Mendengar ucapanku, Heri mengendus lagi. Sepertinya dia sangat kesal dengan sikapku saat ini. "Aneh-aneh gimana sih, Neida? Aku nggak aneh-aneh. Siapa sangka juga mama aku bakal minta hal-hal kayak gitu? Aku takut nanti mama meninggal dan keinginannya belum terwujud. Makanya aku minta tolong banget sama kamu. Kali ini aja." ucap Heri memohon padaku. "Bisa lo ya minta tolong sama gue? Nggak ngaca lo sama kelakuan lo dulu? Minta maaf aja nggak, ini langsung minta tolong. Bingung gue sama lo." ucapku jutek sejutek-juteknya. Aku sih tidak mau memberikan hati padanya, ya. Untuk apa orang yang tidak tau diri seperti ini dikasihani. Kasarnya, kalau memang mamanya mau meninggal, ya meninggal saja. Itu kekecewaanku sampai segitunya pada Heri, sampai-sampai hal seperti itu saja aku sudah tidak me

