23. Singgalang

1426 Kata
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya sendiri, Dara sedikitpun tak bersuara, tatapan gadis itu juga sepenuhnya tertuju pada tangannya sendiri. Tangan yang sedari tadi senantiasa mendekap lengan Ben. Sebagaimana selama ini hatinya tetap mempertahankan laki-laki itu dalam genggaman meski sulit. Meskipun seringkali kerikil tajam yang menjatuhkan Dara sesekali membuatnya ingin menyerah. Tapi, nyatanya sampai detik ini Dara tak pernah melakukan hal itu. Apapun yang terjadi, Dara akan tetap berdiri di sana menunggu Ben-nya datang kembali membawa cinta yang lebih besar dari pada di masa silam. Taksi yang ia tumpang berhenti, sehingga terpaksa membuyarkan lamunan cewek itu setelah pak sopir melongok ke belakang dan memanggil Dara. "Sudah sampai, Mbak." Cewek itu tergugu untuk beberapa saat sebelum kemudian membuka pintu taksi. Namun, hal itu dicegah oleh pak sopir sebelum Dara benar-benar pergi. "Eh, Mbak tunggu!" "I-iya, Pak? Ada apa?" "Ongkosnya belum," jawab pak sopir membuat Dara mengulum bibir malu. Cewek itu segera membuka tas dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah cap dua bapak-bapak. Kemudian segera turun dari taksi tersebut. Dalam hati ia merutuki Ben mati-matian, kenapa juga cowok itu meminta Dara naik taksi kalau Ongkosnya nggak dibayarin? "Tau gini mending tadi gue naik ojek, Benjol!" Dara menghela napas panjang, sedetik kemudian cewek itu mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam sambil memijit tengkuknya yang terasa lelah. Saat gadis itu membuka mata, pandangannya masih tertuju pada langit malam yang gelap nan luas. Tapi, malam itu ada banyak bintang yang terlihat begitu indah, serta bulan sabit yang bersinar terang menggantung di angkasa. Segaris senyum ikut terbit di bibir Dara menyaksikan pemandangan tersebut. Lagi-lagi ingatannya melayang pada masa silam di mana ia dan Ben kerap menghabiskan malam bersama di balkon untuk sekedar menatap langit malam. Rasanya kejadian singkat itu terlalu cepat berlalu, terlalu sayang untuk dilewati sampai kemudian menjadi sebuah kenangan bagi Dara. Tapi hidup memang demikian, 'kan? Tidak semua hal yang kita mau bisa menjadi kenyataan, dan sebaliknya. Karena jalan kita sudah ada penentunya. "Bener. Lo nggak boleh nyerah, Ra. Langit masih indah kayak gini dan lo pasti bisa balikin Ben kayak dulu lagi." gadis itu bergumam sendirian. Kedua tangannya spontan terkepal ke atas sambil mengadu rahang kuat. "Semangat, lo pasti bisa Sandara!" Untuk beberapa saat keheningan itu membuat Dara merasa tenang. Meskipun sebenarnya ia juga lelah, tetapi ini semua adalah bentuk dari usahanya membuat ingatan Ben kembali lagi seperti sedia kala. Atau setidaknya mengingat sedikit saja siapa sosok Dara. Di depan pintu pagar rumahnya itu Dara masih berdiri di sana. Saat itu juga tanpa Dara sadari seseorang berjalan dari belakangnya, kemudian membungkus kepala Dara dengan jaket denim dari belakang. Cewek itu nggak berteriak meskipun setengah terkejut, tapi Dara tahu betul siapa yang kini tengah berusaha mengusili dirinya. "Oh, Shiiit!" erang cowok itu merasakan tulang rusuknya disikut dengan cukup keras oleh Dara. Yang tentu saja bersamaan dengan hal itu, jaket yang menutup kepala Dara terlepas. Gadis itu segera menoleh dan melemparkan senyum skeptis ke arah Galang yang kini membungkuk menahan nyeri di bagian yang disiku oleh Dara. "Sakit, Ra!" "Siapa suruh gangguin gue?" balas gadis itu seraya mengendikkan kedua bahu acuh. Dara menatap Galang sekilas dengan sehari senyum puas, lantas melenggang melewati pintu pagar yang terbuka tanpa menghiraukan Galang yang kini turut membuntutinya. "Gue 'kan, cuma bercanda, Ra." Galang membalas ucapan Dara dengan bibir yang mengercut ke depan, "lagian dari mana aja lo, jam segini baru balik? Bahaya ngerti nggak?" "PDKT sama suami gue lah, ngapain lagi emang?" Dara menjawab pendek. Cewek itu sudah berdiri tepat di depan pintu rumah. Tangannya kini berhenti bergerak membuka knop pintu dan malah memutar tubuh ke belakang sehingga ia berhadapan dengan Galang yang masih meringis sakit. "Terus gimana?" "Nggak ada terus-terus. Mending lo balik deh. Ngapain di sini malem-malem, Lang?" Melihat sifat dan jawaban tersebut dari Dara, Galang sudah bisa menebak bahwa hasil atas usahanya hari ini belum juga berbuah manis. Bagaimana pun juga, Galang sudah terlalu banyak mengenal Dara dalam segala segi, termasuk perilaku. Cewek itu pasti akan mendadak jutek kepadanya saat ia merasa kesal, sekalipun orang yang membuatnya merasa buruk itu bukanlah dirinya. Bahkan di masa kecil, Galang sering menjadi samsak bagi Dara saat cewek itu ingin menghajar anak-anak kompleks yang berani menakali dirinya dan Galang. "Perlu gue bantu nggak?" cowok yang sudah kembali mengenakan jaket denimnya itu menyenggol lengan Dara dengan tatapan mata tajamnya, yang selalu menawan. Galang memang terkenal sebagai sosok cool boy, matanya yang tajam dan garis alis yang tebal. Hidung bangir dan suara baritonnya yang membuat para cewek meleleh saat ia menjawab sapaan dari para pengunjung Kafe. Tapi, pengecualian besar untuk Dara. Bagi Dara cewek manis bertubuh minimalis itu, cuma Ben satu-satunya cowok paling keren yang pernah ia temui. Cowok tinggi yang akan selalu melindunginya meski saat ini hatinya tengah tak tergapai untuk Dara. Tapi Dara benar-benar yakin bahwa apa yang ia lakukan dari hati akan sampai ke hati pula. "Yakin lo nggak butuh gue temenin?" ulang Galang kini mengatakan maksud yang sebenarnya. "Mau bantuin apa sih, lo?" kekeh Dara. "udah sana balik aja, gue capek mau tidur." "Kan gue mau ketemu sama tante, ada yang mau gu—." "Nggak, nyokap gue nggak di rumah. Dia ada acara ke rumah saudara." Tanpa banyak bicara lagi Dara memutar knop pintu. Saat pintu terbuka cewek itu bergegas masuk dan menutupnya dengan cepat sehingga Galang yang berada di depan pintu sontak menejamkan matanya mendapati reaksi tersebut. "Emang sadis lo sama gue, Ra." kalau sudah begini, Galang nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Padahal ia sudah satu jam menunggu Dara pulang di depan rumah cewek itu. Telepon dan pesan yang Galang kirimkan bahkan selaku di abaikan oleh Dara. Namun, hal itu nyatanya tak bisa membuat Galang untuk bersikap tak acuh kepada cewek bertubuh mungil tersebut. Sebelum ia benar-benar pergi, ditatap cukup lama pintu rumah yang kini kembali tertutup rapat itu. "Maafin gue, Ra. Karena itu gue ngelakuin ini semua buat elo." Sekali lagi, pengakuan itu diucapkan oleh Galang tanpa didengar oleh Dara. Cowok itu kemudian bergegas meninggalkan pekarangan rumah Dara setelah memesan ojek online. ~M e m o r i e s~ Ben sekali lagi menghela napas pendek saat ia sudah berdiri di depan pintu gerbang indekos. Cowok itu menggaruk kepalanya yang nggak gatal sambil menoleh ke kanan dan kiri, lingkungan tempat indekosnya berada sudah sepi dan saat cowok itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. "Gara-gara Dara, nih," desah Ben frustrasi. Setelah berpikir cukup lama, menimang dengan banyak kemungkinan dan risiko. Akhirnya Ben semakin membulatkan tekadnya. Cowok itu mendekati pagar setinggi ketiak, dan dengan sekali panjat cowok itu sudah berada di balik pagar berada dalam lingkungan indekos. Ia mengendap-endap melewati lorong indekos menuju ke kamarnya sendiri. Lampu teras utama sudah mati, hanya ada satu lampu kecil berada di pertengahan lorong. Tapi, nggak masalah buat Ben. Yang penting adalah Bu Denok nggak muncul secara tiba-tiba dan memergoki dirinya. Ben bergegas merogoh kunci kamar indekosnya untuk segera masuk. Klek! Saat pintu terbuka, ia segera masuk kemudian menutupnya dengan perlahan. Ada perasaan lega saat cowok itu sudah masuk ke kamar kecil yang didominasi dengan aroma kopi tersebut. Ben segera melemparkan tanya ke arah sofa yang sudah ia hapal letaknya di mana, kemudian berjalan sedikit ke sebelah pintu dan menyalakan saklar lampu. Melepaskan hoodie yang sejak tadi ia kenakan, dan menanggalkannya pada gantungan yang berada di belakang pintu. Menyisakan celana jeans panjang dan kaos putih lengan pendek yang dikenakan Ben. Tangannya yang sudah memegang handuk itu, kemudian meletakkan handuk ke pundaknya sendiri. Sebab sepasang mata Ben mendapati sebuah kotak besar berwarna merah jambu, yang di bagian atasnya terdapat pita berukuran besar. Ben bergegas mendekat, menatap dari segala sisi kotak yang bahkan Ben nggak kenali tersebut. "Punya Benggala!" ^^ Tulisan itu berada di bagian atas penutup kotak, segera saja Ben menyingkirkan pita di atasnya dan membuka penutup kotak tersebut. Kedua mata Ben yang agak sipit itu, semakin menyipit menatap isi kotak tersebut. Matanya beberapa kali memejam, sedetik kemudian ia memegang kepalanya yang terasa nyeri sehingga penutup kotak yang berada dalam genggamannya terjatuh ke lantai begitu saja. ~M e m o r i e s~ -Banda Neira : Sampai jadi Debu- Badai Tuan telah berlalu Salahkah 'ku menuntut mesra? Tiap pagi menjelang Kau di sampingku 'Ku aman ada bersamamu Selamanya Sampai kita tua Sampai jadi debu 'Ku di liang yang satu 'Ku di sebelahmu Badai Puan telah berlalu Salahkah 'ku menuntut mesra? Tiap taufan menyerang Kau di sampingku Kau aman ada bersamaku Selamanya Sampai kita tua Sampai jadi debu 'Ku di liang yang satu 'Ku di sebelahmu -B e r s a m b u n g! - Jangan lupa tekan love dan komen ya gais. Sankyuuu hu-hu!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN