2. Wanita Idaman 3 Dunia

1108 Kata
Sebuah dehaman dari Mita membuat Sisil tersadar. Matanya kini mengerjap karena disadarkan oleh sesuatu. Dia tidak boleh menunjukkan ketertarikan pada lelaki yang baru saja dia temui. Meski bisa dibilang Sisil adalah primadona saat menempuh pendidikannya dari kecil, namun wanita itu membatasi siapapun yang hendak dekat dengannya. Semua itu bukan karena tuntutan keluarganya, melainkan cara dirinya mencari seseorang yang benar-benar tulus kepadanya. Tidak sekali, dua kali, Sisil bertemu dengan lelaki tampan, dan juga memiliki karir cemerlang di usia muda. Berkali-kali pula orang tuanya memperkenalkan Sisil pada anak dari rekan bisnis keluarganya. Akan tetapi Sisil tak memiliki ketertarikan khusus dengan mereka. "Oh jadi situ yg nabrak saya? Tahu enggak sih, gara-gara Anda p****t saya sakit! Nanti kalo saya nggak seksi lagi gimana, hahhh? Gagal jadi idaman tiga dunia dong aku," gerutu Sisil panjang kali lebar hingga semua orang di sana mengusap wajah dengan frustasi. Tidak tahukah Sisil siapa yang tengah dia kata-katai seperti itu? Wanita itu sepertinya lupa bahwa ada seseorang penting tengah mengunjungi divisinya. Lelaki itu tersenyum. "Tiga dunia, apa saja?" tanya lelaki itu. "Dunia nyata, dunia akhirat, dan dunia maya lah, Cecilia gitu!" jawab Sisil dengan bangga. Lelaki itu justru terkekeh mendengar penuturan Sisil yang dianggapnya sangat menggelikan. Ternyata masih ada wanita secerewet dan sepercaya diri seperti wanita itu. "Begitu, ya?" ujar lelaki berparas tampan, iris matanya begitu elok, tatapan matanya mampu menenggelamkan para wanita jatuh dalam pesonanya. Raut wajah mengejek dari lelaki di depannya membuat Sisil mencebik kesal. Bukannya meminta maaf karena sudah menghalangi jalannya, lelaki itu justru menatapnya tanpa dosa. Seakan-akan tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. "Dasar lelaki songong, kolot, tengil, udah salah malah senyam-senyum. Tahu ah mau kerja aja daripada nanti CEO baru datang minta laporan keuangan yang belum kelar bisa ditendang aku," cerocos Sisil yang semakin membuat seluruh orang di ruangan itu menggelengkan kepalanya. Kepala Sisil mengedar ke penjuru ruangan, mencari sosok CEO baru yang tadi sempat berkunjung ke divisinya. Mungkinkah bos barunya itu sudah meninggalkan ruangan menuju tim management yang ada di seberang ruangannya? Jujur saja, Sisil memang ahlinya dalam menghidupkan suasana. Tapi tidak saat ini juga, begitulah pikiran mereka. Sisil menatap seluruh orang disana, apa mereka tidak pernah melihat wanita secantik Sisil sampai mereka menatapnya seperti itu? "Cecilia, kamu tahu siapa lelaki yang kamu marah-marahi ini?" tanya Bu Mina menatap Sisil tak percaya. "Udahlah Bu, paling anak baru yang songong dan menyebalkan. Mau mengandalkan tampangmu di sini?" seloroh Sisil asal, sambil menilai apa kemampuan lelaki itu yang sejak tadi menatapnya tanpa henti. Ibu Mina, Ketua Divisi Keuangan menghela napasnya panjang. Niat hati ingin menyelamatkan anak buahnya, yang hendak diselamatkan justru menggali kuburannya sendiri. "Beliau Pak Adinata Dirga Pratama, CEO baru perusahaan kita," ucap Ibu Mina membuat mata Sisil mengerjap dengan sempurna. Sisil tidak salah dengarkah? Lelaki yang baru saja dia kata-katai adalah CEO barunya? Tamat riwayatmu Cecilia Fanyandra Corlyn! Dia Adinata Dirga Pratama, anak sulung dari keluarga Dirga Company yang baru saja kembali dari Swiss dan diminta menggantikan posisi kosong CEO lama yang terkena skandal pelecehan seksual terhadap sekretaris lamanya. Bagi Nata—begitulah panggilannya sehari-hari—menjadi anak sulung yang harus bisa meneruskan bisnis keluarga sangatlah berat. Karena pada dasarnya menjaga lebih berat daripada memulai dari nol. Nata harus menjaga bisnis keluarganya dan juga membangun citra yang bersih untuk tetap berada di tempatnya. Lelaki dengan tinggi 184 cm itu sangat tampan, berwibawa dan juga terlihat berkarisma seperti sang ayah. "CEO baru? Hahaha, apa yang baru saja aku lakukan?" lirih Sisil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Netra Sisil dan Nata saling menatap satu sama lain. Sisil meringis, tatapannya tidak seberani sebelumnya. "Upsss, sorry ya Pak CEO baru," ucap Sisil tersenyum dengan sangat manis, tangannya meraih dasi Nata yang berantakan dan merapikannya. Wanita itu membungkuk. “ Maafkan atas kekhilafan saya, Pak Adinata,“ ucap Sisil sambil meremas ujung roknya. Sisil mengumpat di dalam hatinya, matanya terpejam mengutuk kebodohannya. Harusnya Sisil sadar lebih awal, mengingat betapa tampan dan karismatiknya lelaki itu yang tak mungkin dimiliki oleh karyawan biasa. "Oke saya maafkan, tapi tolong nanti datang ke ruangan saya," jawab Adinata, membuat d**a Sisil mendesir mendengar jawaban dari Nata. "Hah? Em ba-baik Pak," sahut Sisil gugup. Demi apapun, suara Nata menurut Sisil sangat merdu dan juga membuat sesuatu di dalam tubuhnya menjadi tidak karuan. Sisil menatap Nata tanpa berkedip. "Mari Pak, kita lanjutkan," ucap Bu Mina mengajak Nata untuk kembali berkeliling kantor itu. "Semoga hari Anda menyenangkan, Pak," tutur Sisil menundukkan kepalanya. Syukurlahhhh, Bu Mina sangat paham sekali situasi canggung yang kali ini devisi keuangan rasakan. ‘Aku berhutang budi padamu, Bu!‘ teriak Sisil dalam hatinya. Mita menarik Sisil untuk segera duduk di kursi kerjanya, mereka semua kembali ke meja mereka masing-masing. Beberapa saat, Mita menatap Sisil kemudian menggelengkan kepalanya frustasi. Sahabat baik Sisil tersebut tidak menyangka kalau wanita itu bisa membuat kesalahan fatal seperti tadi. "Kamuuuu, gilaaaaaa!" pekik Mita membuat Sisil menutup telinganya. "Stop jangan teriak-teriak juga dong Mit, gue malu nih!" jawab Sisil sambil mimijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Gimana kalo kamu dipecat coba? Aku nanti nggak ada temennya dong. Terus aku nggak punya temen gitu? Terus yang bantuin ngerjain laporan aku yang menumpuk siapa Sil? Finally, yang suka traktir aku nanti siapaaaa?" Sisil menganga dibuatnya, jika saja wanita itu dalam mood yang baik mungkin Sisil akan menjawab ucapan Mita dengan tidak kalah mendramatisir keadaan. "ENGAK USAH LEBAYYYYYY!" ucap Sisil memutar bola matanya malas. Wanita itu menekan tombol power di komputernya, daripada dia harus meladeni Mita yang menggila, mungkin lebih baik Sisil memulai pekerjaannya kali ini. Sisil mendesah, bayangan ketika Nata memintanya untuk datang ke ruangan lelaki itu berputar seperti kaset rusak di otaknya. Bagaimana jika dia pecat dan harus mulai bekerja dengan perusahaan keluarganya sendiri? Ah sudahlah, hari ini memang hari yang sangat melelahkan bagi Sisil. Baru saja Sisil ingin memfokuskan pikirannya pada tugas yang telah menggunung. Matanya tiba-tiba teralihkan saat sosok bos barunya melintas kembali di depan ruangan divisinya. "Mengapa dia menatapku seperti itu?" gumam Sisil saat Nata menatapnya dengan senyuman tertahan. Sisil mendengkus. "Sialan! Apa dia tengah menertawakan kebodohanku tadi?" Bola mata Sisil melebar tatkala lelaki yang sempat membuatnya merasa bodoh itu mengedipkan mata ke arahnya. Senyuman Nata kini sudah menghiasi bibir berisi miliknya. Sisil terhipnotis selama beberapa detik. "Sil, gua minta permennya," celetuk salah satu teman satu divisinya membuat Sisil tersadar. Sisil segera memalingkan wajahnya yang mungkin sudah merona karena malu. Tangannya dengan cepat meraih satu kaleng permen beraneka rasa, menyerahkan itu kepada temannya. "Ini semua buat gua?" tanya temannya berbinar. "Ambil saja semuanya, kalau perlu tenggelamkan gua ke Samudra Hindia biar nggak ketemu dia lagi!" jawab Sisil, menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya yang kini terlipat di atas meja kerja. "Fix, lu bener-bener wanita idaman tiga dunia!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN