Arkhhhhhhhh, Sisil berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal. Kelakuan Nata sungguh membuatnya uring-uringan. Sepertinya Sisil harus memakai pakaian tertutup hingga hanya menyisakan kedua matanya saja untuk mengantisipasi Bos kurang ajarnya menciumnyaa sembarangan.
Tingkat mengesalkan lelaki yang baru saja menjabat sebagai bos di tempatnya bekerja belum lama ini telah berani mengusik ketenangannya, baik itu di tempat kerja, maupun di luar tempat kerja. Herannya, Adinata Dirga Pratama seakan memiliki GPS pada tubuh Sisil. Lelaki itu juga dapat mengetahui banyak hal, termasuk saat-saat Sisil berusaha melarikan diri dari janji pertemuan mereka.
Sisil sampai kehabisan akal, dan kuwalahan menghadapi kegilaan bos barunya tiada ujung. Mungkin Sisil harus memikirkan tawaran orang tuanya bergabung dengan perusahaan keluarganya.
“Aku pulangggggg,“ teriak Sisil setelah mengucapkan salam sesuai agamanya.
Asisten rumah tangga yang sedari Sisil kecil sudah melayani Sisil langsung berlari kecil menuju Sisil. Membantu nona mudanya membawa tas kerja Sisil dan sepatu formal Sisil seperti biasanya.
“Saya bawakan Non,“ ucap Pelayan Sisil hendak membawakan tas Sisil.
Sisil menggeleng, kali ini dia lebih membutuhkan minuman super dingin untuk menyegarkan isi kepalanya.
“Tidak perlu Mbak, tolong buatkan saya minuman dingin, sangat dingin! Kalau perlu kuras semua es batu di dalam kulkas kita!“ seru Sisil menggebu-gebu saking kesalnya.
Mendengar penuturan nona mudanya, asisten rumah tangga Sisil memandang anak tunggal Reivan dan Vereneden dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Tidak biasanya Sisil pulang dari bekerja terlihat sangat kesal. Namun akhir-akhir ini pemandangan seperti itu sudah tidak asing lagi di matanya.
“Baik Non, Mbak bawakan secepatnya,“ sahut asisten rumah tangga Sisil mengacungkan jari jempolnya tanda oke.
“Jika perlu bawakan kulkasnya sekalian ke mari, Mbak,“ ucap Sisil membuat asisten rumah tangganya tersenyum geli.
Begitulah Sisil, wanita itu mudah sekali terpancing emosinya. Dan sangat lucu ketika marah. Tapi Sisil tidak pernah berkata kasar kepada semua pekerja di rumah, karena Sisil tahu norma kesopanan di atas segalanya.
Sisil merebahkan tubuhnya di sofa ruang santai keluarganya, kepalanya berdenyut membayangkan ekspresi Nata yang telihat sangat menikmati segala kemarahannya.
Lelaki itu sepertinya sengaja melakukan serentetan kegilaan hanya untuk membuatnya marah. Padahal seingat Sisil, dia tidak pernah berbuat sesuatu yang memancing lelaki sin-ting itu tertarik kepadanya.
"Tentu saja kau tidak perlu memancing lelaki untuk membuat mereka tertarik, Sisil. Segala yang ada pada dirimu kualitas unggulan!" pungkasnya tersenyum penuh kepercayaan diri.
Sisil memegang pipinya, tiba-tiba saja wajahnya memerah mengingat aksi Nata yang tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu langsung mengecupp pipinya.
“Mungkin lelaki itu tidak waras!“ kesal Sisil melempar bantal sofa ke arah yang asal-asalan.
“Siapa yang tidak waras Sil?” tanya Mommy Sisil ketika melihat wajah kusut putrinya sesaat pulang dari kantor.
Sisil menoleh ke sumber suara, wajah ayu menenangkan milik ibunya bagaikan udara segar bagi Sisil.
“Itu, CEO baru di kantor, Mom,“ adu Sisil kepada mommynya, bibirnya cemberut menandakan wanita itu menahan amarahnya.
“Memangnya kamu diapain sama bos baru kamu itu?” kelakar Vere penasaran.
Sejak awal pergantian CEO baru di tempat kerja putrinya, tidak pernah sekalipun wanita itu tak melihat raut wajah kesal anak sematawayangnya seusai pulang dari kantor. Vere mengira, itu adalah respon biasa para pegawai kantor yang menerima pekerjaan overload dari pimpinan.
Rupanya ada sesuatu yang memang menarik untuk dia cari tahu mengenai Sisil dan bos barunya.
“Astaga Mom, lelaki itu sangat menjengkelkan. Dia berani men-“
Ucapan Sisil terhenti, dia tidak mungkin menceritakan hal itu kepada Ibunya. Apa yang harus dia katakan, haruskan Sisil berkata lelaki itu menci-umnya sembarangan? Tidak mungkin, ibunya pasti akan bertanya lebih jauh lagi tentang Nata.
Kening Vere berkerut heran, ucapan Sisil yang mendadak terhenti membuat ibu kandung Cecilia Fanyandra Corlyn bertanya-tanya kelanjutan ucapan sang putri.
"Men apa Sil? Jangan membuat Mommy penasaran kenapa?" tanya Mommy Sisil dengan penasaran.
"Menyepelekan pekerjaan Sisil, Mom. Wahhhh parah sekali lelaki itu!" keluh Sisil.
Untung saja asisten rumah tangga Sisil segera datang dengan minuman soda yang sudah ditambah es batu beberapa bongkahan menggunung di atasnya.
Netra Sisil sontak saja berbinar bahagia, melihat bongkahan es batu dalam gelas sudah menggodanya untuk segera dia teguk hingga tandas.
"Terimakasih, Mbak," ucap Sisil diangguki Mbak Sireng.
Mommy Sisil menggeleng, kesukaan memakan es batu bongkahan menjadi salah satu cara bagi wanita itu menurunkan amarahnya. Sudah jelas ada yang tidak beres dengan hubungan Sisil dan bos barunya di perusahaan tempatnya bekerja.
"Oh ya Mom, memangnya di kompleks sini ada yang seusia dengan Sisil ya, perempuan juga?" tanya Sisil.
Kening mommynya berkerut, mengingat kembali anak-anak seusia Sisil baik yang masih berada di sana maupun yang sudah pindah bertahun-tahun lamanya.
"Sepertinya tidak ada, yang seusia denganmu kan hanya kamu dan ...." Vere nampak menimang sejenak, alisnya saling bertautan.
"Viona?!" pekik Sisil mengingat bahwa Viona tinggal bersamanya sebelum sepupunya itu melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
Tidak mungkin jika wanita masa kecil Nata itu adalah Viona. Viona tinggal bersama orang tuanya saat itu. Ataukah mungkin dirinya sendiri?
Mana mungkin, Sisil tidak pernah kenal dengan keluarga Nata! Apakah ada kenangan di masa kecilnya yang sudah Sisil lupakan tanpa dia sadari? Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya berdenyut hebat.
Rasanya otak Sisil sudah tidak mampu berpikir lagi, dia akan mengakhiri rasa lelahnya sampai di sini. Memutuskan membersihkan diri, dan merilekskan tubuhnya adalah pilihan paling tepat untuk saat ini.
****
Senyuman cerah mengawali hari wanita cantik itu, Sisil berjalan melewati para pegawai perusahaan di sana dengan ramahnya. Membuat para lelaki di sana menatap Sisil dengan terpesona.
Cara Sisil tersenyum mampu membuat para kaum hawa bertekuk lutut di bawahnya. Setelan casual berwarna cream nampak elegan melekat di kulit putih cerahnya. Rambut panjangnya sengaja dia kuncir kuda dengan menyisakan beberapa anak rambut menjuntai di bagian kanan dan kiri keningnya.
"Selamat pagi Bu Cecilia," sapa cleaning servis yang kebetulan berpapasan dengan Sisil.
"Selamat pagi juga Pak, semangat kerjanya. Fighting!" ucap Sisil mengedipkan matanya.
Beberapa pegawai lelaki bawahan Sisil hanya bisa berharap bisa bercengkrama akrab dengan 'Bidadari' perusahaan. Menatap Sisil selayaknya mood booster bagi mereka yang mulai kehilangan tenaga dalam bekerja.
"Dia vitamin pagi di kantor
," ucap pegawai lelaki di sana, memotret Sisil dan menjadikannya story di media sosial miliknya.
Di belakang pegawai itu, Nata mengamati bagaimana kegaduhan setiap pagi yang dia lihat setiap kali Sisil datang ke kantor dan menebarkan senyumnya yang menawan.
Nata merebut ponsel lelaki itu, menatap apa yang ada di dalam sana.
"Memotret seseorang tanpa persetujuan, apalagi menyebarkannya di media sosial bisa diancam hukuman denda dan juga kurungan penjara, kamu mau saya laporkan?" tanya Nata menatap pegawai lelaki itu marah.
"Maaf, Pak, tidak akan saya ulangi lagi," ucapnya tergagap.
"Hapus sekarang juga!" perintah Nata mengembalikan ponsel pegawainya.
Bukan tanpa sebab, Nata hanya tidak suka wajah wanita yang dia klaim sebagai kekasihnya tersebar luas di media sosial. Nata tidak mau saingannya bertambah banyak.
Nata harus memperingati Sisil untuk tidak sembarangan tersenyum kepada semua orang.
Lihatlah, bahkan sampai di meja kerjanyapun wanita itu masih tersenyum menyapa siapapun yang dia temui. Dia terlalu ramah atau memang sengaja menarik perhatian semua orang ?
"Cecilia Fanyandra, datang ke ruangan saya!" ucap Nata dengan nada tegas.
Sisil yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran miliknya hanya bisa mengangguk lemah. Entah apa lagi kemauan Nata yang harus dia turuti.
Sebelum masuk ke ruangan Nata, Sisil membawa masker, berjaga-jaga saat lelaki itu mungkin saja akan menci-umnya mendadak.
Tok ... tokkk! Sisil mengetuk pintu ruangan Nata sebelum kakinya melangkah masuk, salah satu etika di kamtor yang tidak boleh dia lupakan.
"Ada apa Bapak menyuruh saya ke mari?"
Mata Nata menyipit melihat Sisil memakai masker layaknya seorang dokter rumah sakit.
"Jangan tersenyum di depan semua orang," ucap Nata menyilangkan tangannya ke depan da-da.
Sisil menaikkan alisnya bingung, apa salahnya tersenyum.
"Memangnya apa salahnya Pak?" tanya Sisil menaikkan satu alisnya penasaran.
"Tentu saja salah, kamu buat semua lelaki terpesona dengan kencantikanmu, saya tidak suka akan hal itu!" keluh Nata.
"Tapi tidak ada larangan tersenyum di kantor Pak," bantah Sisil tak mau mengikuti perintah atasannya.
"Itu larangan baru, dari saya khusus untuk kamu!" jawab Nata penuh kemenangan.
Ada-ada saja kelakuan Bosnya yang satu ini, mana ada larangan tersenyum di Kantor. Bahkan Perusahaan lain menyarankan 3S, senyum, salam, sapa ketika berada di kantor.
"Kamu mengerti?" tanya Nata menatap Sisil begitu dalam.
"Ya, saya mengerti Pak," jawab Sisil pasrah.
Lelaki itu tersenyum menang saat mendengar Sisil menerima larangan yang khusus dia tujukan untuk wanita cantik di depannya. Kalau tidak begitu, bisa-bisa Nata memiliki banyak saingan untuk mendapatkan Sisil sepenuhnya.
Walaupun Nata tidak insecure akan kemampuan dan keahlian yang dia miliki sejak lahir. Hanya saja, Nata tak yakin Sisil akan menerima dengan lapang da-da jika menelisik dari sikap Sisil yang selalu uring-urungan setiap kali mereka bersama.