15. Janji Monyet

1561 Kata
Jarak yang sangat dekat di antara keduanya membuat Sisil menahan napasnya. Mendadak udara di ruangan yang semula terasa sejuk karena pendingin ruangan, tiba-tiba menjadi sesak dan senyap. Bahkan rasanya Sisil dapat mendengar deru napasnya sendiri. Anak tunggal pasangan Reivan dan Vereneden Corlyn menahan napas. Entah sampai kapan posisi keduanya harus sedekat itu. Untung saja dering telepon di ruangan Nata berbunyi hingga membuat Nata terpaksa melepaskan pelukannya dari Sisil. Sisil menghela napas lega, siapapun yang menghubungi Nata kali ini, Sisil berhutang budi kepada orang yang menghubungi Nata satu kali. Sisil membenarkan posisi duduknya, merapikan bajunya. Wanita itu sejenak mencuri pandang ke arah bos barunya yang sangat mengesalkan. Tampak wajah kesal Nata tersirat jelas dari raut wajah lelaki tampan itu. “Besok? Baik akan saya usahakan untuk hadir dalam pertemuan dengan Anda, Pak,“ ucap Nata mengakhiri telepon itu. Nata berjalan ke arah Sisil, lelaki itu menatap Sisil beberapa saat. Sepertinya untuk datang ke acara formal Nata membutuhkan gandengan yang dapat menyita perhatian banyak mata. Siapa lagi yang pantas mendampingi lelaki tampan, muda, dan sukses seperti Nata kalau bukan seorang Cecilia Fanyandra Corlyn. Gaya pakaian wanita itu setiap harinya terlihat elegan dan memukai siapa saja yang menatapnya. Sisil sangat piawai dalam mengatur kontras warna pakaiannya hingga terlihat mempesona. “Besok kamu bisa menemaniku datang ke acara jamuan dengan klien perusahaan?” tanya Nata membuat Sisil mengadah ke arahnya. “Memangnya kenapa dengan Aneta? Dia tidak bisa turut serta?” tutur Sisil menimpali pertanyaan Nata. Sisil hanya merasa aneh, bukankah dalam acara formal perihal perusahaan lebih afdol rasanya jika sekretaris pribadi sang CEO perusahaan lah yang menemaninya. Bukan malah salah satu karyawan dari divisi keuangan yang menjadi teman Nata pada acara jamuan klien perusahaan lelaki itu. “Besok hari Sabtu, tentu saja dia libur,“ jawab Nata mengingatkan kepada Sisil bahwa besok adalah hari sabtu. “Kalau begitu aku juga kan libur, mana mau aku direpotkan sama urusan kantor,“ ucap Sisil menatap Nata tidak suka. Wanita itu sudah memiliki banyak rencana tentang kegiatan apa saja yang akan dia lakukan di hari libur. Tentu saja Sisil merasa tidak senang jika hari liburnya harus dia gunakan juga untuk hal-hal yang menyangkut pekerjaan.  Apa kali ini Nata juga sedang berusaha merampas hari liburnya setelah membuatnya dihukum dengan penambahan kerja? Kalau memang benar seperti itu, maka Sisil tidak akan pernah merasa bersalah atas niatnya untuk risign usai kontraknya selesai tanpa berkeinginan memperbaharuinya lagi, walaupun diiming-imingi gaji yang tinggi. “Aku tidak menyuruhmu menemaniku datang ke sana sebagai pegawaiku Cecilia. Aku mengajakmu sebagai pasanganku,“ papar Nata mengelus puncak kepala Sisil. Da-da Sisil bergemuruh mendengar lelaki itu mengatakan hal yang terduga. Tangan Nata mengelus puncak kepala Sisil dengan lembutnya. Sepertinya para lelaki seperti Nata sudah hafal benar bagaimana cara meluluhkan hati kaum hawa. Sebagai pasangan Nata? Apa nanti di sana Sisil akan diperkenalkan sebagai pasangan lelaki itu. Lalu bagaimana nanti Sisil akan bersikap di sana? Haruskan Sisil dengan bangganya mengiyakan perkataan Nata bahwa mereka berdua adalah pasangan kekasih. Kalau itu sampai terjadi, maka Sisil sama saja bermuka dua. Tampak baik di depan banyak orang, akan tetapi saling bermusuhan ketika mereka hanya berdua saja. “Aku akan menjemputmu jam lima sore. Jangan sampai telat, ya,“ ucap Nata tanpa menunggu persetujuan dari Sisil. "Kan aku belum menjawabnya, mana bisa paksaan begitu?" sergah Sisil menatap Nata melongo. "Aku tidak butuh jawabanmu, apapun itu jawabannya adalah iya," pungkas Nata tersenyum lembut. “Ck, dasar pemaksa,“ sindir Sisil dijawab kekehan geli dari Nata yang sangat terhibur dengan ekspresi wajah Sisil jika menahan kesal. Nata meminta Sisil untuk membantunya menyusun ulang laporan keuangan yang amburadul di jaman manager keuangan anak perusahaan mereka yang lama. Untung saja manager keuangan di anakperusahaan Dirga Company sudah dipecat karena kelalaiannya yang menyebabkan perusahaan selalu rugi tiap bulannya. Sisil mengerjakan dengan cermat, membenahi beberapa kesalahan fatal yang memang bisa berdampak buruk bagi pengeluaran perusahaan. Beberapa kali Sisil terlihat menyerngit saat menemui beberapa masalah didalam proses menyusun ulang itu. Sisil harus lebih fokus lagi untuk menarik benang merahnya. Nata menatap Sisil yang tengah fokus dalam membenahi susunan laporan keuangan tak terpakai. Lelaki itu tersenyum, padahal laporan tersebut sudah tidak digunakan lagi karena Nata telah meminta Bu Mina merevisi laporan itu dengan yang baru, karena Nata tak sabar menunggu revisi laporan dari anak perusahaannya. Itu adalah akal-akalan Nata untuk membuat Sisil berada di dekatnya. “Hoammm....“ Sisil menguap, menggaruk kepalanya berkali-kali karena kantuk yang menyergapnya. Wanita itu menoleh ke arah Nata. Lelaki di sampingnya malah menyengir seolah tidak merasa bersalah sudah mengganggu pekerjaan divisi Sisil dengan meminta dirinya datang ke ruangan Nata.  “Mau kopi?” tanya Sisil kepada Nata yang kini fokus pada pekerjaannya. “Boleh, gulanya satu sendok saja ya Sayang,“ jawab Nata mengedipkan matanya genit. “Satu gelas nggak mau?” celetuk Sisil membuat Nata tersenyum. “Jangan menggodaku, aku menahan diri untuk tidak menciummu lagi di sini,“ goda Nata sontak membuat Sisil berdiri dari duduknya dan melangkah dengan cepat keluar dari ruangan Nata. Meja Antea di luar sana sudah rapi dan tidak ada orang, itu tandanya Aneta dan Ares sudah pulang karena jam kerja telah berakhir. Beruntung sekali mereka bisa pulang tepat waktu, bukan seperti dirinya yang harus terjebak bersama bos gila itu sampai saat ini. Sisil harus mencharger daya kesabaran di dalam dirinya setiap kali berhadapan dengan Adinata Dirga Pratama. Padahal sebelum ini, Sisil sudah sangat nyaman bekerja di bawah pimpinan Dirga, selaku CEO lama perusahaan tempatnya mempraktikkan ilmu yang dia dapatkan selama menempuh pendidikan. “Nikmat mana yang kau dustakan, Sisil,“ desah Sisil sambil membuat kopi di pantry lantai tiga puluh di mana ruangan Nata berada. *** Sisil masuk ke dalam ruangan Nata dengan dua gelas cangkir kopi di tangannya, pemilik netra secoklat senja itu mengerutkan keningnya mendapati Nata tertidur di sofa ruangannya dengan tablet yang kini berada di atas perutnya. Sisil berdecak, tablet itu bisa saja luruh tanpa pengamanan apapun.  Dengan perlahan Sisil mengambil tablet itu dari tangan Nata, berusaha tidak membangunkan lelaki berparas tampan di depannya. Sisil menekan tombol save di dokumen yang Nata buka untuk menyimpan pekerjaan yang sudah lelaki itu kerjakan sejak tadi. Sisil benar-benar berhati-hati dalam mengesave file itu agar tidak hilang dan membuat Nata harus mengulang kembali pekerjaannya. Meski di dalam benak Sisil tengah merencakan kesengajaan membuat Nata merasakan kerepotan karena pekerjaannya hilang sia-sia. 'Haruskah aku menghapus file itu agar dia bekerja lebih keras lagi?' gumam Sisil di dalam hatinya, membuat wanita itu menggeleng keras dengan apa yang terlintas menjadi idenya. Sisil menatap wajah tenang Nata ketika mata lelaki itu terpejam, alisnya tebal, hidungnya mancung dan bibirnya sangat penuh. Nata masuk dalam kategori lelaki tampan menurut klasifikasi Sisil. Tepatnya, segala tipe lelaki ideal di benak Sisil ada pada sosok Nata. Mata Sisil terbelalak saat tangan kekar Nata menariknya kedalam dekapan lelaki itu. Sisil jatuh berbaring di samping Nata. Nata melingkarkan tangannya di perut Sisil, kini mereka saling berhadapan satu sama lain. Nata tersenyum lembut, hingga hembusan napas panjang lelaki itu menyapu wajah Sisil. “Sebentar saja, aku lelah,“ ucap Nata menarik Sisil untuk dia dekap semakin erat. Sisil tidak bisa berekasi lain selain mengikuti kehendak Nata, demi apapun jantung Sisil tidak pernah seperti itu sebelumnya. Tapi berdekatan dengan Nata nampaknya membuat jantungnya senam. Nata memeluk Sisil dengan erat, siapapun yang melihat mereka akan mengira keduanya pasangan yang sangat pas dan juga serasi. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja, saat waktu menyatukan mereka di saat yang tepat. “Apa shampo yang kau pakai?” tanya Nata menatap mata Sisil. Sisil mendongak. “Briogeot Rosarcos,“ jawab Sisil. “Baunya enak, aku suka. Manis, dan menenangkan,“ ucap Nata kembali menghirup aroma rambut Sisil. Nata menyentuh dagu Sisil, membuat Sisil kembali mendongak ke arahnya. Aroma tubuh Sisil bagaikan candu dalam indera penciuman anak sulung pasangan Dirga dan Resti. “Apa pasta gigimu?” tanya Nata kembali. Kening Sisil mengkerut heran. “GC, kenapa?“ jawab Sisil. “Aku menyukainya,“ jawab Nata, mendekatkan wajahnya ke arah Sisil. Bibir mereka bertemu, detik pertama Sisil sangat terkejut dengan ciuman Nata yang begitu tiba-tiba. Di detik selanjutnya, Sisil membalas ciuman Nata membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Nata yakin bahwa dirinya bisa menakhlukkan hati Sisil sebentar lagi. Nata akan memiliki Sisil selamanya, dan Nata tidak ingin melepaskan wanita itu begitu saja. Sisil adalah wanita pertama yang membuatnya kecanduan untuk dekat dengannya setiap waktu. Sehari saja Nata tidak bertemu Sisil, mungkin mood lelaki itu akan berantakan seharian penuh. Nata sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu tergila-gila kepada Sisil. Wajah cantik, pintar, dan juga sangat cekatan. Sisil tidak termasuk dalam wanit-wanita yang pernah dia pacari sebelumnya. Sisil wanita pertama yang membuat Nata begitu bersemangat untuk mendapatkan wanita itu dengan seutuhnya. Mereka saling terengah-engah saat ciuman mereka terlepas, Sisil mengambil nafas dalam-dalam. “Aku ingin kamu membalas perasaanku, Cecilia,“ pungkas Nata menatap mata Sisil dengan serius. Sisil menunduk, dia tidak tahu apa yang ada didalam hatinya saat ini. Sisil masih menunggu seseorang itu, kekasih di masa kecilnya yang sampai saat ini belum lagi dia temukan keberadaannya. Dia telah menaruh kepercayaan pada seorang lelaki di usia belianya, dan Sisil kehilangan kontak dengan lelaki itu. Haruskah Sisil melupakan lelaki kecilnya yang pernah menjanjikan untuk pertemuan mereka kembali? Apakah Nata lelaki yang tepat untuk mengubur impian seorang anak perempuan di masa kecilnya? Sebuah janji anak-anak, tanpa berpikir bahwa janji adalah sesuatu hal yang harus mereka tepati. "A-aku ...." "Bersamamu aku merasa tenang," tutur Nata tak berbohong atas perasaan yang timbul secara kilat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN