Sudah satu jam berlalu, tatapan mata Nata masih tidak bisa tenang. Lelaki itu sesekali menengok ke arah di mana meja Aneta terlihat ramai dengan kedatangan Sisil dan Ares di sana. Nata memicingkan matanya, dari tempatnya duduk, lelaki itu dapat melihat cara Sisil tertawa bersama Aneta dan Ares. Lelaki itu merasa heran, sedari awal niatnya membawa Sisil ke lantai tiga puluh sampai Nata menjadi kuli panggul dadakan bukan semata-mata untuk mencarikan wanita itu teman mengobrol santai. Melainkan niat Nata membawa Sisil beserta barang-barangnya ke lantai di mana ruangannya berada adalah agar dirinya dapat terus berdekatan dengan Sisil. Kesalahpahaman yang masih terjadi antara dirinya dengan wanita pujaan hatinya entah kapan dapat terselesaikan. Setiap kali Nata berkeinginan memberikan penjelas

