"Janjiannya jam berapa, Dek?" Aku menoleh pada pria di sampingku yang tengah fokus pada kemudinya. Mahesa, pria berusia matang yang sekarang menjadi calon suamiku. Kami akan menikah enam bulan lagi, lantaran Mas Mahesa yang baru saja menjabat menjadi kepala yayasan. "Jam sepuluh, Mas." "Nanti kamu masuk sendirian?" tanyanya lagi yang lantas aku angguki. Yeah! Hari ini aku hendak bertemu dengan seseorang. Seorang pria yang sempat menjadi tempatku menitipkan hatiku kepadanya, dan sekarang aku akan mengambil lagi hatiku itu. Seorang pria yang mungkin, beberapa hari lalu hampir membuatku gila. Hingga takdir membawa Mas Mahesa kepadaku, sampai akhirnya aku mendapatkan kewarasan kembali. Gus Aaraf. Pria tampan berusia matang yang sudah memberikan seluruh hatinya untukku, tetapi ia juga yan

