She Wants to Be Loved

1139 Kata
Saat ini pasangan suami-istri Baldwin sedang bersiap untuk tidur di ranjang mereka. Namun, entah mengapa meskipun lampu tidur mereka sudah dimatikan, tak ada satu dari mereka berdua yang bisa tidur. Yang suaminya sedang memejamkan matanya, tetapi dengan pikirannya yang melanglang buana ke masalah keluarganya, masalah pekerjaannya, masalahnya dengan Eren yang terus bungkam dan perlahan menjauhinya pun tak luput dari otaknya. Rasanya stres memikirkan semua ini. Sedangkan sang istri, masalahnya tak pernah jauh-jauh dari si suami. Walaupun sudah ada calon anak mereka di dalam perutnya, rasanya hal ini tak mengubah apa pun di antara keduanya. "Kevin, kau sudah tidur?" tanya Sharon pelan, memiringkan tubuhnya menghadap punggung lebar si kepala rumah tangga. "Belum," sahut Kevin tanpa membalikkan badan. Sharon menghela napasnya, memandangi suaminya dari belakang dengan tatapan yang dalam. "Seandainya ... aku tak hamil anakmu sekarang, apa kau akan menceraikanku?" Kevin bungkam. Ia tidak tahu jawabannya atau menunggu Sharon menambahkan kalimatnya, ia pun bingung tak mengerti dengan dirinya sendiri. "Seandainya ... bayi ini sudah kulahirkan, apa kau akan meninggalkan kami?" "Seandainya ... bayi ini lahir, apa kau akan menerima anak ini seperti kau menerima Emer?" Sharon terus memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Kevin. Ia terisak menatap bagian belakang suaminya, yang mana rasanya sangat enggan untuk menatapnya. "Kevin, aku mencintaimu. Aku tidak apa-apa kalau kau tak menerimaku, tak mencintaiku. Tapi, bisakah kau janjikan aku untuk menyayangi anak ... ku?" Sedikit banyak Kevin mengiba. Ribuan kali dalam pernikahannya, dia memberikan respons dingin dan bersikap jahat pada istrinya—apalagi saat istrinya tak kunjung hamil—mungkin ia melakukan semua hal sesuka hatinya karena ia merasa menang di atas Sharon. Ia kepala keluarga, istrinya tak pernah marah, tak pernah membangkang, tak pernah mengeluh sehingga ia merasa Sharon selalu baik-baik saja oleh kelakuannya. Ia tak pernah tahu kalau Sharon mencintainya, selalu tersakiti olehnya. Seharusnya dulu si gadis berumur dua puluh tahun itu tak perlu menerima perjodohan itu, seharusnya ia tak mencintai pria sebajingan Kevin, pun seharusnya sekarang ia tak hamil oleh pria seberengsek Kevin. Lagi, Kevin merasa membenci dirinya sendiri. Dan sekarang saat istrinya sudah memberikan calon keturunannya, ia justru masih bersikap sedemikian rupa dan tetap berselingkuh di depannya. Betapa jahatnya dia. Setelah cukup lama berpikir dalam keheningan, ia pun mencoba mengukuhkan hatinya. Mencoba berpikir tegas dalam memecahkan permasalahan mereka, apa pun yang terjadi nantinya. Kevin pun membalikkan badannya guna menghadap sang istri yang tengah menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terisak pilu di kesunyian malam. "Sharon," panggil Kevin pelan. Pria itu memajukan tubuhnya, memeluk wanita rapuh itu dengan lembut. "A-aku akan mencoba untuk mencintaimu. Demi pernikahan dan ... anak kita." - "K-Kevin, k-kau ... mau membawa bekal makan siang?" Sharon memecah keheningan yang melanda di meja makan mereka. Rasanya canggung sekali semenjak Kevin mengatakan hal sakral itu sambil memeluknya semalam. Ia bahkan harus pura-pura tidur selama empat jam dan baru bisa tidur ketika menjelang subuh. Kevin menatap Sharon sambil tersenyum tipis, "Kenapa tak kau antarkan saja makan siangku, Istriku?" Sialan, Sharon jadi salah tingkah menerima kelembutan Kevin. Entah suaminya terbentur sesuatu atau kerasukan, pokoknya Sharon senang. Ia merasakan bunga-bunga cinta bermekaran. Sharon menggigit bibirnya pelan. "Kau ... tak keberatan?" Lelakinya itu tersenyum tipis, pria itu harus mulai terbiasa dengan eksistensi hidup wanitanya mulai sekarang. Jadi meskipun dalam hati agak berat, pada akhirnya dia tetap mengangguk. "... Ya." "Boleh aku meminta satu hal, Kevin?" "Apa?" Wanita itu tampak sangsi ingin berkata. Ia menggigit bibir bawahnya lagi. Namun, ia memantapkan hatinya. Sharon mengembuskan napasnya pelan, "Bisakah ... kau memindahkan Eren ke divisi atau berikan ia tugas lain selain menjadi sekretarismu? Ku-kurasa kau tak akan bisa mencintaiku jika ada dia di antara kita." Kevin bungkam. Ia mungkin bisa mulai membiasakan diri dengan Sharon, tapi rasanya kalimat Sharon meminta pria itu untuk menjauhi Eren. Ia tak mempersiapkan hal itu, sungguh. Hingga satu menit terbuang percuma. Kevin dengan pertimbangan yang berkecamuk di kepalanya dan Sharon yang menunggu-nunggu jawaban lelaki kecintaannya ini. "K-kalau kau tak mau tak apa, mungkin aku terlalu terburu-buru. Maafkan aku, lupakan saja permintaan konyolku," ujar Sharon buru-buru membatalkan permintaannya dengan tawa canggung. "Mungkin, um ... akan kuusahakan ...." - "Eren." Kevin menyebut nama sekretarisnya usai bawahannya itu mendikte schedule-nya hari ini. Pria Markley itu menatap Kevin tanpa ekspresi. Semenjak kejadian dua hari yang lalu, pria itu memang menjadi sangat dingin—namun tetap bersikap profesional saat bekerja—rasa marah dan muak masih memenuhi hati Eren. "Kau masih marah?" tanya Kevin dengan mata menyendunya. "Jika tidak ada keperluan pekerjaan lagi, saya pamit undur diri," respons Eren tak menanggapi pertanyaan Kevin. Pria itu langsung membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan Kevin. "Kau boleh membenciku sampai kapan pun, Eren," kata sang bos lirih. Tetapi Eren masih dapat mendengar itu, ia memberhentikan langkahnya tanpa menoleh. Mendengarkan kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut Kevin. "Maafkan aku. A-aku ... akan menjauhimu." Hati si mungil serasa diremas. Tapi ia masih tak gentar, ia masih mempertahankan egonya untuk tak bicara apa pun pada Kevin. "Sesuai perkataanmu. Aku ... akan menjauh dan ... aku juga akan kembali pada keluargaku, istriku, calon anakku. Tolong, maafkan aku." Kedua tangan pria pendek itu mengepal erat hingga jari-jarinya memutih, ia memejamkan matanya pelan serta menghela napasnya agar tenang. Pria itu menahan getaran dalam suaranya sebisa mungkin, maka dari itu ia berdeham dulu untul kemudian menjawab, "Ya, itu pilihan yang tepat, Pak Kevin." Dan Eren pun berlalu dari ruangan si bosnya. Mereka telah berakhir. Hingga sepuluh menit ia merenung, tiba-tiba telepon kantor yang berada di atas mejanya berdering keras hingga menyentaknya. Pria mungil itu mengangkat telepon itu segera, "Halo?" "Pak Eren? Saya Glenn Dollen. Saya diutus untuk Pak Baldwin untuk memberi tahu Pak Eren Markley bahwa Bapak sekarang sudah bisa dipindahkan ke divisi keuangan kembali." Agak tercengang, namun Eren harus tahu bahwa ini akan terjadi semenjak wanti-wanti Kevin untuk menjauhinya tadi. Ia tersenyum getir, merasakan hatinya yang sakit. Bukannya ia tak senang akan dipindah, tapi akan keseriusan Kevin yang akan menjauhinya benar-benar mulai berjalan. Ia dan Kevin ... benar-benar berakhir. "Halo, Pak Markley?" Suara di seberang sana menyadarkan Eren. "Ah, iya? Saya akan bersiap untuk ke sana sekarang. Terima kasih, Pak." Dan telepon pun ditutup. - "Bagaimana masakanku?" tanya Sharon saat melihat suaminya yang tengah mengunyah suapan pertama dari bekal yang ia bawakan, "Bibi Lynn yang mengajarkanku memasak tadi." "Hm, ya. Enak," jawab Kevin sekadarnya. Sebenarnya makanan ini tak buruk rasanya, tapi entah mengapa lidahnya terasa hambar. Dirinya sedikit memikirkan Eren yang telah dipindahkan kembali ke divisi asalnya, apa yang sedang pria itu lakukan di sana sekarang? Bekerjakah? Memainkan ponselkah? Mengatur schedule—ah, tidak. Mana mungkin divisi keuangan mengatur jadwalnya. Ada-ada saja. Kevin melamun dan Sharon terlalu pintar untuk mengamati ekspresi pria itu, juga ia tahu pasti apa yang berada di dalam pikiran suaminya—melihat meja sekretarisnya yang sudah kosong rapi, sudah pasti pikirannya diisi dengan si Markley itu. "Kevin," panggil Sharon, "aku mencintaimu." Pria tinggi itu tercengang mendengar ungkapan istrinya, ini pertama kalinya ada kalimat cinta di tengah-tengah mereka. "... ya." "Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku," ujar Sharon dengan senyum manisnya, membungkam Kevin dengan pemikirannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN