Udara dingin menyelimuti seorang gadis cantik yang sedang mengantre, ia melihat ke kanan dan kiri, lumayan banyak orang yang bersantai di sini. Mungkin ingin menikmati akhir pekan.
Anastasha sudah di California, sekarang ia berada di kafe. Sekedar membeli coffee. Setelah selesai, ia keluar dari sana di ikuti manager Song.
Angin bertiup, Anastasha merapatkan mantelnya. Udara sore ini sangat dingin, sepertinya salju akan turun. Ia mendengar jika California sudah lama tidak turun salju, mungkin ini waktunya. Sepanjang jembatan Anastasha menghela nafasnya, sore hari ini benar-benar sangat dingin.
“Huft, dinginnya ....”
Ia melangkah menuju jembatan Golden Gate. Sangat dingin, dengan mantel hitam yang ia pakai, ternyata belum bisa menghalangi angin yang bertiup ke tubuhnya. Tatapan Anastasha lurus ke depan, pandangannya sedikit buram karena salju yang mulai turun rintik demi rintik.
Semakin melangkah, dari jauh Anastasha melihat seorang pria yang sedang bersandar di sandaran jembatan. Pria itu terlihat sangat rapuh.
Itu Darryl, kan?
“Da-rryl ...” Lidah Anastasha keluh hanya sekedar menyebut nama pria itu.
Gadis itu mempercepat langkahnya, seiring turunnya salju. Ia melangkah menahan hawa dingin yang menerpa tubuhnya, salju mulai turun sedikit demi sedikit. Menyentuh rambut hitam legamnya, kontras sekali dengan warna salju yang putih bersih.
Manager Song bergerak cepat memberikan payung pada Anastasha, sedang gadis itu menyodorkan cup coffee miliknya dan meminta manager Song meninggalkan dirinya. Anastasha kembali berlari mendekati Darryl.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia memperlambat langkahnya, mendekati seorang pria yang terduduk dengan kepala yang menunduk.
“Darryl gak minta hadiah yang muluk-muluk, Darryl cuma mau Anastasha kembali. Itu aja Tasyaa ....”
“Apa permintaan Darryl terlalu berat?”
“Darryl sangat kangen, Tasya ...” lirih pria itu menunduk dalam.
Suara Isak tangis memilukan hati terdengar di pendengaran Anastasha, hatinya terasa dicabik-cabik.
Gadis itu lalu memayungi pria di hadapannya. “Excuse me!”
Pria itu mendongak, dialah Darryl. Darryl segera menghapus air matanya dan berdiri. Sekujur tubuh Darryl menegang saat menatap gadis misterius di hadapannya, mata itu, sama seperti mata seseorang yang sangat ia rindukan.
“Long time no see, Darryl ....”
Astaga, suara itu... Darryl sangat merindukannya.
Gadis itu membuka maskernya, hingga terlihatlah wajah yang sangat ingin Darryl lihat selama lima tahun ini. Darryl mundur selangkah, matanya memanas. d**a pria itu berdetak kencang. Tolong katakan jika ini bukanlah mimpi.
“Tasya ...”
“Benar itu Tasya?”
Darryl menangis lagi, air matanya kembali menetes. Kini semakin deras saja, pria itu tak sanggup menopang tubuhnya. Tangannya berpegangan di sisi pembatas jembatan. Tubuh Darryl bergetar hebat.
“Tasya dari mana ... hiks.”
“Kenapa sangat lama ...” isak Darryl tak sanggup menahan tangisnya.
Benar, gadis itu adalah Anastasha. Kekasihnya yang menghilang tanpa jejak selama lima tahun ini.
Darryl mendekati Anastasha tergesa-gesa dan memeluk kekasihnya itu dengan sangat erat. Ia menangis, sangat rindu gadis yang ada di dekapannya ini.
Anastasha menjatuhkan payungnya, ia membalas pelukan Darryl tak kalah erat. Menghapus air mata Darryl yang terus saja mengalir, sangat sakit melihat prianya itu menangis begini.
“Darryl kangen banget ... hiks.”
Nafas Darryl tercekat, dadanya naik turun mencoba menghirup udara yang seakan sedang menjauh darinya. Tubuh pria itu bergetar, sungguh, rindu yang ia tahan selama ini bukanlah main-main.
“Tasya juga kangen,” Anastasha terus menghapus air mata kekasihnya itu, padahal ia juga menangis.
“Jangan nangis ... Tasya sudah di sini. Tolong jangan menangis ....”
Apakah kekasihnya ini sangat tersiksa seperti ini selama lima tahun belakangan? Jika iya, Anastasha minta maaf sekali.
“Maafin Tasya ....”
Darryl menatap Anastasha tanpa melepas pelukannya barang sejengkal saja.
Dengan tatapan sayu dan mata yang merah, Darryl bertanya, “Anastasha dari mana?”
“Maaf ....”
“Darryl kangen banget, Tasya ....”
Anastasha menganggukkan kepalanya, ia sangat tahu itu.
“Tasya udah gak cinta lagi sama Darryl ...?” tanya pria itu dengan nafas yang masih tidak beraturan.
Anastasha menggelengkan kepalanya membantah perkataan Darryl, sama sekali tidak ada yang menjamah hatinya kecuali pria yang mendekapnya itu.
Darryl tiba-tiba melepaskan pelukannya, ia mundur dua langkah menjauhi Anastasha.
“KALAU MAU BUNUH DARRYL, BUKAN BEGINI CARANYA!” sentak Darryl dengan sorot mata yang begitu tersakiti.
Anastasha menggelengkan kepalanya, ia tak bisa menahan tangisnya. “Bukan begitu, Anastasha enggak gitu, Darryl ....”
Anastasha mendekati kekasihnya, tapi Darryl memilih mundur. Hati Anastasha mencelos, Darryl menghindari dirinya.
“Darryl, maaf ....”
“ANASTASHA KE MANA SEBENARNYA?!” Darryl dikuasai emosi, sehingga membentak nyaring gadis yang dirindukannya itu tanpa sadar.
Anastasha mundur karena kaget, gadis itu terlihat takut. Gadisnya terlihat takut padanya. Darryl berusaha mengontrol emosi, ia menatap kekasihnya dengan saksama. Anastasha-nya tambah mempesona.
“Tidak tahu, kah, Tasya kalau Darryl sangat tersiksa?” Darryl memelankan suaranya.
“Dari Darryl menutup mata, sampai buka mata lagi, Darryl selalu mikirin Anastasha.”
Tatapan pria itu sangat terluka, Darryl tidak hidup dengan baik lima tahun terakhir ini.
“Anastasha sengaja bikin Darryl tersiksa?”
Anastasha menangis mendengar penuturan Darryl, ia menggelengkan kepalanya kuat. Anastasha mendekat lalu memeluk pria itu.
“Jika iya, Anastasha sudah berhasil. Darryl sungguh sangat menderita lima tahun ini.”
Anastasha terus menggelengkan kepalanya, Darryl sudah salah menilai dirinya.
“Anastasha mencintai Darryl, sangat mencintai Darryl ....”
Gadis itu menunduk dengan air mata yang membasahi kedua pipinya, hidung gadis itu bahkan terlihat sangat merah.
Darryl menatap lama Anastasha, ia sudah tak mengeluarkan lagi unek-uneknya, tetapi air matanya yang tidak bisa berhenti untuk keluar.
“Kenapa tinggalin Darryl?” lirih Darryl, sedih bercampur senang bersatu padu dalam dadanya. Sesak juga.
“Tasya enggak tinggalin Darryl, kok. Tasya sudah di sini sama Darryl.”
“Beneran gak ninggal-ninggal Darryl lagi?” Darryl menatap Anastasha dengan harapan penuh, ia takut sekali kehilangan gadis itu lagi.
Sudah cukup lima tahun membuat hidupnya tidak tenang, Darryl tidak ingin kehilangan lagi.
Anastasha lagi-lagi menangkup wajah Darryl, ia menghapus jejak air mata yang masih saja terus membasahi pipi pria itu.
“Anastasha enggak mau menjelaskan apa pun?” tanya Darryl lirih.
Anastasha mengelus pipi Darryl. “I just wanna say, I love you. That’s all.”
“Anastasha mencintai Darryl ....”
"Selamat ulang tahun, sayang..."
Gadis itu sama tersiksanya seperti Darryl, bohong jika ia tidak merindukan pria itu. Hari-harinya selalu penuh dengan bayangan Darryl.
Kini, dua sejoli itu bertemu kembali di bawah guyuran salju, setelah berpisah selama lima tahun.