POV AARAF - Keputusan Sulit

1071 Kata

Aku membelokkan mobil ke dalam gerbang pondok dengan malas, bahkan saat sudah menghentikan laju mobil, kakiku masih enggan turun. Aku masih terduduk di dalam mobil dengan punggung bersandar dan kelopak mata terpejam. 'Njenengan harus bisa melupakan aku, Gus!' kata-kata itu terus saja terngiang. Tangan terkepal erat memukul stir mobil dengan pelan. Ia tidak tahu kalau selama beberapa bulan ini aku mati-matian berusaha melupakannya, saat itu juga bayangannya semakin nyata di pelupuk mataku. Aku tidak berdaya, terbelenggu dalam keputusan sakral Abah dan Umik hingga bersatu dengan wanita yang tidak aku cintai. Bukan namanya yang aku sebut di setiap sepertiga malam, tetapi nama wanita lain, wanita yang selama lima tahun ini mengisi hari-hariku. Ingatanku melayang pada beberapa bulan lalu, s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN