Bab 10. Sakit

1363 Kata
Pagi ini suasana mendung dengan rintik halus air hujan yang semakin membuat suasana dingin. Aku malangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, kemudian baru memanggil suamiku. Namun, keningku mengerut saat mendapati pria tampan itu masih membungkus tubuhnya dengan selimut, padahal beberapa saat lalu ia sudah duduk. "Gus, air hangatnya sudah siap." Gus Aaraf hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. "Mau mandi sekarang atau nanti, Gus? Kalau nanti biar saya duluan yang mandi, takutnya airnya jadi dingin." "A-Aku dingin, Kay ...." Keningku semakin mengerut mendengar suaranya menggigil, dengan perlahan punggung tanganku menyentuh keningnya. "Ya Allah! Kamu panas banget, Gus." Aku langsung keluar dari kamar dan berlari menuju kamar Umik, tetapi sayangnya beliau masih menyimak ngaji. Untungnya ada Kang Ilham sedang membersihkan halaman, segera aku memanggilnya untuk membantu membawa Gus Aaraf ke rumah sakit, khawatir kalau sakitnya akan bertambah parah. "Mbak, nanti tolong bilangin ke Umik dan Abah, Gus Aaraf badannya panas dan saya bawa ke rumah sakit." "Baik, Ning," sahut Mbak Naya. Setelah menyambar tas mini, kakiku langsung berlari menuju mobil dan lantas masuk ke pintu belakang. Gus Aaraf terus menggigil tanpa membuka kelopak matanya, ia sesekali menggumamkan kata yang aku tidak paham. Setelah menempuh lima belas menit perjalanan, kami sudah sampai di rumah sakit. Kang Ilham langsung meminta suster membawakan brankar dan aku mengekor dari belakang saat Gus Aaraf di bawa masuk ke ruang rawat. • Ceklek! Pintu terbuka. Dokter keluar dari ruang rawat bersama suster di belakangnya, aku langsung bangkit dan bertanya keadaan Gus Aaraf. Beruntung suamiku sudah sadar sehingga aku bisa menemuinya. "Bagaimana rasanya, Gus?" Tanganku berusaha menyentuh pelan lengannya yang terpasang infus. "Masih pusing." Aku mengangguk, "Dokter bilang kamu dehidrasi sama kekurangan cairan. Kalau sekarang masih lemes nggak?" "Masih." "Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat saja dulu. Atau mau aku suapi makan?" Gus Aaraf hanya menggelengkan kepala, setelahnya kelopak mata itu terpejam. Aku berusaha menarik napas dalam saat merasakan dadaku sesak. Mau seperti apapun perhatikanku, Gus Aaraf tetap dingin. Menit berlalu... Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang dan Dokter kembali masuk untuk mengganti infus. Aku diperbolehkan untuk menunggui Gus Aaraf di dalam ruangan, beruntung Dokter mengatakan perubahan suamiku sudah membaik. "Gus, aku suapi makan, ya?" "Nggak usah, lagian obatnya juga sudah lewat infus." "Tapi kamu belum makan, loh." "Memangnya kenapa? Aku nggak mau makan apa urusannya sama kamu?" Glek! Tenggorokanku tercekat dengan lidah yang terasa kelu, tanpa sadar aku menelan saliva dengan susah payah. Apakah harus sesulit ini mengambil hati suamiku? "Aku cuma pengen kamu cepat sembuh, Gus," ucapku dengan suara lirih. "Biarkan aku tidur dulu, Kay. Aku masih pusing." "Baiklah, Gus. Saya akan menunggu di sini, nanti kalau butuh apa-apa bilang saja." Gus Aaraf mengangguk dan lantas memejamkan kelopak matanya. Sedangkan aku kembali menuju sofa dengan langkah gontai. *** Aku terbangun saat mendengar suara adzan dhuhur, dengan mata yang masih berat aku berusaha meraih kesadaran dengan berjalan ke kamar mandi guna mencuci muka. Namun, saat melewati ranjang pesakitan Gus Aaraf, sayup-sayup gendang telingaku mendengar suara bariton itu menggumamkan sesuatu. "Gus ...," ucapku seraya berjalan mendekat ke samping ranjang. Ternyata suamiku masih menutup matanya, tetapi aku dengan telaten semakin mendekatkan telinga. "Ayrani ..." Deg! 'Nama itu lagi?!' batinku berkecamuk pilu mendapati alam bawah sadar suamiku masih mengagungkan nama Ayrani. "Ay ... kenapa, Ay? Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu, Ay. Sangat ... mencintaimu, Ayrani ...." 'Ya Allah ....' Aku memalingkan wajah dan lantas berlari keluar kamar. Langkahku dengan cepat menuju ke taman, sesampainya di taman rumah sakit yang tampak sepi ini aku langsung mendudukkan diri di kursi panjang. Tangisku meledak. Aku membawa kedua telapak tangan untuk menutup wajah yang masih banjir air mata. Dadaku sesak, napasku tersengal-sengal, bahkan beberapa kali aku batuk. Kenapa harus nama itu yang disebut? Kenapa cobaan pernikahanku harus seperti ini? Gus Aaraf masih menyimpan dengan baik nama Ayrani di sudut terdalam hatinya. Gus Aaraf masih mencintai Ayrani dan mungkin selamanya akan seperti itu. Sakit! Rasanya sangat sakit sekali! Suamiku memanggil nama wanita lain di saat kelopak matanya tertutup, itu artinya pikiran suamiku sedetikpun tidak terlepas dari Ayrani. 'Apa mencari Ridho-Mu harus sesakit ini, Ya Allah. Apa aku harus mengorbankan perasaanku dalam pernikahan ini, rasanya ... rasanya aku tidak sanggup. Aku tahu surgaku berada pada suamiku, tapi kalau seperti ini ...? Aku tidak kuasa, Ya Allah ...,' batinku. Aku masih menutup wajah dengan kedua telapak tangan, hingga aku merasakan pusing lantaran terlalu banyak menangis. Gegas jemariku menghapus lelehan air mata, baru kemudian aku bangkit dan kembali ke dalam. Namun, baru saja langkahku akan meninggalkan taman, terdengar suara bariton yang memanggil namaku dari belakang. Tubuhku sontak berbalik, sepersekian detik kemudian mataku membola saat mendapati Pak Devano sedang berjalan ke arahku. "Kamu lagi ngapain di sini?" tanyanya yang terdengar aneh. "Saya lagi nunggu orang sakit, Pak." "Oh, begitu. Kalau saya lagi cek kesehatan, terus tadi waktu mau pulang nggak sengaja lihat kamu di taman. Keluarga kamu sakit apa?" Aku menarik napas dalam, sebenarnya air mataku masih menggenang di pelupuk netra, tetapi sekuat mungkin ku tahan. "Kata Dokter dehidrasi, Pak." Pak Devano mangut-mangut, "saya turut bersedih. Semoga beliau lekas membaik dan sehat lagi, ya. Kamu harus kuat, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Tidak ada sakit yang tanpa obat. Kamu harus yakin itu!" "Terima kasih banyak, Pak." Aku mengangguk memberikan hormat, setelahnya berpamitan kembali ke dalam kepada Pak Devano. Apakah iya semua sakit ada obatnya? Lalu bagaimana dengan sakit hatiku? Apakah ada obatnya juga? Pak Devano datang di saat aku terpuruk, seakan-akan Tuhan memberikan jawaban bahwa sakit hatiku bisa sembuh meskipun aku belum tahu apa obatnya. Pak Devano datang layaknya penenang yang dikirim Tuhan untuk menjaga perasaanku agar tidak terlalu sakit. "Astaghfirullah!" Aku menggeleng-gelengkan kepala, "kenapa jadi mikirin Pak Devano, sih?! Aku 'kan nggak boleh kayak gini! Aku tuh sudah punya suami!" gumamku lagi. Tidak terasa langkahku sudah sampai di depan ruang rawat Gus Aaraf. Aku mendekat ke ranjang dan ternyata pria itu masih betah memejamkan mata. Berarti tuduhanku tadi benar, alam bawah sadar Gus Aaraf yang memanggil nama Ayrani. "Cepatlah sembuh, Gus. Aku berjanji akan bertahan semampuku, walaupun setiap hari perasaanku terluka," bisikku tepat di samping daun telinganya. *** Malam hari. Dokter baru saja mengecek kondisi suamiku, juga menyuntikkan obat. Tampak Gus Aaraf masih pucat dengan pandangan sayu, tetapi ia masih tidak mengisi perutnya dengan makanan. "Kenapa nggak mau makan, sih, Gus?" "Aku nggak lapar." "Dari pagi perutmu nggak terisi, masa nggak lapar? Meskipun Dokter sudah memberikan nutrisi melalui infus, tapi kamu harus tetap makan, Gus." Pria tampan itu hanya menghela napas panjang saat aku membuka rentetan suara. Mungkin saja ia risih, tetapi ini lebih baik dari pada pikirannya terus tertuju pada Ayrani. Ah, aku jadi penasaran apa istimewanya Ayrani. Seberapa lama suamiku jatuh cinta pada wanita itu. Aku ingin tahu semuanya, agar aku juga mudah menghapus bayang-bayang Ayrani dari benak Gus Aaraf. "Ya sudahlah kalau nggak mau, Gus. Atau kamu mau makan buah saja?" Gus Aaraf menggeleng, "tidak perlu seperti ini, Kay. Kamu akan lelah sendiri. Toh aku juga nggak berselera makan." Kepalaku menunduk saat Gus Aaraf lagi-lagi menyadarkan ku, "maaf, Gus. Saya hanya mau memastikan keadaan kamu baik-baik saja. Jadi kalau Abah atau Umik telepon, saya nggak perlu berbohong." Pria tampan itu menoleh ke arahku dengan pandangan yang berbeda, "makasih. Tapi aku nggak berselera makan, lebih baik kamu tidur saja. Nggak perlu menjagaku seperti ini, Kay. Aku ... aku sudah bilang 'kan agar kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing, itu artinya kamu tidak perlu memperdulikan aku seperti ini." Deg! Lagi, kata-kata menyakitkan itu keluar lagi dari mulut suamiku. Padahal aku sudah sangat khawatir seharian ini. Aku menangis, tetapi tidak ada sedikitpun empatinya untukku. "Baiklah, Gus. Maaf kalau saya membuat kamu nggak nyaman." Aku langsung bangkit dari kursi dan hendak beranjak menuju sofa, tetapi terhenti saat Gus Aaraf kembali membuka suaranya. "Maaf, Kay. Aku melakukan ini agar kamu tidak banyak berharap, takutnya kamu hanya akan mendapatkan sakit hati." "Iya, Gus. Saya tahu." Aku langsung melangkah cepat dan merebahkan diri di sofa. Kelopak mataku terpejam dengan sebelah lengan yang menutupinya. Air mataku saat ini kembali luruh mendengar penolakannya, padahal aku hanya berusaha meraih Ridho-Nya. Tidak mengapa, setidaknya Gus Aaraf tidak tahu tangisku. Tidak mengapa aku menderita asal Tuhan memberikan Ridho-Nya. Mungkin perjuanganku harus berdarah-darah, aku akan melewatinya. Meskipun aku belum tahu bagaimana akhirnya pernikahan ini. Pilu, ataukah bahagia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN