28. Sebuah Tanya

1148 Kata
Jangan lupa tekan love dan komen! Selamat membaca, gais! ~M E M O R I E S~ "Ini pilihan terbaik, kalau terus dipaksa justru sangat membahayakan buat Ben. Jadi, kita cuma perlu menunggu mukjizat dan keajaiban dari Tuhan." Mukjizat? Keajaiban? Dara hampir saja tertawa mendengarnya, jika kepalanya tak mendadak di serang pusing yang seketika membuat pandangannya menggelap total. Tubuhnya terasa ringan seolah dibawa melayang ke tempat yang bahkan tak diketahui oleh Dara. Jika saja segala pelik yang ia lewati hingga detik ini tak membuahkan hasil. Jika saja semua usaha yang ia lakukan tak juga meninggalkan happy ending. Maka, mungkin memang sudah semestinya Dara mengikuti takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Mengikuti jalan cerita semesta yang tak pernah bisa terbaca. Yaitu dengan melepaskan Ben. Membiarkan lelaki yang ia cintai mencari jalannya sendiri. Entah akan kembali kepada Dara, atau justru sebaliknya. Sesederhana itu, meski kenyataannya tetap saja menyakitkan. Dokter Gito keluar dari ruangan di mana kini Dara di rawat. Beliau berdiri sebentar di depan pintu kaca menatap gadis muda yang kini terbaring tak sadarkan diri. Dara di dalam sana ditemani mama dan Anggar yang tak pernah meninggalkannya sendirian. Dalam hal ini, Dokter Gito bersyukur bahwa Dara masih memiliki, setidaknya keluarga yang selalu menjaga dan memantau kondisi gadis itu. Apalagi Dokter Gito juga tau bahwa Dara memiliki riwayat stress berat di masa lalu. Karena itu, ia juga sempat khawatir melihat Dara yang tiba-tiba jatuh pingsan setelah mendengar keputusannya barusan. Tapi, memang demikian. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Karena semua jenis usaha juga telah dilakukan. Pria paruh baya itu menoleh merasakan bahunya ditepuk pelan bersamaan dengan namanya yang diserukan dengan sopan. "Dokter Gito?" "Loh, Galang di sini juga?" balas Dokter Gito balik bertanya pada lelaki di depannya. "I-iya, tadi Mas Anggar ngasih kabar kalau Dara sama Ben ke rumah sakit lagi." Cowok itu menjelaskan apa yang terjadi dengan ringkas. Sehingga membuat Dokter Gito menghela napas berat. Bagaimana pun juga, ia sudah cukup lama mengenal orang-orang ini. Orang-orang yang bersama dengan Ben dan Dara sejak dua tahun silam, bagaimana awal mula serta kejadian ironis ini terjadi. "Padahal malam itu kamu sudah bawa Ben ke sini dalam waktu singkat, tapi memang cedera di kepalanya cukup parah." Tentu saja Dokter Gito masih ingat kejadian heroik malam itu. Kebetulan ia baru saja menyelesaikan operasi, tapi saat ia akan pulang, mendadak Dokter Gito mendapatkan panggilan darurat untuk tetap berada di rumah sakit melakukan pembedahan. Seorang pemuda turun dari mobil dan menggendong temannya yang terluka parah dibagian kepala. Keduanya basah kuyup sehingga darah dari kepala Ben ikut meleleh di baju yang dikenakan Galang. Seumur hidup, Dokter Gito tidak akan pernah bisa melupakan itu semua. Ia bahkan merasa bangga kepada Galang yang melakukan penyelamatan dengan melarikan Ben ke rumah sakit secepat mungkin. "Apa benar-benar nggak ada jalan lagi, Dok?" tanya Galang menatap Dokter Gito penuh harap. Pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya pelan, sarat akan penyesalan tapi tak juga mengenyahkan senyum yang terukir simpul di bibirnya. "Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik." Galang cuma mengangguk tak ketara sambil menyunggingkan senyum simpul pula. Cowok itu mengikuti langkah kaki Dokter Gito yang mulai menyusuri lorong rumah sakit yang tak begitu ramai. Ada beberapa orang yang duduk di kursi tunggu untuk menanti giliran mereka masuk ke kamar mengisi waktu kunjungan pasien. "Kamu nggak masuk lihat Dara? Dia kecapaian lagi." "Eh, anu, Dok ... sebenernya ada yang mau saya tanyakan sama Dokter," bisik Galang memelankan suaranya. "Kalau Dokter kebetulan sedang tidak sibuk, tentunya." Entah sadar atau tidak, cowok itu bahkan memangkas jarak di antara dirinya dan Dokter Gito. "Kalau sekiranya ini panjang, lebih baik ke ruang kerja saya saja, ya?" "Baik, Dok." ~M E M O R I E S~ Niatnya untuk mencari minuman hangat diurungkan. Kini Anggar malah memutar langkahnya menuju ke kamar Ben. Di mana cowok itu kini terbaring sendirian tanpa ada yang menemani. Anggar duduk di sana, sebuah kursi yang tak jauh dari tempat tidur Ben. Ia ingat bagaimana dulu adiknya itu sangat bahagia saat Ben melamar dan memutuskan untuk menikahinya. Anggar juga jelas tau banyak hal tentang Dara, terlebih selain menjadi seorang kakak. Anggar juga menggantikan peranan sosok ayah untuk Dara. "Kalau lo emang nggak bisa bikin adek gue senyum lagi, seenggaknya jangan bikin dia nangis." Anggar mengucapkan kalimat barusan, seolah-olah apa yang baru saja ia katakan dapat di dengar oleh Ben yang tengah terpejam. Tepat setelah ia mengucapkan kalimat itu, Anggar menyentuh jemari Ben yang hangat. Sebelum kemudian benar-benar meninggalkan ruangan Ben dan bergegas membeli minuman hangat untuk mama yang masih menjaga Dara. Akan tetapi, begitu keluar dari ruangan Ben. Sepasang mata Anggar memicing mendapati seseorang yang ia kenal berjalan beriringan masuk ke ruang kerja Dokter Gito. Sekelumit tanya kini menerobos masuk dan bersarang di kepala Anggar melihat seseorang tersebut. "Kenapa Galang masuk ke sana?" bisik Anggar penasaran. ~M E M O R I E S~ -Arsy Widianto & Brisia Jodie : Rindu Dalam Hati- Kadang hati Berharap kuterbangun dari sebuah mimpi Ini bukan kenyataan Namun adanya tak ada di sini Kau meninggalkanku karena kesalahanku Mungkin ingin bertemu masih ada Ingin memeluk masih ada Sayang kini tak bisa Kau telah memilihnya oh Mungkin saat hatiku masih sayang Salahku memutus cinta Dan kini kumenyesal Rindu hanya di dalam hati Andaikan aku Tak tergesa memutuskanmu Karena egoku hati ini tak akan begini Setiap ingat dirimu rasanya ingin kembali Mungkin ingin bertemu masih ada Ingin memeluk masih ada Sayang kini tak bisa Kau telah memilihnya oh Mungkin saat hatiku masih sayang Salahku memutus cinta Dan kini kumenyesal Rindu hanya di dalam hati Ingin memutar waktu Ingin mengulang lagi Aku tak bisa berpaling lagi Begitu juga aku Jauh di relung hati Sungguh tak mampu tuk berpindah cinta Ho Mungkin ingin bertemu masih ada Ingin memeluk masih ada Sayang kini tak bisa Kau telah memilihnya oh Mungkin saat hatiku masih sayang Salahku memutus cinta Dan kini kumenyesal Rindu hanya di dalam hati Nana Sayang kini tak bisa Kau telah memilihnya oh Mungkin saat hatiku masih sayang Salahku memutus cinta dan kini kumenyesal Rindu hanya di dalam hati Rindu hanya di dalam hati Di hati kau tetap terindah Selalu di hati ~M E M O R I E S~ -B e r s a m b u n g- Attention Please!!! Halo hai! Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri. So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya hape saya yang agak nganu ? Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget. Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya. Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN