, berharap rasa sesak di hati nya berkurang sedikit jika ia melakukan itu.
“Kita akan ke tempat ayah mu,”
“Apa? ayah? Bukan nya ayah sedang dinas ke luar kota bu?”
“Ayah kandung mu,” ucap Amira sekali lagi.
“Ayah kandung? Apa maksud ibu?!”
“Kamu bukan anak dari suami ibu Putih, ayah mu adalah pemilik yayasan yang dulu telah meleceh kan ibu di sekolah,”
“Apa?”
“Mulai saat ini kamu akan tinggal bersama nya,” ujar Amira dengan perasaan bersalah.
Diri nya sendiri bahkan tidak yakin kalau lelaki berengsek itu mau menerima anak mereka berdua, tapi tidak mungkin lagi diri nya menyatukan Putih dengan Jasmine, dia sendiri tau kalau Jasmine dari dulu sangat membenci Putih, kalau Amira masih membiarkan Putih tinggal di rumah mereka setelah Jasmine mengetahui semua nya, tinggal se atap dengan Jasmine hanya akan membawa penderitaan bagi Putih.
“Putih tidak mau bu!” bentak Putih tidak terima.
“Maaf kan ibu nak,” balas Amira tidak peduli dengan penolakan yang Putih ajukan.