Bab 3

2009 Kata
Amplop berwarna cokelat tergeletak di atas meja, sementara isinya berhamburan ke mana-mana. Salah satunya berada di tangan Dean. Pria itu membacanya sambil berbaring di lantai, dan itu dilakukannya sejak nyaris satu jam yang lalu. Kertas-kertas yang berhamburan adalah yang sudah selesai dibaca. Entah karena apa Dean mau membaca deretan huruf di kertas-kertas itu, biasanya ia hanya akan menerima amplop tanpa menyentuhnya. Ia tidak terlalu suka membaca, huruf-huruf itu hanya akan membuat kepalanya berdenyut pusing. Daripada membaca, ia lebih senang menghajar seseorang. Namun, berkas kematian Timothy Clarence adalah pengecualian. Dean merasa perlu mengetahui sebab-sebab kematian agar lebih mudah menyelesaikan. Menurut laporan tertulis di kertas ini, Clarence tewas di pesta salah seorang kolega bisnisnya. Pria itu meregang nyawa setelah sebuah peluru bersarang di kepalanya, tepat di tengah-tengah dahinya. Tidak meleset sedikit pun. Sudut dan titiknya sangat tepat. Dean melongo membaca kertas itu, sejenak ia ragu. Benarkah manusia yang melakukan pembunuhan? Kalau memang iya, berarti Si Pembunuh adalah seorang yang sangat profesional. Sangat jarang seseorang bisa menembak di titik yang sangat tepat seperti itu, bahkan untuk seorang penembak jitu sekalipun. Apalagi dalam jarak yang cukup jauh. Tidak ditemukan bukti kalau pembunuh berada di pesta, artinya pembunuh menembakkan peluru dari jarak yang cukup jauh. Entah seberapa jauh, tidak dituliskan di sini. Namun, melihat dari keakuratan dan kedalaman peluru di tengkorak kepala Clarence, diperkirakan jarak lebih dari lima ratus meter. Sebuah jarak yang cukup jauh bagi seseorang untuk membidik. Dean bangun, duduk sambil memeluk kedua lututnya. Sepertinya kasusnya kali ini tak boleh dipandang sebelah mata. Mungkin ia akan memerlukan konsentrasi penuh. Ketajaman instingnya diperlukan, ia berhadapan dengan seseorang yang sangat profesional dan terlatih. Dean mengusap wajah kasar, melempar kertas yang tadi dibacanya ke udara. Ia tidak ingin membaca sisanya lagi, terlalu rumit. Lebih baik mendatangi koroner saja, Pamela Shawn pasti tidak akan keberatan untuk menjelaskan ulang. Bukan krena perempuan berambut pirang itu menyukainya, terapi karena Pam memang sangat suka memberitahu semua orang tentang apa yang dikerjakannya. Dia tak pernah keberatan, meskipun hanya dibayar dengan secangkir kopi. Sepertinya ia harus mengatur ulang semua rencananya. Tidak ada lagi liburan dalam waktu dekat kecuali ia berhasil memecahkan kasus ini. Astaga! Padahal ia sudah merencanakan semuanya. Seminggu di Dubai pasti akan membuat semua penatnya hilang. Dean mengerang kesal. Tangannya terulur mengambil kaleng bir dari atas meja, menenggak semua isinya yang tersisa separuh. Dena berdiri, membawa kaleng bir kosong ke dapur, dan melemparkannya ke tempat sampah. Ia harus tidur awal malam ini, tidak boleh begadang seperti biasanya. Besok penyelidikannya akan dimulai. Dean mendengkus kesal. Baru saja ia senang karena sudah menyelesaikan satu kasus lagi, sekarang ia harus kembali dipusingkan dengan kasus lainnya. Menyelidiki pembunuhan tidak berbeda dengan penyelidikan di kasus lainnya, terap dibutuhkan kejelian dan ketelitian. Yang membedakan hanyalah, di kasus pembunuhan kau tidak terlalu dituntut untuk berada di luar ruangan, tenagamu tidak akan banyak terkuras, hanya otakmu saja yang akan berputar untuk mencari hubungan semua bukti yang satu dan yang lainnya. Sementara untuk kasus penyelundupan dan sejenisnya kau lebih banyak dituntut untuk berada di luar ruangan, juga menggunakan tenaga yang lebih banyak ketimbang otak. Satu lagi, dan ini menurutnya secara pribadi. Saat menyelidiki kasus penyelundupan atau pencurian, waktu istirahatmu akan lebih sedikit dibandingkan jika kau menyelidiki kasus pembunuhan. Ia sudah membuktikannya. Lelah yang masih dirasakan tubuhnya membuat Dean menguap lebar. Tandanya ia harus tidur sekarang agar besok pagi saat bangun ia merasa jauh lebih segar. Segera Dean menaiki tangga unyuk mencapai kamar tidurnya yang berada di lantai dua. Apartemennya memang memiliki dua lantai, dan berada dibilangan kawasan strategis. Jangan dikira karena pekerjaannya di kepolisian ia akan berdiam di tempat yang sepi dan mencekam, justru karena itu ia memerlukan tempat ini karena keamanan dan kenyamanannya terjamin. Selain itu, harga satu unit di gedung ini semakin bertambah tinggi setiap tahunnya, merupakan sebuah keberuntungan ia menginvestasikan penghasilannya di sini. Ingatan tentang masa kecilnya, di mana tempat tinggal dan keluarganya dirampas dengan sangat kejam darinya membuat Dean memilih untuk tinggal di tempat mahal seperti ini. Ia ingin membalas dendam entah pada siapa, yang pasti ia hanya ingin memuaskan diri sendiri dengan tinggal di tempat yang mewah. Mungkin ia ingin menunjukkan kepada pria b*****t yang sudah merenggut semua kebahagiaanya. Omong-omong soal pria itu, seingatnya satu tahun lagi masa hukumannya akan berakhir. Dean tak menyangka, begitu cepat waktu berlalu. Ia yakin pria itu tidak akan menduga kalau bocah kecil yang dulu menangis karena kehilangan semuanya sudah berubah menjadi seorang pria yang bisa menghabisinya. Berbicara soal menghabisi, kenapa bukan pria b*****t itu saja yang ditembak, bukan seseorang seperti Clarence yang berpengaruh di dunia bisnis. Tentu ia tidak akan bersusah payah untuk menyelidiki kasusnya, dan kemungkinan besar sekarang dirinya sudah bersiap untuk berangkat ke Dubai. Sekali lagi Dean mengerang, kali ini disertai sebuah tinjuan di udara yang kosong sebelum menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Tak lama, suara dengkuran halus memenuhi kamar itu, Dean tertidur. . . . . . Pagi ini tak seperti biasanya. Dean sudah bangun beberapa detik setelah matahari terbit. Ia duduk di atas tempat tidur sambil memandang selembar kertas yang penuh dengan huruf-huruf kecil. Sungguh, kepalanya sudah berdenyut sejak pertama ia melihat deretan huruf itu, tapi Dean tetap memaksa. Ada sesuatu yang sedikit janggal menurutnya. Sepertinya ia benar-benar harus bertemu dengan Pamela siang nanti. Perempuan itu harus menjelaskan semuanya dengan lebih terperinci agar ia dapat dengan mudah memahami. Kata-kata dalam ilmu kedokteran memang sangat sulit untuk dipahami seseorang yang sering bertugas di luar ruangan sepertinya. Ia tidak perlu menjelaskan menggunakan kata-kata, langsung dengan tindakan, dan itu lebih menyenangkan karena tidak akan membuat mulutmu berbusa. Setengah jam mengamati huruf-huruf itu dan masih belum menemukan apa-apa, Dean memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Ia belum mencuci muka atau apa pun, bangun tidur ia langsung mencari kertas yang ia ingat diletakkan di nakas sebelum tidur tadi malam. Isi kertas itu sangat menggangu, karena nyaris tidak ada satu pun yang dipahaminya. Ia berniat untuk mengartikan sendiri tanpa bantuan Pamela atau siapa pun. Namun, ternyata ia tidak bisa, ia tetap membutuhkan bantuan Pam. Tak ada jubah mandi, Dean hanya mengenakan selembar handuk kecil untuk menutupi bagian bawahnya. Membiarkan d**a dan perutnya yang terbentuk terekspos dengan bebas. Dean tak peduli, tak ada yang akan melihatnya meski ia bertelanjang bulat sekalipun, ia tinggal sendiri di apartemennya. Lain halnya kalau ia di pantai atau di tempat umum dengan keadaan seperti ini, yang sungguh tidak akan dilakukannya. Dean Oliver berusia tiga puluh tahun. Wajah dan postur tubuhnya tidak menunjukkan kalau ia adalah seorang polisi. Dean lebih cocok menjadi model atau aktor, semua yang ada di tubuhnya sangat mendukung. Rambut hitam, mata hijau hazel, tubuh proporsional. Setiap wanita yang melihatnya akan menjerit dan dengan sukarela mengangkang di atas tempat tidur untuknya. Sayangnya Dean tidak tertarik dengan semua itu. Ia lebih suka sendiri daripada beririsan dengan makhluk yang menurutnya paling berisik di dunia. Para wanita sangat suka menjerit dan merengek, termasuk Pamela. Seandainya tidak ada keperluan penting, tak akan ia menghubungi perempuan itu. Dean berdecak kesal. Pamela tidak menjawab panggilannya. Dean paling tidak suka diacuhkan, apalagi di saat ia sangat memerlukan bantuan. Namun, dasar sudah sifat manusia sangat menjengkelkan, semakin diperlukan orang itu akan semakin bertingkah. Perlukah ia menyuap Pam dengan satu malam di ranjang agar perempuan itu memprioritaskannya? Sialan! Ia bukan pria seperti itu, yang akan menyemai benih di mana saja. Meskipun tidak memungkiri kalau ia juga membutuhkan itu saat dirundung kelelahan otak yang sangat, tapi tidak sering seperti kebanyakan pria lainnya. Ia tidak memiliki waktu untuk selalu berada di atas ranjang. "Hai, Dean. Maaf baru bisa menjawab panggilanmu sekarang. Aku ada sedikit urusan dan baru bisa menyelesaikannya sekarang." Dean memutar bola mata bosan. Sejak kapan Pamela tidak sibuk? Perempuan itu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali terlambat menjawab panggilannya. "Apa ada sesuatu sehingga kau menghubungiku?" Sudahkah ia mengatakan kalau perempuan juga memiliki insting setajam hewan? Kalau belum ia baru saja mengatakannya. Dean berdecak kesal. Bagaimana mungkin Pamela mengetahui apa yang ia inginkan? Apakah perempuan itu bisa membaca pikiran? Ataukah hanya kebetulan saja? Maksudnya, Pamela hanya menebak asal dan kebetulan tebakannya itu tepat. Hebat sekali kalau memang seperti itu. "Kurasa kita perlu bertemu siang nanti," sahut Dean. "Apa kau ada waktu?" tanyanya sambil mencari kaus yang akan dikenakannya. Untuk masalah pakaian, Dean tidak pernah cerewet. Ia selalu membeli dan memakai sesuatu yang membuatnya merasa nyaman. Persetan dengan apa yang dikatakan orang-orang, mereka tahu apa tentang selera berpakaiannya? "Apakah berhubungan dengan kasus kematian Timothy Clarence? Kudengar kau menerima kasusnya." Dean tak heran kalau Pamela sudah mengetahui hal itu. Sebagai koroner yang bekerja di kepolisian dan bertugas mengautopsi setiap mayat yang datang, tentu Pamela mendengar siapa saja yang akan menangani 'temannya'. "Aku tidak mempunyai pilihan, Pam!" Dean mengerang. Mengingat dirinya yang harus terpaksa menangani kasus menyebalkan ini masih saja membuatnya kesal. Seandainya tidak ada liburan yang diincarnya setelah tugas ini selesai, tidak akan ia menerimanya. "Kutebak, Si Tua itu pasti memaksamu." Terdengar suara tawa Pamela dari seberang sana, membuat Dean semakin kesal saja. Suara tawa itu bukan jenis tawa biasa atau mengejek, tetapi Pamela mengasihaninya. b******k! "Kurasa kau memang harus menerimanya, Dean. Daripada kasus ini diberikan pada Jason. Menurutku sedikit tidak pantas, kasus ini terlalu elegan untuk Jason yang urakan." Seandainya saja bisa, Dean pasti akan tertawa mendengar perkataan Pamela. Kasus yang terlalu elegan untuk Jason yang urakan. Salahkah ia menyimpulkan kalau Pamela tidak menyukai Jason? Ternyata bukan hanya dirinya saja yang tidak menyukai pria itu, tetapi Jason juga memiliki pembenci yang lain. Sebenarnya ia bukannya tidak menyukai, ia hanya kurang suka, dan dua kata itu adalah sesuatu yang berbeda. Jason yang bersikap antipati padanya dan menganggapnya saingan membuatnya sangat jarang membalas sapaannya. Malas kalau hanya untuk berdebat. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut Jason merupakan racun, membuatnya selalu ingin mengumpat dengan kata-kata yang lebih kasar. "Akan lebih baik kalau kasus itu berakhir di tanganmu. Jujur saja, aku paling tidak suka bekerjasama dengan Jason, pria itu sangat menyebalkan. Ia sombong." "Menurutku tidak seperti itu," sahut Dean mengangkat bahu. Meskipun memiliki pemikiran yang sama dengan Pamela, ia tidak ingin terlalu menunjukannya. "Aku tidak pernah memandang Jason sebagai seseorang yang seperti itu. Aku tidak terlalu memperhatikannya, membuang waktu saja bagiku. Lagipula semua perkataan Jason tidak berguna, sangat tidak penting." Tawa Pamela kembali menyapa indra pendengaran Dean. Kali ini jenis tawa lepas biasa. "Baiklah, aku setuju denganmu untuk itu." "Kau harus melakukannya." Dean menarik kedua sudut bibirnya ke atas sedikit. "Dean, apa ada yang mau kau katakan lagi? Kalau tidak aku akan menutup panggilan ini, ada yang harus aku kerjakan lagi." Dean mengangguk. "Baiklah, Pam, sampai nanti siang," sahut Dean. "Aku akan menjemputmu nanti." "Aku akan menunggu!" Dean tidak menyahuti. Ia langsung memutus sambungan begitu saja, melempar ponsel ke atas tempat tidur, dan mengenakan kausnya. Masih dengan handuk menggantung di pinggul, Dean turun ke bawah. Ia akan membuat sarapan. Sebenarnya bukan membuat, kata itu terdengar sedikit berlebihan untuknya karena ia hanya tinggal makan saja, yang membuat sereal adalah pabrik. Semangkuk besar berisi sereal ditambah s*su sudah menjadi penghuni perut Dean. Sekarang ia hanya tinggal menunggu waktu bertemu dengan Pam. Ia tak ingin ke mana-mana kecuali untuk bertemu Pam, itu pun karena urusan penting.Kalau tidak, tak akan ia menemui perempuan itu. Pam selalu mengajaknya berkencan di setiap akhir pertemuan mereka. Ia harus mencari seribu satu alasan untuk menolak ajakannya. Ia tak ingin berkencan dengan rekan kerja, terlalu sulit membedakan antara pekerjaan dan hubungan asmara. Lagipula ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan yang serius. Satu malam sudah cukup menurutnya. Itu pun sangat jarang ia melakukannya, kecuali ia sudah tidak dapat menahan batu akan dilakukan. Di ruang tengah, lembaran kertas masih bertebaran di sana sini. Ia belum merapikannya. Dean mengambil salah satu, membawanya duduk di sofa depan televisi. Sesungguhnya ia tidak berniat untuk membacanya, tetapi entah kenapa ia justru membawa kertas dan mulai menapaki satu persatu huruf. Alis Dean mengernyit, betapa akurat bidikan si pembunuh sampai-sampai lubang peluru menembus tepat di tengah-tengah dahi. Dean mengusap wajah kasar, kali ini lawannya benar-benar profesional. Baru kali ini ia melihat sebuah peluru bersarang di dalam tengkorak kepala dengan perhitungan yang sangat pas. Sepertinya pembunuh yang dicarinya adalah seorang yang sangat pintar. Entah kenapa, Dean yakin kasusnya kali ini akan lebih menarik dari kasus-kasus sebelumnya yang pernah ia tangani.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN