Semudah ini aku membuka hati saat seseorang yang tak pernah kuduga akhirnya benar-benar datang seperti doa yang tanpa sadar pernah kupanjatkan. Mungkin waktu itu aku berdoa dengan sangat khusyuk atau memang ini sudah saatnya, seumpama ini adalah sebuah jawaban manis buah dari kepasrahanku selama ini? Entahlah, yang jelas jika Sang Pencipta sudah berkehendak maka apa yang mustahil akan menjadi mungkin dalam sekedip mata.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Hardinata Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
Seolah menyadari jika Bella sudah tak nyaman dengan rasa lengket di tubuhnya, si Pria Blasteran bergegas keluar setelah mengganti bathrobenya dengan kaos oblong katun berwarna putih dan celana linen selutut berwarna khaki. Bella sempat dibuat tak berkedip selama beberapa detik sebelum dia berdehem lalu mengatakan jika ia akan bergegas mandi sementara si pria blasteran menghabiskan hidangan darurat yang sudah Bella masak sebelum minum obat demam.
Bella langsung mengunci pintu toilet sebelum bersandar sambil memegangi kedua pipinya, pantulan wajahnya di cermin wastafel menunjukkan jika wajah Bella semakin merona, “Astaghfirullah, itu kaosnya Nonno kok jadi slim fit gitu di badan dia? Ya, emang sih itu kaos harusnya buat daleman kemeja soalnya tadi dia ngeluh badannya panas karena demam, tapi gue yakin ukuran badan Nonno gak secungkring itu buat ukuran orang Eropa deh. Emangnya dia keturunan Indonesia blasteran apa sih? Surga kali, ya? Kayaknya iya deh. Astaghfirullah! Gak bener nih otak gue, kudu buru-buru keramas biar gak bablas mikirin yang ehem-ehem!” racau Bella sambil membebaskan diri dari outer sekaligus two piece bikininya. Hidung mancung Bella tak sengaja mengendus aroma dari bathrobe putih yang masih menggantung di dekat keranjang kedap air saat dia memasukkan pakaian kotornya, “Astaga! Dia pakai sampo spesial gue juga? Berarti tadi dia mandi dong, bukan cuma seka badan doang?! Ah, bodo amat. Gak mungkin juga gue sampai bikin perhitungan cuman soal sampo doang, yang penting buruan mandi karena gue gak mau ketularan sakit. Jangan sampai gue masuk angin soalnya di Itali gak ada yang jual jamu anti masuk angin.”
Bella langsung meraih sampo berbahan dan aroma khusus yang bisa digunakan sebagai sampo dan sabun sekaligus, lalu mulai mencuci rambut ikal brunette miliknya yang diwariskan dari sang ayahanda. Sebenarnya dia sudah memisahkan botol berbentuk unik di tangannya dari deretan sabun dan sampo cair yang ada di atas meja wastafel, sebab benda yang satu ini baru saja dikirimkan oleh sang sahabat rasa saudara Farahdiba Lanaya Aryasatya yang sedang berkolaborasi dengan salah satu sahabat baru mereka Phoebe Amaya Levanchois, istri dari multimilioner idaman para wanita.
Tak berselang lama Abella sudah keluar berbalut jubah mandi warna zamrud favoritnya. Sebenarnya dia tak berencana menggunakannya, hanya saja si Pria Blasteran Surga sudah lebih dulu menggunakan jubah mandi warna putih yang memang tersedia di tumpukkan rak handuk. Bella mengernyit saat melihat pria yang ditolongnya duduk sambil menunduk. Dia berjalan pelan, ‘Masa sih dia ketiduran sambil duduk? Kesian amat kalau sampai dia pegel linu,’ pikir Bella yang tanpa sadar sudah duduk di samping si Pria Blasteran Surga.
“Eh, udah selesai mandi?” tegur si Pria Blasteran Surga dengan senyum menawannya saat menyadari ada seseorang yang sedang duduk di sampingnya.
Abella mengerjap beberapa kali sambil mengangguk dengan bibir kelu, ‘Rasanya kayak dialog pengantin baru aja kalau dia yang ngomong pakai ekspresi begini. Haduh, Rasheika! Lo bisa gak sih jangan senorak ini? Hati lo boleh aja udah gak berpenghuni lama, tapi jangan jadi j****y juga. Ih amit-amit, lo bisa diketawain semua sodara lo kalau mereka tahu!’ pekik Bella dalam hati.
“Ehem, kok belum dihabisin supnya? Ntar keburu dingin lho,” ujar Bella mencoba mengawali topik pembicaraan.
Si Pria Blasteran Surga mengulum senyum dengan sorot mata lekat memandangi wajah jelita Bella, “Kita belum kenalan dengan benar. Aku Ev- ehem, Hardinata. Panggil aja Hardin.”
“Oh, iya. Aku Abella, panggil aja Bella. Jadi, kenapa masakanku gak dihabisin? Gak sesuai sama lidah kamu, ya? Eh, ngomong-ngomong gak masalah kan kalau aku ngomongnya informal gini sama kamu?” tanya Bella sedikit ragu, dia tak ingin dianggap sok kenal, sok dekat tentu saja.
“No problem, begini malah lebih bagus. Malah aku seneng banget kalau malaikat penyelamatku gak menganggapku orang asing. Makasih ya, Belle. Udah nyelametin aku. Terus kalau soal masakanmu, aku yakin rasanya pasti enak seandainya aja lidahku bisa ngerasain rasa gurihnya. Dari aromanya aja aku pasti bakal rela makan ini doang seumur hidup,” ujar Hardin dengan suara baritonnya di akhiri tawa. Gaya bicara Hardin yang lembut, cara Hardin memberinya panggilan, mengucapkan terima kasih dengan sorot mata hangatnya, sampai suara tawa renyahnya. Semuanya mengalun lembut dan masuk dengan sopan ke telinga Bella.
“Bisa aja kamu, Hardin. Ntar yang ada aku dianggap nyiksa anak orang kalau ngasih makan pakai menu yang sama seumur hidup. Jangan sampai kalimatmu barusan bikin pelánggan restoranku kabur,” dengus Bella tak sadar setengah merajuk karena merasa diremehkan.
“Wow, kamu chef? Punya restoran di Portofino juga?”
“Emm, belum sih. One day aku pasti bakal bikin resto di sini. Buat sekarang, aku lebih suka menikmati suasananya yang hangat sambil rebahan. Oh iya, tadi kenapa kamu tiba-tiba terjun bebas menjelang siang gitu? Kekurangan air bersih di kapalmu apa gimana?” pancing Bella sambil mengusap rambutnya dari tetesan air menggunakan handuk kecil.
“Well, sebenernya itu salah satu trik kotor di dunia bisnis sih. Terlalu panjang dan membosankan kalau kita bicarakan soal itu. Ntar kamu bisa ketiduran di sofa ini lagi, mana tega aku lihat malaikat penyelamatku meringkuk di sofa sepanjang malam. Kalau masuk angin yang ada aku jadi susah nyariin obatnya,” canda Hardin lagi sambil menggaruk pipi kanannya yang tak gatal dengan ujung telunjuk, sebab ini pertama kalinya dia sangat lancar melontarkan candaan di depan lawan jenis tanpa ia sadari sebelumnya.
Ekspresi terkejut Bella saat mendengar Hardin sudah dicelakai mendadak menjadi ekspresi terkejut karena tak percaya dengan kalimat candaan Hardin. Seolah Hardin menganggap Bella tak akan paham tentang dunia bisnis yang sebenarnya bukan hal asing pula untuknya, “Ish! Aku gak nyangka ternyata kamu bisa juga ngeselin di balik ekspresi sepolos ini. Kalau gitu kamu aja yang tidur di sofa ini sepanjang malam selama aku ngasih kamu tumpangan sampai kita sampai di pelabuhan besok!” sungut Bella lalu beranjak masuk ke toilet untuk mengeringkan handuk kecil yang sudah menyerap semua air dari rarmbut ikal sepunggungnya. Ia segera menyalakan sistem penghangat di toilet agar ruangan kecil itu tak lembap dan semua kain setengah basah yang menggantung di dalamnya bisa segera kering, “Huft! Bisa-bisanya dia nyepelein gue kayak gue gak bakalan paham sama urusan bisnis aja. Meskipun cara bicaranya gak sengeselin beberapa sepupu cowok gue, tapi tetep aja mindset menyepelekan peran wanita itu harusnya dibabat habis. Dikira cuman para pria aja yang bisa nyebur di dunia bisnis yang kejam?!” omel Bella tanpa sadar di depan cermin wastafel, seolah benda mati di depannya bisa merespon segala ucapan dan rasa kesalnya. Cukup lama Bella memuntahkan uneg-unegnya tentang kesetaraan gender dan hal-hal berbau feminisme sampai ia sontak terdiam, “Astaghfirullah, gue ngapain marah-marah gak jelas sendirian di sini?! Percuma juga ngoceh sendiri, bagus dari tadi gue lurusin aja sama dia biar pikirannya terbuka. Tuh, ‘kan! Dia bikin gue lupa buat ganti baju. Salah dia nih yang nyolek-nyolek macan tidur, tapi dia ‘kan juga belum tahu kalau gue gak cuman koki biasa? Ah, kenapa gue jadi kepengen membuktikan diri dan membuka identitas gue segampang ini di depan dia sih? Dia gak seistimewa itu sampai bisa bikin kamu baper, Rasheika! Inget, jangan mudah berempati sama orang asing! Belajar dong dari pengalaman semua saudarimu!”
Setelah mengatur emosinya, Bella memutuskan untuk keluar dari toilet dan mengambil baju gantinya yang tertinggal. Rencananya dia akan pasang mode cool saja sampai si Blasteran Surga dia turunkan di pelabuhan besok pagi. Sekarang lebih baik dia memulihkan tenaga dan rasa syoknya karena tadi sempat pingsan. Ah, benar juga! Dia jadi mengeluarkan sisi empati berlebihan karena sempat melihat nyawa Hardin nyaris tak terselamatkan. Rupanya rasa traumanya masih belum hilang juga.
Bella keluar toilet dengan sikap acuh, dia berjalan melewati Hardin tanpa bermaksud melihatnya. Jangankan melihat, berniat meliriknya pun tidak ada dalam benak Bella. Saat ia hampir menjangkau area penyimpanan, entah mengapa dia mulai merasa curiga. Hardin tak menunjukkan reaksi apa pun, bahkan dia terlihat meringkuk di sofa yang menjadi terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya. Awalnya Bella mengira Hardin sudah tertidur, tapi gerakan dari pundak Hardin mengisyaratkan jika pria bertubuh tinggi besar ini sedang tak baik-baik saja. Melupakan niatan untuk mengambil baju gantinya, Bella pun setengah berlari menghampiri si Blasteran Surga, “Hey, Hardin. Kau kenapa? Bagaimana bisa kau semakin menggigil seperti ini?!” tanya Bella panik saat menyadari tubuh pria yang beberapa jam lalu baru dia selamatkan dari laut sedang menggigil kedinginan. Dia mencoba memeriksa suhu tubuh pria yang kini giginya bergemelatuk.
Saat Bella menyentuh dahi pria di depannya, suhu tubuh Hardin sangat dingin. Padahal dia ingat sudah menyalakan sistem penghangat di dalam kabinnya. Apa pemanas ruangannya bermasalah, tapi tadi di toilet masih terasa hangat? Sepertinya benar jika Hardin bukan terserang demam, tapi hipotermia. Ya ampun! Dugaan mereka berdua ternyata salah. Bella menarik tangannya dan hendak beranjak mengambil termometer untuk memastikan kondisi tubuh Hardin, tapi tangan Hardin menahan pergerakannya, “Ja-ngan per-gi,” ucap Hardin terbata. Suara serak dengan gigi bergemelatuk yang semakin terdengar kencang membuat Bella tidak tega membiarkan Hardin tetap meringkuk di atas sofa, ia berinisiatif mengajak Hardin untuk pindah ke ranjang agar Bella bisa membungkus tubuh Hardin dengan quilt tebal.
Dengan sebelah tangan Bella membentangkan quilt warna light grey untuk menutupi tubuh tegap Hardin, “Iya, oke. Aku gak akan ke mana-mana, sekarang tidurlah.” Bella menggosok-gosok lengan pria yang sekarang sedang menggenggam erat tangannya. Jika ia lebih tanggap untuk memeriksa suhu tubuh Hardin sejak tadi, pasti dia tidak akan memberinya kaos setipis ini dan celana pendek itu juga. Dia pasti akan memastikan Hardin menghabiskan sup dan cokelat panas yang sekarang pasti sudah menjadi dingin di atas meja.
Saat Bella mencondongkan tubuhnya untuk membetulkan letak ujung quilt yang tertekuk, pria bernama Evano Hardinata ini menggeliat pelan hingga tubuh bagian atas mereka menempel. Kepala Hardin terus menyelusup di ceruk leher Bella, dahinya menggesek pelan seakan mencari sumber panas di sekitarnya.
Duh! Bella bingung antara mengganti jubah mandinya sekarang juga sebelum dia ikut terkena hipotermia atau merelakan suhu tubuh alaminya menyelamatkan pria yang ada di depannya? Oh, benar! Suhu tubuh alami. Dia mengingat perkataan Hwanhee tentang pertolongan pertama dalam kondisi darurat. Dokter Patologi Klinis itu selalu tak lupa memberikan mereka kuliah singkat yang bisa membantu pasien mendapatkan pertolongan pertama sebelum bantuan medis datang.
Tangan Bella menyelusup di balik kaos Hardin agar kehangatan dari telapak tangannya bisa langsung terserap oleh kulit punggung Hardin. Memastikan agar Hardin tidak sampai kehilangan kesadaran sekaligus menjaga agar organ vitalnya tetap aman, ‘Ya Allah, ampuni hamba. Ini murni demi kemanusiaan. Lindungi kami berdua dari gangguan buruk dan selamatkan pria ini, Ya Allah.’ Bella memanjatkan doa, dia benar-benar ketakutan saat ini. Dia tidak siap mental jika harus melihat seseorang berada di antara hidup dan mati sekali lagi seperti sekarang. Kepala Bella semakin pusing, bayangan dari kejadian-kejadian menakutkan yang pernah dan baru saja terjadi terulang kembali di pelupuk matanya.
“Nggak, nggak. Dia bakalan baik-baik aja, Sheika! Dia pasti akan selamat. Sebentar lagi suhu tubuhnya pasti akan kembali normal dan kamu bisa bawa kapal ini ke pelabuhan secepatnya. Pasti bisa!” Bella memeluk tubuh pria bergerak kecil, berusaha semakin mendekat ke arahnya. Mereka berbaring di bawah selimut tebal dengan tangan Bella yang terus menggosok punggung Hardin sambil terus berdoa untuk membuang semua pikiran buruk termasuk ketakutannya.
Sementara Hardin berusaha menggosokkan jemari kakinya di punggung kaki hangat milik Bella. Pria itu menggeliat pelan hingga membuat tubuh mereka semakin menempel. Sampai tanpa sadar ....