"Baiklah. Katakan padaku salinan formula apa yang sudah disimpan istriku?"
"Salinan formula paradium."
"Formula apa itu?"
"Aku tidak tahu detailnya, tapi salinan formula itu sangat berharga untuk membuat sesuatu. Pimpinan kami ingin menukar Ibumu dan salinan itu."
"Tapi aku tidak tahu di mana Alexandra menyimpannya."
"Sebaiknya Anda mencarinya di kamar Anda,"kata Bernard.
"Apa kamu tahu tentang hal ini?"
"Maaf. Saya tidak tahu,"jawab Bernard berbohong. Sebenarnya ia tahu pasti apa yang sedang dicari oleh pimpinan The Black Skulls, tapi Bernard tidak bisa memberitahu Adriel saat ini.
"Jika pimpinanmu menginginkan salinan formula itu, kenapa dia tidak menghubungiku?"tanya Adriel.
"Siapa sebenarnya pimpinan kalian?"tanya Bernard.
Jeremy meminum air yang ada di sampingnya dan pria itu nampak kehausan dan tidak lama dari mulut Jeremy keluar busa dan tubuhnya kejang-kejang. Adriel terkejut dan berdiri.
"Mr. Holstein,"seru Bernard panik, lalu ia memanggil pertolongan dan beberapa petugas berdatangan dan bermaksud membawa Jeremy ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong.
"Sial!"umpat Bernard.
Adriel masih terkejut dengan apa yang terjadi, lalu Bernard memeriksa air yang diminum Jeremy dan membaui gelas itu. Ada seseorang yang sudah meracuninya pikirnya. Bernard yakin mata-mata The Black Skulls ada di sini.
Adriel keluar ruangan dan duduk di koridor. Sementara itu Bernard menanyai beberapa petugas yang membawakan air minum untuk Jeremy, tapi tidak seorang pun yang mengaku. Ia sungguh menyesal tidak memperhatikan orang yang sudah mengantarkan minuman itu. Pikirannya disibukkan mendengarkan interogasi Jeremy. Bernard mengumpat lirih.
Pikiran Adriel sekarang disibukkan oleh keterkaitan Alexandra dengan penculik ibunya. Sebenarnya apa yang terjadi? Pikirnya. Adriel sulit mempercayai, jika Alexandra menyimpan sesuatu yang sangat berharga bagi si Penculik, lalu ia teringat dengan pencuri yang masuk ke kamarnya apa pencuri itu mencari salinan formula itu. Adriel berdiri dan dengan terburu-buru ia berjalan. Bernard melihat Adriel dan mendekati lelaki itu.
"Apa Anda akan pulang?"
"Iya. Aku harus mencari salinan formula itu."
"Baiklah. Jika Anda menemukannya segera hubungi aku terlebih dahulu."
"Baiklah."
Adriel kembali berjalan keluar dari kantor polisi dan masuk ke dalam kereta kudanya.
***
Arthur sedang menunggu kedatangan tamu pemilik bros bunga kecubung di kediamannya. Ia sudah mengirim surat undangan minum teh untuknya. Orang yang ditunggu pun akhirnya datang. Kepala pelayannya telah mengantarkannya kepada Arthur di teras belakang estatnya.
"Selamat siang, Liliana!"
"Siang!"
Gadis itu menarik napas panjang, tapi tidak kehilangan ketenangannya. Arthur tersenyum.
"Aku harap aku tidak menyita waktumu untuk memenuhi undangan minum teh dari pria tua ini."
"Sama sekali tidak. Aku senang Anda mau mengundang saya minum teh."
Sejenak Arthur menyangka melihat sekilas ketakutan pada mata coklat madu gadis itu, tapi ia tidak yakin, karena sangat cepat. Sikap Liliana sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia merasa gugup sebaliknya pembawaannya sangat tenang. Bahu gadis itu tampak tegang, tapi kembali rileks.
"Silahkan duduk!"
Liliana duduk di kursi dengan sikap percaya diri. Rowenda membawa teh dan beberapa kudapan dengan nampan, lalu meletakkannya di atas meja. Rowenda menuangkan teh untuk mereka berdua.
"Terima kasih,"kata Arthur.
Rowenda kemudian pergi. Arthur meminum tehnya dan Liliana juga melakukan hal yang sama. Pria itu mengawasi Liliana yang sedang meminum tehnya.
"Anda mengundang saya ke sini tidak hanya untuk minum teh saja, bukan?"
Gadis itu tidak hanya cantik, tapi juga peka tentang kedatangannya ke sini.
"Itu benar."
"Jadi apa yang Anda inginkan dari saya?"
Arthur tersenyum dikulum sambil memegang tongkat berjalannya. Pandangannya lurus ke depan.
"Apa yang terjadi di kamar Adriel?"
"Apa maksud Anda?"
Arthur menatap Liliana dengan mengintimidasi, lalu ia memgeluarkan bros dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja.
"Itu milikmu, bukan?"
Liliana mengambil bros itu dan memeriksanya. Ia sekilas terkejut melihat bros itu.
"Aku yakin bros itu milikmu. Kamu tidak boleh menyangkalnya kalau benda itu bukan milikmu."
Liliana tidak bisa berkata apa pun.
"Kamu diam itu artinya aku benar."
"Dari mana Anda mendapatkannya?"
Arthur mengagumi ketenangan gadis itu dalam menghadapi suasana seperti ini.
"Salah satu bawahanku menemukan bros itu berada di kamar Adriel."
"Jadi begitu. Aku kira bros ini tidak akan pernah ditemukan lagi."
"Salah satu permata bros itu lepas dan apa kamu tahu, bawahanku menemukan permata yang hilang itu berada di sela salah satu kuku jari Mr. Jerome Sage."
Arthur tidak yakin reaksi seperti apa yang diharapkannya dari gadis itu, tapi ia bisa melihat kali ini Liliana terkejut. Gadis itu secara terang-terangan tidak menyembunyikan keterkejutannya. Liliana sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini dan alasan kenapa ia diundang ke estat ini.
"Sekarang beritahu aku apa yang terjadi? Apa kamu yang masuk secara diam-diam ke kamar Adriel untuk mencuri sesuatu? Apa kamu salah satu anggota The Black Skulls?"
Arthur mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Ini tidak seperti yang Anda pikirkan."
"Kalau begitu beritahu aku."
Liliana terdiam sejenak. Ada keraguan di matanya.
"Saya memang berada di kamar Lord Adriel, karena saya melihat pintu kamarnya sedikit terbuka dan keadaan kamarnya telah berantakan. Saya pikir ada pencuri, tapi pada saat saya akan keluar kamar untuk memberitahu orang-orang, Mr. Sage melihat saya. Dia mengira aku sedang mencuri sesuatu di kamarnya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Dia mencengkeram tangan saya sangat kuat dan menyeret saya keluar kamar, tapi saya memberontak. Dia bilang saya harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan saya, karena telah mencuri. Apa lagi setelah dia melihat bros ini yang saat itu sedang saya pakai. Mr. Sage telah salah mengira kalau saya telah mencuri bros ini dan meminta saya untuk mengembalikannya tentu saja saya menolaknya, karena bros ini milik saya hadiah dari seseorang. Dia berusaha mengambilnya secara paksa dan bros ini terjatuh entah kemana. Aku tidak sempat mencarinya, karena Mr. Sage menyeret saya keluar kamar dan bermaksud membawa saya ke hadapan Lady Olivia, tapi ketika baru saja keluar kamar, Mr. Sage dan aku mendengar suara langkah seseorang di dalam kamar. Dia meminta saya menunggu di luar dan Mr. Sage masuk lagi ke kamar."
"Lanjutkan!"
"Mr. Sage keluar kamar dan wajahnya pucat. Ia seperti sudah melihat hantu. Entah apa yang sudah dilihatnya. Ketika saya bertanya, dia tidak menjawab dan pergi begitu saja. Sepertinya Mr. Sage telah melihat pencuri yang sebenarnya. Kemungkinan pencuri itu bersembunyi ketika saya masuk kamar dan aku bukan anggota The Black Skulls."
Arthur menatap Liliana memastikan bahwa gadis itu tidak berbohong.
"Saya ingin bertanya sesuatu pada Anda."
"Silahkan!"
"Bagaimana Anda tahu kalau bros ini milik saya?"
"Aku pernah melihatmu memakainya satu tahun yang lalu, ketika kamu baru saja bekerja sebagai pelayan pribadi Lady Olivia. Saat itu aku diundang minum teh olehnya dan kamu memakai bros itu."
"Begitu rupanya."
"Terima kasih kamu sudah bersedia datang dan bersedia memberitahuku apa yang terjadi."
"Itu tidak masalah. Lagi pula saya sudah ada niat untuk memberitahu Anda tentang ini, karena saya tidak ingin Mr. Sage dituduh sebagai pencuri. Saya yakin. Mr. Sage telah dibunuh oleh pencuri entah bagaimana caranya."
"Aku pikir juga begitu."
"Kalau begitu saya permisi pulang."
Liliana dan Arthur berdiri. Seorang pelayan datang setelah Arthur memanggilnya melalui bel kecil yang dibunyikannya.
"Antarkan Mrs. Murrell ke depan!"
"Baik, my Lord."
Setelah Liliana pergi, Caleb muncul dari tempat persembunyiannya, lalu duduk di kursi di mana Liliana duduk tadi.
"Bagaimana menurutmu tentang ucapan gadis itu?"tanya Arthur.
"Sepertinya gadis itu mengatakan yang sebenarnya."
Caleb memakan kue yang ada di nampan.
"Aku merasa masih ada yang disembunyikan oleh gadis itu."
"Menurut Anda begitu?"
Arthur mengangguk pelan dan meminum tehnya.
"Mrs. Murrell mirip dengan Rosabella."
"Dia memamg mirip. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku terkejut."
"Mungkin Gadis itu kembarannya Rosabella. Mungkin kita juga memiliki kembaran yang entah ada di mana."
"Jadi menurutmu siapa yang membunuh Mr. Sage?"
"Saat ini sulit untuk menebaknya dan yang jelas pencurinya termasuk orang yang hebat, karena bisa turun dari dari jendela yg cukup tinggi. Entah bagaimana caranya pencuri itu melakukannya. Mr. Sage dibunuh, karena pria itu sempat melihat wajah pencurinya.
"Aku juga berpikir seperti itu."
"Hal ini tidak heran jika yang melakukannya salah satu anggota The Black Skulls."
"Kamu benar."
"Apa ada kabar dari Bernard tentang penangkapan penculik Lady Olivia?"
"Belum ada."
Baru saja mereka membicarakan hal itu, seorang polisi bawahannya Arthur datang menyampaikan kabar kematian Jeremy Holstein. Mereka berdua terkejut.
***
Adriel telah tiba di kastilnya dan dengan langkah terburu-buru, ia masuk dan langsung menuju kamarnya. Di sana ia mencoba mencari salinan formula paradium, meskipun ia tidak tahu bentuk persisnya seperti apa. Di dalam pikirannya, salinan formula itu berupa lipatan atau gulungan kertas. Ia mencarinya di antara barang-barang Alexandra yang masih tersimpan rapih di kamarnya selama lima tahun ini. Adriel memang sengaja tidak menyingkirkannya, karena ia tidak ingin melupakan kenangannya bersama Alexandra begitu saja.
Pertama kali yang Adriel periksa adalah lemari pakaian istrinya, tapi ia tidak menemukan apapun di sana. Ia juga memeriksa meja riasnya, tapi tidak ada kertas yang mencurigakan di sana. Adriel juga memeriksa tempat tidurnya, tapi hasilnya nihil. Ia sudah nampak putus asa, jika salinan formula itu tidak dapat ditemukan, nyawa ibunya dalam bahaya. Adriel duduk di tempat tidurnya sambil pandangannya menyapu ke seluruh ruangan kamar untuk mengira-ngira di mana Alexandra menyimpannya. Ia kemudian memeriksa lemari buku kecil yang berada di sudut kamarnya, lalu memeriksa satu persatu buku itu siapa tahu ada sobekan kertas di dalamnya dan tidak ada apa pun di sana. Adriel sudah sangat kesal.
Pikirannya sekarang tidak jernih dan tidak mampu berpikir lagi untuk menemukan kertas yang berisi salinan formula itu. Ia juga sedang memikirkan kenapa Alexandra bisa menyimpan salinan formula itu. Adriel mengira ia paling mengenal Alexandra, tapi kenyataannya tidak, bahka ia tidak tahu kau Alexandra mempunyai sebuah rahasia.
Malam telah tiba, seorang pelayan membawakannya makan malam ke kamarnya. Pelayan itu terkejut, karena kamar Adriel masih gelap dan Adriel sedan duduk di sofa dalam keadaan melamun. Pelayan itu menyalakan semua lilin dan meletakkan makan malam di atas meja, kemudian pergi. Adriel tidak menyentuh sedikit pun makan malamnya dan ia lebih memilih untuk tidur.
Keesokan paginya, ia bangun lebih pagi dan turun ke bawah menuju ruang kerjanya. Di atas meja, surat-surat sudah semakin menumpuk memintanya untuk segera dibaca. Adriel membuka satu persatu suratnya dengan perasaan malas sampai pada akhirnya ia menemukan surat tanpa pengirim dan hanya ada namanya. Ia cepat-cepat membukanya dan tangannya gemetar saat membaca surat itu.
Surat itu berasal dari penculik ibunya dan isinya Adriel harus segera memberikan salinan formula paradium dalam waktu 3 hari lagi ke alun-alun kota dan menyimpannya disebuah keranjang di dekat toko kue. Adriel segera menulis pesan kepada Bernard dan menyegel amplop suratnya dengan cairan lilin merah dan dicap dengan lambang keluarganya huruf B dan memanggil pelayannya dengan bel. Jonah yang menerima panggilan itu.
"Tolong berikan pesan ini kepada Mr. Buchanan di kantor polisi sekarang juga."
"Baik, my Lord."
Setelah menempuh perjalanan selama sekitar satu jam, Jonah tiba di kantor polisi dan pelayan itu dipertemukan dengan Bernard. Jonah langsung memberikan pesan kepadanya dan Bernard langsung membacanya.
"Tunggu di sini!"perintahnya.
"Baik, Sir."
Bernard menemui Arthur di ruangannya dan memperlihatkan pesan Adriel kepadanya.
"Penculik itu memberikan waktu selama 3 hari kepada Adriel untuk memberikan salinan formula paradium,"kata Bernard.
"Sebaiknya kamu menemui Adriel sekarang."
"Baik."
Bernard memberitahu Jonah kalau ia akan ikut bersamanya ke kastil Boswell. Mereka masuk ke kereta kuda. Sesampainya di kastil, Jonah langsung mengantarkannya menemui Adriel yang berada di lahan perkebunannya yang tidak berada jauh dari kastilnya. Mereka melihat Adriel sedang berbicara kepada beberapa orang b***k. Lelaki itu menyadari kedatangan Bernard dan menyudahi pembicaraannya dengan b***k-b***k itu.
"Aku senang Anda segera datang ke sini."
"Aku langsung datang ke sini setelah menerima pesan Anda."
Mereka kemudian berjalan-jalan di sekitar perkebunan. Sesekali mata Adriel melihat ke arah estat yang berada di kejauhan di mana Rosabella tinggal. Hatinya tidak bisa menyangkal, kalau ia merindukan gadis itu. Adriel kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Bernard setelah ia pulang dari kantor polisi kemarin dan tentang surat kaleng itu.