11. Caleb Gunn

1127 Kata
"Evander sudah sadar dari komanya?"tanya Rosabella. Caleb mengangguk dan Rosabella merasa senang mendengar kabar itu. "Evander mengatakan aku bisa bertemu dengan kalian di sini, tapi ketika aku tiba di sini, aku ditangkap oleh pedagang b***k dan mengurungku selama sebulan." "Kenapa Evander menyuruhmu datang ke sini?"tanya Rosabella. "Untuk meminta bantuan kalian." "Bantuan apa?" "Untuk mencari salinan formula Paradium. Sebelum Evander diserang oleh The Black Skulls, ia pernah datang ke sini untuk menyembunyikan salinan formula itu, karena Evander merasakan dirinya dalam bahaya, jika The Black Skulls memaksanya membocorkan rahasia membuat Paradium. Evander kemudian menulis salinan formula membuat cairan Paradium supaya jika ia meninggal, salah satu anggota The Valkryies bisa membuatnya, tapi sayangnya...." "Apa?"tanya Rosabella tidak sabaran. "The Black Skulls tahu tentang salinan formula itu dan tahu kemana Evander menyimpan salinan itu." "Bagaimana mereka bisa tahu?"tanya Arthur. "Dari asistennya." "Mikhail Twiner?" "Iya. Ternyata Mikhail adalah mata-mata The Black Skulls." "Aku tidak percaya ini. Aku tidak menyangka Mikhail adalah salah satu anggota The Black Skulls." "Kami juga tidak mempercayainya. Kami semua sudah tertipu. Mikhail sangat pandai menutupi identitasnya. Kami merasa sudah dibohongi olehnya. Tidak hanya itu saja Mikhail yang sudah diam-diam menyuplai Paradium kepada mereka selama bertahun-tahun." Rosabella menutup mulutnya tidak ingin mempercayai semua ini. Ia merasa sedih. Mikhail yang sudah ia anggap sebagai ayahnya adalah seorang mata-mata The Black Skulls. "Sekarang aku mengerti mengapa The Black Skulls bisa memiliki Paradium padahal sebelumnya mereka tidak memilikinya. Ternyata Paradium itu dari Mikhail. Kita seperti orang bodoh yang mudah di tipu." Rosabella merasa sangat geram. Ia tidak akan pernah memaafkan Mikhail yang sudah membuat orang-orang di sekelilingnya menderita. "Itu sudah menjelaskan semuanya kenapa The Black Skulls berada di sini," kata Arthur. "Di mana Evander menyimpan salinan itu?"tanya Rosabella. "Evander memberikannya kepada seorang wanita." "Siapa?" "Alexandra Mauriel Boswell, Duchess of Windshire." Seketika wajah Rosabella dan Arthur menjadi sangat pucat. *** Bernard yang mengetahui kejadian di pasar tentang penyerangan terhadap Rosabella segera pergi ke kantor polisi di mana pria itu di penjara. Wajah pria itu banyak luka lebam dan masih tidak sadarkan diri dan ia melihat tato tengkorak hitam di tangannya. Bernard menunggu pria itu sadar di ruangan lain, tapi sayangnya lagi-lagi pria itu meninggal, karena minum racun. Mulutnya mengeluarkan busa dan nyawanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Bernard terlihat sangat kesal. Ia tidak mengerti kenapa pria itu bisa memiliki racun dan ia melihat ada gelas yang berisi air di nampan kecil. "Siapa yang sudah memberinya minum?"tanya Bernard kepada salah satu polisi. Tidak ada satu pun polisi yang tahu. Bernard yakin salah satu dari mereka adalah pelakunya. The Black Skulls sudah menyusupkan mata-mata di kepolisian London. *** "Alexandra," teriak Arthur. "Benar. Itu yang dikatakan oleh Evander." "Aku tidak percaya ini," kata Rosabella. "Apa kalian kenal dengan Alexandra?"tanya Caleb. Rosabella dan Arthur mengangguk bersamaan. "Alexandra adalah istri dari Adriel Boswell. Dia tinggal di kastil Boswell. Keluarga Boswell adalah tetanggaku. Kamu bisa melihat kastilnya dari sini,"kata Arthur. Caleb berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia bisa melihat dengan jelas kastil yang dimaksud oleh Arthur. Ia memandang tajam lurus ke depan. "Salinan formula itu ada di sana. Kita harus mengambilnya." "Aku tidak tahu apa kita bisa mengambilnya atau tidak," kata Rosabella. "Apa maksudnya?" "Alexandra Boswell sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu." "Apaa?" "Kita tidak akan pernah tahu di mana Alexandra menyimpannya. Hanya dia yang tahu, "kata Rosabella. Tubuh Caleb menjadi lemas dan ia kembali duduk. "Jika kita tidak bisa menemukannya dan jatuh ke tangan yang salah itu bisa berbahaya." "Kami tahu. Aku rasa the Black Skulls sudah mencari salinan formula itu pada Alexandra," kata Arthur. "Apa mereka mendapatkannya?"tanya Caleb. "Tidak. Aku rasa mereka belum mendapatkannya termasuk cairan Paradium yang hilang di sini." "Maksud kakek, alasan Alexandra dibunuh oleh The Black Skulls adalah karena salinan formula itu?" "Iya. Selama ini kakek tidak tahu alasan apa mereka membunuhnya. Sekarang kita sudah mendapatkan jawabannya." "Apakah Adriel tahu tentang hal ini?" "Kakek rasa dia tidak tahu apa-apa." "Aku tidak mengerti bagaimana Alexandra dan Evander saling mengenal,"kata Rosabella. "Itulah yang menjadi pertanyaan kakek sekarang. Ada hubungan apa diantara mereka berdua." "Evander Allen adalah salah satu pendiri The Valkryies dan asal usulnya pun tidak ada yang tahu. Siapa dia dan asalnya dari mana tidak ada seorang pun yang tahu," kata Caleb. "Kamu benar. Evander terlalu misterius. Meskipun aku dan dia sudah lama saling kenal, ia tidak pernah bicara tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya,"kata Rosabella. "Caleb, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan lagi kepadamu. Bagaimana kamu bisa sampai ke sini?" "Evander yang memberikanku cairan Paradiumnya yang terakhir kepadaku. Ternyata ia masih menyimpan satu. Ia belum bisa membuatnya lagi, karena kondisi kesehatannya yang belum pulih dan kami juga sepakat untuk merahasiakan bahwa Evander telah sadar dari komanya dari The Black Skulls. Aku harap kalian merahasiakannya juga." Arthur mengangguk mengerti. "Kami akan merahasiakannya juga. Benar kan, Rosabella?" "Benar." "Selama kamu berada di sini, tinggalah di sini,"kata Arthur. "Baik dan terima kasih." Cahaya di luar mulai meredup. Langit telah berubah warna menjadi lembayung senja. Cahaya perlahan-lahan ditelan oleh kegelapan. Pandangan mata Arthur menerawang jauh ke luar jendela di mana kastil Boswell berada. *** Adriel merasa sangat puas mendapatkan beberapa b***k yang ia beli dari pasar untuk bekerja di peternakannya. Ia mengantarkan b***k-b***k yang baru dibelinya ke pondok-pondok untuk beristirahat dan makan, lalu ia kembali ke kastilnya dan menyerahkan kudanya ke penjaga istal. Sesampainya di dalam kastil, ia terkejut melihat Marcus Sullivan, Earl of Merlonbury sedang berbicara dengan ibunya. Pria itu terlihat lebih muda dan segar dari terakhir ia berjumpa dengannya di pesta dansa. "Adriel, kamu sudah pulang?"tanya ibunya. "Aku baru saja pulang. Marcus, ini suatu kejutan anda datang ke sini." "Aku sedang ada urusan di sekitar sini, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi kalian. Bagaimana kabarmu?" "Baik. Terima kasih." "Aku juga baik, jika kamu ingin menanyakan kabarku." Adriel tersenyum. "Aku senang Anda berkunjung lagi ke sini. " "Aku juga. Beberapa Minggu ini aku sangat sibuk mengurus beberapa bisnisku ditambah pesta season yang diadakan di estatku." "Aku mengerti." "Ibu sudah mengundang Marcus untuk makan malam bersama kita." "Tentu saja ini sangat menyenangkan, jika Marcus bersedia makan malam bersama kami." "Aku menerima undangan kalian." "Terima kasih. Aku akan ke kamar dulu untuk mengganti pakaian. Silahkan kalian berdua melanjutkan pembicaraan kalian." Adriel meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Ia melihat pintu kamarnya sedikit terbuka dan terkejut melihat kamarnya yang berantakan seperti ada pencuri yang baru saja masuk ke kamarnya. Semua pakaiannya dikeluarkan dari lemari dan meja rias milik Alexandra isinya juga dikeluarkan semua. Adriel memeriksa jendela kamarnya dan melihat ke bawah berharap melihat pencuri yang baru saja masuk ke kamarnya. Ia membunyikan lonceng memanggil pelayannya. Seorang pelayan pria terkejut melihat keadaan kamar Adriel. "My Lord, apa yang terjadi?" "Aku tidak tahu. Apa sebelumnya ada seseorang masuk ke dalam kamarku?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN