Semuanya masih terasa seperti mimpi, bahkan saat aku bisa menyentuhmu seperti ini pun rasanya masih saja bagaikan mimpi indah di musim panas.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
“Clemira?! Sini masuk, Nak. Wah, udah lama banget ya Nonno enggak ketemu apalagi ngobrol sama kamu. Gimana kabarmu, Nak?” sambut kakek Bella dengan nada akrab dan hangat.
“Alhamdulillah, Cle baik-baik aja. Nonni gimana kabarnya, Tante juga?” sapa Clemira ramah dan santun seperti biasa jika ia bertemu orang yang lebih tua, tapi tidak untuk para pejantan di luar sana. Baginya setua apa pun umurnya kalau tak ingat dan masih suka menggoda daun muda pasti akan kena semburan lidah apinya juga, konon lagi yang levelnya lebih muda.
“Alhamdulillah kami semua sehat. Ngomong-ngomong kamu masih suka pilih kasih gini deh, Cle. Kebiasaan banget kalau sama Nonno dan Nonna manggilnya Nonni, giliran sama Mama manggilnya Tante,” tegur ibunda Bella dengan nada sengaja merajuk. Terlihat sangat kontras dengan raut wajahnya yang tak dapat menyembunyikan rasa bahagia di wajah anggunnya, meskipun usianya baru saja melewati separuh baya.
“Mama ini bisa wae toh, yo. Iya, maaf ya, Ma. Cle rasanya udah lama banget ndak manggil siapa pun dengan panggilan begitu lagi,” gumam Cle di akhir kalimatnya, tapi tetap saja semua yang ada di sana masih bisa mendengar kalimat dengan nada suara yang sedikit bergetar sebelum Clemira berdehem dan mengubah kembali ekspresinya.
“Justru kamu harus berterima kasih sama Adikmu yang paling besar ini, Nak. Berkat kecerobohan manisnya sama Bella semalam, akhirnya kalian bisa punya Mama lagi, ‘kan?” tutur nenek Abella dengan wajah teduh dan suara hangatnya.
“Maksudnya gimana ya, Nonna? Cle masih ndak paham beneran sama ceritanya loh. Habisnya tadi itu baruuu banget selesai seminar terus dapet chat yang bunyinya, ‘Buruan ke Roma kita besanan sama keluarga Valerian’ cuman gitu aja dan yang ngirim si Uno, ‘kan aku jadi sempet curiga kalau lagi di-prank sama dia,” tukas Clemira menjelaskan kebingungannya selama dalam perjalanan sebelum mengetahui garis besarnya jika adik kesayangannya ternyata harus nikah kilat. Ia mengamati gerak-gerik mencurigakan dari adik dan adik ipar barunya, “Ada yang mau nyeritain ke aku? Siapa aja?”
“Ups, aku emang gak niat kasih tahu lebih jauh sama Mbak’e atau Ayah daripada salah ngomong. Jadi, aku bebas dari dakwaan apa pun kali ini,” potong Jarvish lebih dulu. Dia benar-benar tak ingin mendapatkan tatapan mengintimidasi dari kakak tertuanya yang terkenal sudah terkikis keanggunannya karena kerasnya kenyataan hidup.
“Ekhem, kayaknya harus aku sendiri yang cerita deh. Sebelum itu, Mbak ndak mau istirahat dulu? Seminar di New York pasti bikin capek. Nanti aku pasti bakalan cerita, kalau perlu sekalian pas Ayah udah dateng, ya Mbak, ya?” tawar Evano dengan tawa kaku. Rasanya ada pedang es yang menempel di punggungnya saat ini. Jika ia bergerak maka ia akan tersayat, tapi jika tak bergerak maka kulitnya akan terbakar karena rasa dinginnya sangat menyengat.
Bella memahami ketegangan antara putri sulung dan putra kedua keluarga Janu Cokroatmojo. Sudah selayaknya dia membantu dan mendukung sang suami, “Iya, Mbak bisa istirahat sementara di kamar tamu, nanti kalau Ayah udah dateng baru pindah ke paviliun kalau Mbak mau. Sementara kami bahas soal resepsi seminggu lagi. Boleh, ‘kan?” timpal Bella.
“Yo wis, kita bahas soal resepsi dulu karena ini yang lebih penting, tapi sebagai Adik iparku kamu juga harus ingat, ndak ada satu orang pun yang bisa berkelit atau mengganti topik kalau aku merasa itu soal hal yang penting. Silakan mencoba kalau bisa,” tantang Clemira dengan sedikit tarikan di kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis. Padahal sorot mata hazel abu-abunya sedang menatap tajam. Sungguh ekspresi wajah ramah yang kontras dengan aura menakutkan sekaligus mengintimidasi.
Pembahasan tentang resepsi tak membutuhkan waktu terlalu lama, sebab mereka sepakat untuk menyatukan semua ide dan berkompromi pada beberapa bagian. Jika itu dirasa harus dilakukan maka akan disesuaikan dengan lokasinya, karena resepsi pernikahan Abella dan Evano sudah jelas akan diselenggarakan dua kali di Roma dan Jakarta. Secara garis besar, resepsinya akan diadakan dengan rangkaian prosesi yang berkesan meskipun Abella tak ingin tema mewah lebih mendominasi di hari bahagianya. Bagi Bella, sesuatu yang indah tak harus megah dan mewah karena ada banyak cara untuk memaknainya. Lagi pula semuanya semakin terorganisir sebab Bella sudah terlatih mengurus jaringan bisnis keluarga Valerian yang menuntut kekreatifan juga ide unik agar bisa tetap bersaing di dunia industri pariwisata. Di samping itu, ia juga sudah belajar banyak hal saat harus mengatur Alice’s Tea Chamber dari awal bersama para saudaranya ketika mereka masih di Oxford dulu.
“Oke, jadi aku kirim list ini secepatnya ke para vendor yang udah kita pilih, sama pastiin Alfredo siapin Mag View buat acara seminggu lagi,” simpul Bella dengan nada suara antusias.
“Soal baju kalian gimana? Mau warna apa, Nak? Ini Aunty Eve dari tadi pagi udah nanyain soal jenis bahan sama warnanya termasuk konsep resepsi kalian nanti biar semua timnya bisa fokus selesaiin pesanan kita dulu. Phoebe juga mau ikut turun tangan sama tim khususnya biar bisa selesai lebih cepat katanya,” ungkap ibunda Bella tak kalah antusias.
“Kita perlu ambil ukurannya Mas Evano, Mbak Cle, Jarvish, sama Ayah. Soal bahan sama model aku udah kepikiran bakal pakai apa. Mama, Nonna, Mbak Cle, Mbak Mira, sama Adek maunya gimana? Pakai kebaya modern atau gaun cocktail aja biar gak ribet atau mungkin kalian udah punya ide mau dibuat gimana bajunya?” tanya Bella.
“Kebaya modern dong. Kalau warna sih kami ngikut aja. Iya toh, Mbak’e?” celetuk Nasima membuat Clemira terkekeh, begitu pula dengan anggota keluarga yang lain. Mereka sepakat dengan ide Nasima. Sepertinya sisi wanita Nasima Khailina Valerian sudah terbangkitkan setelah statusnya benar-benar berubah menjadi seorang wanita bersuami.
“Malah ngikut manggil Mbak’e juga lho, Khailina ini,” ujar Clemira tertawa geli.
“Eh, Mbak masih inget sama panggilan kecilku yang biasa Papa pakai?”
Perkataan Nasima membuat semua orang terkesiap. Iya, bagaimana bisa mereka melupakan seseorang yang raganya sudah tak lagi bersama dengan mereka? Mungkin kehadiran Amadeo Valerian masih mereka rasakan selama ini, bahkan tadi pagi ketika Evano mengucapkan janji suci untuk meminang almarhum putri ketiga Amadeo Valerian. Jadi, mereka tak merasakan kekosongan yang berarti sebab setiap kenangan dan kebiasaan baiknya tetap terasa setelah Bella sempat menceritakan lebih detail kenapa dia selalu membela mendiang cinta pertamanya. Rahasia yang ia tutupi selama ini atas permintaan mendiang sang Papa saat tadi keluarganya berkumpul sebelum prosesi ijab kabul dimulai, tapi saat ada yang menyadarkan mereka jika jiwa mendiang Deo sudah tenang di alam keabadian maka suasana tiba-tiba menjadi sendu. Mereka kembali tersadar bahwa orang yang paling mengkhawatirkan keadaan keempat putrinya sudah tak bisa mereka lihat lagi senyum kelegaannya saat melihat satu per satu tanggung jawab utamanya sudah tuntas. Hanya pada pernikahan Nasimalah ekspresi itu terakhir kali terlihat hampir satu tahun yang lalu.
“Papa pasti seneng banget karena akhirnya putri kesayangannya udah ada yang jagain,” ujar seseorang yang baru melewati foyer dan langsung menuju para tetua untuk memberikan ciuman rindunya setelah mencium punggung tangan para tetua.
“Kak Mina?! Bukannya dokter obgyn Kakak gak ngebolehin Kakak naik pesawat dulu?!” sembur Nasima. Sudah jelas dia sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya yang nomor dua. Zamina sempat mengalami flek di awal kehamilannya yang baru ia dan suaminya sadari karena dia sering ikut menemani suaminya melakukan perjalanan bisnis selain mengurusi Magnífico juga. Membuat jadwalnya lumayan padat setiap minggunya.
“Siapa dokter obgyn yang berani ngelarang Kakak buat ngumpul sama keluarga besar Kakak, apalagi pas dua Adik kesayangannya Kakak mau di-make over? Lagian sekarang di keluarga Valerian udah ada obgyn pribadi juga, ‘kan?” ucap Zamina panjang lebar yang diangguki setuju oleh Clemira sambil mengacungkan jempolnya, “Gimana kabar mi familia? Aku kangen banget dan satu bulan ini harus bed rest total ternyata jauh lebih nyiksa daripada dengerin ocehannya si bungsu tentang segala sesuatu,” goda Zamina di akhir sambil menatap rindu pada adik bungsu mereka yang duduk tepat di sampingnya. Sifat si bungsu sekarang berubah sedikit kalem setelah menikah, tapi tetap saja kebiasaan berpikir kritisnya tidak akan pernah bisa diubah. Zamina tadi sempat merasa bersalah juga pada mendiang ayahnya saat adik bungsunya mengirimkan pesan suara atas permintaan Bella tepat sebelum adiknya ini melangsungkan prosesi ijab kabul.
“Suka gitu deh, Kakak paling kalem,” balas Nasima sambil mengelus perut Zamina yang mulai membuncit, ia terlihat sangat gemas dengan perut ibu hamil.
Bella merangkul pundak ibundanya lalu berbisik, “Seneng gak, anak Mama ternyata bisa ngumpul semua hari ini?”
“Kalian mulai suka main rahasia-rahasiaan sama Mama, ya?” ujar mama Oryz dengan mata berbinar. Siapa sih yang tidak suka jika anggota keluarganya bisa berkumpul, apalagi saat mereka merayakan hari bahagia berturut-turut seperti sekarang? Sebab tak hanya kehamilan Zamina, tapi kini semua putrinya sudah menikah dan ada yang menjaga meskipun jalan jodoh keempat Valerian bersaudari sangatlah tak terduga dengan proses yang mendebarkan sekaligus mengejutkan. Jika Bella menikah setelah kepergok tidur bersama saat dia menenangkan diri maka Nasima menikah sehabis melakukan serangkaian adegan laga untuk mencari bukti. Lain lagi dengan si kakak tertua, Humira, yang menikah ketika ia sedang mengasingkan diri. Sampai Zamina yang mengubah status lajangnya waktu mencoba melarikan diri.
Kebahagiaan yang datang dengan cara tak terduga bagi keluarga Valerian. Bagaimana tak bahagia bila ternyata kini keluarga Valerian juga bisa berbesanan dengan keluarga Cokroatmojo? Keluarga konglomerat dari Jawa yang konon masih termasuk kerabat jauh Keraton. Namun, bukan soal latar belakang keluarga yang membuat kakek, nenek, termasuk ibunda Abella tampak sebahagia ini. Bagi keluarga kecil Alano Valerian yang terkenal dengan kewibawaan dan kebijaksanaannya, pangkat dan latar belakang keluarga akan sia-sia jika tak berhasil mendidik para ahli waris yang cakap dan beradab serta taat pada ajaran agama. Terbukti dengan keberhasilan ketiga ahli waris Cokroatmojo Group yang sudah membuktikan jika mereka bisa dikenal dan diakui berkat potensi yang ada dalam diri mereka, hasil kerja keras mereka sendiri. Sekarang para tetua di keluarga Abella bisa bernapas lega karena mereka sangat yakin jika para cucu menantu mereka tak akan membiarkan keempat harta yang berharga kebanggaan mendiang Amadeo Valerian hidup dalam ketakutan karena rongrongan siapa pun termasuk dari anggota kerabat Valerian sendiri.