6. MENJAGA KEBAHAGIAANNYA

882 Kata
  Perilaku aneh the hippo membenarkan dugaanku. Dia pasti ingin bercerai. Sesi konsultasi dengan Om Setyo hanya akal-akalan dia yang ingin cari tahu perihal perceraian. Perempuan bodoh itu mencari alasan remeh yang mudah ditebak. "Jangan coba membuat gugatan tanpa diskusi dengan saya. Atau kamu yang nanti menghadapi dua keluarga besar sendirian." Aku menekan tiap kata, agar otak biji kedelainya sanggup memproses maksudku. Kami kembali tidur bertiga. Rusa kecilku tidur di antara kami, menjadi pembatas kami berdua. Aku dan dia tidur telentang menatap langit-langit kamar, sementara Fatih tidur tengkurap. Entah sejak kapan posisi begini yang selalu kami ambil jika tidur di atas satu ranjang yang sama. "Sejak awal aku udah sendirian di sini." Omongan perempuan satu ini mengagetkanku. Dia berani membalas ucapanku demikian dingin. Gelagat kami akan memasuki sesi pertengkaran lagi. Baik, aku juga sudah jengah membiarkan sikap melanturnya. "Kamu tidak suka?" Aku menahan suaraku datar. Tidak menampilkan emosi terpancing. "Ya, aku nggak suka. Aku lelah." Hippo sialan! Jika memang dia merasa demikian, kenapa membawaku dalam ikatan bodoh ini selama empat tahun. Aku mengira dia menerima saja kondisi ini. "Kenapa nggak suka?" Stupid question, Ge. You knew the answer. "Ini pernikahan. Ada suami dan istri tapi kita...." Aku tidak lagi mendengar lanjutan perkataannya. Dia membenamkan wajahnya di balik lengan. Setitik pun aku tidak paham apa yang dia lakukan. "Mari kita pisah," katanya masih dalam posisi tangan yang sama. Kali ini kepalanya miring ke samping. "Lakukan sesukamu. Aku tidak mendukung atau melarang. Hadapi keputusanmu sendiri." Usai berkata demikian, aku memiringkan tubuhku membelakanginya. Sebisa mungkin aku ingin menghindari kenyataan bahwa hippo berotak kedelai itu menangis.   ♣♣♣   Matahari belum juga menyerang di antara celah tirai jendela. Suara azan sayup-sayup terdengar berbenturan pekikan nyaring Fatih. Tidurku lantas berakhir. Membayangkan bangun pagi bersama rusa kecilku, tidak ada tawaran lebih baik yang mampu mengalahkannya. Sisi sebelahku sudah kosong. Aku bergegas turun ranjang. Menapaki satu per satu anak tangga. Memperhatikan ruang tengah yang tepat berada satu ruang dengan tangga. Jejak Fatihku bukan terlihat, melainkan terdengar. Sangat jelas dari dapur. Membuatku makin penasaran aktivitas apa yang dilakukannya hingga tawa bahagianya menggelitik hatiku. "Martabak Fatih mau dioles apa?" Suara perempuan itu. Ya, Fatih memang tidak pernah jauh dari mamanya. Aku berdiam diri di depan dapur. Mataku tidak lepas memperhatikan ibu dan anak yang seru di meja dapur. Celotehan tidak jelas Fatih dan omelan perempuan itu, serta tawa mereka memenuhi ruangan. Pertanyaan Arvel setahun lalu mengiang. "Lo sanggup pisah dari keluarga kecil lo?" Waktu itu aku tertawa geli. Pikiranku tidak mencerna kalimatnya. Kini aku berpikir ulang. Inikah keluargaku? Seandainya bukan perempuan itu yang menyandang gelar istriku, mungkin masih ada satu kesempatan keluarga Fatihku bahagia, layaknya keluarga lain. "Papa!!" Pekikan suara bayiku menyadarkanku pada realita. Fatih lompat turun dari kursi lalu berlari menerjangku. Kali ini aku sigap menangkapnya. Oh boy, puteraku makan apa sampai seaktif ini? "Aku udah siapin sarapan. Silakan kalau mau makan." that hippo berkata tanpa menatapku. Dia berlalu begitu saja ke luar. Tidak menunggui tanggapanku. Ini bukan kali pertama dia memainkan perang dingin. Empat tahun bersama, aku lumayan hafal perangainya yang sederhana itu. "Fatih mau sarapan?" tanyaku. Fatih yang menyembunyikan kepalanya di ceruk leherku menggeleng. Satu tangannya memainkan rambutku, tangan yang lainnya memainkan kerah kausku. Tubuhnya jarang berhenti gerak. Tidur saja dia akan menjelajah ranjang. Seringkali aku mendapati kakinya di dadaku, bahkan kepalaku. Frontal memang gaya tidurnya. "Fatih mau tidur lagi?" Dia merenggangkan pelukanku. Mata bulat besarnya mengerjap. Menggemaskan sekali. "Batih mo ola," katanya. "Apa?" "Batih mo olattt." Dia berusaha keras melafalkan kata itu. Sekejap dunia gersangku serasa disiram hujan. Menyejukan dan, ah! Bagaimana mendeskripsikannya, penuh berkah. Bayiku yang hampir tiga tahun menyebut kata 'olattt'. "Fatih mau salat?" "Ya." Kepalanya mengangguk semangat. "Sama Papa?" "Ya." "Fatih bisa sholat?" "Sa. Ya, Mama." Mataku memanas. Bayiku mengingatkan pada aktivitas ibadah. Tuhan tidak bercanda ketika menghadiahi rusa kecil ini padaku. Anakku terberkahi doa para malaikat. "Ayo salat!" Aku menuntun Fatih menapaki tangga ke lantai dua. Kembali ke kamar. Mengajaknya masuk kamar mandi. Pelan dan sabar aku mengajarkan Fatih wudhu, aktivitas yang seringkali aku lakukan hanya tiap hari Jumat. Bukan berkumur, Fatih malah menelan air keran. Percobaan kedua, dia menggosok tangannya yang berisi air ke giginya. Kali ketiga, dia hanya menepuk bibirnya dengan air. Aku tidak memarahinya. Bayiku sudah berusaha. Setidaknya dia lebih baik dari pada aku yang sama sekali lalai, padahal sudah punya pengetahuan. Kelar wudhu, baju Fatih basah. Dia lebih mirip main air. Aku tetap bagga padanya. Bayiku tumbuh dengan caranya. Agar tidak masuk angin, aku menggantikan baju Fatih. Awalnya bingung memilih pakaiannya. Aku memilih baju koko putih dan celana bahan pendek. Secara kebetulan aku menemukan sarung siap pakai ukuran kecil bergambar McQueen. Rusa kecilku heboh mengenakan sarungnya. Dua sajadah aku bentangkan menghadap kiblat. Baru hendak membaca niat salat, bayiku tidur di atas sajadahnya. Mulutnya menyenandungkan lagu favoritnya. Sesuatu tentang 'ading ading'. Aku tidak yakin lagu apa itu. Salat berlangsung hanya aku seorang. Bayiku pulas, saat aku masuk rakaat kedua. Dia sudah melupakan ajakan salatnya. Selesai salat, aku segera mengangkat tubuhnya naik ke atas ranjang. Menyelimutinya yang tidak sampai dua detik, dia tendang selimut itu. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum bahagiaku. Dialah kebahagiaanku. Bagaimanapun aku harus memastikan kebahagiaannya terjaga, hingga dia cukup kuat memperjuangkan kebahagiaannya sendiri. Karena aku tahu, kebahagiaan rusa kecilku adalah bersama mamanya. Memastikan perempuan itu selalu ada bagi Fatih, merupakan kewajibanku. Kewajiban utama yang mengikatku bertahan dalam pernikahan ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN