Jangan lupa tekan love
&
Komen
.
.
.
*M e m o r i e s*
Dengan pikiran bercabang sekali pun, Ben masih berusaha untuk fokus pada penjelasan dosen di depannya. Bapak-bapak dengan perut buncit dan rambut memutih yang katanya akan telat selama lima menit tapi malah datang saat hari mulai senja itu dengan gamblangnya membentak para mahasiswa yang sedang geleyoran di gazebo kampus.
"Ngapain kalian malah rebahan di sini? Bukannya masuk ke kelas? Niat belajar nggak kalian? Sudah hampir akhir semester masih saja malas-malasan. Kalian mau tinggal di kampus ini sampai tua?"
"Ya, ngapain juga Bapak telat? Bapak pikir nunggu itu nggak capek? Masih mending geleyoran di sini, nggak pulang ke kosan buat tidur. Jangan mentang-mentang jadi dosen terus malah seenaknya sendiri dong," batin Ben.
Iyaa, hanya membatin. Mana mungkin Ben berani mengatakan hal itu secara gamblang di depan Pak Dosen tua super menyebalkan itu. Bisa-bisa Ben menjadi anak didik kesayangannya dan tak akan pernah lulus dari kampus.
Aww, amit-amit. Naudzubillah sekali.
Mendengar celoteh panjang itu, seluruh mahasiswa yang tadinya menahan lapar bahkan kantuk dengan memainkan ponsel juga membaca buku itu segera berhamburan kabur memasuki kelas. Menghindari ceramah jangka panjang yang terjadi secara dadakan oleh dosen tak berperasaan itu.
Bahkan Ben yang sedang menopang tubuh dengan posisi membungkuk itu, menghela napas jengah. Cowok itu berlari segera memasuki kampus menatap Dara yang masih cekikikan memamerkan ponsel miliknya dalam rampasan. Ben masih sempat berkomat-kamit kepada Dara yang selalu acuh dengan sikapnya itu.
Cowok itu mendadak menguap lebar, mengingat hari-harinya yang cukup berat belakangan ini. Di tambah kehadiran Dara yang membuatnya semakin nggak bisa sepenuhnya fokus, padahal sebentar lagi Ben sudah harus memulai penelitiannya dan segera menulis skripsi.
Duar!
Kaget, 'kan?
Jangankan kalian, Ben dan seluruh mahasiswa di dalam kelas itu juga juga tersentak kaget atas perbuatan mulia dosennya. Pasalnya lelaki paruh baya yang kini berdiri di depan kelas itu baru saja selesai menggebrak papan tulis berwarna putih dengan sangat keras. Sehingga perhatian dari ke-dua belas mahasiswa itu tertuju ke depan. Jika saja papan tulis itu hidup, Ben bisa pastikan ia akan meneriakkan protes pada Pak tua di depannya. Atau bahkan melakukan misi pembalasan, setidaknya menjatuhkan diri tepat di atas dosen tersebut.
"Kamu!"
Semua orang di sana mengikuti arah pandangan juga telunjuk Pak Dosen yang kini terarah pada Ben. Cowok itu mendadak kagok di tempat, ia menoleh ke kanan dan kiri lalu menunjuk dirinya sendiri seperti orang i***t.
"Ssa-saya, Pak?" tanya Ben mendadak gagu.
Gimana enggak? Kalian juga pasti pernah 'kan, menjadi satu-satunya objek pandangan di kelas karena ditunjuk oleh guru secara mendadak seperti ini. Rasanya seperti sedang dihakimi, tatapan itu menelanjangi, seolah Ben baru saja melakukan dosa besar yang nggak akan pernah diampuni.
"Iya, kamu. Siapa lagi, Selat Benggala!"
"Saya kenapa, Pak?" tanya Ben masih tampak seperti orang bodoh.
Cowok itu malah menggaruk rambutnya secara alamiah meski tak merasa gatal sedikit pun. Hal itu membuat Pak Dosen di depan kelas semremet dan ingin melempar spidol ke arah Ben dengan tepat sasaran.
"Bismillah, Headshot!"
Akan tetapi, belum sempat hal itu kejadian. Maksudnya belum sempat Bem mendapat hukuman dengan menjawab soal di depan karena menguap dengan suara keras. Suara tangisan seorang perempuan sudah berhasil memecah fokus seluruh umat manusia yang berada di dalam kelas tersebut. Termasuk Ben yang kini turut menoleh ke belakang.
Pasalnya suara tangisan itu terdengar semakin keras, dan ia menemui seorang yang mengenakan hoodie kebesaran hingga kepalanya juga ditutupi oleh tudung hoodie tersebut.
"Kamu yang di sana, ngapain nangis? Jangan buat keributan di jam pelajaran saya," peringkat Dosen di sana.
Namun, bukannya berhenti cewek itu semakin keras menangis di sana. Langkah dosen tua itu sudah berada di hitungan ketiga, jaraknya sekutar satu setengah meter dari Ben yang duduk di kursi belakang. Saat itu juga cewek di belakang Ben berdiri tanpa melepas tudung jaket, lalu tangannya menunjuk Ben dengan sangat mulia dan terpuji.
"Lo harus tanggung jawab sama apa yang udah lo lakuin ke gue," ucapnya parau.
Dan Ben nggak bodoh. Cowok itu mengenal dengan jelas suara ini, bahkan ia seperti dejavu mendengar ucapan cewek tersebut. Ia bergegas menoleh dan menatap Dosen di dekatnya yang sudah melempar tatapan setajam parang Bu Denok.
"Bisa-bisanya lo nyuruh gue ngelakuin hal itu setelah lo nganu sama gue? Lo itu jahat Benggala!" teriaknya.
Kembali berhasil menarik perhatian seluruh umat manusia dalam ruangan tersebut.
"Mampus, mampus! Sumpah demi apa tolong bunuh gue sekarang juga!" batin Ben.
Ia bukan tak ingin mengelak, hanya saja cowok itu juga sedang berpikir bagaimana caranya menghadapi situasi seperti ini. Sedangkan seluruh mata di saja sudah menelanjangi Ben seperti sebelumnya, bahkan lebih parah. Gestur yang dibuat Dara dengan tangan menyentuh perut sambil menangis sesenggukan membuat seluruh mahasiswa di sana saling tatap dan berbisik. Tak percaya bahwa seorang Ben dapat melakukan sesuatu yang sangat nganu.
"Ekhem!" Dosen itu berdehem, di antara sela sesenggukan Dara yang mulai mereda.
"Kamu, keluar dari kelas saya sekarang juga," perintahnya.
Ben membolakan mata, tetapi ia juga nggak tau harus berkata apa.
"Ta-tapi, Pak. Saya ngg—"
"Keluar," titahnya, "selesaikan semuanya secara jantan, Benggala."
Di tepuk pundak Ben sebanyak tiga kali sebelum kemudian dosen itu berbalik dan kembali ke posisinya di depan kelas memegang spidol hitam. Ben juga tak berdaya, selain menurut cowok itu bisa apa. Ia bergegas keluar dari ruangan begitu saja tanpa mempedulikan Dara yang masih mematung di sana.
Sebelum kemudian suara Dosennya kembali membuat Ben menoleh.
"Ben?"
Cowok itu berhenti sejenak untuk menatap dosennya, "Saya bilang selesaikan secara jantan."
Pria tua itu menganggukkan kepalanya dan menggerakkan dagu ke arah Dara. Sekali lagi, cowok itu menghela napas pendek dan meremas tali tas dalam genggaman. Menahan setengah mati hasrat untuk mengumpati cewek nggak ada akhlak yang bahkan membuntutinya sampai ke dalam kelas.
Ajaib! Benar-benar ajaib, seumur hidup baru kali Ini Ben menemukam spesies manusia semacam Dara. Cowok itu tak punya pilihan selain kembali dan menarik lengan Dara untuk segera keluar dari kampus. Meskipun dalam benak Ben, masih tak habis pikir. Bagaimana ceritanya cewek itu bisa masuk ke kelas dan menyusup tanpa ketahuan.
Bukankah ini gila?
Nggak.
Tapi memang benar-benar sangat gila!
*M e m o r i e s*
"Mau lo apa, sih?" sentak Ben menghempaskan tangan Dara. Sehingga gadis itu tersentak tepat di depan Ben berdiri tegak.
"lo tuh ... wah," ucap Ben menggantungkan kalimatnya sambil meremas angin dan sesekali mengeram kesal.
Ia nggak tau lagi harus menjuluki cewek boncel di depannya ini dengan sebutan apa. Setelah pada pertemuan pertama berhasil membuatnya babak belur, menganiayanya di taman, bahkan melakukan pelecehan pada dirinya. Seolah semua itu tak cukup, Dara masih saja membuntutinya sampai ke kampus. Bahkan mengatakan hal-hal konyol yang sangat nggak masuk akal.
Ben berkacak pinggang, menatap Dara yang menunjukkan tampang melas sekaligus wajah tanpa dosa di sana. Sedangkan cowok itu masih nggak habis pikir dengan jalan pikiran cewek yang sangat-sangat ajaib ini.
"Tuhan, gue punya salah apa sih, di masa lalu sampai harus ketemu sama dia?" batin Ben mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tak mengumpat.
"Gini ya, gue minta baik-baik sama lo buat pergi dari kehidupan gue sekarang juga. Bisa 'kan, Sandara?" tanya Ben.
Untuk kali pertamanya cowok itu menyebutkan nama Dara dengan benar. Hal itu membuat sepasang mata bulat Dara berbinar indah. Entah sadar atau enggak, cewek itu bahkan sungguh-sungguh meneteskan air matanya menatap Ben yang tampak kebingungan melihat reaksi cewek di depannya.
"Oh, Tuhan! Please, stop drama ini sampai di sini aja," batin Ben hampir saja menangis.
*M e m o r i e s*
-B E R S A M B U N G-
Terima kasih sudah baca.
Kalau kalian jadi Ben, kalian bakal apain Dara gais? T_T