Malam itu, langit Jakarta penuh mendung. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang dipaksa turun ke bumi. Di dalam kamar besar Mansion Rafli, Aselia duduk termenung di tepi ranjang. Gaun pengantinnya sudah terlipat rapi di kursi, rambutnya masih setengah terurai, dan cincin berlian di jari manisnya berkilau setiap kali terkena pantulan cahaya lampu tidur. Namun matanya kosong. Ia menatap cincin itu lama, seolah mencari jawaban di dalam kilauannya. "Apakah ini benar-benar kebahagiaan? Atau hanya ilusi yang aku ciptakan untuk melupakan luka?" Suara pintu terbuka pelan. Rafli masuk dengan senyum hangat, membawa segelas air putih. “Sayang, minum dulu. Kamu butuh istirahat. Hari ini pasti melelahkan.” Aselia menoleh, tersenyum tipis, lalu menerima gelas itu. “Terima kasih, Raf.” Rafli

