Dingin Kayak Kulkas
Pagi ini Renata bangun lebih awal karena harus menyiapkan bekal serta sarapan untuk anak-anaknya serta menyiapkan segala keperluan sekolah anak-anaknya. Yap ... Renata memang masih muda tapi soal mengurus anak dan rumah tangga jangan ditanyakan lagi karena ia sudah belajar banyak dari sang mama. Setelah semua siap Renata bergegas membangunkan anak-anaknya dan bersiap diri. Tak pernah Renata bayangkan sebelumnya sibuknya mengurus dua anak sekolah dipagi hari, namun Renata tetap menikmatinya dengan senang hati. Renata menyangka bahwa akan lama membangunkan dua anak tersebut namun dugaannya salah anak-anak justru sudah bangun dan selesai mandi ketika ia ingin membangunkannya. Kedua anak ini benar-benar anak yang istimewa bagi Renata.
"Sayang kalian sudah selesai mandi? Kakak sudah ganti baju ya? Wah pintarnya anak-anak Bunda," puji Renata seraya mencium puncak kepala keduanya.
"Sini Adek, Bunda bantuin pake seragamnya nak, Kakak tunggu sebentar ya nanti Bunda sisirin rambutnya biar tambah cantik," ucap Renata lembut.
Alih-alih mendekat kedua bocah tersebut justru diam saja terkesima dengan perhatian yang Renata berikan, maklum saja selama ini mereka melakukan semuanya sendiri meski mereka memiliki seorang pengasuh.
"Kakak sama Adek kenapa hemmm? Bunda ada salah ngomong ya?" tanya Renata heran.
"Bukan, Bunda gak salah kita hanya terharu karena bunda sangat perhatian sama kita," ucap Shafa dengan senyuman manisnya.
"Bunda, akan lakuin apapun untuk kalian, kan Bunda sayang kalian," ucap Renata sembari memeluk keduanya.
Terdengar sebuah ketukan pintu yang diikuti dengan suara teriakan pagi khas sang mama membuat Renata dan kedua anak-anak tersebut tertawa mendengarnya karena tanpa sengaja mereka menyahut panggilannya dengan bersamaan. Mereka pun turun dan berjalan kearah meja makan untuk sarapan namun ada sesuatu yang berbeda yang membuat Renata kaget yaitu kehadiran Dafa yang sedang asik bercengkrama dengan papanya dimeja makan. Dengan gugup Renata mengambilkan Dafa nasi dan lauk yang Dafa minta kemudian memberikannya tanpa menatap Dafa.
"Ini makannya," ucap Renata lembut.
Disisi lain, Kafa yang sedang asik menyantap makanan sendiri dengan belepotan, hal tersebut menjadi alasan untuk Renata menghindar untuk duduk di sebelah Dafa. Renata memilih duduk disamping bangku kosong Kafa, ia menyuapinya makan dan membersihkan sisa makanan Kafa yang belepotan.
"Nah sudah selesai dan gak ada yang ketinggalan kan? Ayo kita berangkat, Sayang? Kakak sama adek salim dulu ya sama Oma dan Opa," tutur Renata lembut yang dibalas anggukan oleh keduanya.
Mereka pun berjalan menuju depan rumah. Renata yang menggandeng Kafa dan Shafa berjalan menuju mobil Renata yang berada tepat di depan rumah namun dengan cepat dicegah oleh sang Mama.
Mama Renatha mengusulkan agar mereka berangkat bersama-sama saja agar terlihat harmonis yang sontak membuat Renata terkejut ketika mendengarnya. Dengan akting yang sempurna Dafa pun membenarkan perkataan sang calon mertua danengajak Renata dan kedua anaknya berangkat bersamanya tentu saja itu membuat Kafa dan Shafa girang dan menyetujuinya. Dalam perjalan menuju sekolah terdengar ocehan kedua bocah yang seru menebak reaksi kawan-kawannya jika ia membawa Bunda baru. Renata pun hanya diam menyimak dan terkekeh mendengar tingkah lucu keduanya. Namun keheningan pun terjadi ketika kedua bocah tersebut sudah tiba disekolah sudah tak ada lagi canda tawa serta ocehan yang menggema dalam mobil yang berisi dua manusia dewasa yang saling berdiam.
"Bye, Sayang semangat ya sekolahnya," seru Renata sembari melambaik-lambaikan tangan.
"Bye Bunda," balas Shafa.
Mobil kembali berjalan, suasana menjadi tidak nyaman. Renata meminta turun di jalan yang lumayan agak jauh dari rumah sakit dengan dalih ingin balik mengambil sesuatu yang tertinggal dan menolak tawaran Dafa yang ingin mengantarnya dengan halus.
"Stop, Pak bisa turunin saya disini?" ucap Renata lembut.
"Disini?" ucap Rama mengernyitkan dahinya heran.
"Kenapa ini masih jauh dari rumah sakit?" tanya Dafa heran.
"Ngg itu ada barang yang tertinggal yang harus saya ambil," kilah Kiana berbohong.
"Gak usah turun saya anter kamu," ucap Dafa datar.
"Gak usah, Pak kalau putar balik nanti Bapak telat kekantornya. Tak apa, biar saya sendiri saja," tolak Renata halus.
"Ya sudah kalau mau kamu begitu," ucap Dafa dingin.
"Iya, Pak."
Renata turun dari mobil tepat ketika Dafa menepikan mobilnya. Renata mengelus d**a dan bersyukur dia dapat menghindar dari Dafa si dingin kaya kulkas. Dan memilih naik ojol untuk pergi ke rumah sakit tempat ia kerja.
Seperti biasa Renatha menjalani harinya dengan bahagia sebagai seorang dokter anak.
Drrrrrt drtttttt
Suara panggilan masuk di ponsel Renata dari Shafa namun ternyata yang menelfon adalah Kafa.
"Bunda, malam ini Bunda bobok di rumah kita kan?" rajuk si kecil Kafa.
Renata tak tahu harus menjawab apa karena jujur Renata takut jika nanti Dafa berfikir yang tidak-tidak.
"Tanya Ayah saja, Sayang kalau Bunda ikut apa kata Ayah saja," ucap Renata lembut.
"Oke kalau gitu nanti Kafa suruh Ayah jemput Bunda kalau begitu," ucap Kafa girang karena ia tahu jika Ayahnya pasti akan mengabulkan permintaannya.
"Oke, Sayang, " ucap Renata sembari menutup telepon Kafa.
Renata meletakkan ponselnya di atas nakas, ia menghela nafas panjang lalu kemudian melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Drrrt Drrrt
Ponsel Kiana kembali bergetar, ia melihat siapa getangan yang sedang menelponnya. "Kulkas" begitu nama yang tertera di layar ponselnya. Kiana langsung menyambar ponselnya lalu menerima teleponnya.
"H-halo, Pak?" ucap Renata gugup.
"............"
"Oh iya saya ke depan sekarang," ucap Renata mematikan sambungan teleponnya sembari berjalan cepat kedepan rumah sakit karena Dafa telah menjemputnya.
"Maaf menunggu lama," ucap Kiana tak enak hati yang tidak mendapat tanggapan apapun dari sang suami.
Sesampainya di rumah Dafa Renata sudah disambut Kafa dan Shafa yang berhambur memeluknya.
"Bunda, Kafa seneng banget bunda bobok disini, jadi nanti kita bisa bobok berempat" ucap Kafa girang.
"Berempat?" tanya Dafa sembari menaikkan satu alisnya.
"Iya Yah, kita berempat aku Kakak, Bunda dan Ayah, iya kan kak?" ucap Kafa dengan semangat yang membuat Dafa dan Renata saling berpandangan.
Dafa menganggukkan kepalanya perlahan tanda menyetujui keingin anak-anaknya. Kedua bocah itu pun melompat kegirangan saking senangnya.
"Terima kasih, Ayah." ucap Kafa dan Safa bersamaan.
Kafa dan Shafa berhambur memeluk Dafa dengan sayang. Dafa tersenyum lalu membalas pelukan kedua anaknya.
"Sama-sama, Sayang. Ya sudah Ayah beresin kerjaan dulu ya?" ucap Rama hendak berpamitan.
"Iya Yah."
Dafa melangkahkan kaki perlahan menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya.
"Bunda, ayo kita ke kamar saja?" ajak Kiana.
Kiana mengangguk kan kepala secara perlahan. "Iya, Sayang."
Shafa dan Kafa menggandeng tangan Kiana menaiki anak tangga menuju kamar mereka.