"Gita!" Aku menoleh. Dennis dengan motornya, melaju pelan di sebelahku.
"Dari tadi dipanggil kok gak jawab?"
"Suara motor lo berisik, sih. Jadi gue gak dengar."
Kupercepat langkahku meninggalkan Dennis yang masih terus memanggilku.
"Gita! Gita! Tungguin dong!" Dennis menarik pelan lenganku tepat sebelum aku masuk ke dalam kelas.
"Lepas dong." Kataku berusaha melepaskan tangan Dennis.
"Dennis?" Seketika Dennis melepaskan tangannya. Suasana berubah menjadi dingin. Kutinggalkan saja mereka berdua.
Aku masih sempat melihat Karina melotot ke arahku. Dan aku masih mendengar teriakan Karina yang memaki Dennis. Kulihat Dennis hanya membuang mukanya.
Selama jam pelajaran, aku terus saja diganggu oleh Dennis. Tiba-tiba saja dia pindah duduk di sebelahku. Kenapa pula ketika aku sudah berpisah dengannya aku harus satu kelas.
"Git." Dennis berbisik. Aku masih diam, mencoba tetap fokus ke depan.
"Gita." Dennis masih terus berbisik memanggilku. Akhirnya mau tak mau aku memalingkan mukaku.
"Apa?" Kali ini mukaku dan mukanya saling berhadapan. Dennis tersenyum ketika melihatku. Sungguh ingin kurutuki hatiku yang berdebar kencang.
"Dennis! Gita! Keluar kalian!" Aku tersentak ketika mendengar Pak Maman menyuruh kami berdua keluar. Dennis keluar dengan senyum khasnya. Aku masih tidak percaya kalau aku harus keluar kelas gara-gara Dennis.
"Gita!" Pak Maman kembali membentakku. Mau tak mau kali ini aku berjalan menyusul Dennis keluar kelas.
"Lama banget keluarnya." Dennis tersenyum ketika melihatku berdiri di sebelahnya.
"Marah ya?" Dennis menatapku dalam. Aku masih terdiam. Sungguh kesal sekali rasanya.
"Jangan marah dong." Dennis masih membujukku dengan senyuman manisnya.
"Mau kamu apa sih?" Aku menyerah. Aku sungguh lelah menghadapi Dennis.
"Mau kamu." Dennis menjawab dengan senyuman mautnya.
"Jangan mimpi."
"Loh, aku gak mimpi. Aku serius, Git. Aku gak bisa ngelupain kamu selama ini."
Aku terdiam. Ingin rasanya aku membalas perkataan Dennis bahwa aku pun tidak bisa melupakannya. Tapi kutahan semua itu.
"Kok diam?"
"Terus mau dijawab apa?" Aku menghela napas.
"Kamu beneran sudah gak ada perasaan apa-apa sama aku? Atau dari awal memang kamu gak ada perasaan apa-apa?"
"Cukup, Dennis."
"Apanya yang cukup? Selama ini aku gak pernah tahu perasaan kamu ke aku gimana. Aku berhak tahu, Git."
"Kita sudah gak perlu membahas ini lagi Dennis."
"Tapi aku..."
"Kalian lagi ngapain di sini?" Perkataan Dennis terhenti oleh suara Karina.
"Karina." Dennis mendesis.
"Kak Gita, boleh kita bicara berdua?" Karina menghampiriku.
"Gue lagi dihukum sama Pak Maman."
"Jam istirahat ya, ketemu di perpustakaan." Belum sempat aku menjawab, Karina sudah berlalu. Aku menghela napas, kemudian menatap tajam Dennis.
"Gak perlu ketemu dia, Git."
"It's not your business, Dennis."
"Tapi apapun tentang kamu akan selalu jadi masalah aku, Git."
"Gak perlu."
"Gita."
"Apa sih mau kamu?" Aku benar-benar lelah.
"Kan sudah aku jawab tadi. Aku mau kamu. Aku mau kamu kembali ke aku."
"Sejak kapan aku pergi?" Aku berkata dalam hati.
"Tuh kan. Sudah aku kasih tahu jawabannya, kamu diam saja."
"Kalian ikut saya ke ruang guru." Tiba-tiba saja Pak Maman muncul. Sungguh, aku berterima kasih, karena aku tidak perlu lagi menjawab ocehan Dennis.
—————————————————————————————————————————————————————————
Jam istirahat tiba. Aku masih duduk di dalam kelas. Haruskah aku pergi menemui Karina? Lima menit sebelum jam istirahat berakhir, kuputuskan beranjak menemui Karina.
"Karina?" Aku mencari Karina di dalam perpustakaan. Tidak ada seorang pun di sana, guru penjaga perpustakaan pun entah pergi ke mana.
Aku masih terus memanggil namanya ketika tubuhku tiba-tiba saja basah. Aku menoleh dan mendapatkan Karina dan teman-temannya yang sedang memegang ember kosong.
"Gue tahu, lo kakak kelas gue. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya ngegodain pacar gue. Cewek nerd kaya lo itu gak pantes buat jadi pacaranya Dennis."
"Jelas saja Kak Dennis lebih milih lo daripada dia, Rin. Lihat saja, roknya di bawah lutut, baju selalu rapih, rambut selalu diikat. Beda jauh sama lo."
"Sudah Rin, kita balik ke kelas aja. Toh kalau dia ngadu gak akan ada yang percaya."
"Ingat ya. Gue gak akan main-main kalau lo masih godain pacar gue."
Karina melemparkan ember kosong itu ke hadapanku, tepat mengenaiku. Belum sempat aku memaki, mereka sudah pergi meninggalkanku. Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengikuti kelas berikutnya. Bajuku basah dan bau.
——————————————————————————————————————————————————————————
"Permisi." Ucapku ketika sampai di depan ruang kesehatan.
"Loh? Kamu gak kenapa-kenapa? Baju kamu basah dan bau." Guru yang berjaga kaget melihat kondisiku.
"Gak apa-apa, Bu. Maaf apa ada baju sekolah yang bisa saya pinjam?"
"Ada, ada. Ayo masuk, cepat dikeringkan biar tidak masuk angin."
Setelah aku membersihkan dan mengganti seragamku, kulihat lenganku yang lebam karena menahan lemparan ember tadi.
"Lengan kamu kenapa?"
"Oh, tadi saya terjatuh Bu."
"Kamu yakin? Tidak ada yang menindas kamu?" Aku menggeleng cepat.
"Gak ada, Bu." Aku tersenyum meyakinkannya.
"Bu, maaf. Apa boleh saya beristirahat sampai pulang sekolah di sini?" Sungguh, aku tidak sanggup kalau harus bertemu dengan Dennis dalam keadaan seperti ini. Karena aku yakin, Dennis akan marah besar.
"Boleh. Saya tinggal dahulu ya, mau menyampaikan kabar kamu ke wali kelasmu." Aku mengangguk, kemudian membaringkan tubuhku.
Kututupi mukaku dengan lengan. Mataku terpejam.
"Kalau kamu tahu apa yang Karina lakukan ke aku, kamu akan bagaimana?" Aku bertanya dalam hati. Kembali aku mengingat di mana ketika Dennis marah besar melihatku pulang dengan baju penuh dengan bekas lemparan telur.
"Siapa yang berani melempari kamu dengan telur, Ta?" Mata Dennis penuh dengan amarah.
"Gak ada."
"Gak ada, gimana? Badan kamu bau telur, baju kamu penuh dengan bekas lemparan telur. Ini apa lagi? Leher kamu merah." Dennis menyentuh pelan leherku, aku meringis.
"Gita, kamu masih mau bilang kamu kejatuhan telur saat membantu pedangan telur yang lewat?"
Aku mengangguk, Dennis menggeleng.
"Biar aku yang cari tahu." Segera kutahan lengan Dennis sebelum ia pergi meninggalkanku.
"Badan kamu masih panas."
"Gita, ini bukan saatnya kamu mencemaskan aku."
"Jangan mencari masalah, Dennis. Kalau Om dan Tante tahu bagaimana? Kamu kan sudah janji, ini terakhir kali kamu diskors." Dennis terdiam.
"Tapi ini sudah keterlaluan, Ta. Hanya karena aku sedang diskors mereka bisa berbuat seenaknya sama kamu."
"Maksud kamu telur-telur itu?" Aku menahan tawa.
"Gita! Aku gak main-main."
"Dan aku pun tidak sedang main-main Dennis." Dennis menghela napas.
"Begitu aku masuk, aku akan cari siapa pelakunya."
"Dennis, kamu gak dengar apa kata wali kelasmu? Ini terakhir kalinya kamu akan diskors. Selanjutnya kamu akan di keluarkan dari sekolah."
"Tapi, Ta.."
"Gak ada tapi-tapian Dennis."
"Baiklah. Kalau sampai aku lihat kamu pulang dengan kondisi seperti ini lagi, aku lebih suka dikeluarkan dari sekolah daripada harus melihat kamu terus-terusan ditindas mereka."
Aku hanya mengangguk menyudahi percakapan ini. Aku tahu, kakak kelasku tidak menyukaiku. Hanya karena Dennis adalah pacarku. Dari semenjak aku duduk di kelas satu, mereka sudah mulai memusuhiku. Aku tidak pernah menyangka kalau hari ini, mereka akan benar-benar melempariku dengan telur busuk. Memaki-maki aku.
Aku tidak mungkin bilang semua itu pada Dennis. Aku tidak mau melihat orang tua Dennis datang ke sekolah dengan muka lelah. Lelah, harus mendengar laporan dari wali kelas Dennis tentang kelakuan Dennis di sekolah. Biarlah, yang penting aku masih bisa melihat dan mencium harum tubuh Dennis, aku bisa menahannya.
"Tok, tok." Lamunanku buyar, ku lihat siapa yang mengetuk pintu. Niko. Teman sekelasku dari SMP.
"Hai, sorry gue ganggu lo tidur ya?" Niko berjalan mendekatiku.
"Gak kok. Sudah waktunya pulang ya?" Aku melihat jam tanganku.
"Iya. Ini, gue bawain barang-barang sama tas lo."
"Wah, makasih banget Nik. Maaf ya jadi merepotkan." Niko menggeleng sambil tersenyum.
"Gak kok."
"Git, gue boleh tanya sesuatu gak?" Tiba-tiba saja Niko duduk di tepi ranjang. Aku bergeser, sedikit menjauhinya.
"Kenapa?" Niko terdiam, menatap dalam mataku.
"Tadi sebenarnya, gue lihat lo sama Karina di perpus." Aku terperangah.
"Nik, please jangan kasih tahu Dennis ya." Aku memohon.
"Kenapa?"
"Lo tahu kan, dulu Dennis marah besar waktu gue di maki-maki sama kakak kelas di SMP?"
"Tapi ini sudah keterlaluan Git."
"Jadi dulu, gue gak apa-apa kalau dimaki-maki?" Aku tersenyum.
"Bukan gitu."
"Pokoknya rahasia ya, Nik. Gue gak mau kenal lo lagi kalau sampai lo kasih tahu Dennis."
"Lo masih sayang ya Git sama dia?" Aku terperanjat.
"Haha. Ngaco." Kupalingkan wajahku, menatap keluar jendela.
Kulihat Karina sedang bergelayut manja di lengan Dennis. Biasanya, aku akan biasa saja melihat itu waktu tahu Dennis tersenyum senang. Tapi, kali ini Dennis sama sekali tidak tersenyum.
"Pulang, yuk." Niko berdiri mengulurkan tangannya.
"Ayo." Kubiarkan tangan Niko tetap di udara. Aku tidak mau membuatnya jadi salah paham. Sempat kulihat Niko tersenyum kecut kemudian menarik tangannya.