Selamat membaca
Jangan lupa tekan love
&
Komen
.
.
.
~M e m o r i e s~
"Bakso kuahnya dikit, nggak pakai tahu, nggak pakai kubis, nggak pakai mie, bihun, bawang goreng banyakin."
Ben melongo menatap Dara yang baru saja menyebutkan bakso pesanannya sesuai dengan apa yang ia mau. Ben bahkan baru kali ini makan bakso bersama cewek bertubuh mungil tersebut, tapi bagaimana mungkin Dara sudah menghapal kebiasaannya makan bakso. Cowok itu masih terkesima dengan apa yang ia dengar barusan, sebuah kalimat tanpa jeda dan cacat diucapkan Dara pada tukang bakso yang mangkal di dekat universitas tersebut. Kini mata Ben mengekori Dara yang berjalan melewatinya untuk mencari bangku kosong. Pasalnya waktu sore begini warung bakso mie ayam selalu ramai dengan para mahasiswa yang kelaparan sepulang ngampus.
"Minumnya teh anget, Pak!" teriak Dara dari kursi.
Tentu saja hal itu membuat Ben kembali melongo, satu paket komplit bakso beserta teh hangat kebiasaannya sudah dipesan Dara. Cewek itu sudah duduk di bangku pojok tenda paling ujung, kini melambaikan tangannya ke arah Ben dengan senyum mengembang lebar. Benar-benar seperti anak kecil yang kelaparan menunggu makanannya datang. Tanpa menunggu lebih lama Ben bergegas menghampiri meja yang sudah ditandai oleh Dara dan duduk berhadapan dengan cewek itu.
"Lo?" ucapan Ben lagi-lagi hanya menggantung dalam kerongkongan.
Ia menatap Dara yang tersenyum lebar ke arahnya sambil sesekali melirik jam yang melingkari pergelangan tangan.
"Lo itu apa sih?" Ben bergumam tanpa melepaskan tatapannya dari Dara.
Cewek itu mendongak secara spontan setelah mendengar suara itu sampai ke telinganya. Ia menatap Ben dengan kerutan di dahi.
"Apa?"
Kini justru Ben yang menggeleng seperti orang bodoh.
"Gue udah pesenin makanan elo, gue juga yang bakalan bayar," ucap Dara tanpa mengusir senyum yang merekah di bibir.
"Nggak. Gue bayar sendiri."
"Abis itu lo anter gue balik." Dara menanggapi kalimat penolakan Ben dengan sebuah perintah, baru saja cowok itu hendak membuka mulutnya kembali, Dara yang kebetulan membuka sebuah kerupuk ikan memasukkan sebuah kerupuk ke dalam mulut Ben.
"Gue nggak menerima penolakan, Selat Benggala."
Cowok itu mengatupkan rahang, perlahan mengunyah kerupuk dalam mulutnya hingga lumat tanpa mengalihkan tatapannya dari Dara. Antara heran sekaligus takjub dengan spesies cewek yang baru ia temui ini. Padahal baru beberapa menit yang lalu Dara menangis sesenggukan tanpa sebab yang jelas, bahkan matanya saja masih terlihat sembab. Tapi sekarang, cewek itu sudah tersenyum lebar seperti nggak terjadi sesuatu yang salah.
Mengingat cara Dara menangis tadi seperti anak kecil yang ditinggal ibunya belanja.
Hal itu membuat Ben menggelengkan kepalanya. Sampai kemudian ia mengalihkan tatapan saat Dara berseru karena bakso pesanan mereka sudah siap.
"Bakso sama teh anget, 'kan?" tanya bapak itu.
Dara mengangguk, mengucapkan terima kasih dan segera menyeruput teh hangat yang membuat dirinya merasa lebih baik. Mengingat sejak pagi tadi ia hanya minum yogurt dan sepotong roti untuk membuntuti Ben. Rasanya cacing yang sedang membakar ban di dalam perut Dara itu sudah dibumi hanguskan dengan siraman teh hangat.
Sedangkan di depannya, cowok tinggi itu kini nggak banyak mengatakan protes. Ben makan dengan tenang tanpa banyak bicara dan bertanya. Yang tentu saja hal itu membuat hati Dara menghangat seketika. Menatap Ben dengan jarak sedekat ini.
Makan berdua setelah sekian lama, dengan menu yang serupa. Meski tanpa perasaan dan keadaan yang tak lagi sama.
Dara benar-benar rindu.
'Sihalan, untung gue sayang sama elo Benjol!'
~M e m o r i e s~
-B E R S A M B U N G
Pendek ya?
Wkwk
Jangan lupa tekan love bund. Ide mentok maapkan.