Seorang anak perempuan terbangun oleh teriakan ibu nya dari dapur untuk menyuruh nya bersiap siap ke sekolah.
Soraya, atau yang biasa di panggil dengan sebutan Raya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur untuk menemui sang ibu.
“Astaga! Raya kamu ngagetin ibu aja!” Ucap Kirana dengan sebuah pisau di tangannya.
Hampir saja perempuan tua itu melemparkan pisau masaknya ke arah Soraya karena penampilan anaknya itu terlihat sangat mirip dengan kuntilanak. Rambut berantakan, kantung mata yang berwarna hitam dan wajah menyeramkan khas bangun tidur yang selalu di tampilkan oleh Soraya saat perempuan itu bangun dari tidurnya.
“Kamu pasti begadang lagi kan semalam? Gimana sih, hari pertama sekolah kok mata mu malah jadi hitam seperti itu.” Omel Kirana.
“Ih ibu! Semalam Raya marathon drama, ya mana Raya tau kalau tiba-tiba udah pagi.” Balas Raya sambil melahap sarapannya.
Usai bersiap-siap dengan seragam putih abu-abu dan rambut yang terikat rapi, Raya berangkat ke sekolah barunya yaitu SMA Negeri Dua.
“Raya!” Sahut Ucok memanggil sahabat nya yang baru saja muncul di depan pagar.
“Kamu cupu banget ya? Segitu gak ada teman nya sampai nungguin aku di depan pagar gini?” Omel Raya sambil memutar bola mata nya.
Ucok dan Raya sudah berteman selama lebih dari 10 tahun, sejak ia pindah ke perumahan di usia 5 tahun, Ucok selalu menemani hari-harinya untuk bermain bersama.
“Tadi pagi ku jemput kau, tapi kata tante Kirana kau masih tidur.
“Emang nya kamu jemput aku jam berapa?”
“Jam 5”
“Ya aku belum bangun lah Ucok Paok!” Sahut Raya mengatai Ucok bodoh.
“Ya kan ku kira kau sama semangat nya kaya aku, ini hari pertama kita pakai putih abu-abu loh Raya.”
“Bodo amat. Eh tunggu, jadi kamu kesini naik motor?”
“Iya, aku parkirin di kedai kopi di seberang sekolah, katanya kakak-kakak tingkat juga parkir di situ, keren kan aku?”
“Omo!” Sahut Raya berlagak seperti orang korea. Dengan jari telunjuknya Ucok mendorong kepala Raya sambil menahan emosi.
“Orang-orang yang kek kau gini lah yang buat aku cepat kena hipertensi. Udah ku bilang sama mu jangan sok-sokan korea di depan ku.” Ucap Ucok dengan logat Medan nya.
“Dih haters.” Desis Raya sambil berjalan masuk menuju kelasnya bersama dengan Ucok.
“Hai dek, cantik banget sih.” Ucap abang-abang kelas dengan kancing baju sedikit terbuka menunjukkan kaus hitam yang di pakainya sebagai pengganti singlet.
“Mata mu itu! Kau godai lah aku lagi, kalau gak ku colok mata mu itu nanti.” Sahut Raya tidak terima dengan logat yang sama dengan Ucok.
Abang-abang itu menatap Raya ketakutan dan langsung angkat kaki bersama teman-temannya yang lain menuju kelas mereka di lantai dua.
“Kadang kan Ray, aku liat kau itu lembut kali, tapi kadang aku liat kau galak nya lebih-lebih dari mamak awak.” Ucap Ucok terheran-heran.
“Kan aku belajar galak gini juga gara-gara kamu Cok.” Ucap Raya dengan nada lembut seperti semula.
“Tapi kok bisa ya abang-abang itu bilang kau cantik?” Ucap Ucok sambil melihat Raya dari atas ke bawah.
“Cantik dari mana nya kalo kek gini?” Ucap Ucok lagi yang dihadiahkan pukulan keras dari Raya.
“Selamat pagi mang Saleh.” Ucap Ibu Dewi dengan setumpuk buku di genggamannya.
“Eh, Bu Dewi, selamat pagi ibu.” Ucap Mang Saleh sambil menunduk sopan, tangannya tanpa di suruh mengambil buku-buku di genggaman Bu Dewi agar perempuan berusia hampir lima puluh tahun itu tidak kelelahan.
“Terima kasih Mang.” Ucap Bu Dewi sambil tersenyum lembut.
“Maaf bu, ada yang ingin saya tanyakan.” Ucap Mang Saleh.
“Apa itu Mang?”
“Ibu tadi malam ada ke sekolah ya bu?” Tanya Mang Saleh, dengan teliti laki-laki itu memandang wajah Ibu Dewi. Ekspresi bingung terpancar dari wajah guru fisika tersebut, Bu Dewi menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Mang Saleh.
“Bukan nya semalam itu hari minggu ya pak? Untuk apa saya ke sekolah?” Ucap Bu Dewi.
Berarti memang benar yang semalam itu Bu Dewi Palsu.
“Hahaha, tidak bu, seperti nya semalam saya salah lihat.” Ucap Saleh sambil tertawa.
“Duh Mang, jangan lewat sini kalau malam-malam, serem Mang. Mang Saleh tau sendiri kalau sekolah ini angker.” Ucap Bu Dewi ketakutan.”
Setelah meletakkan barang-barang ibu Dewi ke dalam ruang guru perhatian Mang Saleh teralih pada murid-murid kelas 2 yang sedang mengintip ke dalam sebuah gudang. Langkah Mang Saleh langsung mengarah ke tempat mereka berada.
“Kenapa kalian disini?” Ucap Mang Saleh dengan kasar, meskipun sifat Saleh tidak seperti ini, namun untuk bisa mengatur anak-anak remaja jaman sekarang, ia harus bisa menjadi galak dan menakutkan.
“Eh, gak ngapa-ngapain kok mang.” Ucap anak-anak itu lalu berlari meninggalkan Mang Saleh di depan gudang.
Gudang ini bukan lah tempat yang aman bagi anak-anak, banyak sekali kejadian buruk yang terjadi di dalam ruangan gelap tersebut, bahkan selain Saleh dan tukang bersih-bersih sekolah sebelumnya, tidak ada satu pun orang yang di perbolehkan masuk ke dalam gudang ini. Terutama murid-murid baru.
Baru saja satu menit Saleh berdiri di depan gudang tersebut, hawa dingin langsung menyelimuti dirinya, untung saja ia tidak lupa memakai gelang pemberian istrinya, kalau tidak ia pasti sudah di ganggu oleh penghuni-penghuni tak kasat mata di dalam gudang ini.
“Mang Saleh!” Panggil Pak Rudi dari depan majelis guru.
“Ini ada jus tumpah, boleh tolong di bersih kan Mang?” Ucapnya lagi.
“Ah iya pak, akan segera saya bersihkan.”
Setelah mengecek pintu yang masih aman terkunci, Mang Saleh pergi meninggalkan tempat itu dan kembali menuju ruang majelis guru.
“Kalian tau gak? Aku pernah liat Yudi masuk ke dalam gudang itu.” Ucap Satu anak kelas dua yang tadi mengintip gudang sekolah saat mereka melalui lorong kelas Raya dan Ucok.
“Hah? Masa iya sih, bukan nya gudang angker itu selalu dikunci ya? Katanya dulu, ada anak perempuan yang hamil terus bunuh diri disana.” Ucap mereka di depan Ucok dan Raya.
“Wah, seru nih Cok! Kita investigasi yok!”
“Aduh kumat lagi Detektif Raya nya, kau aja lah Ray, aku gak se-suntuk kau ku rasa.”
“Ih! Ayok lah Cok, kamu kan selalu bareng sama aku kapan pun dan di situasi apapun. Kita ini bestfriend for ever!” Sahut Raya semangat.
“Bespren Bespren, gilaran mempertaruhkan nyawa awak, bespren kau bilang.” Gumam Ucok emosi.
“Ayolah Ucok, kamu ini ganteng banget loh, udah gitu baik lagi, selalu mau nolongin Raya. Mau ya Cok. Please.” Bujuk Raya.
Ucok menarik nafasnya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan seluruh oksigen yang berada di sekitar mereka. Kalau Raya sudah bertingkah begini Ucok tidak akan mampu lagi menolak permintaan sahabat kecilnya itu.
“Hmm. Ya udah. Tapi kalau aku mati, kau bilang kan ke mamak ku kalau aku sayang kali sama nya ya.” Ucap Ucok pasrah.
Raya berteriak kegirangan sambil menepuk-nepuk tangannya, bagi perempuan ini, hal-hal misterius dan horor seperti gudang itu adalah sebuah kasus yang harus ia pecahkan, rasa ingin tahu Raya terhadap dunia gaib jauh melebihi rasa ingin tahunya terhadap pelajaran apapun di sekolah, untung saja sekolah baru nya ini terkenal angker, kalau tidak ia pasti akan menjalani masa SMA yang sangat membosankan sama seperti saat ia menjalani masa SMP dulu.
“Baru hari pertama udah sakit kepala ku Ray.” Ucap Ucok sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Gak usah lebay gitu Cok! Dari tadi juga kita gak ada belajar apa-apa tau!”
“Banyak yang ku pikirin Ray. Kek mana ya kalau kita UN nanti? Aduh mati lah aku Ray.” Ucap Ucok frustasi.
“Kok jadi ikutan frustasi aku jadi nya, UN masih lama Ucok!”
“Eh Cok, kita ke gudang yang di bicarain kakak-kakak tadi yok?” Ucap Raya sambil menampilkan senyuman yang terlihat sangat menyeramkan bagi Ucok.
Kepala Ucok tiba-tiba saja terbaring di atas meja belajarnya, sambil menutup mata Ucok berharap Raya percaya bahwa ia pingsan karena kecemasan di dalam hatinya terhadap ujian nasional nanti.
“Ayo Ucok! Jangan pura-pura pingsan gitu!” Sahut Raya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ucok yang tidak mau terbangun.
“Masa kamu tiba-tiba pingsan karena ujian nasional dua tahun lagi?”
“Ya elah, baru hari pertama aja udah ketemu bucin.” Ucap salah satu anak di kelas mereka.
“HEH! Diam mulut kau itu ya! Mau ku tampar?” Sahut Raya dengan galak yang berhasil membuat Ucok mau tak mau terbangun karena tak mampu lagi menahan tawa nya.
“Ya udah ayok. Tapi bentar aja ya, aku mau latihan futsal nanti jam 5.”
“Lah ini udah mau jam 5.” Keluh Raya.
“Ya makanya cepat ku bilang Soraya Arsita!” Ucap Ucok geram.
“Ya udah yok!!” Sahut Raya semangat.
Ke dua sahabat itu berjalan menuju gudang angker yang di maksud oleh kakak-kakak kelas dua tadi, sesampai nya disana Raya dan Ucok dapat langsung merasakan suasana yang berbeda dari biasanya, suasana mencekam dan terkesan dingin timbul dan langsung menyelimuti mereka.
“Pulang yuk.”
“Masuk yuk.” Ucap mereka bersamaan.
“Gila lah kau ku rasa! Mau masuk kau bilang? Jangan yang enggak-enggak terus kerjaan mu Ray.” Sahut Ucok emosi, laki-laki itu bingung kenapa sahabat nya ini tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
“Raya” Tubuh Raya dan Ucok seketika merinding saat mendengar suara pelan yang samar-samar memanggil nama Raya.
“Ayo pulang Ray!” Sahut Ucok ketakutan.
Berbeda dengan Ucok, mata Raya terpaku ke arah pintu gudang tersebut, rasa penasaran benar-benar memenuhi dirinya, dalam benak Raya, ia sungguh-sungguh berniat untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Tanpa ada nya angin yang berhembus, tiba-tiba saja pintu tua yang selama ini terkunci rapat terbuka dengan sendiri nya.
Sensasi aneh muncul dari dalam diri Raya, tubuh nya seolah-olah ditarik oleh sesuatu untuk masuk ke dalam gudang tersebut.
“Ray! Mau kemana kau? Ku tinggal betulan kau ya Ray!”
“Iya, kamu pulang duluan aja, nanti aku naik angkot ke rumah.” Ucap Raya dengan suara pelan yang terdengar cukup aneh bagi Ucok.
Karena tidak dapat menahan rasa takut lagi, mau tidak mau, Ucok terpaksa meninggalkan Raya sendirian di sana.
“Raya” Ucap suara perempuan misterius itu lagi yang hanya bisa di dengar oleh Raya dan Ucok.
Tanpa Raya sadari sesosok makhluk tak kasat mata berambut panjang dengan mata berwarna merah dan lidah panjang yang menjulur keluar hingga dadanya tersenyum lebar menunggu kedatangan Raya dari dalam gudang gelap tersebut.
“Kemari lah Raya.”
“Hei!” Sahut Saleh terkejut saat melihat Raya yang sudah tidak sadar lagi berjalan masuk ke dalam gudang itu.
“AH! MAMPUS LAH AKU!” Bentak Ucok sambil berlari kembali menuju tempat Raya berdiri.
Raya membalik kan badan nya dan memandang Ucok dengan tatapan yang begitu menyeramkan seolah perempuan itu bukan lah Raya yang sebenarnya.
Karena rasa khawatir yang teramat sangat, Ucok tidak peduli lagi akan rasa takutnya dan langsung menggendong tubuh mungil Soraya dengan tubuh atletisnya. Laki-laki itu berlari sambil menggendong Raya yang langsung tak sadar kan diri setelah menjauh dari gudang tersebut.
Di hari itu, Ucok mengetahui suatu hal yang benar-benar menyeramkan. Gudang yang di kenal dengan sebutan Gudang Hitam di sekolah nya bukan lah tempat angker yang biasa ia kunjungi bersama dengan Raya, tidak pernah ia merasakan rasa takut yang sedahsyat itu sampai-sampai ia sempat untuk meninggalkan Soraya sendirian.
Entah kisah kelam apa yang pernah terjadi di gudang tersebut, ia tidak peduli, yang penting saat ini adalah kondisi Raya, ia harus segera membawa sahabat terbaiknya itu ke rumah sakit sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Saleh memasuki ruangan itu sambil melepas gelang di tangannya. Suasana mencekam yang sebelum nya di rasakan oleh Saleh berubah menjadi lebih kuat lagi, sesosok makhluk menyeramkan berdiri di depannya dengan tatapan penuh amarah.
“Aku sudah mengatakan pada bos mu untuk tidak mengambil murid baru lagi di tahun ini.” Ucap Saleh di balas dengan suara tawa yang begitu kuat dan menyeramkan namun hanya bisa di dengar oleh Saleh.
Makhluk tak kasat mata itu melompat dan berjongkok di atas sebuah lemari piala kosong dengan senyuman lebar.
“Sajen yang kau berikan tidaklah cukup untuk memuaskan tuan ku. Yang di inginkan nya hanyalah darah anak manusia.” Ucap makhluk berlidah panjang itu dengan suara menyeramkan lalu menghilang dari pandangan Saleh.
Laki-laki itu kembali memakai gelang pemberian Putih lalu beranjak keluar dari ruangan. Setelah mengunci pintu dengan rapat. Tangannya mengeluarkan sekantung bubuk aneh dari dalam saku celana dan menaburkan bubuk itu di depan pintu gudang.
“Kami akan tetap mempersembahkan tumbal kepada tuan kami.”
“Kalau kau mau menyelamat kan anak-anak itu. Korbankan saja istri sialanmu itu pada kami hahaha.”