Riak air dalam kolam renang di hadapan Angelica terasa begitu tenang, jauh berbeda dengan perasaan dia yang karut-marut. Begitu dia mengusir Adam, menyingkir sejauh mungkin dari kamar adalah keharusan. Dan tidak mungkin menuju tempat King berada karena dia tidak ingin semakin terlihat menyedihkan sekarang. Tanpa bisa dicegah air mata yang dia tahan mati-matian akhirnya meleleh juga. Setegar apa pun Angelica menampakan diri di depan Adam tadi hanyalah kamuflase. Karena sebenarnya, begitu dia menutup pintu kamar dan meninggalkan pria itu sendirian, hatinya juga turut hancur berantakan. “Adam sudah pulang,” sebuah suara mengalihkan perhatian Angelica. “Terlihat sangat menyedihkan.” Armour berjalan mendekat. Kepalanya menggeleng sambil menatapnya lekat-lekat. Tiba-tiba saja pria itu menarik

