Bab 13. Pertengkaran Itu Biasa

1019 Kata
"Apa kamu sesulit itu untuk izin terlebih dahulu ke saya sebelum kamu pergi?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut sang suami berhasil membuat Sherly memberengut kesal, wanita itu berdecak seraya memandang Dimas dengan tatapan kesal. Dia benar-benar dibuat kesal oleh ocehan sang suami, Sherly menghentakkan kakinya ke lantai. Dia berdecih seraya memandang nyalang tatapan tajam yang Dimas berikan pada dirinya. Wanita itu berjalan menjauhi Dimas, dia memilih berjalan mendekati balkon kamar. Sherly memandang keluar dengan tatapan yang sulit diartikan, napas wanita itu masih memburu sejak awal Dimas mencerca dirinya. Dia merasa kupingnya panas mendengar segala celoteh Dimas sedari tadi. Tangan Sherly mengepal di kedua sisi tubuh, dia berusaha meredamkan amarahnya meskipun terbilang cukup sulit Kedatangan Dimas di kediaman orang tua Sherly secara mendadak memang membuat wanita itu merasa terkejut, tetapi sekarang dia justru merasa marah karena kehadiran Dimas seolah hanya ingin membawa pertengkaran. Pria itu terus mencerca Sherly mengenai kewajiban Sherly untuk izin sebelum berpergian. "Sesulit itu kamu mendengarkan dan menurut pada saya?" Dimas berjalan mendekati sang istri, dia berhenti beberapa langkah di belakang Sherly. Sherly segera membalikkan tubuh, dia terkekeh sinis. Wanita itu berjalan mendekati sang suami, dia memisahkan jarak antara keduanya. Sherly memandang tajam Dimas dengan satu sudut bibir yang terangkat menciptakan senyuman miring. "Terus aja marahin aku, Om! Marahin! Bisa dong kasih tahu baik-baik?! Om pikir aku pernah nikah sebelumnya?!" sentak wanita itu dengan mata berkaca-kaca dan napas memburu. "Kam— "Stop it!" Sherly mengangkat tangan kiri memberikan isyarat untuk Dimas diam. "Om pikir aku ada keinginan untuk menikah di usiaku yang sekarang? Om pikir pernikahan mendadak ini bikin aku terbiasa sama hal yang bahkan belum pernah aku lakuin? Nggak! Sebagai suami aku seharusnya Om bisa negur aku dengan cara yang lebih enak didengar bukan malah datang-datang bentak aku di kamar begini!" Dimas tergugu mendengar ucapan sang istri. Sungguh sekarang pria itu merasa bersalah saat melihat air mata Sherly yang mengenang di pelupuk mata. Menarik napas panjang, Dimas mendekati sang istri dia meraih tangan Sherly. Namun, Sherly dengan cepat menepis tangan sang suami. Wanita itu bahkan membuang muka dan menghapus kasar air mata yang turun membasahi pipinya. Dimas menghela napas kasar. Dia menarik tangan Sherly dengan lembut, pria itu mengusap kepala sang istri dengan lembut berusaha menenangkan sang istri. Di dalam dekapan Dimas, Sherly terdiam dengan pandangan kosong. Dia bahkan tak memberontak saat Dimas memeluk dirinya dengan erat seolah energi wanita itu telah terkuras habis. Sherly bahkan membiarkan saja Dimas memeluk dirinya tanpa wanita itu balas. Rasanya Sherly sudah lelah, kepala wanita itu terasa berdenyut nyeri. "Maaf. Maafin saya, kalau saya menyakiti kamu. Saya hanya khawatir, maaf," gumam Dimas. "Emang udah nyakitin!" sahut Sherly dengan ketus. Dimas terkekeh ringan, dia menundukkan kepala memandang sang istri yang masih terdiam dengan bibir mencebik. Entah dorongan darimana Dimas semakin menundukkan kepalanya lantas mengecup pucuk kepala Sherly membuat wanita itu terdiam kaku dengan mata membulat. Sherly segera menjauhkan tubuhnya dari Dimas setelah dia tersadar, mata wanita itu memicing memandang sang suami dengan wajah curiga membuat Dimas mengerutkan kening keheranan. "Kenapa kamu?" Dimas bertanya seraya mencoba mendekati sang istri, tetapi Sherly dengan cepat memundurkan langkahnya. "Om modus ya?!" tangkas Sherly. Alis Dimas menyatu, dia lantas menyentil kening sang istri dengan gemas. "Apa pikiran kamu itu tidak bisa baik ke saya?" tanya Dimas dengan geram. "Gimana mau baik kalau yang aku nikahin itu om-om m***m!" Kedua tangan Sherly bertengger di kedua sisi pinggangnya, dia memandang Dimas dengan tatapan malas. Dimas memutar malas bola matanya. "Kalau saya memang m***m udah saya buat nggak bisa jalan kamu setiap hari!" ketus pria itu lantas pergi meninggalkan kamar Sherly dan sang istri yang menganga mendengar jawaban Dimas. "Lakik biadab ...!" jerit Sherly dengan tatapan kesal seraya menghentakkan kaki ke lantai. "Ih ... gemes! Pengen gue mutilasi!" *** Tari tersenyum manis saat melihat sang menantu duduk di hadapan sang putri. Iya, saat ini mereka tengah makan malam bersama. Sherly yang saat itu ingin kembali ke kediaman utama Pradipta diminta menginap oleh Leo yang di mana hal itu sebenarnya diminta oleh Tari, tetapi wanita itu terlalu gengsi untuk mengatakannya. Sherly yang ingin menolak tentu tidak enak melihat mata berkaca-kaca sang ibu yang sedari tadi enggan menatap dirinya. Setelah mendapatkan izin dari Dimas, di sinilah mereka sekarang di kediaman megah milik Leo. Tari memandang sang putri yang masih duduk tenang di kursi, dia berdecak kesal lantas menarik pelan lengan Sherly memaksa wanita itu untuk berdiri. Tentu saja tindakan Tari menimbulkan kebingungan di benak Sherly terbukti dari Sherly yang memandang heran ke arah sang ibu dengan kedua alis menyatu. "Apa sih, Bun?" tanya Sherly heran. "Kamu ini gimana, sih?! Itu suamimu dilayani gitu, lho. Ditanya mau makan apa? Malah duduk anteng kayak anak gadis." Omel Tari seraya berkacak pinggang. Sherly mendengus kasar. "Nyusahin banget," cibir Sherly dengan suara pelan. Wanita itu beralih menatap Dimas sekilas sebelum akhirnya mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk sang suami tanpa bertanya. Tentu saja tingkah Sherly ini membuat ketiga orang di ruangan itu memandang dirinya dengan kening berkerut, tetapi Sherly nampak begitu tak peduli dan tetap melanjutkan apa yang sedang dia lakukan saat ini. "Nih." Sherly meletakkan piring itu di hadapan Dimas dengan wajah ketus. "Kamu ini ngelayanin musuh atau suami sih, Kak? Ketus banget banget," celetuk Leo lantas menggelengkan kepala. Sherly hanya tersenyum paksa lantas kembali mendudukkan diri. Dia memandang Dimas dengan tatapan sengit, wanita itu lantas melotot garang seraya menggigit bibir bawah membuat Dimas terkekeh samar. Wanita yang berstatus sebagai istrinya itu memang acap kali menunjukkan rasa tak sukanya pada dirinya. "Nak Dimas maafin sikap Sherly ya," ucap Tari dengan tulus. Dimas mendongak, dia menatap teduh wanita itu. "Nggak papa, Bun." "Kok Bunda minta maaf, sih?!" protes Sherly tak terima. Tari melirik sinis sang putri. "Iya, soalnya anak setan di sebelah Bunda mana mau minta maaf," sahut wanita itu dengan sinis. Sherly membulatkan mata tak terima atas ucapan sang ibu, dia memandang kesal wajah sinis Tari. "Secara nggak langsung Bunda itu setan juga!" Leo hanya bisa menghela napas panjang, sedangkan Dimas menggelengkan kepala pelan melihat sang istri yang tak takut pada siapa pun. "Nak Dimas, kalau kamu udah bosen ngehadapin ini anak bisa kamu jual ya." Tari tersenyum manis ke arah Dimas. "Bunda ...!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN