Setelah berhasil mengejar Fitri, Carisa dengan keras menarik tangan perempuan itu dengan keras hingga terjatuh.
“Sini gak handphone lo!” sahut Carisa sambil merebut ponsel milik Fitri dari tangan perempuan itu.
Carisa membuka telepon itu bermaksud untuk menghapus video yang ada di dalam nya. Mulut nya berdecak kesal saat melihat layar ponsel tersebut terkunci dengan sandi di dalam.
“Kasih tau gue password lo sekarang!” bentak Carisa sambil menjambak rambut Fitri dengan keras.
“Woi!” sahut Ucok dari ujung lorong saat melihat teman nya di perlaku kan seperti itu oleh Carisa.
“Udah sini,” ujar Addara sambil merebut ponsel itu dari tangan Carisa.
Dengan cepat Addara membanting ponsel milik Fitri kuat kuat ke lantai lalu menginjak nya hingga hancur.
“Handphone gue!” jerit Fitri tidak terima.
Sebisa mungkin Fitri berusaha untuk lepas dari cengkraman Carisa namun perempuan itu tetap menarik rambut nya dengan kuat.
“Masalah kita udah gue beresin, ayo balik ke Amanda,” ucap Addara sambil melihat pesan yang telah di kirim kan oleh temannya itu.
“Setelah hari ini, kehidupan lo selama di sekolah ini gak bakalan tenang!” sahut Carisa penuh amarah pada Fitri.
“Aw! Sakit, lepasin gue!” balas Fitri seraya meringis kesakitan.
Amanda
Online
Anak culun itu mati,
cepet bantuin gue!
Bulu kuduk di sekujur tubuh Addara berdiri setelah membaca pesan dari Amanda, tubuh nya bergetar ketakutan, ia tau kalau Amanda memang selalu keji dengan anak anak culun yang ia benci, tapi ia tidak pernah mengira kalau Amanda akan sampai membunuh seseorang.
“Ris!”
“Apaan sih!”
“Lepasin dia,” dengan keras Ucok mencengkram tangan Carisa, perempuan itu meringis kesakitan, ia kenal dengan Ucok, bahkan dengan keluarga nya, untuk kali ini Carisa memang harus melepas kan Fitri, ia tidak mungkin bisa melawan Ucok. Anak lelaki itu bukan lah orang sembarangan yang bisa ia perlaku kan se enak nya.
“Ayo balik, kita punya masalah yang lebih serius dari ini,” ucap Addara pada Carisa.
“Lepasin tangan gue!” bentak Carisa seraya menghempas kan cengkraman tangan Ucok dari lengan nya.
“Ada apa?” tanya Carisa saat pergi bersama Addara menuju kamar mandi tempat Amanda berada.
“Amanda ngebunuh anak yang tadi,” bisik Addara yang hanya bisa didengar oleh Carisa.
“Sumpah lo?” tanya Carisa terkejut tidak percaya.
Addara mengangguk kan kepala nya sekilas dan langsung berlari bersama Carisa untuk menemui teman nya itu.
“Kamu gak papa?” tanya Soraya sambil membantu Fitri buat berdiri.
“Gue gak papa, tapi handphone gue,” ujar Fitri sambil menunjuk ponsel milik nya yang sudah tidak bisa di selamat kan lagi.
“Kenapa mereka bisa kaya gitu sama mu?”
“Gue tadi nge liat Amanda, Carisa, dan Addara lagi nge bully anak culun entah dari kelas mana di kamar mandi, gue muak nge liat tingkah mereka yang kaya gitu, jadi gue pikir kaya nya kalau gue viral in mereka bakalan berhenti, tapi bodoh nya gue ketauan waktu ngerekam,” ucap Fitri menjelas kan, tangan nya memungut telepon genggam milik nya di lantai.
“Habis gue,”
“Pasti nyokap gue bakal nge bunuh gue kalo tau handphone gue rusak begini,” ujar Fitri hampir menangis.
“Nanti aku beli in yang baru,” ujar Ucok.
“Serius lo Cok?”
“Gak usah lah Cok, nge repotin lo jadi nya, ini gue perbaikin aja, emang bangs*t tuh set*an tiga biji!”
“Udah gak papa, sekalian gue aja yang perbaiki, semoga video yang kau rekam tadi bisa di selamat in,”
Fitri menatap Ucok dan Soraya cukup lama, tiba tiba rasa bersalah yang selama ini dia pendam kembali menyelimuti diri nya. Karena diri nya lah Ucok dan Soraya jadi se kacau ini.
“Maaf in gue, karena gue—“
“Sstt jangan ngomong kaya gitu Fit, ini semua gak salah lo kok,” potong Soraya seolah sudah paham maksud dari perkataan Fitri.
Perempuan itu menetes kan air mata nya dan menangis di hadapan Ucok dan Soraya, Fitri merasa senang saat mengetahui kalau Ucok dan Soraya tidak membenci diri nya seperti yang ia bayang kan.
Fitri merasa sangat bersyukur dapat berteman dengan dua orang baik yang selalu ada dimana ia membutuh kan nya.
Di sisi lain betapa terkejut nya Carisa dan Addara saat melihat Amanda duduk di kloset sambil menghisap sebatang rokok di tangan nya.
“Dia beneran mati?” tanya Carisa dengan tubuh yang bergetar hebat.
“Hm,” jawab Amanda dengan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Entah kenapa ia malah merasa senang karena sudah berhasil melenyap kan nyawa seseorang.
“Gue baru tau ternyata se seru ini ngebunuh orang yang gue benci,”
“Lo gila Man?! Lo abis nge bunuh orang dan lo bisa ngerokok santai kaya gini?!” amuk Carisa tidak percaya. Sejak kapan teman nya itu berubah jadi orang yang keji seperti ini?
“Kenapa rupa nya? Kan ada kalian berdua, sekarang bantuin gue masukin sampah ini ke kantong sampah disana, abis itu gue bakalan suruh pak Dimas buat ngurus mayat nya,”
“Lo psikopat Man,”
“Hm ya ya ya, gue gak peduli, mungkin selanjut nya gue bakalan ngelaku in hal yang sama buat orang orang yang ngalang in jalan gue,” ujar Amanda sambil mem buang puntung rokok itu ke dalam kloset kamar mandi yang sebelum nya ia duduk i.
“Kalau kalian gak percaya, kalian bisa nyobain sendiri,” ujar Amanda sambil tertawa menyeram kan.
Entah kenapa Carisa dan Addara melihat Amanda seperti bukan diri nya lagi, seperti ada sesuatu yang jahat telah menguasai diri nya.
“Ngeliatin apa kalian? Ayo bantuin gue! Berani kalian nge lawan gue hah?!” bentak Amanda emosi.
Spontan Carisa dan Addara beranjak dari tempat mereka berdiri sebelum nya untuk membantu Amanda memasuk kan jasad murid culun yang sudah di bunuh oleh Amanda ke dalam kantong pelastik sampah.
Jujur saja dalam benar Carisa dan Addara, mereka merasa sangat takut melihat diri Amanda yang sekarang, takut kalau sewaktu waktu nasib mereka akan sama dengan nasib murid culun di dalam pelastik sampah itu.
“Nah gitu dong, kalau kalian nurut kan gue gak perlu nyingkir in kalian juga dari dunia ini,” ujar Amanda lalu beranjak keluar dari kamar mandi bersama ke dua teman nya itu.
“Lo gila ya?! Lo mau nge bunuh kita kalau gak nurut sama lo?!” bentak Addara tidak percaya.
Amanda ter tawa ter bahak bahak mendengar jeritan ketakutan dari teman nya itu.
“Kenapa enggak?” balas nya lalu berlalu.
Carisa hanya terdiam tidak mau mencampuri percakapan bodoh ke dua teman nya itu. Yang ia pikir kan sekarang, bagaimana ia bisa segera terlepas dari cengkraman Amanda, ia tidak ingin berteman dengan orang yang akan membunuh diri nya hanya karena tidak menuruti perintah nya.