Rehan sampai di sekolah. Hari ini dia berangkat sendirian. Qila sudah pergi duluan. Dia tak sempat mengantar anak itu karena tadi pagi dia ada kerjaan. Jadi tadi pagi Qila diantar sama ojek online.
Rehan melihat jam tangannya. Ternyata 5 menit lagi rapat akan segera dimulai. Dia buru-buru melepas helmnya. Sebelum beranjak dia merapikan rambutnya dulu, bercermin di spion. Semoga aja gak ada yang ngeliat deh. Rambut sudah rapi dia pun cepat berlari menuju ke tempat rapat yang akan diadakan. Tetapi dia tidak tahu tempatnya dimana. Dia pun berkeliling mencarinya. 10 menitan dia berkeliling akhirnya dia nemu juga tempat rapatnya.
Rehan mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Dia pun dipersiapkan masuk. Ketika di dalam dia memerhatikan orang-orang dan hanya tinggal satu kursi yang kosong. Siapa sangka kursi kosong itu bersebelahan dengan Zahra. Ya Allah, dia beruntung banget hari ini bisa duduk di dekat wanita yang dia kagumi.
Rehan beranjak ke kursi kosong itu. Sebelum duduk di menyapa Zahra dengan senyumnya. Dia mendaratkan bokongnya tanpa memudarkan senyumnya.
Rapat pun dimulai. Selama rapat Rehan diam-diam melihat Zahra sambil senyum-senyum. Zahra terlihat lebih cantik hari ini. Auranya semakin bertambah. Duduk di samping wanita itu aja dia bisa merasakan nyaman banget walaupun duduk mereka berjarak sekitar 1 meteran. Cukup jauh karena menjaga protokol kesehatan. Maklum kasus corona masih ada. Jadi harus jaga jarak. Akan tetapi, sudah tidak separah setahun lalu karena sekarang sudah dibebaskan untuk tidak menggunakan masker.
Jantung Rehan tak aman di dekat Zahra. Jantungnya deg-degan terus. Padahal dia tidak menginginkan rasa suka ini karena Zahra sudah jadi milik orang. Suka sama istri orang itu bukanlah hal yang patut dibanggakan. Namun, entah kenapa Allah memberikan rasa suka ini? Pasti ada sebabnya tapi dia tidak tahu apa. Masih dalam rahasia Allah SWT.
Rapat selesai. Zahra keluar duluan dari ruangan. Rehan cepat menyusul wanita itu. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengan Zahra. Akan tetapi bukan dengan niat buruk. Dia hanya ingin menjalin perteman dengan Zahra. Siapa tahu mereka bisa jadi teman baik.
“Zahra,” panggil Rehan.
Zahra menoleh ke belakang. Dia pun melihat Rehan yang senyum padanya. Dia balaslah senyum itu.
Rehan berlari menghampiri Zahra. “Kamu langsung mau pulang?” tanyanya basa-basi.
Zahra menggeleng.
"Mau langsung nunggu Zidan pulang?"
"Iya, Mas," jawab Zahra dengan pandangan tertunduk. Dia tidak mau saling pandang memandang sama Rehan.
“Oh ya, tadi aku dengar bu guru bilang hari ini anak-anak akan pulang lebih awal. Jadi kalau pulang lagi terus datang lagi ke sini nanti boros bensin ya.”
Zahra tertawa kecil. “Iya, Mas.”
“Jadi… kamu mau nunggu dimana?”
“Ehmm, di kantin aja kayanya.”
“Sama, aku juga kepikiran di sana. Ya udah, kita jalan bareng aja ke sana.”
Zahra megangguk setuju.
“Yes,” ucap Rehan dalam hati.
"Kamu jalan duluan aja, Mas. Aku di belakang aja," pinta Zahra.
"Oke."
Rehan jalan duluan menuju ke kantin. Dia sengaja jalan pelan-pelan agar jaraknya dengan Zahra tidak terlalu jauh. Sampai di kantin Rehan memilih meja yang berbeda. Dia tidak enak jika harus semeja dengan Zahra. Dia tahu hukumnya dekat-dekat dengan istri orang itu tidak boleh. Meskipun dia sangat ingin bisa duduk dekatan dengan Zahra tapi dia menjaga nafsunya itu. Duduk di meja berbeda pun dia masih dapat melihat Zahra. Dia sudah bersyukur bisa melihat wanita itu.
Rehan beranjak memesan makanan dan minuman. Sekalian dia memesankan untuk Zahra. Dia diam-diam tanpa memberitahu wanita itu. Ketika pesanan datang dia melihat Zahra keheranan karena wanita itu merasa tidak memesan apapun, tapi kenapa dia malah dihidangkan minuman dan makanan oleh karyawan kantin ini.
“Maaf Mbak, saya tidak memesan apapun,” ucap Zahra pada karyawan kantin.
"Bapak itu yang pesankan untuk ibu." Karyawan kantin menunjuk Rehan.
“Aku yang pesan,” ucap Rehan ke Zahra.
“Tapi Mas…” Zahra tidak enak pada Rehan. Mereka baru kenal tapi kenapa pria itu telalu baik padanya.
“Gapapa, aku niat baik mau traktir kamu.”
“Ya Allah Mas, kamu nggak perlu ngelakuin itu.”
“Gapapa, anggap aja aku teman kamu yang mau traktir kamu.”
Zahra menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Seharusnya Rehan tidak usah berlebihan padanya. Bukan apa-apa. Dia tidak mau dekat dengan pria manapun selain suaminya. Nanti menimbulkan fitnah.
“Bunda!” teriak Zidan. Dia menghampiri Zahra. Dia mencium punggung tangan wanita itu lalu duduk di samping bundanya.
“Kamu udah selesai sekolahnya?” tanya Zahra.
“Sudah.”
“Cepet banget.”
“Hari ini kan, hari jum’at. Jadi pulangnya lebih awal.”
“Tapi biasanya enggak seawal ini. Tadi bu guru juga bilang anak-anak pulangnya jam 11 tapi ini baru setengah 11."
“Iya, soalnya hari ini guru pada sibuk jadi pulangnya lebih awal. Oh ya, Bunda lagi makan apa itu?”
“Ini bakso, kamu mau?”
Zidan menggelengkan kepalanya. Dia tidak doyan bakso. Dia geli sama benda bulat kenyal itu.
“Zidan, Qila mana?” tanya Rehan.
Zidan menoleh ke meja sebelah. “Eh Om, Om ada di sini juga?”
“Enggak, Om gak ada di sini.”
“Loh, terus ini siapa?” Zidan menunjuk Rehan.
Rehan tertawa. “Ya Om, lah.”
“Qila masih di kelas Om, dia tadi dipanggil sama bu guru.”
“Ehm gitu.”
“Om kok bisa sama bunda aku di sini? Kalian janjian yaaa?” Zidan cekikikan menggoda bundanya.
Zahra dan Rehan saling pandang-pandangan. Mereka jadi malu.
“Ayah!” teriak Qila. Dia berlari dan langsung memeluk Rehan.
“Gadis cantik ayah kok lama, darimana aja?”
Qila duduk di hadapan ayahnya. “Itu tadi bu guru ada perlu sama aku.”
“Bu guru ngomong apa sama kamu?”
“Dia suruh aku ikut lomba nyanyi.”
Rehan tertawa. “Memangnya kamu pintar nyanyi?”
“Ih ayah, jangan remehin aku. Aku bisa nyanyi kok.”
“Mana bisa, suara kamu jelek,” ejek Zidan.
“Ah, kamu jahat banget.” Qila jadi kesal.
“Zidan, nggak boleh gitu,” tegur Zahra.
“Aku becanda doang kok.” Zidan menghampiri Qila. “Maaf ya.” Dia mengulurkan tangan meminta maaf pada temannya itu.
Qila tersenyum. Dia menjabat tangan Zidan. “Janji jangan ejek aku lagi ya.”
“Ehm,” balas Zidan sambil mengangguk.
Rehan dan Zahra tersenyum melihat anak-anak mereka. Qila dan Zidan terlihat menggemaskan.
“Kalian kenapa senyum-senyum melihat kami?” tanya Qila.
Zahra cepat menundukkan pandangannya.
“Apa karena kami anak-anak yang lucu?” tanya Zidan.
“Iya, kalian membuat kami gemas,” jawab Rehan.
Rehan mengusap kepala Zidan. “Kamu anak yang baik dan pintar,” pujinya.
Zidan mengangkat kedua sudut bibirnya. Dia senang sekali ketika ayah Qila mengusap kepalanya. Dia tidak pernah digituin sama papahnya. Rasanya dia sangat iri pada Qila karena Qila memiliki ayah yang perhatian dan penyayang. Andai aja papahnya seperhatian ayah Qila.
“Makasih ya Om,” ucap Zidan.
“Makasih untuk apa?”
“Makasih udah usap kepala aku. Aku nggak pernah digituin sama papah. Aku senang banget Om mengusap kepala aku.”
“Zidan,” tegur Zahra. Seharusnya Zidan tidak perlu menceritakan itu pada Rehan karena Rehan jadi tahu sikap suaminya yang kurang perhatian pada anak.
Zidan menghampiri bundanya. “Maaf Bun…”
“Lain kali jangan ngomong kaya gitu ya. Setiap orang tua berbeda-beda cara menyayangi anaknya. Papah nggak gituin Zidan karena papah punya cara lain untuk menunjukkan perhatiannya,” nasehat Zahra.
“Iya Bun, maaf ya. Zidan nggak ada maksud jelekin papah…”
“Gapapa, maklum anak-anak. Dia tidak begitu mengerti.” Rehan tersenyum seolah dia tidak terlalu mimikirkan soal perkataan Zidan tadi. Namun, sebenarnya dia sangat peduli. Dia jadi tahu bahwa benar perkataan putrinya jika papah Zidan kurang perhatian pada Zidan. Dia jadi prihatin pada anak itu.
***
El dan orang tuanya tiba di Surabaya. Ketika El mengambil ponselnya untuk menghubungi Zahra, tapi Miranda menghentikannya.
“Mau ngapain kamu?” tanya Miranda.
“Aku mau kasih tau Zahra bahwa kalian akan ke rumah.”
“Tidak usah.”
“Kenapa?”
“Kami akan kasih kejutan untuk dia.” Dirgantara yang menjawab.
El menghela napas gusar. Dia berusaha tenang. Sebenarnya dia bukan ingin mengabarkan bahwa kedua orang tuanya akan datang. Namun, dia ingin memperingatkan Zahra untuk tutup mulut. Jangan sampai berani mengadu pada orang tuanya tentang sikapnya yang selama ini tidak baik pada wanita itu.
Mereka bertiga menaiki taksi. Selama perjalanan El sangat bimbang. Dia begitu gelisah. Dia sangat takut Zahra akan mengadu pada orang tuanya. Dia cemas Zahra akan menceritakan semuanya pada mamah dan papahnya.
“El, kamu kenapa? Gelisah banget kayanya?” tanya Miranda.
“Aku gapapa,” jawab El.
“Kamu kaya orang ketakutan,” ucap Dirgantara yang curiga sejak tadi pada putranya itu.
“Aku gapapa,” balas El.
“Kamu menyembunyian sesuatu dari kami ya,” duga Dirgantara.
“Enggak.”
“Udah Pah, mungkin dia kebelet pipis kali tapi malu bilangnya.” Miranda mencoba mencairkan suasana.
“Apaan sih, Mamah pikir aku anak kecil.”
Miranda tertawa.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di kediaman Zahra. Miranda, Dirgantara, dan El keluar dari taksi. Miranda menghirup udara segar. Banyak pepohonan yang tumbuh di sekeliling rumah menantunya. Setiap kali ke sini dia merasa sedang berada di Vila. Suasananya adem banget. Menyejukkan seperti sedang berada di pedesaan. Mungkin ini alasan menantunya tidak ingin pindah di Jakarta.
“Kira-kira istri kamu ada di rumah, gak?” tanya Dirgantara.
“Seharusnya sih ada,” jawab El.
El jalan duluan. Kedua orang tuanya berjalan di belakangnya. Sampai di pintu utama dia membunyikan bel. Tak selang waktu lama Zahra pun membuka pintu dan wanita itu kaget melihat suaminya yang datang bersama mertuanya.
“Mas…” ucap Zahra. Dia tidak sangka suaminya akan pulang secepat ini.
“Mah, Pah.” Zahra bersalaman pada kedua mertuanya.
“Ya Allah, mamah kangen banget sama kamu.” Miranda memeluk Zahra dan mencium pipi menantunya itu.
“El, kamu nggak peluk istri kamu?” tanya Miranda.
Supaya orang tuanya tidak curiga, dia pun memeluk Zahra dengan kaku karena pelukan paksaan. Zahra merasa senang dapat pelukan dari suami. Dia pun membalas pelukan El.
“Gak dicium istrinya?” tanya Dirgantara.
El menghela napas. Dia pun mencium puncak kepala Zahra.
Zahra tersenyum simpul. Dia senang jika ada mertuanya, El akan bersikap baik dengannya. Meskipun suaminya itu hanya berpura-pura.
Dirgantara dan Miranda tersenyum melihat putranya dan menantunya yang tampak serasi.
“Ayo Pah, Mah,” ajak Zahra.
Mereka masuk kedalam rumah.
“Zidan, ayo sini! Lihat siapa yang datang!” panggil Zahra.
Zidan yang di ruang tengah pun berlari mendatangi bundanya. Ketika sampai di ruang tamu dia terkejut sampai mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O ketika melihat nenek dan kakeknya. Dia takjub karena sudah lama tidak bertemu nenek-kakeknya.
“Kayanya dia kangen banget sama kita,” ucap Dirgantara.
Miranda menghampiri Zidan. “Ya Allah cucu nenek udah besar.” Dia memeluk Zidan. Anak kecil itu ikut memeluknya dengan sangat erat.
“Aku kangen banget sama nenek.”
“Nenek juga kangen sama kamu, Sayang.” Miranda melepaskan pelukannya. Zidan langsung lari menghampiri Dirgantara. Anak itu memeluk Dirgantara.
“Kakek…” Zidan memeluk erat Dirgantara.
Dirgantara menggendong cucunya dan mencium pipi anak kecil yang tampan itu. Melihat Zidan mengingatkannya pada El waktu masih kecil.
El dan Zahra saling melirik. El beranjak membawa masuk barang-barang milik orang tuanya. Zahra ikut membantu pria itu. Ketika hanya mereka berdua El menghentikan langkahnya. Dia memegang pergelangan tangan Zahra dan membawa Zahra ke tempat sepi.
“Ingat ya, awas kalau kamu berani ngomong macam-macam sama orang tua saya.”
Zahra melepaskan tangan El yang memegang tangannya. “Kamu tenang aja, Mas.” Dia lalu pergi.
El beranjak. Dia tidak menyusul Zahra tapi pergi menemui orang tuanya. Dia melihat orang tuanya di ruang tengah. Dia pun ke sana. Dia ikut nimbrung bersama mereka. Dia hanya duduk memerhatikan Zidan yang di pangkuan Dirgantara. Dia lihat papahnya sangat menyayangi Zidan. Dia jadi teringat masa kecilnya. Dulu dia juga sering duduk di pangkuan papahnya. Pria itu dulu sangat dekat dengannya. Namun, berjalannya waktu dia jadi jauh dengan pria itu. Mereka seperti 2 orang asing. Mereka jadi sedingin es.
Zahra datang dengan membawa minuman. Dia menyuguhkan teh hangat untuk mertua dan juga suaminya. Kemudian dia duduk di samping suaminya. Dia menoleh memandangi pria itu sambil melempar senyuman. Dia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya. Mertuanya harus melihat bahwa mereka pasangan yang romantis.
Miranda yang melihat Zahra menggenggam tangan El membuatnya tersenyum senang. Dia lega melihat pasangan itu yang tampak lebih baik dari sebelumnya. Melihat senyum Zahra membuatnya yakin jika hubungan El dan Zahra semakin baik. Syukurlah.
“Kek, aku mau duduk dekat bunda dan papah,” ujar Zidan yang turun dari pangkuan Dirgantara.
Dirgantara mengangguk.
Zidan duduk di tengah-tengah orang tuanya. Dia melihat ke bundanya. “Bunda, apa kakek dan nenek akan tinggal di sini?” tanyanya.
“Iya, kami akan tinggal di sini,” jawab Miranda.
“Beneran Bun?” tanya Zidan pada Zahra.
“Iya, Sayang,” jawab Zahra.
“Horeee!”
“Nenek punya hadiah loh untuk Zidan,” ujar Miranda. “Mau liat gak?”
“Bunda boleh gak?” Zidan tanya dulu ke Zahra.
“Iya boleh.”
Zidan menghampiri neneknya. Dia meraih tangan Miranda. “Ayo Nek, aku mau liat.”
“Oke, ayok.” Miranda membawa Zidan pergi.
Sekarang tinggal Dirgantara bersama El dan Zahra. Zahra menundukkan pandangannya ketika Dirgantara memandanginya.
“Gimana kalian?” tanya Dirgantara sambil menatap El.
“Papah bisa lihat sendiri aku dan Zahra baik-baik aja,” jawab El.
Dirgantara melarikan pandangannya pada Zahra. “Gimana, Zah?” tanyanya pada menantunya itu.
“Kami baik-baik aja, Pah,” jawab Zahra tanpa mengangkat pandangannya.
“Kenapa ya, saya merasa kurang yakin,” ucap Dirgantara sambil melipat tangannya di atas d**a. “Saya kurang percaya sama jawaban kamu Zahra. Maaf ya Zah, Papah bukan menuduh kamu berbohong. Papah cuma curiga sama ni anak.” Dirgantara menunjuk El.
“Maksud papah apa? Papah nuduh aku ngancam Zahra?!”
Dirgantara berdiri. Dia beranjak menghampiri putranya. “Papah tidak menuduh, tapi Papah bisa melihat cara tatapan kamu memandangi istri kamu.” Dirgantara melarikan pandangannya pada Zahra. “Jujur sama Papah Zah, apa El bersikap baik sama kamu selama ini?”
El menunggu jawaban Zahra. Dia harap wanita itu tidak membocorkan semuanya.
Zahra menghela napas panjang. Dia lalu mengangkat pandangannya sambil tersenyum pada mertuanya. Dia pun menggenggam tangan suaminya. “Pah, El baik kok sama aku.” Dia memandai suaminya dan tersenyum pada pria itu. “Dia selalu perhatian. Walaupun dia sibuk dia selalu menempatkan waktu untuk aku dan Zidan. Dia sering pulang ke sini. Kami memang pasangan yang menikah bukan atas dasar cinta. Tapi selama ini El sudah berusaha belajar menerima aku sebagai istrinya. Dia sudah menjalakan perannya sebagai suami dengan baik.”
El lega mendengar jawaban Zahra walaupun menurutnya wanita itu berlebihan.
Dirgantara masih kurang yakin. Tidak semudah itu untuknya percaya. Selagi ada El di sini sulit mengetahui Zahra berbohong atau tidak. “Okee, kalau begitu. Jadi, Papah nggak perlu khawatir lagi. Papah senang jika kalian sudah hidup rukun. Berarti boleh dong kalau Papah minta kalian nambah momongan?”
“Loh, kok jadi masalah anak?” tanya El yang keberatan. Jelas dia sangat keberatan.
“Kenapa emangnya, El? Kamu keberatan?”
El memandangi Zahra. Gara-gara wanita itu papahnya jadi meminta cucu baru. Jelas dia tidak menginginkan anak lagi. Satu saja sudah nambah beban apalagi 2.
“Papah rasa Zidan sudah cukup besar, dia sudah boleh punya adik. Kamu setujukan, Zahra?” tanya Dirgantara pada menantuanya.
Zahra bingung mau jawab apa sehingga dia hanya diam sambil memandangi suaminya. Dia sih mau tapi suaminya jelas tidak.
“Papah jangan ngelunjak. Susuai perjanjian awal, papah hanya ingin seorang cucu dan aku sudah mengabulkan permintaan itu. Jadi kenapa harus ada permintaan baru lagi?”
Dirgantara tersenyum miring. “Ketebakkan sekarang, kamu itu masih belum bisa menerima Zahra. Kalau kamu sudah nerima dia sebagai istri kamu pasti tidak keberatan."
“Ini gak ada hubungannya dengan aku yang sudah menerima Zahra atau belum. Tapi ini soal papah yang semakin memojokkan aku!” Nada bicara El mulai meninggi.
Zahra menggengam tangan suaminya. Dia tidak ingin pria itu kelepasan sehingga masalah semakin besar. “Mas, tenang.”
El menepis tangan Zahra. “Diam kamu!” Dia berdiri di hadapan papahnya. “Cukup ya pah! Aku sudah melakukan semua yang papah mau! Biarkan aku menjalankan hidup aku sesuai yang aku mau! Aku sudah dewasa! Dan aku berhak atas keputusanku bukan atas dasar kekangan Papah!” tekan El lalu dia beranjak dengan rasa kesal yang meluap-luap.
***