#4 - Appetite

2173 Kata
Cahaya matahari memancar terik menerobos sela-sela tirai kamar. Si pemilik dengan enggan membuka mata. Alarm belum berbunyi tandanya dia masih memiliki waktu lebih untuk tidur ataupun melakukan aktivitas lainnya. Segera saja dia membalik badan. Tangannya meraba sisi ranjang yang sengaja dia punggungi sepanjang malam. Namun, saat tidak menemukan sesuatu atau seseorang di sana, refleks, mata Adam terbuka lebar. u*****n pelan meluncur mulus dari mulutnya. Didudukinya ranjang seraya menatap sekeliling ruangan. Tempat ini sama sekali tidak berubah dari terakhir kali dia meninggalkannya ke klub. Satu-satunya bukti sesuatu terjadi tadi malam adalah tempat tidurnya. Sprei berantakan. Badannya telanjang di balik selimut sutra abu-abunya dan pakaiannya tercecer di lantai. Ingatan semalam berputar di kepalanya. Penyesalan yang dirasakan beberapa jam yang lalu kembali menyelubunginya. Ketika mengetahui bahwa sekretaris yang dia tiduri tanpa rencana itu masih perawan, Adam langsung tidur sambil memunggunginya. Memberi Angelica istirahat karena apa yang telah dia perbuat pasti menyakiti wanit itu, sekaligus menahan diri untuk tidak langsung menerjang Angelica saat itu juga. Kalau saja dia lebih peka, memberikan Angelica pelukan yang menenangkan, mungkin pagi ini wanita itu masih di ranjang bersamanya dan mereka dalam keadaan sama-sama sadar untuk mengulangi kembali yang terjadi tadi malam. Dengan kasar dia menyibak selimut. Menuruni tempat tidur dan berjalan menuju ruang pakaiannya. Buru-buru meraih celana dalam di tumpukan teratas untuk dia kenakan lalu melangkah keluar kamar. Harap-harap cemas menemukan sosok yang dicari-cari saat bangun tadi, sembari memanggil nama wanita itu. “Angelica!” teriak Adam sambil berlari kecil menuruni tangga. Berkali-kali dan di setiap ruangan yang dia lalui. Sayangnya, sama sekali tidak terlihat ada jejak wanita itu di manapun. Penthousenya juga tak terlihat pernah dikunjungin siapa pun, kecuali memeriksa CCTV tentu saja. “Sialan!” erangnya sambil mengacak-acak rambut dengan frustrasi. Ini bukan sambutan pagi yang menyenangkan, terutama bagi Adam. Sebagai pria dengan banyaknya wanita yang pernah tidur bersamanya, satu-satunya wanita perawan yang pernah dia tiduri adalah Angelica. Sekretarisnya itu pun satu-satunya yang meninggalkannya dan menghilang lebih dulu di ranjang. Sekarang, bagaimana pria itu meredahkan panas yang membara di sekujur tubuhnya. Jika Angelica tak berpengalaman di tempat tidur, maka wanita itu sangat berpengalaman membuat pria gila dengan cara-cara kejinya. Suasana hatinya buruk saat sampai di kantor pagi ini. Dengan dongkol, Adam berjalan keluar lift. Melewati para pegawai di bagian depan begitu saja lalu memasuki ke areanya yang lebih pribadi. Hingga seorang wanita yang tengah duduk di balik meja kerjanya inilah yang menjadi penyebab kegusarannya. Sekretarisnya itu selalu tampak sangat tertutup dan formal dalam balutan kemeja putih serta blazer cokelatnya. Rambutnya disanggul kecil, menyembunyikan rambut selembut sutranya itu. Menutupi kecantikan w*************a dalam penampilan konvensional yang membosankan. Meskipun terlihat sangat berbeda dengan wanita yang dia tiduri semalam, tapi penampilan Angelica yang seperti ini tetap mampu menjadikan sesuatu di celananya membesar dan sesak. Dia butuh pelepasan. Sesegera mungkin. “Angelica,” geram Adam saat memanggil nama sang sekretaris. Wanita itu segera menghentikan aktivitasnya di balik komputer. Saat menemukan Adam di sana, Angelica bergegas berdiri. Senyum sopannya tersungging. “Adam,” sapanya. “Ikut aku,” perintah Adam seraya melanjutkan langkah memasuki ruang kerjanya. Dia melirik jam di kantor, tidak terlambat karena masih menyisakan lima belas menit sebelum pukul sembilan. Segera dia menduduki kursi kebesarannya sembari menaruh tas di bawah meja. Sejenak matanya memindai seisi permukaan meja. Beberapa tumpukan fail yang dimintainya kemarin sudah Angelica siapkan. Belum ada kopi karena Adam selalu menginginkan kopi panas yang baru matang begitu sampai kantor. Komputernya belum menyala. Namun semua perhatian itu buyar, karena ketertarikannya tertuju pada sosok di sebrang meja. Angelica bergeming kaku sambil mengawasinya dengan mata amber indah itu. “Aku akan membuatkan kopimu sekarang,” ucap Angelica yang langsung Adam jawab dengan gelengan. Kedua tangan Adam bertumpuh di atas meja. Mata gelapnya seketika mengunci mata amber milik Angelica. “Itu bisa menunggu. Aku ingin bertanya beberapa hal.” Angelica mengangguk kaku. Kaki-kakinya yang sedikit bergerak menunjukan kegelisahannya, sangat amat jelas. Membuat Adam mengukir senyum puas. “Semalam, kau di mana?” pancingnya, berharap Angelica memudahkannya dengan jujur. “Semalam?” Angelica kembali bertanya yang hanya dibalas anggukan cepat Adam. “Bersama tetangga sebelah apartemenku. Kenapa?” Dia berbohong! Adam semakin mengamuk mendapati jawaban Angelica. Belum lagi ekspresi wanita itu menampakkan kepolosan yang meyakinkan. Padahal yang mereka miliki tadi malam sangat menyenangkan dan berhak memiliki sesi lanjutan, tapi sikap Angelica yang sengaja menutupi keadaan membuat Adam bingung. Dia masih menginginkan sekretarisnya berada di ranjangnya. Memuaskan hasrat panas keduanya hingga dia merasa cukup. “Kau tidak berbohong kan, Angelica?” tanya Adam sekali lagi, mencoba memastikan. Angelica menggeleng cepat. “Aku bisa menelepon Rhea jika itu membuatmu percaya, Adam.” “Tidak perlu,” putus Adam. “Kita bicarakan ini nanti. Tolong kopiku, Angelica.” Tanpa membantah Angelica segera berbalik, kemudian menghilang di balik pintu kantornya. Sementara itu, Adam mengerang kesal. Otaknya tengah berputar cepat memikirkan banyak cara agar Angelica jujur dan mengingat momen panas mereka. Adam mengira dia hanya perlu sekali untuk memuaskan rasa penasarannya. Nyatanya itu tidak cukup, dia ingin kesempatan yang lain dan berkali-kali. Seperti sebuah hubungan badan yang tidak permanen, tapi patut dicoba demi kepuasan masing-masing. Setidaknya untuk menyelesaikan gairahnya yang selalu bangkit setiap kali Angelica berada di sekitarnya. *** Jemari Adam mengetuk permukaan meja dengan tidak sabar. Perasaan gondok masih menyelimutinya. Angelica jauh lebih cocok menjadi aktris daripada sekretaris. Cara wanita itu memainkan peran sebagai seorang sekretaris polos dan berpura-pura seolah semalam tak pernah terjadi sangatlah sempurna. Jika saja dia benar-benar mabuk, Adam rasa, dia memang bermimpi atau mungkin melakukannya dengan wanita lain yang tidak dikenalnya. Pasalnya, dia cukup sadar. “Mr. Xander mengatakan ingin mengatur ulang jadwal konferensi kalian. Sepanjang minggu ini jadwalmu penuh, kecuali malam ini, bagaimana?” pertanyaan Angelica berhasil mengembalikan fokus Adam. Saat matanya tertuju pada sang sekretaris di sebrangnya, mata mereka sontak beradu di udara. “Apa kita ganti saja konferensinya malam ini, Adam?” tanyanya memastikan. Sayangnya, menatap mata itu konsetrasinya langsung buyar. Kilasan kejadian semalam berputar di kepalanya membentuk sebuah trailer film panas. Sekujur tubuhnya berdenyut, terutama bagian bawahnya. Sesuatu di balik celanannya butuh sebuah pelepasan. Harus segera. Adam menginginkan Angelica, bahkan jauh lebih besar daripada sebelum rasa penasarannya terbayar. Tadi malam benar-benar indah dan dia menginginkan hal itu lagi dan mungkin sekali lagi, sekali lagi, hingga dia merasa puas. “Adam?” panggilan Angelica menyentaknya. Buru-buru dia berdeham seraya memutuskan kontak mata mereka, mengalihkannya pada bibir mungil nan penuh milik Angelica. Tanpa sadar dia menelan ludah banyak-banyak. Dia ingat bagaimana rasa bibir itu dimiliknya. Manis dengan rasa strawberry samar. Beberapa jam yang lalu bibir itu terlihat merona dengan warna merah cerah, kini berubah dengan pulasan lipstik cokelat tua. Jika saja moralnya hilang, Adam pastikan dirinya sudah lepas kendali. Dia akan menerjang Angelica dari kursi itu. Mencabik-cabik pakaian kerja yang terlalu tertutup itu, kemudian melakukan adegan yang sama persis di atasnya ranjangnya. Namun, moralnya ternyata cukup tinggi. “Adam, kau masih di sini?” Adam mengangguk pelan. Sembari mengumpat pelan di dalam hati. Diputuskannya untuk membaca fail-fail di atas mejanya. Menatap sekretarisnya merusak seluruh fokusnya, itu membahayakan. Belum lagi otak yang harusnya memikirkan pekerjaan, berubah menjadi adegan m***m yang tidak berakhlak. “Bagaimana jika aku mengubah konferensimu dengan Mr Xander malam ini?” “Aku sedang berpikir, Angelica,” ucapnya masih teguh untuk tidak melirik sedikit pun sekretaris seksinya. Adam menatap kosong lembar-lembar kertas berisikan deret angka. Malam ini kegiatannya kosong, tapi menghabiskan berjam-jam berbicara dengan pria kaya lain yang seumuran dengannya sangatlah membosankan. Belum lagi sifat Philiph Xander yang menyebalkan, itu hanya akan menambah rasa frustrasinya. Bermenit-menit termenung sambil memutar otak, sebuah ide muncul di kepalanya. Sontak dia melirik Angelica yang tengah menatapnya lekat. Senyum kecil Adam tersungging. Rencana ini terasa lebih menarik daripada membicarakan bisnis dengan Philip Xander dan sederet pria penting lainnya, yaitu membebaskan hasratnya yang tertahan sepanjang pagi ini. “Aku baru ingat, malam ini aku sibuk, Angelica,” ucapnya pada akhirnya. Angelica mengangguk patuh seraya mengetik sesuatu di iPadnya. “Ah, aku juga membutuhkanmu untuk mereservasi restauran. Tempatnya harus esklusif dan bisa melakukan pembicaraan pribadi.” “Baik,” ucap Angelica sambil menekuni iPadnya. Kemudian, kembali mendongak dan mata mereka lagi-lagi bersirobok di udara. Ekspresinya terlihat tenang seolah menatap mata lawan bicaranya adalah hal yang biasa. Berbeda dengan Adam. Tubuhnya semakin membara hanya karena melihat mata amber nan cantik itu. “Kau mungkin menginginkan restauran yang lebih spesifik seperti nama atau letaknya?” “Tidak, tidak.” Adam menggeleng tegas. “Kaulah yang sepenuhnya memilih, Angelica. Mulai dari di mana, bahkan makanan apa yang akan dimakan. Satu lagi, kau harus sepenuhnya menyukai pilihan reservasi itu, jangan membuatku kecewa.” Sekilas Angelica mengernyit, tapi dengan cepat berubah menjadi anggukan ragu. “Baik, Mr. Valentini. Anda menginginkan hal lainnya?” “Itu saja, Angelica. Tolong sekalian pesankan makan siangku, lalu kau boleh makan siang. Hari ini kita akan sangat sibuk, Angelica. Mungkin… tidak akan tidur lelap.” Adam menyunggingkan senyuman terlewat lebar saat menggiring Angelica keluar ruangannya. Ucapan pria itu bukan sebuah peringatan untuk sang sekretaris, melainkan sebuah janji yang akan dia tepati. Rencana-rencana sepanjang sisa hari ini sudah diaturnya di dalam kepala. Tentu saja, setelah makan malam, dia tidak ingin mereka pulang ke tempat masing-masing. Dia membutuhkan sedikit olah raga yang membakar gairah. *** Angelica tampak santai di sampingnya. Seluruh acara rapat beberapa jam terakhir berjalan baik dan tidak ada hambatan yang berarti. Para investor menyukai ide-ide briliannya, selalu. Jam kerja juga sudah berakhir sekitar setengah jam yang lalu, tapi penampilan formal Angelica masih terpasang sempurna. Jika hubungan mereka lebih jelas, Adam memastikan dia akan menarik ikatan rambut sekretarisnya itu. Kemudian, menenggelamkan jemarinya di rambut selembut sutra itu. “Kenapa kita belok kiri?” Nada panik muncul dalam pertanyaan Angelica. “Kantor belok kanan!” Tubuh wanita itu condong ke depan, berniat untuk mengajukan pertanyaan kepada supir pribadi Adam. Refleks, Adam menahan gerakan sekretarisnya itu. Ketika Angelica menoleh, pria itu memberikan sebuah gelengan sebagai jawaban. Sebenarnya, sejak rapat usai, Angelica sudah berinisiatif untuk pulang langsung ke apartemennya. Untungnya, Adam dengan cepat menahan ide itu, berkata bahwa mereka harus kembali ke Valentini Tower. Karena jika niat sekretarisnya itu terealisasikan, maka rencana yang sudah dia susun akan berantakan. Dengan kekuasaannya, dia menyuruh Angelica untuk naik ke mobil tanpa bisa membantah.   “Adam, kita mau ke mana?” tanya Angelica yang terlihat gusar di tempatnya. Mata wanita itu melirik setiap gerakan yang dibuat oleh tangan Adam di atas jaketnya. “Kau ada janji makan malam pukul delapan,” ingat wanita itu yang dibalas anggukan oleh Adam. “Aku tau.” Adam melirik jam tangannya, pukul setengah enam dan masih cukup banyak waktu yang tersisa untuk mempersiapkan wanita ini di salon terbaik di kota. “Masih ada dua setengah jam lagi untuk itu.” “Kau tidak boleh menyia-nyiakan waktu, apalagi membuat teman kencanmu menunggu. Itu tidak sopan,” ucap Angelica lebih untuk meredam kegelisahannya. Adam tersenyum geli. Lagi-lagi dia mengangguk sebagai persetujuan bahwa dia tidak boleh membuat teman kencannya menunggu, mengingat baginya waktu yang terbuang sama banyaknya dengan uang yang terbuang dari dalam rekeningnya. “Aku setuju, Angelica. Tenanglah, aku bosmu dan aku tidak berniat menculikmu. Kita sampai.” Perlahan mobil yang mereka tumpangi berhenti. Seketika tubuh Angelica menengang. Matanya terbelalak ketika menemukan Audi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah salon besar di salah satu kawasan elit New York. “Kenapa kita ke salon?” Tangan Adam naik ke pundak Angelica, mengusap lambat-lambat daerah itu untuk menenangkan sekretarisnya sekaligus menggoda wanita itu. “Kau tidak mungkin berdandan seperti ini untuk makan malam, Angelica. Mereka akan berpikir kita tengah melakukan negosiasi kerja, bukannya berkencan.” Kepala Angelica sontak menoleh ke arah Adam. Senyum menawan pria itu sudah tersungging lebar. “Apa maksudnya, Adam? Aku tidak berniat berkencan, apalagi mengikutimu berkencan dengan siapa pun temanmu nanti! Lagi pula aku memesan untuk dua orang, bukan tiga!” Nada suara Angelica meninggi dan malah semakin melonjakkan hasrat Adam. Wanita itu memiliki kekuatan besar yang Adam rasa mampu menyalakan sebuah kota kecil, jika Angelica menginginkannya. Ternyata benar, wanita yang sedang marah selalu berhasil menyulutkan bara api dalam diri seorang pria. Tanpa berniat membalas ucapan Angelica, bergegas Adam menuruni mobil. Diputarinya benda itu. Membuka dengan kasar pintu di samping sekretarisnya. Tangannya mencekal lengan Angelica, lalu ditariknya untuk turun dan memasuki salon. “Aku menerimamu menjadi sekretaris karena kau cerdas, Angelica. Tapi ternyata kau cukup bodoh karena tak menangkap maksud ucapanku. Kaulah teman kencanku, bukan wanita lain.” Angelica semakin panik. Sedikit meronta untuk melepaskan cekalan Adam. Sayangnya, pegangan pria itu terlalu kuat hingga Angelica berlarian kecil agar tidak ketinggalan dengan langkah besar Adam. “Nggak, Adam, nggak,” pinta Angelica, memohon untuk dilepaskan. Hingga suara dentingan pintu salon, menandakan kehadiran mereka, berhasil menghentikan pemberontakan Angelica. Seorang wanita berjalan mendekat. Rambut pirangnya yang berpotongan pendek, mengingatakan semua orang pada sosok Marilyn Monroe menyambut dengan senyum ramah. “Mr Valentini,” panggilnya singkat lalu menoleh pada sosok Angelica di sebelahnya. “Ms Keaton. Selamat datang di salon kami.” Sambil memperkuat pegangannya pada Angelica, Adam kembali memerintah dengan penuh arogansi khasnya. “Alora, tolong ubah upik abu ini menjadi Cinderella. Dengan satu catatan, aku tidak ingin dia berubah saat tengah malam. Makan malam pukul delapan, jadi cepatlah!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN