WY 2

981 Kata
"Yakin lo, masih mau sama gue? Secara gue udah pernah having s*x sama berapa cowok, ya?" Stella mengubah rautnya menjadi berpikir. Telunjuknya mengetuk dagu manisnya. Mencoba mengingat-ngingat, agar dosanya yang sudah segunung tidak bertambah karena sudah membohongi sang suami. "Tidak apa-apa, Stella. Sudah, tidak perlu membongkar aib mu di depan saya. Allah sudah menutup aib—" "Lima deh keknya, apa enam ya?" Stella memotong ucapan Haidar. Stella sama sekali tidak mengindahkan ucapan pria yang kini sudah menghela nafasnya itu. "Saya tidak peduli dengan masa lalu kamu. Yang akan kita jalani adalah masa depan." "Ya itu kalo lo masih betah sama kelakuan gue nanti." Gumam Stella setengah mengejek. "Orang baik punya masa lalu yang dibanggakan. Tetapi orang dengan masa lalu buruk, punya masa depan yang bisa ia banggakan nantinya." Haidar tersenyum tipis, sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan saya akan tetap ada di sampingmu, di saat kamu bercerita tentang bangganya dirimu, menjadi seorang Stella Aziya." *** Stella berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dengan perasaan kesal. Bisa-bisanya si pria culun bin kuno bin kolot itu malah tersenyum dan tidak terpengaruh dengan ucapannya. Sungguh! Stella akan membuat pria itu kebakaran otak setiap hari, sampai akhirnya pria itu tidak kuat, dan dengan begitu, dirinya bisa kembali bebas seperti semula! Langkah Stella semakin cepat, dengan Haidar yang masih berjalan santai di belakang Stella. BRAKK! Stella membanting pintu kamarnya keras-keras. Namun, jantungnya dibuat kembali membara dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Stella menggeram kesal, sangat kesal, ketika melihat kamar yang harusnya bernuansa ala Korea berubah menjadi kamar ala pengantin dengan kasur yang ditabur bunga mawar diatasnya. Oh, jangan lupakan hiasan handuk yang berbentuk ayam atau angsa atau bebek, entahlah hewan apa itu, yang moncongnya saling menempel satu sama lain, seolah sedang berciuman. Mata Stella menatap ke sekeliling tembok yang harusnya terpasang poster dan postcard milik seseorang yang sudah ia gilai sejak dua tahun belakangan ini. Poster milik Suga yang sebelumnya terpampang besar di ujung ruangan kamarnya hilang, digantikan pigura besar berisi editan foto dirinya dan Haidar yang disandingkan. Haidar menggenakan setelan jas formal, dan dirinya yang mengenakan baju cheerleader merah metaliknya. Oh, jangan lupakan dirinya yang memberikan kedipan mata di foto itu dan tangan yang membentuk tanda piece. Kemudian postcard milik Suga yang seharusnya tertempel di dinding dan juga di jepit di bawah lampu lampu kecil digantikan dengan foto milik Haidar yang fotonya sama antara satu dengan yang lain. Maksudnya tuh, KONSEPNYA INI ITUH GIMANA SIH?!! "Umaaa!!!!!" Pekik Stella frustasi. Haidar yang sudah berdiri di belakang Stella hanya mengedipkan mata. Sedikit terkejut. Baru kali ini menghadapi seorang gadis, dan kebetulan gadis itu adalah istri kecilnya yang teramat aktif. Nafas Stella setengah menggebu kesal. Rautnya nampak merah padam. Ia langsung berbalik, mendorong tubuh Haidar agar menyingkir dari hadapannya. Stella berlari menuruni tangga secepat mungkin. Ia harus memprotes hal ini pada Uma-nya. Ia sudah sangat kesal dengan drama pernikahan diam-diam yang ia baru ketahui, bahwa tanpa dirinya hadir, pernikahan itu tetap bisa berlangsung, asalkan dengan beberapa syarat islam yang sudah terpenuhi. Keluarganya memang sangat kental dengan agama. Tetapi bukan berarti dirinya harus menjadi seperti mereka. Stella ingin menjadi dirinya sendiri disini. Setiap orang punya hak atas dirinya sendiri. Ditambah, Stella sudah berusia 20 tahun saat ini. "UMA!! UMAA!!" Pekik Stella, begitu ia sudah sampai di depan pintu kamar orang tuanya. Tangannya terangkat untuk mengetuk tak sabaran pintu kamar Aba dan Uma. Tak berapa lama, Uma Sahara keluar dari kamar dengan mata sayu yang mengantuk. Tubuhnya hanya dibalut atasan mukena yang menutupi sampai mata kaki. "Ya Allah, apalagi nak?" "Uma! Foto bang Agus di kamar Stella, Uma kemanain semua?!" Pekik Stella kesal setengah mati. "Bang Agus siapa?" Tanya Uma tak mengerti. "Hihhh!! Suga, Uma. Suga!" "Oh, itu. Uma kasih ke anak tetangga yang tiap hari nyetel lagu Nananana nana nana hey-nya BTS. Kasian, masih kecil gak punya uang buat beli poster." Tutur Uma dengan wajah tak bersalah. Mata Stella membelalak lebar. Mulutnya sudah bersiap menyemburkan makian, jika tidak ingat kalau Uma adalah orang tuanya. "Uma!! Itu Stella beli sampek jutaan postcard-nya! Aaaahhh! Umaa!!" Stella mulai merengek. Kedua matanya berair. Ia sungguh tidak rela. "Kenapa sih, sayang.." Uma kembali bertanya. Nyatanya, Uma Sahara tidak tega melihat raut sang anak yang nampak tertekan. Ia sungguh merasa bersalah saat ini. Haidar menggaruk tengkuknya. Bingung harus melakukan apa. Ingin menghibur Stella, tapi ia takut kena semburan gadis ceriwis itu. "Stella tuh galau karena Dispatch katanya ngeciduk suga! Eh, ternyata Suga malah kena covid. Aku kan sedih! Sekarang tambah sedih karena aku gabisa lagi curhat ke Suga tiap malem, sekaligus ngomong ke dia biar cepet sembuh, Uma..." Stella panjang lebar mengomel sembari merengek. "Kamu tidak perlu ke rumahnya. Biarkan saya bantu doa untuk kesembuhan abangnya." Akhirnya, Haidar bersuara, setelah terdiam cukup lama, diantara ibu dan anak yang sedang beradu itu. "Hahh?!" Stella membalik tubuhnya, menatap Haidar dengan pandangan terkejut juga tidak mengerti akan ucapan pria itu. "Kamu disini saja. Biar saya yang kesana untuk menjenguk." Haidar menampilkan wajah yang teramat meyakinkan pada Stella. Untuk sekarang, jangan salahkan Stella, kalau dia mengira Haidar kurang waras. "Lo gak tau siapa suga?" Tanya Stella terheran-heran. Haidar menggeleng pelan. "Dia laki-laki, kan?" Mulut Stella menganga. Sungguh, manusia di depannya ini sudah mendekam di goa berapa lama, sih, sebenarnya?! Saking kesalnya, Stella sampai menyentak. "Bukan! Suga tuh cewek!" Mata Haidar yang menatap manik Stella langsung membelalak lebar. Ekspresinya nampak sangat terkejut. "Astagfirullahalazim, saya minta maaf Stella, saya tidak bermaksud untuk bertemu dengan wanit—" "Bodo amat gue! Bodo amat!" Pekik Stella dengan rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun. Tak menghiraukan Haidar yang masih terdiam di tempat sembari beristighfar, Stella langsung menghentakkan kakinya menuju lantai dua, kamarnya. Stella berniat mengunci pintu dari dalam kamarnya. Tidak mau peduli, Haidar akan tidur dimana malam ini. Yang terpenting sekarang adalah, ia bisa menelepon sahabatnya sembari mengeluarkan u*****n yang memang ia tahan sedari tadi. *** Jangan lupa ramein cerita ini di sosmed kalian ya! Biar semakin rame ❤ Bagaimana part ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN