Mama Datang

861 Kata
Baru pukul tiga sore, tapi langit sudah begitu gelap. Naya batal mengeluarkan payung ketika ponselnya berbunyi. Ditariknya nafas panjang melihat nama yang muncul disana dan mundur dari teras gedung fakultas yang cukup ramai ,” Ya, kak …" “ Aku jemput.” “ Gak usah …. banyak orang disini.” ujarnya pelan ,” eits …. Pak ” pekiknya ketika melihat Bimo berdiri dihadapannya. “ Narend ?” tanyanya lalu mengambil ponsel Naya saat gadis itu mengangguk ragu ,” Kita tunggu di tempat parkirku biasanya.” diserahkannya ponsel Naya ,” Ayo, kita lewat parkiran belakang.” Naya tertegun… apakah berita itu sudah sampai ke dosen dosen …. “ Naya ….” “ Ya, Pak.” Naya bergegas mengikuti Bimo ke parkiran belakang dan berdiri disana sebentar ,” Ehm … Pak …" “ Kenapa ? Dia mau jemput kan ? Kebetulan aku sama istriku gak bawa kendaraan.” Bimo tertawa kecil melihat gadis yang gelisah disampingnya ,” Ayo … itu Narend datang.” Bimo melangkah cepat dan membuka pintu depan ,” ups …. ok” ujarnya melihat Narend menatapnya tajam ,” Duduk depan Naya …" lanjutnya dan beralih duduk di kursi belakang bersama Rani. “ Kak …" “ Masuklah cepat, gerimis.” Naya duduk dan menutup pintu. Narend mengulurkan tangan mengusap rambut Naya yang sedikit basah ,” di laci situ ada handuk kecil, keringkan rambutmu.” ujarnya lalu menjalankan mobil perlahan keluar dari tempat parkir ,” safetybelt jangan lupa.” Naya memasang safetybelt dan membuka laci didepannya. “ Hai, aku Rani.” Tak tahan, Rani memajukan tubuhnya ,” Aku sepupunya Narend, istrinya Bimo.” diulurkannya tangan. “ Bu …" Naya menyambutnya kikuk. Narend mendengus, menepuk tangan keduanya ,” Pake salaman segala.” “ Astaga …. galak amat sih ? Gak bakalan juga aku merebutnya darimu.” gerutu Rani. “ Lebih baik kamu urusi temanmu.” geram Narend. Rani menghela nafas dan bersandar ke bahu Bimo ,” Aku gagal mengendalikannya.” Bimi tertawa ,” Sudah tahu dia seperti itu, dari awal jangan dikasih jalan. Aku …" “ iya … iya … kamu sudah bilang berulangkali sebelumnya.” “ Apalagi yang dilakukannya kali ini ?” “ Ngotot mau ikut … Narend tancap gas bahkan sebelum aku menutup pintu.” Bimo tertawa terbahak bahak ,’ Sadis loe ….. kalau istriku jatuh gimana ?” “ Buktinya masih selamat.” sahut Narend pelan … sedikit menyesal menyadari ia sudah membahayakan Rani ,” Aku tahan sampai semester depan, penelitianku kelar. Setelah itu dia atau aku yang keluar dari kampus.” “ Narend ….” protes Rani ,” Jangan main main dengan mata pencaharian orang.” “ Ok … Aku yang keluar. Ketidaknyamanan ini sudah melewati batas.” “ Tapi …. gak ada dosen yang handel mata kuliah kamu.” “ Haruskah aku bawa ini ke rapat fakultas ? Ingat … kamu juga akan terbawa bawa.” geramnya ,” Ajak dia bicara, kalau masih mengerti bahasa manusia.” Bimo menekan tangan istrinya ,” Sst …. kamu tahu apa yang paling mengganggu Narend.” bisiknya. Rani menurut. Narend melirik gadis disampingnya yang mencoba tidak bergerak dan mengeluarkan suara ,” Maaf.” diraihnya tangan yang tengah menggenggam tali sling bag nya. “ Kamu menakutinya.” ujar Bimo. “ Dia sudah biasa melihat opa dan papa seperti ini, dia cuma kikuk karena kita membahas satpam itu.” Naya tersenyum geli ,” Eh, kita mau kemana ? Bukannya belok ?” “ Kita ke rumah Bimo jemput mama.” “ Tante Hendry dateng ?” “ Iya, lusa ada acara di rumah kakak mama.” “ oh …" Bimo dan Rani bertatapan mendengar Oh yang ringan itu. Keduanya memutuskan diam sampai turun di rumahnya. “ Naya …..” seorang perempuan parobaya yang tetap terlihat cantik itu berdiri dari sofa. “ Te ….” Naya memeluknya erat ,” Sehat ? Om Hendry mana ? Kakek, nenek, oma opa ? “ Bawel, tanya satu satu.” Naya tertawa ,” Baiklah … bawa apa buat Naya ? Itu aja yang dijawab.” Ny Hendry tertawa, menarik ujung hidung Naya ,” Dasar. Kalau dibawain seserahan mau gak ?” Naya terdiam sementara yang lain tertawa melihat Narend salah tingkah disamping Naya. “ Sudahlah, Naya … ini Tante Mirna, adik mama.” Naya memberi salam pada perempuan yang mirip dengan Rani, mencoba mengabaikan panggilan mama yang diucapkan Ny hendry ,” Te …" “ Tinggal disini sampai makan malam ya … Tante masih ada yang perlu dibicarakan dengan mamamu.” Naya mengusap tengkuknya. “ Duduklah.” Narend menariknya duduk di sofa ,” Ran …. gak ada minum nih ?” “ Iya … iya siap.” sahutnya sambil terkikik melihat Naya sedikit linglung ,” Minumlah Naya … kamu seperti petinju kena pukulan bertubi tubi.” Narend menendangnya ,” Minumlah, gak usah didengerin.” diulurkannya cangkir setelah meniupnya pelan ,” Mumpung masih anget, biar gak masuk angin.” “ Wooooow …......” Bimo dan Rani teriak bersamaan …...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN