WY 4

1143 Kata
Stella bersendawa keras, setelah menandaskan semua makanan yang tadi dibawah Haidar ke kamarnya, untuk ia makan sebagai sarapan pagi. Sembari menyender di sofa, Stella mengusap perutnya yang terasa sangat kenyant. "Duh, kekenyangan gue. Pen mual." Tutur Stella setengah menggumam. "Alhamdulillah.. Kalau kenyang ngomong alhamdulillah, Stella." Tutur Haidar dengan lembut. Pria itu duduk di pinggir ranjang Stella, menghadap ke arah Stella yang terduduk di sofa. "Apaan sih! Mulut mulut gue!" Ketus Stella, dengan lirikan tajam pada Haidar. Haidar mengulum bibirnya ke dalam. Ia masih bingung, harus menuturi Stella seperti apa. Haruskah ia memanggil Stella dengan sebutan, istri ku? Atau sayang? "Lo kenapa sih, mau nikah sama gue? Kenapa gak cari ukhtea — ukhtea aja?" Nada sarkas terdengar dari bibir plum Stella. Haidar mendongak, menatap Stella yang memandangnya jengah. "Orang tua saya meninggal ketika saya masih SMA, dan almarhumah ayah saya menitipkan saya pada Aba Sagara, Aba kamu." Jawab Haidar. "Ohh, jadi lo balas budi gitu? Dengan ngawinin gue?" "Menikah, Stella.." "Gue lebih suka bahasa kawin dari pada nikah. Gausah protes lo! Mulut mulut gue! Ya suka suka gue!" Ketus Stella. Stella menekuk satu kakinya ke atas, membuat duduknya persis seperti pria di warung tongkrongan. Haidar ingin menegur, namun Stella langsung menyela. "Gausah ceramah kayak Uma gue. Buat gue gak betah di rumah aja, lo pada!" "Sekarang waktunya gue nyidang lo!" Kata Stella, membuat Haidar menatap Stella kebingungan. "Gue udah tau, alasan lo ngawinin gue. Sekarang gue tanya, sebagai calon istri yang tidak baik, gue harus tau letak kelemahan lo, plus titik kesabaran lo sampek mana." Perkataan Stella membuat Haidar mengulum bibir. Baru kali ini, ada wanita unik yang tidak ingin menjadi istrinya. Asal kalian tau, banyak lamaran dari orang tua wanita di luar sana yang Haidar tolak, supaya ia bisa menikahi Stella, anak dari orang tua baik hati yang telah membuatnya menjadi sosok sukses sampai sekarang. "Pertama, siapa nama lo?" Stella bertanya sembari mencukil daging ayam yang menyelilit di giginya menggunakan telunjuk. "Samudera Haidar." "Umur lo?" Stella mendecih, membuang ayam yang sudah berhasil ia keluarkan dari celah gigi ke depan. Tak peduli jika ayam kecil itu mengenai Haidar. "Dua puluh empat," "Lo lulusan apa?" Tanya Stella sembari menggaruk telinganya yang tiba-tiba saja terasa gatal. "Saya lulusan s1 psikologi di Indonesia. Lalu saya lanjut ke Cairo University jurusan Faculty of Commerce atas rekomendasi dari dosen pembimbing saya saat itu." Jawab Haidar dengan lancar. "Widih, fakultas perdagangan. Pinter bisnis, nih. Lo pasti kaya, dong." Kekeh Stella dengan nada setengah mengejek. Haidar menunduk, sembari menautkan kedua tangannya. Bingung ingin menjawab apa. "Pasti lo, pengusaha?!" Tebak Stella dengan semangat. Matanya nampak berbinar. Haidar mendongak, kemudian menggeleng. "Bukan? Emmm, lo direktur?" Haidar kembali menggeleng. "Oh, salah ya. Pasti rektor? Atau mungkin dosen?" Tebak Stella, menebak ke profesi yang paling dekat dengan jurusan yang diambil Haidar. "Bukan," Jawaban yang sama dari Haidar membuat ujung alis Stella menyatu. Heran. "Dih, bukan semua. Apaan dong? Punya pondok pesantren?" Tebak Stella lagi. "Bukan.." Haidar menggeleng. "Lah, salah lagi? Apaan dong? Tukang tambal ban? Yakali tukang tambal ban kulit kinclong? Wajah bersinar?" Gumam Stella. "Saya itu ju—" Sebuah dering ponsel bernada Nokia Tune terdengar dari dalam saku celana Haidar. Pria itu lantas merogoh sakunya, mengambil ponsel jadul bermerek Nokia yang sedang berdering. "What?! Jaman twenty twenty two, lo masih pakek handphone kuno?" Pekik Stella setengah shock. Sungguh, baru kali ini ia melihat pria berperawakan tampan yang masih memakai ponsel jadul. "Sebentar, saya angkat telepon dulu." Tutur Haidar, lalu melangkah menjauh dari posisi Stella yang duduk dengan wajah tercengang. "Gue nikah sama cowok model apa sih? Tuhan! Gini amat hidup gue! Plis, gue butuh sugar daddy!" Stella mulai mendumel. Tak lama kemudian Haidar kembali. Ia duduk di pinggir ranjang yang tadi di dudukinya. "Lo jelasin sama gue sekarang! Lo kerja apa?!" Cerca Stella dengan nada tinggi. Haidar berdehem. Ia sedikit mengulum senyum yang menurut Stella justru terlihat aneh. "Dasar suami prikk!" Gumam Stella, yang tentunya dapat di dengar Haidar. Haidar semakin melebarkan senyuman bibirnya, membuat Stella sedikit was-was dengan pekerjaan Haidar, melihat dari ekspresi aneh pria itu. "Saya itu juragan ayam." "WHUATTT?!!!" Stella memekik teramat keras. Shock. Terkejut. Terpana. Terkaget-kaget tak menyangka. "JURAGAN AYAM?!" Pekik Stella, mengulangi. Siapa tau kupingnya sedang kemasukan setan. Haidar mengangguk. Jangan lupakan ekspresi pria itu yang terlihat teramat meyakinkan. "Gue, nikah sama tukang jual ayam?" Stella sampai termenung, menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. "Iya, Stella. Kamu menikah dengan saya, juragan ayam." Haidar meyakinkan ucapan Stella dengan nada tak main-main. "Please! Please! Please!" Stella mengusap dahinya. Ia menyangga kepalanya menggunakan kedua tangan. Kepalanya terasa ingin pecah, setelah mengetahui satu fakta ini. Namun, suara dering ponsel yang kembali terdengar membuat fokus Stella kembali. Kali ini bukan nada dari Nokia tune seperti sebelumnya. Tetapi dari nada khas ponsel mahal seperti milik Stella. Stella mengambil ponselnya di ujung sofa yang layarnya mati. "Bukan hape gue yang bunyi." Haidar bangkit. Ia berjalan menuju koper yang menjadi sumber suara ponsel tersebut. Stella menatap punggung Haidar keheranan. Matanya memperhatikan Haidar yang sedang membuka koper berisi baju-baju pria itu. Haidar mengeluarkan ponsel dari dalam kopernya. Ponsel yang menjadi sumber suara yang memecah keheningan keduanya tadi. Mata Stella membelalak lebar, melihat iPhone keluaran terbaru, yang bahkan belum sempat Stella beli. "Oh, udah dimatiin teleponnya." Tutur Haidar, dengan kaki kembali berjalan ke tempatnya duduk tadi, tapi dengan mata fokus pada ponsel miliknya. "Lo — lo— kok bisa beli ponsel mahal itu?!" Pekik Stella sembari menunjuk ponsel yang dipegang Haidar. Haidar berhenti di sebelah Stella yang menatapnya dengan raut tak percaya. Mata belonya nampak membelalak lebar. "Iya, ini ponsel saya untuk kerja. Yang Nokia tadi untuk sehari-hari." Jawaban Haidar membuat Stella terkejut setengah mati. Ia sampai tak bisa bersuara. Ponsel yang sedang di idam-idamkan sejak sebulan lalu, yang bahkan belum rilis di Indonesia, bisa-bisanya sudah di miliki oleh Haidar, si juragan ayam! Se-jaya dan semaju apa sih, ternak ayam pria itu?! Umpat Stella dalam hati. Haidar menatap ekspresi Stella yang memandangi ponselnya. Ia kemudian menatap ponsel Stella yang sedang dipegang gadis itu. "Kamu mau ponsel saya yang ini?" Tawar Haidar. "HAH?!" Stella memekik tak percaya. Semudah itu kah, Haidar memberikan ponsel terbarunya? Ponsel yang bahkan belum di rilis di Indonesia. "Kalau kamu mau, ini untuk kamu saja. Saya bisa beli yang baru, atau kalau kamu mau bertukar ponsel, saya tidak masalah." Perkataan Haidar sontak membuat mata Stella melotot. Semudah itu?!! "Beliin gue yang baru! Fix! Wajib yang sama kayak punya lo ini! Warna putih!" Pinta Stella dengan menuntut. Ia ingin tau, sekaya apa suami alimnya itu. Haidar mengulum bibir sembari mengangguk. "Iya, Stella." Gimana chapter ini? Cerita ini memang alur lambat.. Beda sama cerita yg lain.. Karena Cici mau cerita ini punya chapter panjang, jadi biar kalian puas.. Kalo diliat cerita lain punya cici cuman sampek 40 an aja. Jangan hujat Stella ya ? dia tokoh yang aku sayang.. Bayangin aja kalian di nikahin sama cowok yg gak dikenal, pasti juga bakal ngamuk ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN