Karena Raksa tidak pernah memainkan game pakai komputer, dokter Fikar mengajarinya. Sebenarnya tidak berbeda seperti ketika Raksa main game pakai ponsel. Keduanya kemudian menghabiskan waktu untuk penyesuaian dan mulai bermain dalam satu tim. Hampir larut malam, Raksa pun sudah mulai lelah, jadi dia lebih dulu meninggalkan layar komputer dan naik ke atas tempat tidur. Menatap langit-langit ruangan kamar dokter Fikar. Menyenangkan, saat akhirnya terbaring di tempat berbeda. Tempat tidur yang luas dan juga ruangan yang beraroma khas pria. Berbeda dengan ruangan rawatnya, meskipun beraroma segar, bukan aroma obat-obatan seperti di ruangan lain di Rumah Sakit pada umumnya, tetap saja berbeda dengan kamar di sebuah rumah. "Argh, sial!" Dokter Fikar mengumpat karena kalah main, dia memberesk

