Tatapannya nyalang, bahkan lingkaran hitam itu terlihat jelas menghiasi sepasang mata Dara yang lelah. Karena hampir setiap hari gadis itu kekurangan waktu untuk tidur dan beristirahat. Cewek periang yang paling nggak bisa diam itu, kini lebih sering mengurung dirinya di kamar sendirian. Mengabaikan panggilan dari mama atau kakaknya yang masih berusaha membujuk Dara untuk keluar. Atau setidaknya mengisi perut dengan makanan.
"Ra, makan dulu, Nak. Jangan bikin mama tambah sedih."
Suara mama terdengar dari balik pintu berwarna putih bersih tersebut. Namun, Dara sama sekali nggak berniat untuk menjawabnya. Satu hal yang kini menghantui pikiran Dara hingga dadanyaaa sesak adalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan Ben sepenuhnya.
Laki-laki yang selama ini ia jatuhi hati secara diam-diam, yang berhasil pula memenangkan perasaannya bahkan mengikat janji suci bersama Dara. Kini justru Ben yang meninggalkan Dara dalam kesepian yang mencekik. Kenyataannya sekarang Ben yang melanggar janji-janjinya sendiri untuk tidak saling meninggalkan.
Setitik air mata itu mengalir perlahan menuruni kedua pipi pucat Dara untuk yang kesekian kalinya. Gadis yang duduk di atas kasur dengan posisi memeluk kedua lutut itu, membiarkan rambutnya tergerai, menatap kosong pada pemandangan mendung di luar jendela kamarnya. Dan kini dadaaanya benar-benar sesak menerima kenyataan bahwa Ben terbangun tanpa mengingat dirinya sedikit pun.
"Elo yang ninggalin gue, Ben." Dara bergumam pelan.
Tetes air mata itu tak bisa lagi dibendung. Dara menangis sejadi-jadinya di dalam kamar membuat mama dan kakaknya makin khawatir di luar sana. Sehingga tanpa berpikir panjang lagi, Sanggar—kakak lelaki Dara terpaksa membuka pintu secara paksa dengan mendobraknya.
Wanita paruh baya dan lelaki itu segera masuk. Mereka menemui Dara yang menangis di atas kasur sambil menjambak rambut panjangnya sendiri.
"Pembohong, lo bohong Ben. Lo bohong sama gue, lo nggak nepatin janji lo!" teriak Dara histeris.
Tanpa banyak bicara lagi, Anggar segera mendekap adiknya dengan perasaan iba. Menahan kedua tangan Dara agar nggak melukai dirinya sendiri lebih banyak. Ditepuk berulang kali pundak Dara dengan sangat pelan berusaha menyadarkan bahwa ia begitu berharga. Bahwa semuanya belum usai sampai di sini saja.
Jujur saja ia juga sangat terluka melihat adiknya begitu putus asa melewati semua rentet kejadian ini dengan nelangsa.
~M e m o r i e s~
Cewek itu masih menatap punggung Ben yang berjalan dengan santai di depannya. Kedua tangan cowok itu masuk ke dalam saku hoodie hitam yang dikenakan, tentu saja masih sambil menggendong ransel karena sejak pagi tadi, Ben hampir belum singgah sama-sekali ke indekos.
Ia diseret oleh Dara ke mall dan melakukan hal yang sebenarnya nggak bisa Ben pahami. Selama di mall itu, Dara hanya mengajaknya singgah di sebuah kafe untuk menikmati secangkir kopi hitam, sementara cewek itu meminum milkshake. Kemudian berkeliling ke beberapa store pakaian pria, tapi Dara sama-sekali nggak masuk ke sana.
Bahkan saat berada di dalam toko buku tadi, Dara hanya menatap buku-buku yang berjejer rapi di rak dan menyentuhnya sekilas. Sampai selarut ini Dara belum juga terlihat lelah, jika Ben nggak mengajak cewek itu balik. Mungkin saja Dara masih terus mendatangi tempat yang membuat Ben akan kewalahan.
Sialnya saat dalam perjalanan pulang motor matic Ben mogok lagi. Sehingga keduanya terpaksa jalan kaki dari parkiran mall untuk menuju ke pangkalan angkot terdekat.
"Selat Benggala?" panggil Dara nggak juga membuat Ben menoleh, atau bahkan berhenti menunggunya.
Sontak Dara mengercutkan bibirnya ke samping sambil meremas tali tas selempang yang terpasang di bahu.
"Bento? Benjol, Bengkok!" panggilan itu terus diserukan oleh Dara, tapi belum juga membuat cowok tinggi yang kini berjarak satu meter di depannya itu berhenti.
"Gue hitung sampai tiga lo nggak berhenti, gue pastiin lo nyesel malam ini, Ben." Dara kembali mengucapkan ancaman itu kepada Ben.
"Sat—," ucapan Dara terhenti secara tiba tiba, saat Ben mendadak berhenti dan memutar tubuh, bahkan mendekati Dara dan meraih tangan cewek itu dalam genggamannya.
Sontak untuk beberapa saat, Dara yang mendapat perlakuan seperti demikian kembali mengalami serangan jantung ringan. Dadanya bergemuruh abnormal, seperti dulu-dulu saat Ben bersikap manis padanya. Diam-diam Dara menggigit pipi bagian dalamnya saat melirik wajah Ben dari samping.
Namun, sedetik kemudian Ben juga ikut menoleh pada Dara. Tatapan melawan dari Ben masih seperti biasanya, terlalu menyenangkan untuk dilewatkan.
"Puas 'kan, lo?" bisik Ben dengan rahang saling beradu.
Bukan apa-apa, cowok itu hanya nggak mau kalau kejadian seperti dulu-dulu kembali terulang dan membuatnya harus menanggung malu di depan umum. Mulai dari kejutan di halte bus malam itu, saat Ben pertama kali menjumpai Dara yang setengah teler. Kejadian di kamar kosnya, di taman, dan yang masih hangat adalah kemarin saat Dara membuat teman sekelas di kampusnya menatap Ben penuh hina. Termasuk dosbing yang sejak hari itu sering memberikan khotbah dadakan kepada Ben meski cowok itu sudah menjelaskan bahwa semua itu hanya sebuah kesalahpahaman.
Aish, hanya dengan membayangkannya saja, Ben sudah bergidik ngeri.
"Dari tadi kek," gumam Dara senang.
"Nggak ngerti lagi gue sama isi kepala lo." Ben membalas ucapan Dara tanpa menoleh sedikit pun.
"Makannya tolongin gue sekali aja, ya? Oke?" kedua tangan Dara kini beralih menjadi mendekap lengan panjang Ben dengan erat.
Cewek itu bahkan merapalkan tubuhnya dengan Ben dan berusaha menatap wajah Ben lebih dekat. Agar cowok itu bisa melihat perjuangannya untuk memohon pada Ben kali ini.
"Nggak jawab berarti setuju!"
"Nggak usah mimpi!" balas Ben menoleh sejenak.
Akhirnya Ben mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam saku hoodie dan mendorong kepala Dara dengan pelan. Sehingga cewek itu kembali berjalan dengan benar.
"Apa susahnya sih? Kan lo cuma perlu pura-pura jadi suami gue."
"Nggak lucu, Ra. Lo pikir perasaan manusia itu mainan, pura-pura? Hah ... jangan ngawur."
Dara berdecih pelan, tapi nggak melepaskan lengan Ben dalam dekapannya.
"Gue serius, tau." Ia bergumam pelan dan fokus pada langkahnya kali ini.
Ben sendiri nggak lagi bersuara setelah menolak permintaan konyol Dara untuk berpura-pura menjadi suaminya. Cewek ini benar-benar sangat ajaib bukan. Hanya karena Ben mau membantu Dara melewati ini semua, tapi bukan berarti Ben mau melakukan hal konyol itu. Menggantikan posisi orang lain di hidup orang lain?
Ayolah ... kalian mau melakukannya?
Kecuali dibayar.
"Kita mungkin bisa jadi temen, nggak lebih." Suara Ben kembali terdengar merasuki telinga Dara.
"Lo pulang naik taksi aja lebih aman. Gue udah biasa naik angkot," kata Ben menghentikan sebuah taksi di pinggir trotoar.
Cowok itu bahkan membukakan pintu penumpang untuk Dara. Membuat cewek itu mematung di sana sejenak menatap Ben dengan seksama.
"Buru, udah malem, Ra."
"Kenapa nggak bareng aja, sih?"
Ben menggelengkan kepalanya, tangan cowok itu terulur menyentuh bahu ramping Dara dan mendorong gadis itu perlahan hingga duduk di kursi penumpang dengan aman.
"Besok kemungkinan gue nggak bisa jemput lo, lagian gue juga harus kerja besok. Jadi mending lo nggak usah dateng," kata Ben pada Dara sebelum menutup pintu.
"Pak, hati-hati, ya. Tolong di antar sampai depan pintu," pinta Ben sambil menepuk taksi tersebut sebanyak tiga kali.
Membiarkan Dara menatapnya lewat jendela kaca yang terbuka. Cewek itu bahkan belum sempat menjawab ucapan Ben, tapi taksi yang ditumpanginya sudah melaju melintasi jalanan yang tak begitu padat malam itu.
Di tempatnya berdiri, Ben masih menatap mobil taksi yang kian menjauh itu. Ia menghela napas pendek sambil menggelengkan kepala mengingat permintaan konyol dari Dara tadi.
"Lo emang unik, sih Ra." Ben tertawa kecil. Kemudian bergegas menuju tempat pemberhentian angkot yang tak begitu jauh di sana.
Ben bahkan sudah sangat merindukan kasur paling nyaman yang ia punya selama ini. Sesampainya di indekos nanti Ben akan segera terlelap lagi. Sungguh, hari ini cukup melelahkan untuk makhluk yang nggak pernah jalan-jalan keluar seperti Ben.
"Halah, mampus. Tugasku belum dikumpulin!" pekik Ben teringat tugas meringkas dari Pak Sukonto yang harusnya ia kumpulkan sore tadi.
Cowok itu bergegas membuka ponsel di dalam saku celana dan membuka file tugas yang harus ia kirimkan saat ini juga. Ben sudah siap secara lahir batin untuk mendapat omelan dari dosen tersebut.
~M e m o r i e s~
-B e r s a m b u n g-
Jangan lupa tekan love gais ^^
Sankyu!