Narend dan Naya sudah terpojok di gazebo yang difungsikan sebagai pelaminan dengan wajah merah padam dan tidak kuasa bersuara dikelilingi keluarga dan para sahabatnya. Mereka dipaksa mendengarkan 'petuah' dan 'teori' mulai dari yang bijak dari orang tua, yang ilmiah sampai candaan yang membuat telinga panas. " Sudahlah ... sudah malam, biar mereka istirahat. kalian juga perlu istirahat setwlah sibuk mulai pagi tadi. " Mama menengahi. " Rend .... ajak istrimu istirahat." ujar Papa " Ciee ... yang punya istri ...." goda mereka serentak. Naya cuma bisa menyusup ke pelukan Narend. " Sudah ... sudah ... istirahat dulu. Kalian juga pasti capek daei kemaren mempersiapkan acara ini. Terima kasih.” Ujar Narend serius ," Dengan persiapan yang sangat singkat." Naya mengangkat kepalanya ," Terim

