9. Pernikahan Didin dan Laila

910 Kata
"Oh, jadi kamu mau pulang ke Jakarta?" tanya Hani pada Syamil yang tengah sibuk di depan laptopnya. Pemuda itu mengangguk, tanpa melepas pandangan dari layar laptop. Sore ini Hani membuat kolak pisang dan ia mengantarkan ke kamar kos Syamil. Pintu kamar terbuka dan Hani duduk di depan sambil menemani Syamil mengerjakan tugas. "Lama gak?" tanya Hani lagi. "Nggak, saya kan kuliah, Mbak. Paling hari senin pagi saya pulang. Besok dari kampus saya langsung ke terminal, gak balik ke kosan lagi," jawab Syamil sambil tersenyum. "Wah, berarti aku gak bisa lihat kamu pergi dong! Apa mau aku antar?" Syamil tidak langsung menjawab, melainkan tawa yang menggelegar membuat teman kos yang kebetulan lewat di depan kamarnya ikut menoleh. "Makasih, Mbak, Hani, tapi saya udah besar, bukan anak TK lagi, jadi gak usah diantar. Lagian Mbak Hani lagi hamil, gak boleh pergi jauh-jauh." Hani diam sejenak, kemudian wajahnya berubah cemberut. "Tapi aku mau antar," kata Hani sedih. Syamil menggelengkan kepalanya sambil mendesah. "Gak usah, malah aneh! Udah ah, saya lagi ada tugas nih! Mbak Hani pulang aja gih! Mau magrib, pamali duduk di depan pintu." Hani berdiri dan langsung masuk ke kamar Syamil. Bahkan dengan santai naik ke kasur pemuda itu. Syamil kembali menggelengkan kepala. "Bukan jadinya malah masuk ke kamar kos saya. Duh, gimana sih jelasin sama ibu-ibu hamil ini!" Pemuda itu kembali gregetan dengan Hani. Ia memohon pada Hani untuk pulang karena memang sudah masuk waktu magrib. "Aku sebenarnya masih mau lihat kamu, karena besok kamu udah ke Jakarta. Aku pasti kesepian. Tapi karena udah magrib juga, ya udah deh, aku pulang." Hani keluar dari kamar Syamil. "Makasih kolaknya, Mbak." Syamil berseru dari lantai atas, saat Hani sudah berada di pintu gerbang kos. Wanita itu tersenyum sambil mengangguk. Wajahnya masih sedih, tetapi Syamil yang tidak mengerti, ya masa bodoh saja. Pemuda itu bergegas berwudhu untuk melaksanakan salat magrib di masjid. Keesokan paginya, Syamil berangkat ke kampus lebih pagi karena ia sudah berjanji pada Hanum untuk membantunya mengerjakan tugas. Sekilas ia sempat menoleh ke depan rumah Hani, pintu rumah masih tertutup. Wanita berkerudung besar itu tersenyum dari kejauhan saat melihat Syamil berjalan mendekat. Pemuda itu pun ikut tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Assalamu'alaikum, kamu udah lama nunggu ya, Num?" sapa Syamil dengan ramah. "Wa'alaykumussalam. Nggak, baru saja. Ini aku bawakan kamu sarapan." Hanum mengeluarkan box berisi bubur ayam dan juga teh panas dari dalam totte bag-nya. Syamil tentu saja tersenyum begitu senang karena ia memang sedang lapar dan belum sarapan. "Wah, belum mulai belajar udah dapat sarapan. Makasih Hanum." Syamil tidak langsung menikmati sarapannya, tetapi ia lebih memilih mengajarkan Hanum terlebih dahulu. Hanum mahasiswi yang cerdas, sehingga sebentar saja Syamil ajarkan, gadis itu sudah paham dan bisa melanjutkan tugas itu sendiri. Pemuda itu tentu saja semakin terpesona dengan kecerdasan Hanum. Selain cerdas, Hanum juga soliha. Tentu saja momen seru belajar pagi hari bersama Hanum diabadikan Syamil dengan memotret keseruan mereka. Foto itu pun ia jadikan status WA. Hani yang tengah menonton TV sambil menikmati nasi goreng buatannya, tiba-tiba iseng membuka ponselnya. Pembaruan status Syamil dengan seorang wanita berkerudung berwajah manis membuat Hani mengerutkan kening. Keduanya nampak cocok karena yang satu solih dan yang satunya soliha. Belajar yang benar, Sya. Jangan pacaran. Send Foto Syamil dikomentari oleh Hani, tetapi pemuda itu belum membacanya karena Syamil dan Hanum sudah berada di kelas mereka. *** Sementara itu, di Jakarta, tepatnya di pondok pesantren milik orang tua Syamil, sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan antara Laila dan Didin yang akan berlangsung besok pagi. Tepatnya hari sabtu. Akad akan dilaksanakan jam sembilan pagi. Dilanjutkan dengan resepsi sampai jam lima sore. Tentu saja semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Termasuk Bu Umi yang dengan terpaksa menyambut tamu dengan tongkatnya. Ya, ibu dari Syamil memang sempat mengalami stroke di bagian kiri tubuhnya, tetapi sekarang sudah membaik dan Bu Umi sudah bisa berdiri dengan tongkat, walaupun tidak bisa berlama-lama. "Laila, adik kamu udah ngabarin kapan mau ke sini?" tanya Bu Umi menghampiri sang Putri yang sedang dipijat oleh staf salon yang dipanggil ke rumahnya. "Udah, Mi, katanya ada kuliah sampai jam dua siang. Nanti dari kampus, Syamil langsung ke Jakarta naik bus. Paling magrib sampai sini, Mi," jawab Laila. Semalam ia sudah menelepon Syamil dan mengonfirmasi hal tersebut. "Oh, syukurlah. Ummi takut adik kamu malah datangnya saat mau buka amplop saja, ha ha ha.... " Laila tertawa. Ia senang karena ummi-nya sudah semakin membaik dan juga ceria. Apalagi menjelang hari pernikahannya dengan Didin. Ia akan segera menikah dengan pria bertanggung jawab dan solih seperti Didin. Adiknya juga tengah menuntut ilmu dengan baik sesuai dengan harapannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan orang tua daripada melihat anak-anak mereka senang dan bahagia. "Adik kamu gak punya pacar di sanakan?" tanya Bu Umi lagi dengan ragu. "Nggaklah, Mi, Syamil mana mau pacaran. Lagian Syamil anak baik, Mi, dia fokus sekolah dan sekolah. Kalau pun ada teman wanita, ya itu biasa di dunia kampus. Masa tidak berteman. Kita tidak boleh terlalu mengekang, nanti malah Syamil nekat." "Kalau teman wanitanya ibu-ibu gimana?" tanya Bu Umi masih saja was-was. "Ya gak papa, kan ada suaminya, Mi." Laila meringis saat punggungnya ditekan cukup kuat oleh tukang pijat. "Kalau suaminya gak ada?" Bu Umi masih terus mencecar tidak mau kalah. "Ya, beruntung Syamil, dapat wanita berpengalaman, ha ha ha.... " Bu Umi menderita sebal. Ia pergi meninggalkan kamar calon pengantin dengan perasaan dongkol. Ia sudah meniatkan dalam hati, saat Syamil nanti malam sampai di rumah, maka ia akan memberikan wejangan pada putranya untuk tidak dekat dengan wanita manapun selama masih kuliah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN