Rumah sakit kota tampak terang benderang ketika mobil ambulans berhenti mendadak di depan IGD. Petugas medis segera menyambut, mendorong ranjang darurat tempat Aselia terbaring, tubuhnya masih lemah, luka-luka di wajahnya mulai membiru. Adipati menggenggam tangannya erat, napasnya terengah karena kecemasan yang menumpuk.
"Pak, kami perlu waktu untuk observasi dan CT-scan. Mohon menunggu di luar," kata seorang perawat sambil menutup tirai ruangan gawat darurat.
Adipati menatap pintu itu tertutup. Tangannya gemetar, tubuhnya limbung, seolah seluruh kekuatan di tubuhnya terkuras dalam sekejap.
Reymond menepuk bahunya pelan. “Sabar Mas, yang terpenting Aselia selamat. Sekarang tinggal kita bantu dia pulih sama - sama ya, aku sama Lidia akan bantu dia untuk ingat semua memorinya lagi.”
Lidia mengangguk. “Aselia pejuang. Tapi kamu juga harus kuat, Mas Adi. Dia butuh kamu dalam bentuk terbaikmu.”
Adipati duduk di kursi tunggu. Sorot matanya kosong, namun ada secercah cahaya baru yang mulai menyala. Harapan. Sesuatu yang dua minggu terakhir terasa begitu asing.
Tiga Hari Kemudian
Aselia sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Luka-luka di wajahnya mulai mengering, meskipun memar masih terlihat. Namun ingatannya belum juga kembali. Setiap kali Adipati memanggilnya "sayang", ia hanya menatap bingung.
"Maaf... aku masih belum ingat siapa kamu," katanya pelan suatu pagi saat Adipati membantunya menyisir rambut.
Adipati tersenyum, meski hatinya sakit. “Nggak apa-apa. Kita mulai dari awal ya. Jangan terlalu terburu - buru, pelan - pelan Aselia."
Aselia menunduk, merasa bingung dan entah harus berbuat apa, karena dia pun belum bisa mengingat siapa dirinya."
Di luar kamar, dokter bicara serius dengan Adipati.
“Pak Adipati, benturan di kepala Ibu Aselia cukup serius. Dan mengakibatkan Amnesia, dan ini bisa berlangsung sementara tapi juga bisa permanen.”
“Peluangnya?” tanya Adipati dengan suara nyaris tak terdengar.
“Sulit diprediksi. Tapi seringkali, lingkungan yang familiar, suara, aroma, bahkan emosi kuat bisa menjadi pemicu untuk mengembalikan ingatan.Harus sabar dibantu diingatkan tetapi juga tidak bisa langsung banyak - banyak, mengingat semua tergantung proses fisiknya Bu Aselia ya."
Adipati mengangguk, lalu kembali masuk ke kamar. Ia mulai membawa barang-barang lama milik Aselia seperti buku catatannya, foto-foto, bahkan aroma parfum favoritnya.
Setiap malam, Adipati duduk di samping ranjang dan menceritakan kembali kisah mereka dari awal, dari pertemuan pertama di pameran seni, surat cinta pertamanya, hari pernikahan mereka di tengah taman penuh bunga lavender, hingga malam terakhir sebelum kecelakaan.
“Kadang kamu ngambek karena aku lupa tanggal jadian kita tapi kamu selalu luluh kalau aku kasih es krim rasa stroberi,” ucap Adipati sambil tertawa kecil, matanya berkaca-kaca.
Aselia hanya mendengarkan. Kadang tersenyum. Kadang menitikkan air mata tanpa tahu kenapa.
Sementara itu
Georgia duduk di ruang tamu rumahnya yang kini sepi. Setelah kabar Aselia ditemukan dan selamat tersebar, semua kontaknya menjauh. Saham milik Adipati yang sempat ia kelola sebagai “asisten pribadi” kini dibekukan. Bahkan pengacaranya menolak mengangkat telepon.
Ia membuka berita online yang menampilkan foto Adipati menggandeng tangan Aselia saat keluar dari rumah sakit senyum bahagia pria itu menusuk hatinya.
“Mas Adipati kamu udah nyakitin aku secara tidak langsung, kamu lebih milih perempuan setengah mati itu, ketimbang aku yang selalu ada,” gumam Georgia lirih.
Di kamarnya, ia menyobek foto-foto masa lalu. Tapi di balik kemarahan, mulai muncul rasa takut. Kalau ingatan Aselia pulih apakah rahasianya akan terbongkar?
Georgia menatap ponselnya. Ia membuka kontak seorang pria bernama Ivan, mekanik bengkel yang dulu diam-diam ia sogok untuk mengutak-atik rem mobil Aselia.
Georgia mengetik pesan:
“Kita harus bicara. Darurat.”
Satu Minggu Kemudian
Hari itu, rumah sakit mengizinkan Aselia untuk jalan-jalan ringan di taman. Adipati menuntunnya pelan, di bawah langit cerah yang dihiasi awan tipis.
"Aku ngerasa... aku pernah ke tempat ini," ujar Aselia pelan, melihat air mancur kecil di tengah taman.
Adipati mengangguk. “Dulu kamu suka duduk di situ, sambil baca novel. Kadang kamu nyuruh aku duduk jauh, biar kamu bisa 'me time' katanya.”
Aselia tertawa kecil. “Kedengarannya... kayak aku banget, ya?”
“Banget sayang.” balas Adipati sambil menatapnya.
Tiba-tiba, suara anak kecil tertawa sambil berlari-lari melewati mereka. Aselia menoleh cepat. Dan untuk sekejap, bayangan samar muncul, dia sedang memangku seorang anak kecil, sambil menyanyi pelan.
“Mas Adi...” bisiknya. “Apa kita sempat punya anak?”
Adipati terdiam. Matanya berkaca. “Kita pernah berharap, Sel Tapi waktu itu kamu keguguran.Saat kita belum menikah, kau dan aku sudah melakukannya dan kamu sempet hamil, namun belum rejeki, kamu mengalami keguguran."
Aselia terdiam lama. Tangannya menggenggam erat tangan Adipati. “Aneh ya... aku nggak ingat apa-apa, tapi perasaanku percaya sama kamu.”
Di tempat lain...
Reymond tak berhenti menyelidiki. Bersama detektif yang ia bayar, mereka mulai menyusun kembali teka-teki kecelakaan itu. Mereka menemukan rekaman CCTV jalan kota yang menunjukkan mobil Aselia melaju tak terkendali... tapi anehnya, terlihat seperti ada seseorang yang menyusup ke garasi malam sebelum kejadian.
“Ini bukan cuma kecelakaan biasa,” ujar Reymond.
Lidia mengangguk. “Kita harus lindungi Aselia. Kalau dia inget sesuatu dan pelakunya tahu… nyawanya bisa terancam lagi.”
Keesokan Malamnya
Aselia bermimpi aneh. Kilatan lampu mobil. Suara rem menjerit. Lalu, suara wanita berteriak “Jangan lakukan ini!”
Ia terbangun dengan tubuh berkeringat. Napasnya memburu. Di sampingnya, Adipati terbangun dan segera menggenggam tangannya.
“Aselia? Kamu mimpi buruk?”
“Aku... aku lihat seseorang. Seperti... perempuan. Rambutnya cokelat... terus dia bilang, ‘Jangan lakukan ini’. Lalu semuanya gelap.”
Adipati terpaku. Rambut cokelat. Georgia.
“Sel kamu inget siapa dia?”
Aselia menggeleng. Tapi air matanya mulai menetes.
“Aku takut, Mas Adi... aku takut kalau aku tahu semuanya, aku nggak kuat.”
Adipati memeluknya. “Apa pun yang terjadi, aku di sini. Aku janji.”
Di balik layar
Georgia duduk di mobil, menatap ponsel. Pesan dari Ivan masuk:
“Gue disuruh diem, tapi lo bilang ini darurat. Tapi kalau sampai ini bocor, kita berdua tamat, Lo nggak takut masuk penjara."
Georgia mengetik cepat:
"Tenang Gue cuma mau pastiin Aselia nggak inget apa-apa. Kalau dia mulai , itu berarti kita harus ambil tindakan.”
Tangannya gemetar. Hatinya dipenuhi rasa bersalah dan rasa takut yang makin menyesakkan.
"Lalu apa yang mau Loe lakuin, Georgia?"
"Kita harus mencari tahu di mana Aselia, jangan sampai ingatannya kembali dan polisi menangkapku, aku tidak mau masuk penjara, dia memang pantas mati, karena Mas Adipati hanya milikku."