Bab 1

2039 Kata
Pria bermata hazel itu sudah beberapa menit berdiri di tempatnya. Mata hijaunya yang menyala setiap terkena cahaya menatap tajam pada sebuah titik, di mana banyak orang berkumpul di titik tersebut. Titik itu merupakan sebuah unit di lantai sepuluh sebuah gedung apartemen mewah. Keramaian dan orang-orang yang terlihat berpakaian rapi dan anggun menandakan kalau di unit itu sedang berlangsung sebuah pesta. Sebuah pesta di unit sebuah apartemen mewah tentu saja membuat iri siapa pun yang tidak diundang. Namun, tidak demikian dengan si pria bermata hazel. Ia memata-matai tempat itu bukan karena iri, melainkan karena pekerjaan. Seorang tamu undangan pesta itu yang menjadi pusat perhatiannya, sejak tadi. Tamu pria yang sejak beberapa menit yang lalu itu tampak sangat bahagia. Senyum lebar dan tawa selalu menghiasi wajah tampannya. Tak sadar kalau beberapa menit lagi ia akan meninggalkan dunia. Pria bermata hazel menarik napas. Sepertinya sudah cukup membiarkan pria yang menjadi targetnya bersenang-senang. Ia juga sudah terlalu lama berdiam diri, sekarang sudah saatnya untuk bekerja. Tubuh yang sejak tadi berdiri mulai membungkuk, berjongkok di belakang pagar pembatas atap gedung yang tidak terlalu tinggi. Gedung yang berjarak beberapa ratus meter dari gedung apartemen yang ditujunya. Gedung tak terpakai yang gelap gulita. Siapa pun tidak akan menduga ada seseorang yang berani memasukinya. Kenyataannya memang tidak ada yang berani selain dirinya. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan. Hidupnya juga berada di persimpangan antara gelap dan terang. Jadi, untuk apa takut? Pria bermata hazel berjongkok dengan menumpukan satu lututnya ke lantai. Sebelah matanya perlahan tertutup untuk menajamkan penglihatan. Sebuah senapan sniper terbaru berjenis Barret M95 sudah siap di tangannya. Senapan itu terarah tepat pada targetnya yang masih terus tertawa di pesta. "Say goodbye to the world! (Ucapkan selamat tinggal pada dunia!)" Dari jarak lebih dari lima ratus meter peluru itu melesat menembus beberapa jendela kaca dan berakhir di dahi pria yang menjadi target pria bermata hazel. Tak ada senyum di wajah datarnya. Sinar matanya tetap dingin seperti saat sebelum ia mengeksekusi targetnya. "Goodbye!" ucap pria bermata hazel sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu, dengan memanggul senapan sniper kebanggaannya di bahu. . . . . . . . . . . Kesibukan di setiap kantor polisi di kota mana pun selalu sama. Apalagi di lantai dasar, selalu dipenuhi teriakan para pelaku kriminal yang tidak rela dirinya divonis bersalah dan dijebloskan ke dalam penjara. Sungguh sangat berisik. Apalagi ditambah dengan serangkaian drama para wanita penghibur dan pengedar obat-obatan terlarang yang terjaring razia. Semuanya semakin berisik dan membuat telinga siapa saja yang mendengarnya menjadi panas. Kepala pun akan terasa berdenyut. Namun tidak demikian di ruangan kepala kepolisian kota New York. Tidak ada suara apa pun yang terdengar, senyap. Hanya detak jarum jam yang menghiasi dan menjadi musik bagi dua orang pria yang berada di ruangan itu. Kedua duduk saling berhadapan, hanya sebuah meja kerja berukuran sedang yang membatasi mereka. Jonathan Storme, si pemilik ruangan, menunggu pria di depannya untuk berbicara. Pria itu adalah Dean Oliver, seorang detektif kepolisian kota New York yang bertugas di bagian kriminal dan pembunuhan berusia tiga puluh tahun. Dean diberi tugas baru oleh kepala polisi Storme untuk memburu pelaku pembunuhan terhadap Tuan Timothy Clarence, seorang pengusaha sukses di bidang otomotif. Tuan Clarence tewas tadi malam di sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu koleganya, dengan sebuah lubang peluru di tengah-tengah dahi. Sungguh seorang pembunuh yang hebat karena mampu membidik dalam jarak yang diperkirakan lebih dari lima ratus meter. Pihak forensik sudah memberikan data-data penting yang diperlukan untuk penyidikan. Data-data itu sekarang berada di dalam sebuah amplop berwarna cokelat tergeletak di atas meja di depan Dean. Amplop masih dalam keadaan utuh, pria berambut hitam itu menolak untuk membuka. Ia sudah terlalu muak berurusan dengan para pembunuh bayaran. Bagaimana Dean tahu kalau yang menghabisi nyawa Timothy Clarence adalah seorang pembunuh bayaran? Tidak perlu seorang yang sangat pintar atau ahli analisis untuk tahu. Ciri-ciri pada mayat sudah menunjukkan itu semua. Tidak ada seorang pembunuh amatir yang akan tepat menembak target di tengah-tengah dahinya. Kalaupun ada pasti akan meleset sedikit, satu milimeter bisa jadi. Namun, ini sangat tepat. Terlalu akurat. Seolah di dahi Timothy Clarence sudah ditandai. Dean menolak untuk menerima kasus ini. Ia sudah cukup pusing dengan para pengedar dan bandar-bandar besar obat bius yang masih berkeliaran. Dari beberapa bandar yang menjadi target operasi, Hanya ada dua orang yang tertangkap, sisanya melarikan diri. Dean yakin ada orang kepolisian yang bekerjasama dengan salah satu bandar besar itu. Sialan memang. Semua kerja kerasnya memata-matai mereka seolah tidak berguna. Bahkan kematian salah seorang detektif muda yang sedang menyamar dan ketahuan seperti tidak berarti apa-apa. Pihak yang bekerjasama dengan bandar itu seakan tidak memiliki hati. Rela mengorbankan teman muda mereka hanya untuk kesenangan saya. "Maafkan aku, Dean, tapi kau tidak bisa menolak." Akhirnya terdengar juga suara kepala polisi Storme memecah keheningan yang tercipta di antara mereka selama beberapa menit lamanya. "Kepolisian pusat meminta kau yang menangani kasus ini." Dean tetap diam tak bergerak pada posisinya semula. Terlalu malas untuk mengubah posisi, apalagi untuk mengambil amplop dan memeriksanya. Sungguh, ia sama sekali tidak berminat. Kematian rekan mudanya saja belum tuntas, pembunuhnya bum tertangkap. Sekarang ia harus menangani kasus pembunuhan yang lain lagi. Astaga! Dean tidak pernah berpikir ia akan sanggup. Terlalu melelahkan baginya. Ia ingin berkonsentrasi pada kasus sebelumnya yang masih di awang-awang, para pelaku kriminal masih buron, belum ditemukan sampai sekarang. Memang baru beberapa hari, tapi Dean merasa sudah berpuluh-puluh tahun. Ia tidak sabar. "Apakah tidak ada pilihan untuk menolak?" tanya Dean tanpa nada, datar seperti biasanya. Kepala polisi Storme mengangkat bahu. "Kurasa tidak ada," jawabnya. Dean bergerak. Tangan kanannya terangkat mengusap wajah. Sungguh, ia sangat lelah sekarang. Masih banyak polisi hebat di luar sana, kenapa harus dirinya yang dibebankan kasus ini. Ia masih menangani beberapa kasus terdahulu yang masih belum tuntas, ditambah lagi kasus yang sekarang ini. Kasus kali ini tidak main-main. Kasus pembunuhan seorang yang terkenal tidak bisa dipandang sebelah mata. Kalau tak ingin dianggap tidak becus dan disalahkan, harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya, dan sungguh itu memerlukan konsentrasi yang tidak boleh terpecah. Sementara dirinya masih memikirkan penyelesaian kasus terdahulu. Rasanya akan sangat terkejut dak profesional kalau ia menelantarkan sebuah kasus hanya demi kasus lainnya yang lebih besar. Dean mengembuskan napas sebelum kembali bersuara. "Sudahkah kau katakan kalau aku masih memiliki beberapa kasus yang belum terselesaikan?" tanyanya. "Aku tidak bisa kalau belum menuntaskan kasus ku sebelumnya, John. Sungguh!" Jonathan tahu kalau Dean bersungguh-sungguh. Wajah datarnya itu tampak mengeras, pertanda ia memang sedang tidak bisa. Ia sudah mengenal Dean, pria ini sudah lama bekerja di kesatuannya. "Aku sudah mengatakan semuanya, Oliver." Jonathan mengangkat kedua tangan setinggi bahu, kepalanya menggeleng. "Tapi keputusan berada di tangan mereka. Aku tidak bisa melakukan apa-apa." Dean mengerang tanpa suara. "Mereka melihat catatanmu saat sedang bertugas maupun saat kau sedang libur. Semuanya bersih...." "Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Dean memotong perkataan atasannya. "Masih banyak polisi-polisi hebat di luar sana, kenapa mereka tidak memilihnya? Bahkan di kesatuan ini juga. Bukan hanya ada aku di sini, biarkan aku menyelesaikan kasus yang sedang kutangani saat ini, setelah itu aku akan menerima kasus pembunuhan Clarence." Jonathan mengusap wajah menggunakan kedua tangan. Sudahkah ia mengatakan Dean seorang yang keras kepala? Well, bukan hanya keras kepala, terapi juga terlalu menjunjung tinggi keprofesionalan. Dean tidak pernah menangani dua kasus sekaligus, ia selalu menolaknya. Katanya karena ia ingin berkonsentrasi dalam menangani kasusnya itu. Satu lagi, kata Dean, ia bukan pengacara yang bisa menangani beberapa kasus dalam sekali waktu. "Kurasa kepolisian pusat tidak akan melimpahkan kasus ini kepada kita seandainya peristiwa ini tidak terjadi di daerah kita." Dean hanya diam, tidak merespons. "Berhubung kasus pembunuhan Clarence terjadi di daerah kita, maka kasus diberikan pada kita." "Padamu," ralat Dean. "Pada kesatuanku." Jonathan mengangguk. "Kau benar, dan mereka memilihmu." "Aku bukan detektif terbaik. Aku bahkan tidak pernah mendapatkan penghargaan itu. Lalu, kenapa mereka masih saja memilihku?" Dean menegakkan punggung. Posisi duduknya sudah tidak sesantai tadi. "Berikan saja kasusnya pada petugas lain, katakan pada mereka aku masih sibuk menangani kasus penyelundupan obat bius...." "Kepolisian pusat sudah menunjuk detektif Cabe untuk menggantikanmu," potong Jonathan. "Apa?" Dean bangkit dari duduknya. Sinar mata dinginnya berubah tajam. "Apa katamu? Mereka menggantikanku? Yang benar saja!" Dean menggebrak meja Jonathan. Ia tidak rela kasus yang sudah susah payah diselidiknya dilimpahkan kepada orang lain begitu saja. "Aku tidak bisa terima." Jonathan memijit pelipis. Kepalanya selalu saja berdenyut bila berhadapan dengan Dean. Pria muda ini sangat mahir dalam membuat jantungnya yang sudah tua bekerja ekstra. "Menurut mereka, kasus pembunuhan Clarence lebih penting dari penyelundupan obat bius." Dean mendengkus kesal, membuang tubuhnya kasar ke kursi yang tadi didudukinya. "Aku tidak bisa, John." Kepalanya menggeleng. "Berapa kali harus kukatakan padamu, aku sungguh tidak bisa." "Aku akan mencoba mempertimbangkan mempertimbangkan penawaranmu tadi. Kalau menurutku hasilnya akan bagus, aku akan mengajukannya kepada kepolisian pusat." "Kuharap mereka mau mengerti," ucap Dean. Jonathan mengangguk. "Semoga saja," sahutnya. *** Dean langsung kembali ke apartemennya begitu selesai berbicara dengan Jonathan. Ia bahkan tidak menyiarkan diri untuk menengok ruangannya yang sudah beberapa hari tidak dikunjunginya. Ia terlalu sibuk dengan tugas di luar ruangan. Dean juga tidak membawa serta berkas yang berada di dalam amplop cokelat. Ia merasaasih belum perlu. Siap tahu nanti ada detektif lain yang baik hati mau menggantikannya dengan suka rela. Ia akan mentraktir orang itu. Dean menggeleng kuat, mengempaskan tubuh di atas sofa ruang tamu rumahnya. Dean lebih memilih tinggal di sebuah rumah daripada apartemen yang menurutnya lebih ribet. Ia.tidak suka dengan sesuatu yang memakan banyak waktu. Ia memiliki banyak jadwal yang harus dipenuhi. Naik turun lift dan berlari di lorong serta lobi apartemen sangat membuang waktu baginya, tidak efisien. Dean memencet pangkal hidung, memejamkan mata rapat-rapat. Sudah beberapa hari ia tidak merasakan istirahat yang benar-benar istirahat. Ia hanya beberapa jam saja tidur salam sehari. Bahkan kemarin ia harus tidur di dalam mobil saking mengantuknya. Padahal saat itu ia sedang mengintai salah satu bandar obat bius yang akhirnya lolos. Semau karena kecerobohannya. Sialan! Dean sangat membutuhkan istirahat. Mungkin ia bisa mengambil cuti dan pergi ke luar kota untuk berlibur selama beberapa hari. Apakah ia bisa? Kalau tidak dicoba ia tidak akan tahu. Besok ia akan membicarakan masalah cuti ini pada Jonathan. Tentu saja ia berharap pria tua itu menyetujui, kalau tidak ia tidak akan menerima untuk menyelidiki kasus pembunuhan Clarence. Dean berubah pikiran ketika di jalan tadi. Ia akan menerima kasus itu asal diberikan waktu untuk beristirahat beberapa hari. Untuk kasus obat biusnya yang belum selesai, Dean yakin ia akan bisa menyelidikinya bersamaan. Bukankah biasanya orang kaya memiliki saingan? Dean yakin, orang yang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Clarence adalah saingan bisnis pria berambut pirang itu. Dean baru saja akan tertidur ketika sebuah notifikasi memasuki ponselnya. Ponsel berlogo apel tergigit itu bergetar di saku jaketnya. Tak ingin terganggu lebih lama, Dean segera mengambilnya dan memeriksa. Sebuah senyuman miring menghiasi wajah tampan Dean yang bercambang tipis. Upah untuk pekerjaannya yang lain sudah masuk ke rekeningnya. Angka berjumlah enam digit menghiasi layar ponselnya. Sebuah pesan masuk lagi, Dean menyentuh pesan itu untuk membacanya. Terima kasih atas kerjasamamu, aku sangat puas. Aku sudah mengirimkan uangmu, kulebihkan sedikit karena mungkin saja kau membutuhkan lebih banyak. Senang bekerjasama denganmu Aku pasti akan menghubungimu lagi kalau aku membutuhkan jasamu Dean melemparkan ponselnya begitu saja pada sofa yang lain setelah keluar dari aplikasi bertukar pesan itu. Ia kembali memejamkan mata, berharap kantuk kembali menjemput. Namun, sia-sia, matanya tidak mau lagi kembali terpejam. Sejalan ada sejumlah batang korek api yang menghalangi kelopak matanya untuk terpejam. Dean bangkit dengan malas, melangkah menuju dapur. Sepertinya ia perlu beberapa karbo agar dapat memejamkan mata. Dean memilih untuk memasak makan malam. Sebentar lagi waktu makan malam akan tiba, lebih baik menyiapkannya sekarang. Dean memilih untuk memasak makaroni keju sebagai makan malamnya. Ia merasa beberapa hari ini kurang asupan karbohidrat dan mengonsumsi terlalu banyak lemak. Ia khawatir kalau lemak-lemak itu akan menumpuk di perut dan bahunya kalau tidak diubah menjadi tenaga. Selain itu ia khawatir dengan kesehatannya. Terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji sangat tidak baik bagi tubuh, dan itu sungguh bukan dirinya sekali. Bukannya ingin menyombongkan diri dengan bentuk badannya yang tanpa lemak, hanya saja ia mang selalu menjaga bentuk tubuhnya. Kebanyakan lemak akan membuatmu malas beraktivitas. Pekerjaannya sebagai salah satu petugas polisi memerlukan kondisi tubuh yang fit. Bohong besar kalau polisi bertubuh gemuk tidak kesulitan, semua itu hanya ada di televisi. Dean membawa makan malamnya menuju ruang tengah, ia akan menikmati makan malam sambil menonton televisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN