Qila mempererat pelukannya pada sang ayah dan menyenderkan kepalanya di punggung ayahnya. Memeluk pria itu membuatnya merasa sangat nyaman. Hanya ayah yang dia miliki. Pria yang dia peluk ini satu-satunya manusia yang paling berharga baginya. “Ayah, bunda Zidan cantik ya,” ucapnya.
Rehan memperlambat motornya agar percakapannya dengan sang anak tidak terganggu dengan suara bising mesin motornya. “Iya, Sayang.” Putrinya benar, wanita itu memang sangat cantik. Tidak hanya di wajah tapi wanita itu juga cantik akhlaknya. Tutur katanya sopan dan lembut. Cara bicaranya sungguh membuat candu. Andai dia bisa berbicara banyak dengan wanita itu. Di dekat Zahra dia merasa sangat nyaman. Aura wanita itu sungguh positif sekali.
“Ayah…”
“Apa, Sayang?”
“Aku kangen mamah…”
Rehan terdiam. Mengingat mantan istrinya hatinya merasa sakit. Wanita di masa lalunya itu sangat melukainya. Sampai-sampai setiap kali putrinya membahas wanita itu dia merasa sakit hati.
“Ayah, kenapa ya mamah nggak mau ketemu aku?”
“Mamah mungkin terlalu sibuk,” jawab Rehan. Jelas itu bukanlah alasan yang benar. Dia hanya tak ingin putrinya bersedih jika mengatakan yang sebenarnya.
“Bukan, tapi mamah memang ninggalin kita.”
Rehan menggenggam tangan putrinya yang melingkar di pinggangnya. “Kan, masih ada ayah.” Tanpa dia kasih tahu alasan yang sebenarnya pun tampaknya sang anak sudah tahu. Mantan istrinya itu memang sungguh keterlaluan padahal Qila anak kandungnya. Namun, tak sekalipun wanita itu perduli pada putri mereka. Sejak kecil sampai saat ini tidak pernah mengunjungi anak mereka. Sekedar tanya kabar pun tidak ada sama sekali. Mereka benar-benar lost contack.
“Tapi rasanya beda. Aku juga pengen punya mamah yang sayang sama aku.” Qila meneteskan air matanya tanpa sang ayah tahu. Setiap hari dia selalu merasa sedih. Dia merasa kesepian. Dia ingin merasakan pelukan ibu dan tidur ditemani sang ibu. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Setiap malam dia selalu menangisi dirinya yang merasa menyedihkan karena tidak memiliki ibu yang menyayanginya.
“Maafin Ayah ya Sayang, Ayah belum bisa memberikan ibu yang baik untuk kamu.” Rehan merasa sangat bersalah. Dia dulu sudah berusaha untuk mempertahakan pernikahannya dengan mantan istrinya. Demi anak mereka. Tetapi perjuangannya sia-sia. Dia tetap tidak dihargai. Terus mengalah dan mencoba sabar tapi dia akhirnya tidak tahan dan berakhir perceraian.
“Gapapa Ayah, aku hanya kangen mamah. Aku nggak menyalahkan ayah.”
“Kamu pasti kesepian ya, Ayah janji akan jadi Ayah yang terbaik. Ayah juga akan jadi ibu untuk kamu.”
“Ayah sudah menjadi ayah yang baik. Aku sangat berterima kasih.” Qila lebih mempererat pegangannya pada pinggang Rehan.
“Terimak kasih juga, Sayang.”
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah. Qila langsung ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Rehan duduk di ruang tengah. Istirahat. Dia merasa cukup lelah habis bekerja dan langsung menjemput putrinya yang sekolahnya itu jauh dan tak searah dengan tempat kerjanya.
“Ternyata namanya Zahra.” Rehan tersenyum sambil mengingat pertemuannya dengan Zahra. Hatinya berbuang-bunga membayangkan wanita itu. Apa jangan-jangan dia jatuh cinta pula pada Zahra.
Apa? Dia jatuh cinta pada wanita itu?
Oh gawat.
“Gak, gak, aku tidak boleh suka pada istri orang.”
“Apa pula aku ini, kenapa jadi mencintai wanita yang sudah dimiliki laki-laki lain.”
“Astagfirullah. Ini tidak baik. Aku tidak boleh menaruh perasaan seperti ini. Tidak boleh.”
“Ayah ngomong sama siapa?” tanya Qila sambil menghampiri Rehan.
“Ah, enggak,” bantah Rehan cepat.
“Sejak kapan dia di sini, jangan-jangan dia mendengar semua yang aku katakan,” batin Rehan. Dia jadi keringat dingin dibuat putrinya. Semoga anak itu tidak tahu.
Qila duduk di samping ayahnya. “Ayah lagi suka sama cewek ya? Cieee.”
“Gak ada kok.”
“Jangan-jangan Ayah suka sama bundanya Zidan.” Qila cekikikan menertawakan ayahnya yang kelihatan salah tingkah.
Wajah Rehan memerah.
“Ihh Ayah suka sama bundanya Zidan,” olok gadis kecil itu.
“Gak ada, kamu jangan fitnah yaa.”
“Wajah Ayah merah. Cieee Ayah naksir bundanya Zidan. Aku bilangin Zidan nanti ya.”
“Eh jangan!”
“Tuh kan, bener Ayah suka sama bundanya Zidan.”
“Gak ada!” Raut wajah Rehan menjadi dingin.
“Ayah, jangan marah.” Qila merayu ayahnya itu sampai Rehan kembali tersenyum.
“Kalau Ayah suka sama bundanya Zidan aku nggak marah kok. Bundanya Zidan memang cantik dan baik. Sholehah pula, cocoklah sama Ayah yang sholeh.” Qila menahan tawanya.
Rehan jadi senyum-senyum tapi setelah itu wajahnya jadi serius. “Tapi Zidan itu punya papah. Kita tidak boleh mengambil sesuatu yang sudah ada pemiliknya.”
Qila menghela napas panjang. “Iya sih, tapi…”
“Gak ada tapi-tapian. Jika pun seandainya Ayah suka sama bundanya Zidan, Ayah hanya akan menjadi pengagumnya dalam diam. Ayah tidak akan merusak kebahagian seseorang hanya karena keegoisan ayah.”
“Tapi papahnya Zidan itu bukan orang baik,” ketus Qila.
“Ih gak boleh ngomong kaya gitu ya, gak sopan.”
“Ayah, papah Zidan itu sering pergi-pergi. Papahnya jarang pulang dan Zidan pernah cerita kalau papahnya gak perhatian sama dia. Jadi lebih baik Ayah aja yang jadi papahnya Zidan.”
Rehan mencerna perkataan putrinya sebelum membalas ucapan anaknya itu. “Apapun masalahnya merebut sesuatu dari pemiliknya itu bukanlah tindakan yang benar.”
Qila menunduk sedih. “Bukannya ayah pernah bilang kita wajib menolong seseorang yang sedang mengalami kesusahan. Zidan butuh papah yang baik. Dia butuh bantuan kita.”
Rehan mengelus kepala putrinya. “Kita tidak boleh ikut campur dalam masalah orang lain. Bisa jadi papah Zidan sibuk sehingga tidak ada waktu luang bersama keluarganya. Kita tidak tau masalah yang terjadi, jadi tidak boleh menyimpulkan bahwa seseorang itu jahat.”
“Tapi Ayah....”
Rehan merangkul Qila. “Ayah bilang tidak boleh berarti tidak boleh, paham gadis Ayah?”
“Iya, paham.” Qila melepaskan rangkulan Rehan. Dia berdiri menghadap ayahnya. “Ayah, tadi ibu guru bilang besok ada pertemuan orang tua. Ayah bisa datang?”
Rehan tersenyum lebar. Jika besok ada pertemuan orang tua berarti dia bisa bertemu Zahra kembali. “Yes,” ucapnya girang.
“Ayah… Ayah kenapa?” tanya Qila heran melihat tingkah aneh ayahnya.
“Ah, gapapa.”
“Ehmm, Ayah senang ya karena bisa ketemu bundanya Zidan?” Qila menoleh hidung Rehan. “Hayo, Ayah mau ngapain sama bundanya Zidan?”
Rehan cepat menggelengkan kepalanya.
Qila memeluk ayahnya itu. “Kalau Ayah jatuh cinta jangan sampai lupa sama aku ya,” pintanya.
Rehan mengusap rambut panjang putrinya. “Ayah nggak jatuh cinta sama siapapun. Saat ini cukup kamu dan ayah aja.”
Qila cemberut. “Ayah harus beri aku mamah. Aku mau ayah menikah lagi.”
“Ehh, siapa yang ngajarin kamu ngomong begitu?”
“Ibu guru.”
“Loh kok?”
“Ibu guru bilang Ayah ganteng, jadi sayang kalau nggak menikah sampai tua. Nanti nggak ada yang ngurusin Ayah katanya.”
“Kan, ada kamu.”
Qila menggeng.
“Kamu nggak mau ngurusin Ayah? Kamu mau jadi anak durhaka?”
“Aku akan menikah dan aku akan mengurus suami dan anak-anak aku. Jadi ayah diurusin sama istri ayah aja ya.”
Rehan tertawa.
“Ayah, aku serius.”
“Ya udah, iya. Nanti Ayah akan cari mamah untuk kamu. Tapi bantu doanya ya.”
“Siap, Bos!” balas Qila sambil memberi hormat.
***
El yang duduk di kursi meja makan sedang memperhatikan kekasihnya yang duduk di sofa. Wanita itu sedang nonton dan sudah lama mendiamkannya. Namun, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah pamannya ternyata tahu rahasianya dan besok kepulangan orang tuanya. Maka dia sangat takut pamannya membeberkan soal Ara kepada papa dan mamanya. Dia pusing sekali memikirkannya. Dia bingung harus bagaimana jika pamannya membeberkan rahasiannya itu. Dia belum siap jika kehilangan semuanya. Bagaimana jika dia tidak punya apa-apa lagi. Gimana dia bisa menghidupi kekasihnya. Tidak mungkin dia membiarkan Ara kembali menjadi wanita malam. Dan bagaimana jika orang tuanya menginginkan dia menjauhi Ara. Memaksanya meninggalkan wanita itu dan pergi jauh. Bisa saja dia dikirim ke luar negeri dan hidup di sana selamanya. Dia pasti tidak bisa menolak karena tidak punya apapun untuk bisa melarikan diri.
El menghampiri kekasihnya. Dia duduk di samping wanita itu.
“Kamu nggak lapar? Aku sudah siapkan makanan untuk kamu.”
“Gak,” tolak Ara.
“Ya udah, aku nggak akan maksa kamu.” El menggenggam tangan kekasihnya itu. Dia juga menyederkan kepalanya di pundak sang pacar. “Mulai besok aku akan pulang ke rumah. Aku nggak bisa nemani kamu lagi karena orang tua aku sudah pulang. Aku harus bersama mereka untuk bebeberapa waktu. Aku janji akan tetap main ke sini tapi nggak bisa 24 jam sama kamu terus. Kamu izinkan, kan?”
“Gak aku beri izin kamu juga akan tetap pergi,” jawab Ara ketus.
El mempererat genggamannya. “Tapi aku akan tetap temuin kamu.”
“Bohong! Kamu itu gak pernah datang ke sini jika orang tua kamu ada. Palingan kamu ngajak ketemuan sebentar di luar, lalu sekedar kirim pesan dan nelfon aku. Itupun kalau kamu sempat! Kamu nggak ada waktu buat aku kalau ada mereka!”
“Sayang, aku kan udah pernah jelasin ke kamu alasannya apa. Aku mohon pengertian kamu. Lagian nggak akan lama. Palingan mereka pulangnya sebentar terus pergi lagi.”
“Aku bosan dengan alasan yang sama! Sekali-kali jika mereka pulang jangan sembunyiin aku dari mereka, tapi temuin aku sama mereka, kenalin aku ke papa-mama kamu, agar mereka itu tau kalau aku ini pacar kamu!”
El membisu. Dia beranjak pergi. Dia meninggalkan kekasihnya dan masuk kedalam kamar.
“Apa dia marah? Seharusnya yang marah itu aku, bukan malah dia,” gumam Ara. Dia bangkit dan pergi menemui kekasihnya. Sampai di kamar dia melihat El yang sedang memasukkan pakaian kedalam koper.
“Kamu benar-benar nggak mau nemuin aku ke orang tua kamu?” tanyanya.
El menarik napas kasar. “Aku bukannya nggak mau, aku nggak bisa.”
“Terus sampai kapan El?!”
El memegang pundak Ara tapi wanita itu menepis tangannya.
“Jangan sentuh aku!” tekan Ara.
“Oke, jika memang kamu maksa aku untuk memperkenalkan kamu ke orang tua aku. Tapi sebelum itu terjadi, aku ingin tahu jawaban kamu. Memangnya kamu siap kehilangan aku?”
Ara diam_berpikir.
“Aku bisa saja dikirim ke luar negeri untuk jauh dari kamu. Kamu mau itu terjadi?”
Mata Ara berkaca-kaca. Apa sesulit itu untuk dia mendapatkan El seutuhnya? Kenapa hubungan mereka begitu sulit. Kenapa hubungan mereka seperti kutukan?
“Sekarang kamu paham kan, kenapa aku nggak mau nemuin kamu ke mereka.”
Ara terdiam mematung.
El memeluk wanita itu sambil mengusap punggungnya. “Aku janji akan menikahi kamu. Tapi aku nggak janji orang tua aku akan menerima kamu. Tunggu aku bisa mendapatkan apa hak aku, maka kita akan bisa bersama selamanya tanpa takut lagi ketahuan oleh keluarga aku.”
Ara meneteskan air matanya. Dia ingin menikah namun bukan pernikahan tanpa restu orang tua. Dia ingin punya keluarga. Punya mertua yang bisa menjadi orang tuanya. Namun, apa yang dia impikan sepertinya sangat sulit bahkan mungkin tidak pernah tercapai selamanya.
Ponsel El yang terletak di meja tiba-tiba berdering. El melepaskan pelukannya. “Sebentar ya.” Dia beranjak mengambil ponselnya. Dia melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu mamahnya.
“Sayang, aku nerima telfon dulu.” Dia beranjak keluar kamar.
“Siapa yang nelfon kamu malam-malam begini?” tanya Ara yang merasa cemburu.
El yang diambang pintu berhenti melangkah. Dia menoleh memandangi kekasihnya. “Mama aku.”
El melanjutkan langkahnya. Dia keluar apartemen. Dia menuntup pintu rapat dan menerima telfon mamahnya setelah dia sudah berada di luar. Dia takut percakapannya dengan mamanya terdengar oleh kekasihnya.
“Kenapa, Mah?” tanya El dengan nada ketus.
“Kamu ini nggak sopan banget sama orang tua. Saya ini mamah kamu loh. Tanya apa kabar dulu kek, ini langsung nanya kenapa,” omel mamah El di balik telfon.
“Aishh,” desis EL kesal sambil menjauhkan ponselnya agar mamahnya yang cerewet itu tidak mendengar keluhannya.
“Besok jemput mamah dan papah, ya. Jangan lupa.”
“Iya.”
“Kamu dimana sekarang?”
“Kenapa memangnya?”
“Jawab aja dimana kamu sekarang.”
“Aku lagi di kantor.”
“Ngapain kamu di kantor jam segini? Kamu bohongin mamah ya?”
“Ada pekerjaan yang belum aku selesaikan.”
“Mamah mau besok kamu jemput mamah bareng Zahra.”
“Tap—”
“Apa? Jangan bilang kamu nggak sama istri kamu ya.”
“Aku lagi di Jakarta, Mah.”
“Terus kamu ninggalin Zahra gitu di Surabaya?”
“Ya mau gimana. Aku nggak bisa bawa dia. Aku ada kerjaan di sini dan dia di sana harus mengurus Zidan. Dia nggak mungkin aku bawa karena Zidan harus sekolah.”
“Mamah kan, pernah bilang. Sebaiknya kamu itu bawa Zahra dan Zidan ke Jakarta. Kalian itu pindah aja di Jakarta. Kasihankan, anak dan istri kamu pisah dari kamu.”
“Mamah lupa, Zahra kan yang minta tinggal di Surabaya. Dia nggak mau tinggal di Jakarta. Ya aku, nurutin kemauan dia. Dia nyaman di Surabaya dibandingkan di sini.”
“Ya udah, kalau gitu besok mamah dan papah akan pergi ke Surabaya. Kami akan ke rumah kalian.”
El menjauhkan ponselnya. “Sialan,” makinya.
“Kamu nggak keberatan, kan?”
“Terserah,” jawab El malas. Tentu dia sangat keberatan. Jika orang tuanya ke Surabaya berarti dia tidak akan bisa kemana-mana. Dia akan di rumah terus. Ah, s**t. Dia akan menghabiskan banyak waktu bersama orang-orang yang menyebalkan. Belum lagi dia harus berakthing di depan orang tuanya. Dia harus pura-pura baik pada Zahra dan seolah bahagia menjalankan pernikahannya dengan wanita itu. Dia juga akan mengawasi Zahra. Jangan sampai wanita itu mengadu pada orang tuanya.
“Mamah kangen sama menantu mamah dan cucu mamah.”
“Kalau nggak ada yang mau mamah omongkan lagi, aku mau tutup telfonnya.”
“Kamu ini buru-buru banget. Mamah kan, masih kangen sama kamu.”
“Besok kita kan, ketemu. Aku mau lanjut kerja lagi.”
El mengakhiri panggilan. Dia membuka pintu dan terkejut ketika melihat kekasihnya yang berdiri di hadapannya.
“Se—se—jak kapan kamu di sini?” tanyanya gugup.
“Sejak tadi,” jawab Ara.
“Kamu dengar obrolan aku dan mamah?”
Ara berkacak pinggang. “Wajah kamu kenapa jadi pucat?”
El memegang wajahnya. “A—a—aku tiba-tiba kurang enak badan.”
“Boleh aku liat ponsel kamu?” tanya Ara sambil memicingkan matanya memandang ponsel yang di genggaman El.
El memberikan ponselnya pada wanita itu.
Ara mengeceknya. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Dia pun mengembalikannya pada El.
“Kalian membicarakan apa?” tanya Ara penasaran.
El bernapas lega. Untung kekasihnya tidak mendengar percakapannya dengan mamahnya. “Tidak terlalu penting. Mamah Cuma mengingatkan aku kalau besok aku harus jemput dia di Bandara.”
“Hanya itu?”
El meraih wajah kekasihnya. Memberikan belaian di pipi wanita itu. “Iya sayang, hanya itu.”
“Ohh ya udah.” Ara beranjak pergi.
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau makan, laper.”
“Biar aku temani.” El menyusul kekasihnya.
***