Selesai makan Dirgantara dan Miranda pamit kepada Arga dan keluarganya. Mereka pamitan untuk berangkat ke Surabaya. Sedangkan El tidak pamitan pada siapapun. Dia hanya melihat orang tuanya yang pada pamitan. Dirgantara dan Miranda masuk mobil duluan. Sebelum El menyusul pamannya tiba-tiba menarik tangannya. Langkahnya jadi terhenti.
“Jaga Zahra dengan baik. Jangan sampai kamu kehilangan wanita baik itu,” pesan Arga pada El.
El melepaskan tangan Arga yang memegang pegelangannya. Dia tidak menanggapi pamannya. Dia buru-buru masuk kedalam mobil. Mereka pun berangkat ke Bandara diantar oleh supir.
“Mamah gak sabar ketemu Zidan,” ucap Miranda.
“Dia pasti sudah besar,” tambahnya. Sudah cukup lama dia tidak menemui cucunya. Dia sangat rindu. Dia pun banyak menyiapkan hadiah untuk cucunya itu.
“Gimana Zidan di sekolah, El?” tanya Miranda.
“Baik,” jawab El yang duduk di depan bersama supir.
“Hanya baik?” tanya Dirgantara.
“Dia pintar di sekolah,” jawab El malas. Dia tak tahu bagaimana perkembangan putranya. Dia jawab asal saja daripada tidak memberikan jawaban yang akan berujung dicurigai orang tuanya.
“Pak, apa anak ini sering pulang ke rumah?” tanya Dirgantara pada supirnya. Dia curiga pada putranya. Kayanya El tidak tahu menahu soal anaknya. Terbukti tadi di meja makan. El bahkan tak tahu usia anaknya sendiri. Bukankah itu keterlaluan.
Supir menoleh memandang anak majikannya. Dia takut salah jawab sehingga tuan muda akan memecatnya. “Jarang Pak.”
“Jarang?”
“Iya, Pak. Den El jarang di rumah. Dia sering berpergian, mungkin pulang ke Surabaya.”
El tersenyum mendengar jawaban itu dari supir pribadi papahnya. Syukur supir itu ada dipihaknya.
“Kamu tidak membohongi saya, kan?” tanya Dirgantara.
Supir memberi gelengan kepala. “Tidak Pak, mana berani saya bohongi Bapak.”
“Oh ya El, hubungan kamu dan Zahra baik aja, kan?” tanya Miranda.
“Menurut mamah?” El balik bertanya.
“Harusnya sih baik. Kamu dan dia hampir 8 tahun menikah, harusnya sih kalian baik-baik saja. Permasalahannya kan, ada di kamu.”
“Kamu jangan bikin ulah. Papah mau hubungan kamu dan Zahra tidak ada masalah apapun. Papah nggak urus kamu sudah cinta atau tidak sama dia. Yang terpenting kamu tidak bertindak ceroboh sehingga kehilangan dia,” tambah Dirgantara.
El kepal tangannya. Papahnya benar-benar tidak memikirkannya. Sudah tahu dia tidak mencintai wanita itu, tapi kenapa pernikahannya seolah harus terus dipertahankan. Kenapa hanya Zahra yang mereka pedulikan sedangkan anak sendiri tidak diperdulikan. Rasanya sakit sekali diperlakukan seperti ini oleh orang tua sendiri. Snagat tak adil.
“Iya, itu benar,” sahut Miranda.
El diam saja dan melarikan pandangannya pada kaca jendela mobil. Kenapa sih orang-orang hanya peduli pada wanita itu? Kenapa tidak ada yang peduli dengan perasaannya? Kenapa tidak ada yang bertanya apakah dia bahagia dengan pernikahannya selama ini? Kenapa tidak ada yang tanya betapa beratnya dia menjalankan hidupnya? Kenapa tidak ada yang tanya dia baik-baik saja atau tidak selama ini? Tidak ada pula yang bertanya siapa sebenarnya wanita yang dia cintai? Kenapa? Apa dia tidak begitu penting, kah?
Orang-orang hanya peduli pada orang lain ketimbang keluarganya sendiri. Dia juga ingin diperhatikan. Walalupun dia bukan anak kecil lagi tapi dia juga perlu support sistem dari keluarga. Namun, tak satupun keluarganya yang memihaknya. Semua lebih memikirkan perempuan yang bahkan baru menjadi bagian dari keluarga mereka.
Miranda memperhatikan putranya. Sebagai seorang ibu dia punya kontak batin dengan anaknya itu. Dia bisa merasakan bahwa anaknya itu tidak baik-baik saja. Namun, dia tidak berada di pihak putranya. Dia tidak ingin El salah langkah. Menurutnya Zahra adalah wanita yang tepat untuk pria itu. Zahra wanita yang baik dan tulus. Jarang mendapatkan menantu seperti Zahra di jaman sekarang ini. Bukannya dia tidak memikirkan perasaan El tapi sebagai orang tua tentu sudah mempertibangkan segalanya. Dia hanya berharap El bisa membuka hati untuk wanita itu.
“El, are you oke?” tanya Miranda.
El menoleh memandang mamahnya. Pertanyaan itu baru pertama kali dia dengar dari mamahnya. Apa wanita itu peduli dengan perasaannya saat ini. Namun, jika peduli kenapa masih memintannya bertahan di sisi wanita yang tidak dia cintai?
“Dia akan baik-baik saja,” ucap Dirgantara.
Belum sempat El jawab. Pria itu malah menjawabnya. Hal macam ini yang dia tidak suka dari papahnya. Pria itu sangat tidak peduli dengannya. Sangat memaksanya, tidak memikirkan perasaannya. Seolah paling tahu soal dirinya. Seolah semua terasa mudah bagi pria itu.
“Kita juga perlu tahu perasaan El,” ujar Miranda.
“Kalau kita mendengarkan dia. Aku yakin bukan Zahra yang dia mau.”
“Iya, tapi kita juga harus memikirkan perasaan El.”
“Memangnya dia memikirkan perasaan kita? Dia itu menuruti kemaun kita hanya demi uang. Coba aja kita tidak menjanjikan apapun sama dia, pasti dia tidak akan mau menikahi Zahra.”
“Pah… jangan bicara seperti itu. El sudah berusaha. Mamah yakin dia sudah menerima Zahra. Iya kan, El?”
El menghela napas gusar. “Pak tolong turunkan saya,” pinta El pada supirnya. Kupingnya panas mendengar obrolan orang tuanya. Terutama papahnya.
“Tapi Den?”
“El, kamu tetap di sini. Maaf atas perkataan papah kamu,” pinta Miranda.
“Kalian tenang aja. Aku tidak akan meninggalkan Zahra,” ucap El.
Miranda tersenyum. “Tuh, papah dengar sendiri, kan.”
Dirgantara tidak menanggapi. Dia diam. Tetapi, dia tidak memercayai putranya itu. El bisa saja membohongi mamahnya tapi tidak dengan dirinya.
30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di Bandara. Sampai bandara mereka menunggu selama setengah jam sebelum penerbangan. Mereka menghabiskan waktu bersama sambil menunggu. Dirgantara banyak bicara pada istrinya. Sedangkan El hanya memerhatikan pasangan yang tampak bahagia itu. Dia melihat papahnya yang sangat perhatian pada mamahnya. Pria itu merangkul mamahnya dan mengusap lembut kepala wanita itu. Papahnya terlihat sangat bahagia dengan mamahnya. Mungkin pasangan itu menikah atas dasar cinta yang begitu besar. Meski sudah tua tetapi tetap saja masih romantis. Namun, melihat kemesraan pasangan itu membuatnya jadi bertanya-tanya. Jika mereka mengerti tentang rasa cinta, kenapa mereka memaksanya menikah tanpa dasar cinta? Bukankah mereka mengerti cinta itu rasa yang sangat diperlukan dalam ikatan pernikahan?
Dirgantara sadar putranya yang duduk di hadapannya memerhatikannya sejak tadi. “Ada yang salah dengan kami?” tanyanya.
El mengalihkan pandangannya. Bersikap tidak acuh.
Dirgantara menghampiri putranya. Dia duduk di samping anak itu sambil menepuk pundak El.
El menoleh memandang Dirgantara. Mereka saling tatapan mata.
“Papah tau kamu pasti bertanya-tanya kenapa papah selalu memaksa kamu untuk melakukan apa yang papah mau.”
“Terus kenapa masih papah lakukan?”
Dirgantara menepuk paha El. “Kamu akan menemukan jawabannya ketika kamu membuka mata kamu bahwa Zahra wanita yang tepat untuk kamu.”
“Papah tidak pernah memikirkan perasaan aku. Papah manusia yang egois. Papah mudah bicara seperti itu tanpa tau apa yang aku rasakan.”
Dirgantara tersenyum mendengar ucapan putra sulungnya itu. Dia tertawa dalam hati. Putranya itu tahu apa tentang dirinya. Dia begitu banyak melewati masalah. Apa anak itu berpikir hidupnya semudah itu hingga bisa sampai dititik ini.
“El, tolong jaga bicara kamu ketika bicara dengan papah. Papah itu orang tua kamu. Kamu bisa seperti sekarang karena berkat papah kamu,” tegur Miranda.
“Gapapa Mah,” ucap Dirgantara. Dia kembali duduk di samping istrinya.
Peringatan penerbangan ke Surabaya terdengar. Dirgantara dan Miranda segera bersiap begitupun dengan El. Ketika mereka sudah di dalam pesawat El duduk di kursi belakang mamah dan papahnya. Dia kembali melihat kemesraan orang tuanya. Dirgantara merangkul kembali mamahnya dan mengusap kepala mamahnya. Kedua orang itu juga berbincang entah tentang apa. Dia tidak begitu mendengar percakapan mereka karena orang-orang di pesawat juga sedang bicara. Jadi perbincangan orang tuanya hanya terdengar samar.
“Pah, menurut papah apa El baik-baik aja?” tanya Miranda bersisik di telinga suaminya.
“Dia akan baik-baik aja,” jawab Dirgantara.
“Sudah hampir 8 tahun berlalu, mamah udah gak pernah liat senyum El lagi. Apa kita memberikan beban yang berat untuk dia?”
“Kita lakukan untuk kebaikan dia. Nanti juga dia akan ngerti.”
“Mamah kasihan sama dia, Pah.”
“Gapapa. Wajar seorang ibu mengakhwatirkan anaknya.”
“Papah ih… maksud mamah itu bukan kaya gitu.”
“Papah paham kok, Mah. Maksud papah mamah nggak perlu cemas. Kita sudah melakukan yang terbaik, kita serahkan saja pada yang Maha Kuasa. Pilihan kita sudah tepat. Zahra wanita terpilih menjadi menantu kita. Dia memang dari keluarga yang sederhana tapi baiknya luar biasa. Bukan tanpa alasan papah menjodohkan dia dengan gadis desa. Justru papah tahu seperti apa orang tua Zahra yang hebat mendidik anaknya. Mereka memang kurang dalam ekonomi tapi mereka tidak pernah lepas dari tanggungjawab. Mereka orang-orang baik yang tidak sengaja papah temui dan papah tidak mau kehilangan orang baik seperti itu. Maka papah jodohkan El dengan anak mereka. Meskipun mungkin saja orang tua Zahra ataupun Zahra berpikir papah bukan orang baik. Tapi gapapa. Papah gak perlu penilaian manusia. Allah tahu niat papah dan itu sudah lebih dari cukup. Gapapa papah dibenci anak sendiri. Terpenting papah sudah menjalakan tugas sebagai orang tua dengan baik.”
“Ahh papah buat mamah makin kagum aja,” ucap Miranda sambil menyenderkan kepalanya di pundak suami.
***