Berpisah

2150 Kata
Aku kira semua akan berjalan sebagaimana harusnya. Aku kira, persoalan kuliah tidak akan menjadi masalah yang berarti. Aku kira, ucapan Dennis bisa kupercaya. Ternyata, semua hancur dalam sehari.  ——————————————————————————— Tidak terasa waktu cepat berlalu. Tahu-tahu saja aku sudah memasuki tengah semester. Yang artinya, sebentar lagi aku dan Dennis serta yang lainnya akan segera lulus SMA. Mungkin bagi banyak orang, lulus SMA adalah hal yang menyenangkan. Karena tidak ada lagi yang namanya harus bangun pagi setiap hari, PR yang banyak, dan yang lainnya.  Tapi, buatku waktu-waktu ini adalah waktu yang menakutkan. Karena artinya aku akan segera berpisah dengan orang tuaku dan Dennis. Dan aku sama sekali belum membicarakan tentang ini kepadanya. ——————————————————————————— "Gita! Gimana persiapannya? Sudah selesai semua?" Lamunanku buyar. "Hah? Sudah. Lo?" "Sama. Nanti berangkatnya bareng ya?" "Oi. Mau pada ke mana sih?" Tiba-tiba saja Agus sudah ikut berdiri di samping Niko. "Hah? Itu..." "Loh, lo belum tahu? Gue kan satu universitas sama Gita nanti di Singapore. Terus tempat tinggal kita juga berdekatan lagi." Aku melotot mendengar jawaban Niko. Bukannya aku tidak tahu, tapi aku yakin Niko sengaja memberi tahu Agus agar perkataannya sampai pada Dennis.  "Iya, Git?" Agus meminta kepastianku. Dengan terpaksa kuanggukkan kepalaku.  "Dennis tahu?" Aku menggeleng. "Jangan bilang Dennis dulu ya." Aku memohon. Agus hanya menghela napas kemudian mengangguk dan segera meninggalkan kami berdua. "Nik. Kenapa sih harus semua dikasih tahu?" "Kenapa? Takut Dennis tahu?" "Bukan gitu.." "Git. Lo tahu kan gue suka sama lo? Gue gak mau lo terus menerus sedih kalau melihat Dennis lagi bareng Karina. Gue juga mau lo bahagia. Meskipun bukan sama gue." "Gue kasih tahu Agus karena gue mau Dennis tahu, dan mencegah kepergian lo." "Tapi kan gak mungkin kalau gue harus ngebatalin kuliah di Singapore." "Iya gue tahu. Tapi, setidaknya kalian bisa kembali jujur sama perasaan kalian masing-masing. Setidaknya kalian bisa kembali bersama lagi." Aku terdiam memikirkan kata-kata Niko. Apakah harus aku meminta Dennis kembali padaku? "Hoi! Ngelamun aja. Aku panggilin dari tadi."  "Hah?! Dennis! Dari kapan kamu di sini?" "Dari tadi." Dennis tersenyum. "Lagi melamun apa sih? Aku sampai dicuekin?" "Gak. Gak ngelamun apa-apa." Aku berbohong. "Oh iya, aku lupa terus mau tanya sama kamu. Kamu jadi ambil kuliah di mana?" Aku tersentak. "Hah? Mm..." "Jangan bilang kamu lupa belum daftar?"  "Gak kok. Cuma..." "Cuma?" "Gita! Ditungguin kok gak keluar-keluar?" Tiba-tiba saja Niko muncul di depanku. "Ngapain lo?" "Gue mau jemput Gita. Kenapa?" Aku menghela napas. Mereka berdua tidak pernah bisa akur kalau bertemu. Selalu saja sinis satu sama lain. "Gita lagi sama gue." "Tapi dia sudah janji sama gue mau pulang bareng." "Gak bisa. Gita pulang sama gue. Titik." "Lo mending urusin aja pacar lo. Ingat, pacar lo itu Karina. Bukan Gita." Dennis terdiam. Lihat, begitu nama Karina disinggung, ia tidak bisa berkata apa-apa. Bukankah berarti di hatinya hanya ada Karina? Kenapa pula diriku begitu yakin kalau Dennis ingin kembali padaku.  "Git." "Ayo, sebentar. Gue beres-beres dulu." "Ta, kita belum selesai." "Kita sudah selesai dari tiga tahun lalu, Nis." Dennis terdiam mendengar kata-kataku. Aku yakin dia pasti kaget. Begitu juga dengan Niko. Suasana berubah menjadi tak enak. Dengan kesal Dennis berdiri kemudian menendang meja yang ia lewati sebelum benar-benar keluar dari kelas. ——————————————————————————— "Are you okay?"  "Maksudnya?" "Iya, lo gak apa-apa? Soal tadi." "Soal lo yang selalu sinis sama Dennis?"  "Bukan. Perkataan lo tadi, soal..." Niko tidak menyelesaikan kata-katanya. Aku menghela napas.  "Memang kenyataannya seperti itu kan?" "Seharusnya gue sadar kalau gue dan dia sudah berakhir. Gak seharusnya gue ikut terbawa kenangan masa lalu." "Tapi lo juga memang masih ada perasaan kan buat dia?"  "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Gue cuma mau menikmati sisa-sisa hari gue dengan tenang." "Yakin? Memangnya selama ini lo tenang?" Aku menoleh menatap tajam Niko. "Next time kalau lo ketemu Dennis lagi gak perlu sinis lagi. Gue capek lihatnya." "Capek apa capek?" Niko berlari meninggalkanku ketika ia melihat tanganku sudah ada di udara bersiap untuk memukulnya. ——————————————————————————— "Yang, kok kamu diam saja sih? Berapa bulan ini juga jarang banget anter aku pulang? Kenapa?" Karina sedang merajuk seperti biasanya. Biasanya, Dennis akan menggodanya sampai ia tidak lagi marah. Tapi tidak akhir-akhir ini. Ia akan membiarkan Karina merajuk hingga meninggalkannya sendirian. Setelah itu, ia akan melesat pergi mencari Gita.  Sebenarnya, bukan Karina tidak tahu hal itu. Tapi, untuk beberapa lama ia membiarkan kekasihnya bertingkah seperti itu. Bukan tanpa sebab. Ia tahu betul bahwa Niko dan Gita akan pergi ke Singapore untuk kuliah mereka. Ia masih diam tidak berniat memberi tahu Dennis soal itu. Karina tahu, Dennis akan meninggalkannya dan mengejar Gita seandainya ia tahu hal itu. Dan ia tidak mau kehilangan Dennis.  Setelah beberapa jam Karina dan Dennis duduk terdiam, Dennis berpamitan pada Karina. Ia hanya ingin segera pulang, menghampiri Gita. Menjelaskan semuanya pada Gita bahwa sejak pertama kali ia memutuskan hubungan dengannya tidak pernah sekalipun ia berniat serius. Tidak pernah seharipun terlewat tanpa memikirkan Gita. Semua hari-harinya, semua hidupnya hanya ada Gita. Dan ia ingin Gita kembali padanya meskipun artinya ia harus menyakiti Karina.  Dennis tahu, Karina begitu tulus padanya. Tapi selama ini, ia berusaha untuk tulus seperti Karina tapi tidak pernah bisa. Sekeras apapun ia mencoba, hatinya selalu kembali lagi pada Gita. Dan setiap ia melihat Gita hatinya selalu sakit. Dan ia tahu, apabila ia memutuskan kembali pada Gita, Karina tidak akan segan-segan kembali mengulang kejadian menyakitkan itu.  Soal kejadian itu, Dennis tahu dari Agus yang kebetulan sedang berada di ujung meja di perpustakaan itu. Dennis marah bukan main, ia mencoba bersabar ketika menanyakan hal tersebut kepada Karina. Dan seperti biasa, Karina akan menangis memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, meskipun entah ia akan benar-benar berjanji atau tidak. Dan Dennis tidak bisa mengabaikan hal itu. Ia sudah terlanjur berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti perempuan yang ada di sisinya lagi. Dan itulah yang membuatnya masih bertahan di sisi Karina. ——————————————————————————— Waktu berlalu, hanya tinggal dua bulan lagi sebelum masa SMA berakhir. Hubungan Gita dan Dennis kembali menjauh. Bukan Dennis tidak berusaha mendekati Gita kembali, tapi Gita yang menciptakan jarak antara mereka yang cukup jauh. Setiap Dennis mendatangi rumah Gita, Gita selalu menolak untuk menemui Dennis apapun itu alasannya. Hingga akhirnya Dennis tidak pernah lagi mendekati Gita. Bagi Gita, berpisah dengan Dennis adalah masa terburuk dalam hidupnya. Gita tahu, bahwa hatinya selalu untuk Dennis bahkan sebelum ia sadari itu. Tapi Gita terlalu susah untuk menunjukkan bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan Dennis. Menurut Gita, seharusnya Dennis sudah sadar tentang perasaannya apabila ia lihat dari perilaku Gita. Gita bukannya tidak pernah cemburu kepada Dennis, ia selalu kesal melihat Dennis didekati banyak adik kelasnya bahkan kakak kelasnya yang lebih dari Gita. Tapi Gita selalu percaya bahwa Dennis tidak akan meninggalkannya, bahwa hati Dennis hanya milik Gita. Bagi Gita, hubungannya dengan Dennis waktu itu baik-baik saja. Itu sebabnya ia tidak bergeming sama sekali ketika Dennis bercerita tentang Karina. Dan itulah kesalahan fatal Gita yang membuatnya kehilangan Dennis. Tapi, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Biarlah yang berlalu, berlalu. ——————————————————————————— "Git, lo sudah bilang sama Dennis?" Niko dan Gita sedang duduk berdua di kantin seperti biasanya. Dan seperti biasanya, akan ada sepasang mata yang menatap mereka tajam. Ditambah dengan bisik-bisik murid-murid lain yang membicarakan mereka. "Soal?" "Git, jangan pura-pura gak ngerti. Gue tahu kok, lo mengerti pertanyaan gue." "Gue belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu, Nik."                        "Sampai kapan lo mau menjaga jarak sama dia, Git?" "Gue gak menjaga jarak sama dia."                                                                "Kalau bukan menjaga jarak apa namanya?"                                                                          "Dia sudah memiliki kekasih, Nik. Gak seharusnya gue menghancurkan hubungan mereka."  "Tapi bukan lo yang menghancurkan hubungan mereka Git. Dennis yang memang memilih lo. Mau sampai kapan lo terus-terusan berkorban demi kebahagiaan Dennis. Itu pun belum tentu dia bahagia." Gita hanya terdiam mendengar kata-kata Niko. Bukannya ia ingin mengalah terus menurus. Tapi, ia hanya ingin Dennis bahagia. Bukankah Dennis bahagia memiliki kekasih seperti Karina? Yang selalu menunjukkan bahwa ia begitu menyayangi Dennis, tidak seperti dirinya yang begitu dingin. Yang selalu memberikan senyum terlebarnya begitu melihat Dennis, tidak seperti dirinya yang hanya mampu tersenyum di dalam hati. Mana mungkin Dennis tidak bahagia, bukan?—————————————————————————— "Wah, nanti setelah Kak Dennis lulus, Karina bakal kesepian nih." Goda salah satu teman Karina yang hanya Dennis tanggapi dengan senyuman. "Akhirnya, ya? Kak Dennis tidak satu sekolah dengan Kak Gita." Dennis menoleh tajam. "Maksudnya?" Dennis bingung.  Begitu tersadar apa yang diucapkannya salah, Shinta, teman Karina tadi langsung menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak ingin dirinya dimusuhi oleh Karina. Dennis terus mendesak Shinta untuk menjelaskan masksud ucapannya. Setelah terus didesak oleh Dennis, akhirnya dengan terpaksa ia menjelaskkan maksud ucapannya itu.                                                                                                                "Iya, jadi... Kak Gita akan berkuliah di Singapore bersama dengan Kak Niko." Mata Dennis membesar begitu mendengar kata-kata Shinta. Hatinya hancur seketika. Ia tidak pernah menyangka Gita akan membohongi dirinya. Ia tidak pernah menyangka Gita akan memilih untuk menyakitinya dengan cara seperti ini. Dalam hitungan detik Dennis sudah berlari kembali ke kelasnya mengejar Gita.——————————————————————————     "Git, gue mau ngomong sesuatu, nih." "Ya ngomong aja. Ada apa sih? Kenapa gak tadi waktu di kantin sih?"  "Tapi? Lo janji bakalan baik-baik aja ya." "Iya apa?" Aku bingung, sedari tadi Niko bertingkah seperti menyembunyikan sesuatu. "Iya. Jangan kaget, ya." "Jadi, ternyata..Mmm..Dennis katanya akan menikah dengan Karina setelah Karina lulus. Katanya setelah Dennis selesai semester satu kuliahnya mereka akan bertunangan." Deg. Hatiku terasa sakit luar biasa. Bagaimana bisa akhirnya seperti ini? Bagaimana bisa Dennis akhirnya memilih Karina ketika ia menyuruhku menunggunya? Apa lagi ini Dennis?!! "Git. Gita. Lo gak apa-apa?" Niko mengguncang pelan bahuku. Seketika aku tersadar. "Iya, gak apa-apa." "Yakin? Mau gue antar pulang?" Aku menggeleng. "Gak perlu. Gue mau pulang sendirian aja."  Aku segera berjalan meninggalan Niko yang aku yakin masih melihatku. Sepanjang perjalanan pikiranku masih terus mencerna kata-kata Niko tadi. Aku masih ingin tidak percaya dengan ucapan Niko. Tanpa terasa aku sudah berada di depan rumahku. Kulihat ada sepasang kaki yg berdiri di depanku. Aku tahu siapa dia. Sepatu yang dipakainya adalah hadiah ulang tahun dariku beberapa tahun lalu. Padahal menurutku sepatu itu sudah tidak pantas dipakai, tapi entah mengapa pemiliknya masih terus mempertahankannya. "Ta." Aku mendongak. "Kamu beneran mau kuliah di Singapore?" Aku kaget. Dari mana ia bisa tahu?  "Iya."  "Kok kamu gak bilang sama aku?" Aku melihat mata Dennis. Aku bisa lihat bahwa ia sungguh kecewa denganku. Aku pun sama.  "Nis." Aku menghela napas. "Sama Niko?" Aku mengangguk. "Kamu gak bisa menunggu sebentar lagi saja, Ta? Kenapa harus pergi sejauh itu? Dengan Niko pula." Dennis masih menahan marahnya.  "Apa lagi yang harus aku tunggu Dennis." Aku lelah. "Ta, aku gak pernah bisa lupain kamu." Dennis memegang tanganku. Tapi segera kulepaskan. "Cukup, Dennis. Jangan memberi aku harapan palsu terus menerus. Masih belum cukupkah kamu lukai aku?" Segera kutinggalkan Dennis yang masih berteriak memanggil namaku.  Kubenamkan mukaku begitu sampai di atas kasur. Lagi dan lagi. Aku menangis lagi. Karena Dennis. Sampai kapan aku harus begini, Dennis?  ——————————————————————————— Waktu benar-benar berlalu dengan cepat. Tanpa terasa aku sudah lulus, dan sudah harus berangkat ke Singapore. Aku dan Dennis? Jangan tanya. Aku benar-benar kehilangannya. Ia tidak pernah lagi muncul di hadapanku kecuali di kelas. Itu pun ia tidak pernah melihat ke arahku lagi. Tidak pernah lagi marah ketika melihat Niko mendekatiku.  Aku rasa memang ini yang terbaik. Aku tidak mau lagi membuat Dennis bimbang. Biar saja aku yang pergi, biar saja aku yang tetap menyimpan semua kenanganku dengan Dennis. Aku akan merelakan Dennis. Sesampainya di bandara aku berpamitan dengan Ayah dan Ibuku. Aku sedang menunggu kedatangan Niko agar bisa masuk bersama. Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Dennis menelepon.  "Ta, kamu di mana?" "Di bandara." "Berangkat jam berapa?" "Jam dua." "Kamu tunggu ya. Aku ke sana sekarang." Belum aku menjawab, Dennis sudah memutuskan telepon. Tidak lama Niko datang dan berbincang sebentar dengan Ayah dan Ibuku sebelum akhirnya ia mengajakku masuk. "Tunggu sebentar lagi ya." "Tunggu siapa?" "Dennis." Waktu berlalu, aku harus segera masuk karena sebentar lagi penerbanganku akan berangkat. Niko beberapa kali melirik ke arahku, begitu juga dengan orang tuaku. "Nak, mungkin Dennis kena macet, nanti Ibu sampaikan ke Dennis ya." Aku menggeleng. Ibu hanya bisa tersenyum tanpa membujukku kembali. Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Dengan cepat kulihat layar ponselku. Ternyata hanya notifikasi grup angkatan sekolahku. Kutaruh kembali ponselku ke dalam tas tanpa membukanya.  "Git." Niko memanggilku pelan. "Apa?" "Ayo masuk." "Tapi Dennis belum datang."  "Dia gak akan datang, Git." Aku melotot mendengar jawaban Niko. "Maksud lo apa?" "Coba baca deh chat di grup."  Dengan cepat kubuka aplikasi chat tersebut. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat isi chat tersebut. k****a pelan-pelan dari awal sampai terakhir.  Selamat Dennis buat pertunangannya hari ini.  Selamat Dennis. Selamat Dennis dan Karina. Wah tahu-tahu sudah lamaran saja. Selamat Dennis.  Dan pesan-pesan lainnya yang kurang lebih intinya sama. Kubuka gambar yang dikirim oleh salah satu temanku. Gambar Dennis sedang berdiri bersama Karina dan keluarga masing-masing dengan senyum terlebar yang pernah aku lihat.  "Gita. Are you okay?" Niko menyadarkanku.  "Ayah, Ibu. Om, Tante saya sama Niko masuk dahulu ya. Doakan kami ya." Aku berpamitan dan bergegas masuk ke dalam bandara.  Niko membiarkanku sendiri dengan segala perasaanku yang hancur.  Dennis, apa lagi ini? Tidak bisakah kamu membiarkanku pergi dengan tenang? Tidak bisakah kamu membiarkanku tersenyum bahagia? Haruskah kamu terus menyakitiku, Dennis?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN