Bab 7. Perang Batin

1131 Kata
Aroma petrikor masih tajam menyapa penciuman. Air langit masih setia membasahi bumi dari semalam. Bagi beberapa orang mungkin suasan seperti ini akan membuat malas keluar dari balik selimut. Atau mungkin malah semakin merapatkannya. Nayyara yang baru terlelap dua jam terusik dengan suara kicau burung dari luar jendela. Mahkluk kecil bersayap itu seakan tak takut kalau bulu sekujur tubuhnya akan basah oleh hujan. Nayyara gegas berlari ke kamar mandi karena merasakan mual tak tertahankan. Sekitar lima belas menit Nayyara berhadapan dengan wastafel. Bahkan sampai menarik kursi plastik untuk menopang badannya yang terasa lemas. Tak ada makanan yang keluar lagi dari dalam perut. Hanya cairan berwarna kekuningan dan terasa pahit. Morning sicknes mulai dirasakan oleh calon ibu muda itu. Wajah ayu Nayyara masih basah oleh titik-titik air. Sengaja tidak mengeringkan, hanya ingin menikmati sensasi segarnya air dingin pagi hari, terasa sejuk dan menenangkan. Nayyar duduk di sofa ruang tengah dengan posisi setengah berbaring. Kepalanya disandarkan pada sandaran sofa. Mata indahnya terpejam, sejenak menikmati kondisinya saat ini. Cukup lama Nayyara berada dalam posisi ini, bahkan sempat terlelap sejenak sampai dering ponsel membangunkannya. Mbak Enggar yang menghubungi sekadar menayakan kabar Nayyara. Ibu satu anak itu mengelukan kalau café terasa sepi tanpa adanya Nayyara. Bahakn Vibi dan Randi seperti kehilangan daya. Trio ceriwis, begitu Nayyara, Vivi juga Randi biasa mendapat julukan. Randi yang masih kuliah memang lebih sering kena shif siang tapi kalau mereka bertiga jadi satu shif, 8 jam kerja benar-benar tak terasa, tahu-tahu sudah waktunya jam pulang kerja. “Nay, udah coba melamar kerja di mana? Kalau kamu mau, masih ada kesempatan di seung.” “Belum Mbak, masih menikmati waktu jadi pengangguran.” Nayyara terkekeh sendiri, mengingat dirinya kini benar- benar jadi seorang pengangguran, mana sedang hamil muda lagi. “Nggak Mbak, makasih. Udah nggak minat di seung lagi. Kecuali seung ganti pemilik boleh lah aku pertimbangkan,” lanjut Nayara yang tak sengaja mengutarakan alasan tidak mau kembali ke seung. “Kamu ada masalah dengan Pak Shakil?” Selidik Mbak Enggar dengan nada curiga. “Eh, eng—nggak Mbak. A—ku baik-baik saja kok sama dia.” Nayyara sampai gagap menjawab pertanyaah yang tak terduga. "Kalau ada masalah selesaikan dengan baik. Jangan sampai menyimpan rasa benci apalagi dendam, Nay." "Iya Mbak, aku tahu. Beneran nggak ada masalan. Ya udah Mbak, aku mau mandi dulu. Gerah banget, dari semalam aku kepanasan." Nayyara berusaha menghindari pembahasan tentang mantan atasannya. Hatinya masih terasa sakit dengan ucapan, sikap juga perlakuan Shakil terhadapnya. Selesai dengan ritual mandinya yang kali ini cukup lama, karena ada adegan mual beberapa kali, Nayyara kembali duduk santai di ruang tengah, sambil menonton televisi ditemani buah semangka yang kemarin dibelinya di supermarket. Entah kenapa akhir-akhirn ini dirinya sangat menyukai buah dengan kandungan air cukup banyak itu. Terasa dingin juga menyegarkan di tenggorokan dan perutnya yang sedang tidak nyaman. "Aku harus bagaimana dengan kandungan ini? Kalau digugurkan takut tambah dosa, dan lagi aku juga nggak tahu tempat-tempat untuk melakukan hal seperti itu. Belum lagi kalau nyawaku malah ikut melayang. Ish ... Jadi nyusahin banget kan. Awas aja kamu Shakil, semoga kamu nggak akan bahagia seumur hidup kalau nggak mau mengakui anak ini!" geram Nayyara sambil mengepalkan kedua tangannya. "Arrgghh ...." Nayyara tetiba menjerit, perutnya bagian bawah terasa nyeri sekali. Sampai badannya melengkung ke depan, untuk sekadar meredakan rasa nyerinya. "Kamu kenapa? Perutku jadi sakit sekali ini, tolong jangan bikin aku tambah tersiksa. Udah bapakmu menghancurkan mental dan hidupku, kamu juga mau menyiksa aku?" Nayyara meremas baju di bagian perutnya. "Tolong jangan sakiti aku juga," pinta Nayyara pada janin dalam kandungannya. Entah apa memang janin dalam kandungan Nayyara paham dengan apa yang dibicarakan oleh ibunya atau memang perut Nayyara hanya kram karena stres dan tertekan. Setalah mengomel sendiri seperti orang kurang waras beberapa saat, nyeri perutnya berangsur berkurang. Lelah dengan kondisi yang cukup membuat kepalanya pening, bungsu dari dua bersaudara itu terlelap lagi di sofa, padahal televisi masih menyala. Suara adzan dzuhur mengusik tidur lelap Nayyara. Perlahan dibuka kelopak matanya, mengumpulkan nyawa yang entah terbang ke mana saat dirinya tertidur. Menyadari masih berada di rumah, gegas Nayyara bangun dan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. "Malah ketiduran lagi, laper banget. Belum makan berat dari pagi. Cuma makan semangka sama teh hangat aja." "Sabar dulu ya, kita sholat dulu baru makan," lanjut Nayyara sambil mengusap perutanya." Nayyara gegas ke kamar mandi mengambil wudhu lalu menjalankan kewajiban empat rakaatnya. "Ya Rabb, ampuni semua dosa dan kesalahan hamba. Entah kesalahan apa yang dulu pernah hamba perbuat dan hamba lalai, hingga Engkau memberikan hukuman seberat ini. Jika memang ini adalah takdir terbaik untuk hamba, in saya Allah hamba ikhlas dan ridho." Nayyara begitu khusyuk melangitkan doa setelah selesai sholat. Mengadu pada Sang Khaliq atas setiap perkara yang sedang dijalani. "Lebih kuatkan bahu hamba untuk menanggung semua ini. Lebih luaskan sabar hamba untuk menjalani ketetapan yang telah Engkau tuliskan di lauful Mahfud hamba. Jangan biarkan sampai iman hamba melemah hanya karena ujian ini ya Rabb. Sekali lagi hamba ikhlas dan ridho." "Ya Allah, jika memang mahkluk kecil yang saat ini sedang berada dalam rahim hamba adalah takdir terbaik untuk kami, mampukan hamba untuk menjadi orang tua yang amanah, bertanggung jawab dan bisa memberikan pendidikan akhlak untuknya. Jangan sampai karena kehadirannya justru akan membuat hamba dipermalukan. Membuatnya dikucilkan karena tidak mempunyai ayah. Lebih kuatkan kami berdua, ya Rabb untuk melewati semua ini." Cukup lama Nayyara mengeluarkan isi hatinya, memohon ampun atas dosa juga khilaf yang disengaja atau pun tidak disengajanya. Berusaha lebih ikhlas menerima takdir yang memang sudah digariskan. Mungkin akan tidak mudah namun, Nayyara percaya jika semua yang terjadi adalah rencana terbaik Allah SWT untuk hidupnya. Tentu Allah juga sudah menyiapkan kejutan istimewa untuk setiap hamba-Nya yang mampu dan bisa bersabar menjalani semua ujian hidup. Nayyara sudah berdiri di depan kompor, setelah puas mengadu pada Sang Empunya Kehidupan. Membukan kulkas, hanya ada beberapa sisa sayur, telur, juga tahu dan tempe. Berpikir sejenak akan masak apa siang ini. Melihat semua bahan masakan yang ada tidak membuatnya berselera makan. Hingga melintas asinan sayur langganannya. "Makan asinan pasti segar siang-siang begini," guman Nayyara tersenyum kecil. "Hai ... Apa kamu mau makan asinan sayur? Kita beli ya sekarang." Nayyara mulai berbicara pada janin dalam perutanya. Perasaan calon ibu muda itu jadi lebih tenang, setelah mengadu pada Allah SWT. Perang batin yang sejak kemarin berkecamuk, hingga sempat terlintas dalam pikirannya untuk mengugurkan kandungannya, kini perlahan mencair. Tak ada lagi niat membuhun darah dagingnya sendiri. Biar bagaimanapun caranya hadir dalam rahim, kenyataannya dia akan menjadi seorang ibu. Akhirnya Nayyara sudah berdandan cantik. Dengan outfit casual, celana bahan dan atasan kaos oblong longgar, sepatu sneakers juga sling bag. Kaki jenjangnya menyusuri trotoar sepanjang jalan utama depan gang rumahnya. Matahari cukup terik tapi, tak menyurutkan niat Nayyara menikmati suasa siang ini. Asina sayur dan es kelapa muda nyatanya lebih menggoda dan mengalahkan panasnya sinar matahari. "Nayyara ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN